Jalan Raya dan Absurdnya Ibukota

Setidaknya dalam kehidupan sehari-hari kita sering dihadapkan pada hal-hal yang klise yang kalau dipikirkan sebetulnya kocak juga.

Dan saya mengalami banyak hal itu.

***

Flashback ke sekitar awal 2016, saat itu saya mengalami fase banyak pikiran nu teu paruguh ketika masih studi di Taiwan, selain karena dikejar kewajiban harus menyelesaikan tesis di semester terakhir, saya juga bersikap denial karena dibayangi semacam "keharusan" untuk tinggal di Jakarta.

Pengalaman tinggal lama di Bandung membuat saya enggan meninggalkan zona nyaman di kota Sabuga ini (FYI, Bandung adalah satu-satunya kota di dunia yang punya gedung Sabuga di pinggir jalan Taman Sari, Jepang aja enggak punya). Keinginan saya selepas lulus S1 dulu adalah tetap stay di Bandung bagaimanapun caranya, saya sama sekali enggak pernah kepikiran untuk bekerja di Jakarta, selain panas dan macetnya yang ampun tuan guru, saya masih berpikir Jakarta bukanlah tempat yang cocok bagi saya, dan di mata saya saat itu orang Jakarta terlihat tidak friendly.

Itu belum ditambah dengan zona nyaman tinggal di Taiwan, selama di Taiwan saya terbiasa dihadapkan dengan keteraturan, ketertiban, dan kerapian. Hal-hal seperti ketepatan waktu dalam segala hal, transportasi umum yang nyaman, hingga hal kecil seperti membersihkan sendiri meja di restoran fast food sudah menjadi kebiasaan sehari-hari.

Rasa nyaman tinggal di dua tempat inilah yang membuat saya menjadi takut untuk berpindah tempat lagi, sedangkan seperti yang pernah saya ceritakan di sini, semenjak kecil saya sudah terbiasa berpindah dan beradaptasi dari satu tempat ke tempat yang lain.

Saya tidak tahu apa istilah ilmiahnya sindrom ini, yang pasti saat itu saya mengalami fase enggan mendengar apapun tentang Jakarta, saya bahkan menghindari membaca kata "Jakarta" di media sosial.

Beberapa bulan kemudian tesis saya rampung dan akhirnya saya bisa menyelesaikan studi di Taiwan, selesainya studi berarti selesai juga living permit saya di negeri F4 ini. Menjelang beberapa minggu sebelum kepulangan lagi-lagi saya masih dihantui rasa denial itu, mungkin saya pernah mengigau saking enggannya untuk menerima kenyataan yang harus saya hadapi sepulang ke tanah air: tinggal di Jakarta.

Waktupun berlalu, keharusan untuk tinggal di ibukota membuat saya harus mulai beradaptasi dengan hal-hal baru seperti menyesuaikan diri dengan pola hidup orang urban, bersosialisasi dan membangun jaringan baru, bahkan membiasakan penggunaan "lu-gue" sebagai kata ganti yang dipakai sehari-hari agar lebih mudah bergaul.

Dan sekarang saya bisa sedikit menertawakan diri saya yang dulu teu paruguh, karena kenyataannya saya bisa beradaptasi jauh lebih cepat dari yang saya kira, di Jakarta saya mulai mendapatkan pengalaman baru, jaringan baru, dan tentunya, ehem... Kekasih baru (alasan utama sekarang saya bisa betah di Jakarta).

Walaupun bisa dikatakan sudah bisa tinggal di Jabodetabek (yaa belum bisa dikatakan 100% betah sih), nyatanya masih ada hal-hal yang membuat saya sering dibuat melongo karena heran, biasanya saya temukan ketika berkendara di jalan raya, dan seringkali karena terlalu sering kita malah menganggap ini adalah hal biasa, padahal hal-hal ini terlampau absurd bagi saya.

Apa sajakah hal-hal itu?

  1.  Jus Manis

    Saya adalah penggemar buah yang seringkali malas untuk mengupas sebelum dimakan, mangga, sirsak, dan alpukat adalah komplotan buah yang paling jarang saya beli untuk dikupas sendiri kulitnya, kalaupun saya harus mengupas maka dapat dipastikan bentuknya sangat amburadul.

    Untungnya saat ini saya dianugerahi bakat hidup di tahun yang sudah lewat millenium, saya mendapatkan previllege yang tidak dimiliki oleh manusia purba ratusan ribu tahun yang lalu, yaitu bisa menikmati buah yang berkulit tanpa harus saya kupas sendiri.

    Bagaimana caranya?

    Ya tinggal beli ke tukang jus.

    Etapi, meskipun kemewahan ini bisa saya dapatkan dengan mudah, nyatanya saya masih menemukan rasa kurang sreg ketika membeli jus.

    Saya selalu heran kenapa tukang jus buah selalu menambahkan gula ke setiap porsi jusnya, ini bisa dimaklumi jika buah yang diblender adalah buah yang basic rasanya plain seperti alpukat, nah yang saya kurang mengerti mengapa untuk buah-buah yang rasanya manis seperti pisang, jeruk, pepaya, bahkan semangka masih saja ditambah gula?

    Kan ini aneh, ya. Sudah manis masa ditambah manis, mirip kaya janji politisi (yaelah), dan absurdnya lagi biasanya di cup minumannya sering ada slogan dengan kalimat positif tentang pentingnya menjaga kesehatan.

    Lah itu gulanya apa kareba?

  2.  Palang Perlintasan Kereta ApiBagi saya, tidak ada tontonan yang lebih menegangkan selain melihat copet yang beraksi di depan mata dan percobaan bunuh diri.

    Dan poin yang kedua itu hampir setiap harinya saya alami di Jakarta.

    Sebagai orang yang lebih banyak menggantungkan mobilitasnya dengan menggunakan sepeda motor, dalam sehari entah berapa kali saya melewati palang perlintasan rel kereta api, itu loh, yang biasanya bunyi "tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung" setiap kali ada kereta api yang mau melintas di jalan umum.
    (eh, kira-kira total kata "tung" barusan udah sama persis enggak dengan jumlah "tung" dalam setiap kali palang perlintasan ditutup? Saya belum pernah ngitung sih)

    Karena adanya palang perlintasan inilah saya merasa penumpang kereta api adalah pengguna transportasi umum yang previllege nya paling besar di dunia, lha bayangkan saja, jalan harus ditutup demi dia lewat, bahkan iring-iringan presiden juga harus berhenti kalau palang perlintasan ditutup, kurang sakti apa lagi?

    Entah kenapa, walaupun sudah sangat sering berada berhenti di perlintasan rel kereta api, tapi saya masih deg-degan kalau di depan masih ada orang yang menerobos ketika palang mulai diturunkan, jangankan menerobos, ada yang menyelinap dan berhenti di dekat rel saja saya sudah deg-degan melihatnya.

    Saya tidak mempermasalahkan orang-orang yang kepingin kena kecelakaan atau mau mati dengan cara seperti itu, bebaslah itu hak dia, tapi saya cuma kurang sreg dengan caranya, yaa intinya sih kalau mati jangan nyusahin orang laah, kasihan orang-orang yang harus rapihin mayat dia yang berantakan karena keserempet kereta api gara-gara nyelonong sembarangan.

    Lah kok saya jadi emosi sendiri.


  3. Polisi TidurTerkadang saya masih suka iri dengan manusia purba untuk beberapa hal, seperti keistimewaan mereka untuk mendapat udara jauh lebih segar (murni oksigen, enggak ada asap knalpot Damri), lalu kemewahan mereka untuk bisa CFD (Car Free Day) setiap hari, dan yang paling utama adalah... Mereka bebas pergi kemanapun tanpa kena polisi tidur.

    Menurut ensiklopedia yang dirilis oleh Haji Nicolas Copernicus pada tahun 1997, polisi tidur, atau yang dalam bahasa ilmiahnya sleeping beauty, adalah suatu gundukan yang sering tau-tau nongol di tengah jalan ketika kita mengendarai sepeda motor dengan kecepatan di atas 7.5 km/jam, tingginya pun beragam, berkisar antara 7 sampai 15 centimeter atau bahkan lebih, biasanya dibuat dari material kayu, semen, bata, tapi belum pernah saya temui yang dibuat dari kedelai hitam pilihan yang bernama Malika. Sama halnya seperti Bitcoin, pembuat polisi tidur biasanya bersifat anonim atau tidak diketahui identitasnya, tetapi para pembuatnya biasanya distereotipkan dengan bapak-bapak pakai singlet dan sarung yang sore-sore hobi nyiram jalan di depan rumah.

    Mungkin bisa saya katakan kalau polisi tidur adalah hal di jalanan yang paling saya benci nomer 162, tolong jangan tanya nomer 1-161 apa, karena akan makan banyak waktu. Saya benci dengan polisi tidur karena sifatnya yang sering tau-tau nongol tanpa ada pertanda, padahal nabi tidak pernah mencontohkan sifat tercela seperti itu.
    Polisi tidur jelas merupakan masalah bagi saya dan mereka yang mempunyai kendaraan dengan rangka rendah, mungkin hal ini bukan masalah bagi mereka yang menggunakan tank militer atau excavator untuk menunjang kebutuhan mobilitas sehari-harinya (eh tapi pernah ada yang liat orang ke kantor naik tank, enggak?)

    Karena masalah inilah, saya jadi kepikiran wajar kalau Pak Presiden sekarang sangat fokus untuk membangun jalan di daerah sampai ke pelosok, lah orang di kota soalnya enggak bisa liat jalan mulus sedikit pasti langsung pengen bangun polisi tidur, tapi giliran jalan berlubang ngamuk dan protesnya ampun-ampunan.

    Bahkan saya juga kepikiran, kayanya kalau tren bikin polisi tidur ini tidak ditekan, bisa jadi beberapa tahun ke depan jalan tol dan landasan pacu bandara dipasang polisi tidur juga.

  4. Iring-iringan Jenazah

    Buat yang pernah maen ke Jabodetabek mungkin pernah mengalami fenomena ketika kendaraanmu mendadak disuruh minggir oleh pengendara motor yang enggak pakai helm, bawa bambu/galah pendek berbendera kuning, dan terkadang menyuruhnya sambil membentak.

    Ya, betul. Kamu sedang berhadapan dengan pengiring rombongan jenazah.

    Saya masih belum bisa mengerti, kenapa mereka sebegitu arogannya di jalan raya (yang bahkan macet parah) menyuruh orang minggir sampai membentak, kamu boleh saja denial menganggap bahwa itu hanya dilakukan oleh segelintir orang, tapi bagi saya menyuruh orang minggir untuk mengantar jenazah itu cukup absurd.

    Beberapa minggu yang lalu ketika menjemput kekasih pulang kuliah jam 8 malam saya bertemu dengan rombongan ini, sungguh bagi saya ini merupakan pengalaman yang sangat absurd karena beberapa hal:

    • Pertama, apa urgensinya terburu-buru sampai super ugal-ugalan menyuruh kami minggir saat itu? Padahal itu sudah malam, dan saya rasa tidak ada pemakaman yang dilakukan di malam hari, setidaknya pemakaman dilakukan keesokan pagi harinya
    • Kedua, para pengantar yang bersepeda motor hampir sebagian besar tidak menggunakan helm, bukankah ini cukup aneh? Kenapa "demi" mengantar jenazah, mereka sampai harus "bertaruh" membuka peluang diri mereka sebagai jenazah baru? Ditambah kebetulan saat itu di depan saya ada pengendara sepeda motor lain yaitu ibu-ibu yang sedang membawa anaknya, bagaimana kalau mereka mendadak kaget lalu keserempet rombongan? Bukannya itu malah menambah masalah?
    • Ketiga, bukankah yang harusnya diutamakan itu mobil ambulans sedang membawa pasien yang masih hidup? Mungkin korban kecelakaan atau ibu yang mau melahirkan, lalu kemana saja mereka para pengiring ini? Apakah mereka turut mengiringi? Atau malah cuma mengiringi kalau sudah menjadi jenazah?

    Rasanya malam itu saya marah sekali ke para pengiring yang dengan seenaknya dan arogan menyuruh pengendara lain minggir, untungnya tidak jadi, karena si mbak kekasih selain cantik dia juga terlalu pandai menenangkan hati saya yang saat itu terbawa senewen.


    ***



    Itu baru kejadian-kejadian yang sering saya alami di Jabodetabek, mungkin bisa juga hal ini terjadi di daerah lain, atau bahkan lebih absurd lagi.



    *Teu paruguh =  tidak jelas, tidak nyaman, tidak enak
    ** Mohon diperhatikan, untuk poin tulisan nomer empat itu hanya saya tujukan kepada para pengiring, tanpa mengurangi rasa hormat kepada siapapun keluarga yang sedang berduka.
Share:

Cara Ampuh Terhindar Dari Bayar Parkir

Gara-gara tulisan saya beberapa hari yang lalu tentang tempat parkir, tidak sedikit teman-teman yang beranggapan kalau saya "sensi" dengan tukang parkir, kesimpulan ini didapat karena beberapa teman-teman di media sosial men-tag saya ke postingan yang berbau parkir, seperti artikel tentang biaya parkir di negara lain yang harganya ampun-ampunan, cerita tentang professornya temen yang kaget ternyata di Indonesia harus bayar parkir untuk sekedar ke minimarket, bahkan yang paling baru saya tadi di-tag tentang bayar parkir ditinjau dari sudut pandang agama.

Sebenarnya anggapan itu bisa benar bisa juga tidak, karena toh saya masih sering kok bilang terima kasih ke kang parkir yang he/she deserves for it, dan kang parkir yang layak harus memiliki beragam kriteria, misalnya lahan parkirnya jelas, ada karcis, mau bantu mengeluarkan sepeda motor yang kejepit atau menggeser sepeda motor yang ada di samping, kalau memungkinkan menaruh alas entah itu kardus atau apapun untuk menutupi jok sepeda motor saat terik matahari (optional, not a mandatory), dan yang paling penting adalah ramah.

Bukan tau-tau nongol, modal peluit, trus ngeloyor setelah dikasih uang. Saya tidak akan pernah ikhlas membayar parkir untuk hal ini.

Dan kalau kamu masih beranggapan "ah, cuma uang seribu dua ribu doang dipermasalahin" saya hargai pendapat kamu, tapi saya enggan menanggapinya, karena saya terlalu malas untuk mendebat.

***

Nah, karena saya sempat disangka cuma misuh-misuh tanpa solusi, okelah kali ini saya ingin berbagi solusi ampuh agar terhindar dari bayar parkir setengah hati.

Caranya?

Ya dengan datang ke tempat-tempat yang tidak dijaga parkir laah.

Mungkin kalian yang sedang membaca ini bingung, tempat mana sih (khususnya di Jabodetabek) yang enggak dijaga parkir zaman sekarang? Karena rasanya hampir pergi kemanapun sekarang ditagih bayar parkir, bukan begitu?

Aha! Di sinilah saya punya solusinya, dirangkum dari beragam litelatur klasik dari bermacam keilmuan (ilmu kanuragan, ilmu siluman monyet, dan ilmu cepat kaya)


Berikut tempat-tempat yang bebas bayar parkir (setidaknya di sekitar Jabodetabek):

1. Bengkel dealer sepeda motor

Pasti di pikiran kalian setelah liat poin ini adalah "ya wajarlaah, namanya dealer dan bengkel sepeda motor sudah seharusnya gratis parkir, karena kan buat pelanggannya sendiri"

Helloow kisanak, gimana kabarnya dengan bank? Memangnya kamu enggak pernah ditagih parkir sewaktu ke bank? Atau logis enggak ada kang parkir di minimarket yang ada tulisan PARKIR GRATIS?

Pilihan terhadap bengkel dealer motor sebagai tempat favorit terinspirasi dari kejadian beberapa minggu yang lalu ketika saya harus ke bengkel untuk perawatan rutin, saat itu karena bosan menunggu antrian servis saya iseng keluar dan beli minuman di minimarket seberang bengkel itu, dari minimarket itu saya mendadak seakan mendapat wahyu "wah, baru kali ini inyong bawa sepeda motor di Jabodetabek lalu ke minimarket enggak harus bayar parkir".

Bayangkan pemirsa, sungguh pengalaman yang tidak akan terlupakan ketika kita bisa belanja di minimarket dengan sepeda motor yang berada dengan aman di seberang kita, rasanya ingin berlama-lama di situ menikmati hidup yang telah Tuhan berikan, mukjizat itu benar ada, dan itu berkat parkir gratis di dealer motor!

Buat kalian yang merasa ini lebay, kalian harus tahu kalau di dekat tempat tinggal saya ada tempat pencucian mobil yang ada kang parkirnya,
Paham maksud saya?
Renungkan, tempat pencucian mobil, lalu bayar parkir...

Got it?

Kalau belum, coba dipikirkan lebih dalam.

Biar lebih jelas
2. Rel kereta api

Ini serius, sejauh ini saya belum pernah menemukan kang parkir berada di rel kereta api, okelah kalau mungkin terdengar aneh karena mana mungkin ada orang yang mau parkir di bantalan rel kereta api. Tapi hellooow.... Memangnya kamu pikir normal apa fenomena orang yang nonton konser pake helm tapi naik motor pake peci? Kan sama ajeeh.

Oke enggak harus deh persis di relnya, cukup di pinggir rel aja, dan ini adalah hal-hal yang harus kamu lakukan kalau parkir motor di pinggir rel tanpa harus bayar parkir:

  • Pastikan jarak antara sepeda motor dengan rel cukup mepet tanpa harus kesenggol kereta yang akan lewat, tujuannya agar kamu terbiasa memperhitungkan segalanya, yaaa kayak temen yang udah lama enggak ketemu trus tau-tau ngehubungi buat prospek MLM, temen sendiri dihitung sebagai aset.
     
  • Cari rel kereta yang jauh dari pemukiman penduduk, karena biasanya makin sepi makin jarang ada kang parkir, terowongan kereta api yang panjang bisa dijadikan pilihan untuk hal ini, karena selain gelap juga tidak memungkinkan untuk kang parkir mendadak nongol saking jauhnya.
     
  • Jika tidak memungkinkan, kamu tetap bisa menggunakan rel kereta yang berada di tengah kota. Kamu pasti mikir "Enggak bisa dong! Diusir petugasnya!"
    Hahaha, cobalah sedikit kreatif, Ricardo Batistuta. Logikanya kan kalau kamu diusir petugas berarti kamu ketahuan saat mau parkir sepeda motormu, nah, hal yang bisa dan harus kamu lakukan adalah mendadani sepeda motormu sampai mirip dengan gerbong kereta api, semacam kamuflase gitu, lalu gimana cara sepeda motor mirip gerbong kereta api? Ya saya enggak tahu, kamu pikirin aja sendiri, biar sibuk.

Di rel kereta mah bebas parkir


3. Kolam lele

Kalau kamu beranggapan lele hanya bisa untuk dimakan oooh jelas kamu salah Romario Gonzales. Ibarat fenomena gunung es, kegunaan lele yang bisa dikonsumsi itu hanyalah permukaan atasnya saja, sedangkan permukaan bawahnya malah banyak yang tidak kita sadari, contohnya ya penggunaan kolamnya untuk tempat parkir.

Sama seperti rel kereta api, dari lahir sampai tulisan ini diketik, saya belum pernah menemukan ada kang parkir di kolam lele, yang saya tahu banyaknya justru di warung pecel lele, heran saya kenapa tidak ada yang tertarik untuk ngejogrog di dalam kolam lele dengan alesan "daerah kekuasaan gue nih"

Tapi pemirsa, justru dari itu, sebagai pengguna sepeda motor inilah momen emas kita untuk terhindar dari keharusan mengeluarkan uang, kalau dulu seringnya kita merasa kecele karena kang parkir di tempat yang bertuliskan PARKIR GRATIS, kini saatnya kita kadalin mereka, semacam our sweetest revenge :)

Saya memberi referensi ini bukan tanpa alasan, jelas ada keuntungan yang bisa kamu dapatkan dengan parkir di dalam kolam lele, yaitu:
  • Gratis. Seperti yang sudah disebutkan di atas, karena tidak ada kang parkir, maka dapat dipastikan kamu tidak harus mengeluarkan uang sepeserpun, coba kita kalkulasikan, dalam sekali parkir sepeda motor di Jabodetabek biasanya 2000 rupiah dimana rata-rata dalam sehari kita bisa sampai 3x parkir, yang kalau dihitung:
    2000 x 3 = 6000
    Berarti ada 6000 rupiah yang kita keluarkan setiap hari untuk bayar parkir.


    Nah, sekarang kita hitung untuk sebulan:
    6000 x 30 = 180,000
    Wow, ada 180,000 rupiah yang kita keluarkan untuk bayar parkir dalam sebulan.


    Lanjut, kita hitung dalam setahun:
    180,000 x 12 = 2,160,000
    Fantastik! Ada Dua Juta Seratus Enam Puluh Ribu Rupiah yang kita keluarkan dalam setahun untuk bayar parkir!


    Oke, lanjut hitung dalam kurun waktu sepuluh tahun:
    2,160,000 x 10 = 21,600,000
    Amazing! Dalam sepuluh tahun kita mengeluarkan Dua Puluh Satu Juta Rupiah untuk bayar parkir!


    Kurang? Oke lagi, kita hitung dalam kurun waktu 50 tahun:
    21,600,000 x 5 = 108,000,000
    Sableng! Dalam waktu setengah abad kita sudah mengeluarkan lebih dari SERATUS JUTA RUPIAH untuk bayar parkir sepeda motor!

    Oh iya, ini dengan catatan baru biaya minimalnya ya, toh saya yakin kalau kamu yang bawa sepeda motor bisa lebih dari 3x dalam sehari bayar parkir, bener enggak?

    Lalu apa tujuan saya mengkalkulasikan ini semua? Enggak apa-apa, iseng aja biar kalkulator di hape ada fungsinya.

  • Aman. Larena letaknya yang berada di daerah perairan, saya yakin tidak ada maling yang mau untuk berenang mengangkat sepeda motormu dari keluar dari kolam, jangankan nyolong motor, ngambil helm atau botol minum yang tergantung di gantungan juga kayaknya ogah.

    Tapi advantage keamanan ini jelas bukan tanpa tantangan, kamu dituntut untuk bisa berenang dan menahan nafas agak lama, karena bisa jadi sebagian dari kamu butuh menambahkan gembok tambahan di cakram roda demi keamanan, nah untuk mencangklongkan gembok itu kan jelas kamu harus menyelam, di situlah keterampilan dalam menyelammu diuji, kalaupun kamu tidak bisa menahan nafas agak lama, kamu bisa membekali diri dengan tabung oksigen yang sering dipakai untuk diving di laut.
  •  
Kurang lebih seperti ini tabung selam, bisa dibeli online

  • Bersih. Salah satu fungsi air yang paling utama adalah membersihkan, begitu pula dengan kolam lele, bayangkan, selain dapat menekan pengeluaran tidak terduga untuk bayar parkir, dengan menaruh sepeda motor di dalam kolam lele kamu berarti kamu juga bisa menambah pundi-pundi sebagian imanmu di sepeda motor.

    Kamu tidak harus pergi ke pencucian sepeda motor hanya untuk membersihkan kotoran yang menempel entah di spakbor, lampu, spion, atau speedometer motormu yang jelas harus mengeluarkan uang, belum lagi kalau tempat pencuciannya ada kang parkir seperti yang saya ceritakan di atas, karena cukup parkir di dalam kolam, tinggalkan, eeeh pas diambil sudah bersih kembali.


Sekedar ilustrasi, sumber: http://gambar-rumah.com/



Nah, bagaimana teman-teman? Cukup bermanfaat bukan tips dari saya? Sudahlaah akui saja kalau kalian terkesima dan merasa tercerahkan dari postingan saya ini.

Eh, tapi saya pengen tahu nih, kira-kira kalian ada alternatif lain enggak tempat yang bisa dijadikan parkir tanpa harus bayar parkir?
Share:

Aristoteles Tidak Pernah Bayar Parkir


Akhir-akhir ini saya kesel dengan bayar parkir.

 Begini pemirsa, sebagai orang yang menggantungkan mobilitas sehari-harinya dengan sepeda motor, saya sering berhenti di tempat-tempat tertentu entah itu warung makan, tempat fotokopi, atau ATM, selain mengeluarkan uang untuk makan atau belanja, saya juga agak kesel dengan bayar parkir.

Mungkin terdengar egois, karena buat sebagian orang bisa saja beranggapan "ah cuma uang dua rupiah doang kok dipermasalahin"

Tapi, coba deh bayangin, "esensi" dari parkir itu kan sebetulnya kita membayar jasa kepada seseorang/perusahaan untuk menjaga kendaraan kita yang ditaruh untuk sementara waktu, bukan begitu?

Nah, sekarang kita "studi kasus" deh, pernah enggak kalian setelah keluar ATM ditagih bayar parkir?

Saya pernah, waktu itu saya sama sekali enggak megang uang karena uang receh ketinggalan di rumah, sementara kalau balik ke rumah buat ngambil ya bakal makan waktu, jadi harus narik uang tunai di ATM pinggir jalan.

Saat itu lingkungan di sekitara ATM enggak ada siapa-siapa, eh pas baru mau nyalain motor mendadak ada orang di belakang saya yang nagih bayar parkir.

Keadaan saya waktu itu cuma punya pecahan seratus ribu rupiah dari ATM, masih fresh, baru disablon kayanya.

Kebingungan muncul saat saya mau bayar parkir yang dadakan itu, kalau saya punya uang pecahan lima ribu atau sepuluh ribu sih gampang ngasih kembaliannya, lah ini uang seratus ribu, kaya bocah SD make baju hansip... Kegedean.

Dan tahukah engkau wahai sobat indieku, apa kata kang parkirnya sewaktu saya bilang kalau enggak punya uang selain ratusan ribu itu?

"Belanjain aja dulu bang di warung"

Lah, ini kan semacam "dipalak" ya, toh tujuan saya cuma pengen ambil uang, kok malah disuruh belanja barang yang saya enggak butuhin di warung.

***

Selain di ATM, saya juga punya pengalaman menyebalkan lainnya di blantika bayar parkir Indonesia.

Ceritanya waktu itu saya pergi ke tempat fotokopi di sekitar Stasiun Pondok Cina Depok, tujuannya buat fotokopi KTP, dan kamu tahu sendiri laah kalau fotokopi KTP itu kan sebentar doang.
Nah, pas balik ke sepeda motor yang ditaruh CUMA di depan tempat fotokopi tersebut eeh mendadak muncul orang yang nagih buat bayar parkir, sumpah sebelumnya saya enggak lihat sama sekali kang parkir itu, tau-tau nongol aja gitu.

Satu-satunya uang pecahan paling kecil di saku saat itu adalah dua ribu rupiah, karena saya kira bakal dikasih kembalian yaa setidaknya seribu rupiah ya sudah saya kasihkan aja itu uang dua ribuan, eeh ternyata setelah kasih dia ngeloyor gitu aja ke tempat dia ngejogrok, saya sampai tertegun melihat kejadian ajaib ini.

Pertama, secara logika, posisi saya saat itu lebih deket dengan sepeda motor karena ditaroh persis di depan kios fotokopi, sedangkan tempat ngejogrok kang parkir itu berada beberapa meter lebih jauh dari kios, kalaupun ada orang yang mau nyolong motor atau helm, jelas saya bakal tahu dan bisa menangkap duluan ketimbang si kang parkir yang letaknya lebih jauh. Nah, dari sini saja saya masih belum mengerti kenapa saya harus bayar parkir itu, demi keamanan? Ya kali, Maliiiih.

Kedua, tujuan utama saya ke kios itu kan untuk fotokopi, dimana untuk fotokopi saya cuma mengeluarkan uang sebesar 500 perak, dan jasa fotokopi itu bisa saya nikmati langsung, sedangkan bayar parkir? DUA RIBU! Yang saya enggak tahu jasa apa yang saya bayar itu.

Di titik ini saya merasa kalau saya sudah satu level dengan miliarder sekelas Mark Zuckerberg, Bill Gates, atau Jack Ma. Kalau mereka bisa "menghamburkan" uang dengan cara investasi ke dunia teknologi, sementara saya "menghamburkan" juga tapi di bidang...

Bayar parkir.

Saya, ketika bayar parkir seperti besar pasak daripada tiang

Selain dua kejadian itu, saya juga pernah mengalami jackpot bayar parkir dua kali berturut-turut pada hari yang sama.

Kejadian pertama ketika nonton acara musik di Taman Ismail Marzuki sehabis Magrib, saat itu saya parkir di pinggir jalan karena saya tidak tahu kalau pengelola TIM sebetulnya menyediakan fasilitas parkir yang resmi di dalam.

Setelah acara selesai saya ke parkiran, sadar kalau di event-event tertentu harga parkir bisa melonjak dari biasanya, dalam hati saya bilang "ah mungkin lima ribu nih parkirnya", ya sudah saya siapkan uang lima ribu rupiah untuk bayar parkir, pas sudah dibayar kang parkirnya bilang "kurang lima ribu lagi, bang!", lah kaget saya, ternyata bayar parkir untuk dua jam acara musik ini sepuluh ribu rupiah, pemirsa!, iya!, SEPULUH RIBU! Dan itu enggak bisa kurang!

Gila, ini orang mau ikut pesugihan tapi ogah mati jadi siluman monyet kayanya.

Kesel karena bayar parkir sebegitu gede, ngedumel lah saya sepanjang jalan pulang. Sadar ternyata ngedumel bikin haus dan sedikit lapar, saya lalu berhenti di sebuah minimarket di sekitar Tebet dengan inisial TERAMODNI, di situ saya beli susu cokelat dan roti untuk makan di tempat, setelah menghabiskan makanan dan minuman itu saya kembali ke parkiran, di saku jaket sudah saya siapkan uang dua ribu rupiah untuk bayar parkir, sewaktu saya kasih uang tersebut kang parkirnya bilang "tiga ribu, bang"

Lah? Belom juga kelar kesel saya sama parkir di TIM barusan, sekarang harus bayar parkir lagi dengan harga mirip nembak togel? Sableng nih orang!

Dan malam itu saya pulang ke rumah dengan perasaan yang super dongkol, karena uang tiga belas ribu rupiah saya harus melayang dengan cara konyol dalam rentang waktu enggak lebih dari satu jam.


***

Semenjak sering dikadalin tukang parkir, saya sekarang jauh lebih selektif + berhati-hati ketika bepergian menggunakan sepeda motor dan mampir ke suatu tempat.

Saya lebih memilih untuk jalan memutar mencari ATM yang murni free parking, biasanya ATM jenis ini bisa ditemui di SPBU, karena di sebagian besar bank di sekitar Jabodetabek masih sering saya jumpai orang yang nagih bayar parkir walaupun ada plang tertulis PARKIR GRATIS.

Selain itu akhir-akhir ini saya juga cenderung lebih memilih warung biasa pinggir jalan ketimbang minimarket ketika ingin belanja eceran kebutuhan sehari-hari. Bukan karena alesan mendukung ekonomi rakyat dan lain-lain, tapi alesan saya sederhana:

Karena di warung enggak ditagih bayar parkir.


***

*Saya jadi kepikiran, bisa jadi karena "peluang" parkir ini prospeknya makin bagus, dalam 10 tahun ke depan kalau kita berhenti pinggir jalan sebentar buat ngangkat telepon atau balas chatting juga bakal ditagih bayar parkir,

Bisa jadi loh yaaaa.
Share:

Mempromosikan Hal Yang Seharusnya Linear

Kita tahu, dalam mempromosikan suatu produk kita butuh teknik marketing tertentu melalui iklan,
 
Nah dalam beriklan diperlukan linearitas antara produk yang diiklankan, citra produk yang diiklankan, dan pihak yang mengiklankan.

Ambil contoh, saya menjual gel rambut (produk) dengan kualitas yang terbaik, karena kualitasnya terbaik maka dipercaya pasar dapat membuat penampilan lebih menawan, ganteng, dan elegan (citra produk),
 
Sejauh ini tidak ada masalah dengan hal ini karena kualitas dan citra produk sudah terpercaya sejak dulu.

Nah, masalah justru timbul setelah saya mempromosikannya dengan teriak-teriak sampai memekakkan telinga, dandanan acak-acakan sembarangan, dan dengan gencar merendahkan produk lain.

Saya beranggapan kalau itu adalah cara terbaik untuk "mempromosikan" produk saya, eh tapi saya kaget kenapa konsumen bahkan calon konsumen produk saya justru beralih ke produk lain? Padahal kan produk saya jelas terbaik dari segi kualitas dan komposisi? Apa yang salah? Toh saya sudah mengatakan yang sesungguhnya kan?

Lalu saya mencak-mencak, marah menuduh tim produk lain mengambil konsumen dan calon konsumen saya, saya bilang mereka licik, bahkan saya salahkan pengurus lahan tempat saya promosi. 

Pokoknya saya salahkan semua! Saya merasa diri saya sekarang teraniaya!

Lalu datanglah Heru, konsumen setia saya. Dia bilang kalau konsumen pindah ke produk lain bukan karena terbujuk oleh promosi produk lain, tapi justru karena kesalahan saya sendiri.

Ujarnya, percuma produk saya berkualitas tinggi kalau saya bersikap seperti itu,
 
Saya rutin promosi produk saya baik tapi saya sendiri berdandan sembarangan dan awut-awutan, alih-alih menunjukkan kualitas produk sendiri saya justru selalu menjelek-jelekkan produk lain, bahkan saya sering membagikan selebaran isinya "Awas! Jangan pakai produk ini di penjual yang lain! Hanya tempat saya yang paling bisa dipercaya!" (padahal dengan merk yang sama)

Memang ada beberapa konsumen yang suka dengan cara saya, dan dengan penuh kebanggaan saya berseloroh kalau konsumen yang suka itu adalah tanda kesuksesan saya!, tapi saya tidak menyadari kalau sebenarnya konsumen yang mulai antipati dengan produk saya juga ada dan jumlahnya tidak sedikit, malah mereka berasal dari calon konsumen bahkan pernah jadi konsumen loyal, hanya saja mereka yang antipati ini seperti fenomena gunung es, tidak terlihat banyak di permukaan.

Akhirnya Heru pamit pulang, tapi sebelum pulang dia bilang ke saya "konsumen loyal itu dulu suka produkmu karena orang sebelum kamu mempromosikannya sesuai dengan kualitas produk, mereka selalu berdandan rapi, ganteng, dan sabar menjelaskan manfaat produk, walaupun dulu juga ada produk lain tapi konsumen tetap percaya karena yang mempromosikannya punya linearitas yang sama sebagai representasi dari produk dan sesuai dengan citra produk"

***

Oke, sekarang kita ganti "term" produk itu dengan agama, dan lihatlah apa yang berseliweran di timelinemu saat ini.

Got what I mean?




*Ini tulisan lama di akun Facebook saya yang ditulis 2015




Share:

Bagaimana Menjadi Waras di Media Sosial?

Sudah 2017 masehi ternyata, dan saya yang tidak terasa berumur ratusan tahun ini bersyukur masih diberikan nikmat yang tidak didapatkan Firaun, yaitu nikmat punya akses internet.

Lah, bayangin aja, Firaun udah kaya raya, punya kuasa, tapi seumur hidupnya enggak pernah nonton Youtube, sementara saya yang cuma punya temen banyak, bisa bernafas menghirup oksigen, dan keseleo kalau ngadu panco sama Agung Hercules malah bisa sepuas-puasnya nonton Youtube (selama ada jaringan internet pastinya).

Ayub 1 - 0 Firaun

Sebagai pengguna internet aktif setiap hari -kecuali hari kiamat- saya menghabiskan hampir sebagian besar kehidupan saya di depan layar, entah itu layar handphone, layar laptop, sampai layar lunas cicilan hutang. Saya akui, sebagian besar aktifitas saya di internet tidak jauh dari sosial media, saya menyukai sosial media karena di sinilah saya bisa menemukan beragam jenis kehidupan, dari yang menyenangkan, menyebalkan, dan menyebalkan banget.

Disadari atau tidak, beberapa tahun terakhir ini di timeline media sosial kita entah itu di Facebook, Instagram, atau Twitter banyak bermunculan orang-orang yang serba dadakan, dalam artian mereka mendadak menjadi ahli politik, mendadak jadi ahli agama, mendadak jadi ahli hukum, tapi saya belum pernah menemukan ada yang ahli nemu huruf N dalam bungkus permen YOSAN, yaa bisa jadi untuk menemukan huruf N tidak segampang jadi ahli politik-agama-hukum di media sosial.

Aku, ketika melihat perdebatan di media sosial

Beberapa platform media sosial memang sudah memberikan fitur khusus demi kenyamanan penggunanya, misalnya Facebook dengan fitur unfollow yang memungkinkan kita untuk berhenti melihat postingan teman di Facebook tanpa harus memutuskan pertemanan, dan fitur ini sangat berguna bagi saya, entah berapa banyak saya mengklik ikon unfollow di akun orang-orang yang sering share, bikin status, dan berkomentar hal-hal yang menurut saya berbahaya untuk kesehatan pikiran umat manusia modern.

Sederhananya, ketimbang secara tidak sadar saya terjerumus ke level mereka, lebih baik saya melakukan tindakan preventif dengan bantuan tombol unfollow ini. Terima kasih Facebook!

Tadinya saya pikir dengan tombol unfollow saja sudah cukup, tapi ampunmak, ternyata setiap hari ada saja keributan dan kesenewenan yang terjadi di media sosial, dan masalahnya masih sekitar itu-itu doang, tidak jauh dari urusan politik.

Saya sadar, semenjak pilpres 2014, terjadi perubahan konstelasi dan lanskap konten pembicaraan di media sosial, dimana sebelum 2014 media sosial masih diisi hal menyenangkan; Facebook masih diisi tag-tag foto jual hape BM dan promo MLM, Twitter masih dipenuhi becandaan khas selebtwit, Instagram masih belum banyak penggunanya, dan grup Whatsapp masih belum dipenuhi jokes bapak-bapak+dakwah copas grup sebelah.

Nah berhubung ini sudah 2017, tahun depan dan depannya lagi kita bakal menghadapi hal yang saya prediksi lebih semrawut di media sosial yaitu Pilkada 2018 dan Pilpres 2019.

Berkaca pada pengalaman Pilkada 2014 dan Pilkada DKI 2017, pesta demokrasi nanti akan ada kemungkinan membuat perubahan lagi di dunia media sosial, saya pribadi sih sudah terlanjur skeptis jika keadaan media sosial nanti akan membaik, bisa jadi akan banyak isu SARA, berita hoax, dan black campaign yang mengisi ranah media sosial kita.

Karena itu sodara-sodara, postingan ini bertujuan untuk memberikan solusi bagi kita semua dalam menghadapi tahun depan di media sosial, tepatnya untuk menjaga diri kita terbawa arus kesenewenan, untungnya internet masih mempunyai banyak pahlawan yang dapat menjaga kewarasan, tapi kali ini saya khususkan untuk para pahlawan di Youtube dulu aja, ya.

Siapakah sosok para pahlawan tersebut? Mari kita cek satu persatu!


 1. Mat Kiding

Buat kalian yang suka jajan dan wisata kuliner, Mat Kiding jelas merupakan channel Youtube yang paling cocok buat kalian.

Bagi saya Mat Kiding adalah sosok Sid Vicious untuk dunia vlog kuliner, bisa dilihat dari cover channelnya, alih-alih menggunakan vector, typography, atau foto yang representatif sebagai channel kuliner, doi lebih memilih foto dirinya dengan golok yang ditaroh di tangan, semangat DIY (Do It Yourself) khas punk sudah bisa dirasakan dari kesan pertama melihat channel ini!

Lanjut ke konten, Mat Kiding berani menabrak segala unsur estetika yang lazim dipakai di vlog-vlog bergenre kuliner. Lupakan tentang host yang cantik dan ganteng, menu di rumah makan terkenal yang dekat dengan tempat wisata, atau pengambilan gambar yang artsy, karena Mat Kiding seringnya "menggunakan" jasa orang-orang terdekatnya atau orang lain secara random untuk ditraktirnya makan (dan juga dikasih angpao sebagai tanda terima kasih!). Lucunya, Mat Kiding sangat jarang muncul di dalam videonya sendiri (bahkan sejauh ini kayanya belom pernah), karena dia bertindak sebagai Videographer, Narator, dan Administrator sekaligus.

Kalau kamu penasaran buat ngerasain sensasi ngidam jajanan pinggir jalan kaya somay abang-abang, telor gulung, atau bahkan sosis yang dijual di SD, coba tonton salah satu videonya, berhubung ada lebih dari enam ribu video yang sudah diupload, saya sarankan klik random saja.

Selamat mencoba!


How to understand Mat Kiding for Dummies



Sewaktu di Taiwan saya pernah ngidam berat makan bakso pinggir jalan gara-gara nonton video ini


2. Toni Blank

Saya lupa tepatnya kapan pertama menonton videonya, tapi yang jelas Toni Blank merupakan sebuah kata yang mewakili seorang sosok fenomenal yang dulu pernah menjadi viral baik khususnya di timeline Facebook.
Toni Blank Show adalah serial yang digarap oleh temen-temen dari X-CODE Films yang bermarkas di Yogyakarta, pada dasarnya X-CODE adalah creative house yang menangani pembuatan media kreatif seperti video klip, iklan, atau company profile, tapi dari beberapa artikel yang saya baca, tim X-CODE Films tidak mencari profit sama sekali dari Toni Blank Show, padahal dari kualitas dan teknik pengambilan gambarnya saya tebak menghabiskan alokasi dana yang lumayan gede.

Eh, tapi kamu sudah tahu belum kenapa Toni Blank Show masuk dalam list pahlawan internet versi saya? Tonton ya video di bawah ini.

(sayangnya Toni Blank Show sekarang tidak lagi rutin muncul, video terakhir diunggah 3 bulan lalu)






 

 3. Agus Mulyadi

Berbicara tentang Agus Mulyadi jelas erat kaitannya dengan Mojok.co, dua hal ini sudah seperti Upin dan Ipin, Batman dan Robin, Doraemon dan Nobita, Dang dan Dut. Karena dimana ada Mojok pasti ada Agus Mulyadi sebagai atribusi, tidak terpisahkan.
Karena itu, tanpa mengurangi rasa hormat terhadap Mojok, saya beranggapan bahwa Agus adalah superhero internet sekelas Ironman, dan Mojok adalah Marvel (sama-sama diawali huruf M).

Saya kenal Agus dan menjadi fans dengan tulisan-tulisannya semenjak membaca Mojok.co beberapa tahun lalu. Pada awalnya saya agak sedikit sulit mencerna sense of jokes khas tongkrongan anak Jogja yang sering muncul di situs Mojok.co, tapi tulisan-tulisan Agus perlahan mampu membuat saya mengerti dan bisa menikmati gaya becandaan tongkrongan anak Jogja.

Sebagai penggemar karya-karyanya, jelas saya juga mengikuti media sosial dia, ciri khas dari seorang Agus Mulyadi adalah dia bisa menjadi dirinya sendiri di beragam platform media sosial yang dia miliki tanpa harus try hard to look cool.

Sebetulnya dia punya channel Youtubenya sendiri, tapi sayangnya koleksi videonya tidak di-update secara berkala, video favorit saya adalah ketika dia sedang kencan dengan Mbak Kalis Mardiasih dan membuat review tentang warung makan yang sedang mereka kunjungi, yaitu ini:





Dan favorit saya yang lain adalah ketika Agus membuat virtual room kamarnya yang terletak di loteng rumah:



Untuk versi yang digarap dengan editing lebih baik diproduksi oleh Mojok, salah satu favorit saya adalah ketika Agus memberikan tips cara memilih handphone yang baik: 



Bahkan survei lokasi aja bisa menjadi sedemikian menariknya:



Akhirnya sampai juga kita di ujung nominasi pahlawan internet versi saya, kira-kira kalian penasaran enggak siapakah sosok yang saya anggap kelak bakal sangat berjasa menyelamatkan kewarasan kita di tengah kegaduhan media sosial saat pilkada dan pilpres?

Okay,

Please welcome.....























4. RIZA ALVAVAN



Mungkin kalian belum kenal siapa Riza Alvavan ini, karena itu saya di sini pengen mengenalkan kepada kalian semua sobat indieku.
Saya kenal Riza Alvavan sekitar penghujung 2013, dimana saat itu tren vlogging masih belum seramai sekarang, saya lupa dapat link video Riza dari mana, yang pasti saya langsung terkesima pada video yang pertama saya tonton: TUTORIAL SCREAMO.

Ini screenshot nya


Sayangnya channel Youtube Riza Alvavan yang dulu ternyata diblokir oleh pihak Youtube, saya enggak tahu kenapa alasan pastinya, tapi menurut Riza karena banyak orang yang repot-repot channel dia (yang belakangan saya mengerti maksud dia adalah report).

Setelah channelnya diblokir, Riza memang sempat down dan kehilangan semangat untuk berkarya, tapi untungnya dia tidak berhenti untuk membuat video-video baru, jika di channelnya yang lama dia pernah "menyinggung" sebagian kelompok secara tidak sengaja, di channel Youtube nya yang baru Riza mencoba untuk lebih soft, dalam artian dia hanya mengunggah video dengan konten yang ringan, seperti misalnya TUTORIAL CARA MAKAN DAN BERBICARA DENGAN NASI.

Eh? Apa? Masih bingung juga gimana fenomenalnya Riza Alvavan itu? Oke, kamu harus tonton ini satu persatu:




 


Playlist


 Dan terakhir (ini paling penting)...















































Jadi apa intinya dari postingan ini?

CUMA MAU PAMER PERNAH FOTO BARENG RIZA ALVAVAN DAN DAPET STIKER OFFICIALNYA! HAHAHA

Share: