Kumpulan status Facebook

Ternyata saya pernah menulis hal-hal seperti ini di status Facebook:

-
Yak,itu..itu contoh tetangga yg tak tau diri.kutunggu kau dibukit menoreh!

si Anjas Karunia Ladika tuh kalinya hobi nggantung botol kratingdeng di telnga.

lebaran kali ini sungguh indah tanggalnya 20,09,2009

otw to saturnus.

abis jalan2 sama superman,batman,gaban,gundam.

saya baru tau kalo shinichi kudo alias conan itu ternyata bawa sial.tiap kemanapun dia pergi pasti ada orang yang mendadak mati.

pada heboh film 2012,saya mah uda nonton 2013.edan filmnya!

biarlah hujan turun,sebab hujan takkan bisa naik.hanya haji yang mampu naik.

Otw to kamerun.

akhirnya kesampaian juga melihara jerapah.

kecoa merupakan mahluk yang asik diajak berdiskusi masalah lingkungan.

besok ada pertemuan superhero se asia-amerika,dateng ga yaa..hmm..


harusnya hari ini upacara,tapi minggu.

tapi bagaimana mungkin,jangankan menolongnya,aku sendiri berada di dalam mesin cuci.

sungguh menyenangkan jika malam ini anda bersama kami dengan menghadiri pembukaan pameran foto yang dibuat jePRET UNISBA,dari jam 7 sampai 9 di cafe black coffee photography jalan badak singa,dihiburkan oleh Pidi Baiq,one soul reggae,cassavana,dan sixty nine.silakan datang,gratis tanpa tiket,boleh bawa pemain persib jika perlu.

andai bisa,saya ingin sekali main barongsai pas pesantren besok..

sehingga sepertinya keren jika kita kursus ke Somalia..kursus bajak laut..

agama adalah propaganda paling murah untuk saling membenci.lalu memusnahkan dengan meneriakkan namaNya yang Maha Penyayang dianggap sebagai jalan pintas menuju surga.

lagi sibuk,sore ini kursus tinju.

selamat hari kemerdekaan Kamerun.20 mei.

kalau di dunia kelelawar ada upacara bendera,mereka melaksanakannya jam tujuh malam.

jadi ingat waktu dulu jalan2 ke jakarta tahun 1907.pas monas masih kecil.

coba badannya jack jgn ditenggelamin,bawa aja ke darat trus ganti otak&badannya pke mesin,supaya kaya astroboy atau anak ajaib.kan keren..

kalau teletubies sudah menjadi rockstar tentunya topinya dipsy akan seperti topi slash,cadass!

telor ayam mata sapi akhirnya dimakan kucing yang matanya berkunang-kunang.

mereka yg paling banyak memajang foto mukanya di rakyat adalah mereka yg kelak paling banyak memakai uang rakyat untuk balik modal.

pagi2 ditemani lagu michael jackson dan berjoget layaknya almarhum.kini aku keren sekarang.hih-hiy!

"alay" itu adalah kata untuk orang lain.karna diri sendiri adalah yang keren.

dan dengan resmi ikan mas koki yg baru saya beli itu saya namakan "si harimau".tepuk tangan yang pelan semua!!

pedagang beras bekerja untuk sesuap nasi.

lagunya sandy sundono.

yang tersulit dari foto panggung itu adalah ngatur konsentrasi antara motret dengan joget.

sehingga sepertinya keren kalo suatu saat saya nerobos lampu merah lalu dibrhentikan polisi,dan saya jawab "aturan lalu lintas kan buatan manusia,hukum thagut,dan dari gagasan orang2 kafir pak!"

hal paling absurd adalah menyaksikan orang yg berdebat tentang agamanya.karena masing2 pihak pasti merasa sbg orang yg paling dekat denganNya.

sebenarnya makna "individualis" itu tdk harus identik dgn bangsa barat,tak percaya?.lihatlah di jalan raya kota..

kawan2 berhubung habisnya semester 2 beserta uasnya,maka saya memutuskan vakum dulu dari dunia perpulsaan.tapi bagi yg masih pengen minta biografi saya bisa didapatkan di toko buku terjauh di tempat anda.sekian dan salam tempel.

sehingga untuk sekedar tidur,makan,minum,pengguna jejaring sosial melaporkannya lewat status.

seperti kampanye gerakan "go green" dengan konvoi berkendaraan keliling kota.

rumahnya batman itu bukan di gotham city.tapi di s.parman tak jauh dari jembatan antasan-kayutangi.jayalah batman.kami mendukungmu sampai 293 tahun lagi!.tapi kami juga ngefans alm. haji taufik savalas!

kostan captain america,wolverine,spiderman ada di perempatan pasarlama,seberang masjid darunnajah.

desa tumangritis geger karena adanya isu setan keder.

saat belajar menyetir,sosok yang dikagumi adalah para supir angkot.

ya kalau mereka sesat,ajaklah mereka ke jalan yg benar secara baik2.bukan dengan lemparan batu.oh kecuali kalau cuma bahasa batu yg kau bisa.

melindungi dan menakuti masyarakat.

bapa Angga Harseda dan Anjas Karunia Ladika , saya lahir 20 agustus 1935.
 
selamat berburu petasan cap kodok atau cap pistol..tapi untuk menghemat biaya pakailah karbit.jaminan mutu!

tadinya saya pikir sahabat saya yg bernama andre nugroho itu hanya ada 1.oh ternyata ada plagiatnya...semacam khodamnya mungkin..

yg membuat pesulap hebat adalah penonton yg terkagum2 melihat aksinya.tanpa penonton pesulap pasti nganggur.

Insya Alloh lah..tp Insya Alloh arab,jgn Insya Alloh lokal..

andre tuh jangan2 songoku,kalo makan buah berubah jd raksasa,yaa semacam pantangannya..

saya kasih nama itu sepeda saya adalah kapalselam..

ceritanya saya lagi di uruguay..merayakan kemenangan..tapi saya sukanya timnas brunei darussalam kok!.eh tapi kayanya timnas mongolia juga keren.ah bingung jadinya!

ini aku nyanyi tidak latihan dulu.

ya Alloh..lindungilah semua peserta ospek..Indonesia,Kanada,Bangladesh,dan semua negara persemakmuran..Ethiopia..kuba..

lagi sibuk kursus.kursus bahasa ninja.

macet wae euy.untung sayah bisa terbang.

kalau di luar negeri sepakbola sudah seperti agama..kalo di Indonesia agama seperti sepakbola,dapat menyatukan dan dapat memecah,tergantung tingkat kefanatikannya terhadap kelompok tertentu.

atraksi paling hebat yang pernah saya saksikan di 2010 ini yaitu orang ngomong sambil minum.

kalau Abu Jahal masih ada sekarang,maka dia akan slalu ketakutan,karena Muhammad ada dimana-mana.

jurus dewa topan menggusur bumi dan jurus kunyuk melempar buah!

rata-rata kalau ada album yg ngambil fotonya pake webcam pasti ada judul "gila" nya.apanya yang gila?

irit bensin boros nasi.

obama jg tidak dipanggil bule..padahal bosnya amerika..

ya pasti ada yg harus dikorbankan.itulah cita-cita.

jaket tebal.sepatu kets.ransel gede.lalu backpakeran lintas negara,sungguh keren!.kelak pasti saya juga bisa!

bisa jadi pas orde baru supir angkot adl org2 yg dituduh subversifer,karena supir angkot sngat peka dgn hal yg berbau kiri.

mau ke korea utara,biasalaah ngerekrut boysband buat berjihad.

andai saya punya kawan orang filipina pastilah saya ajak nonbar..tapi syaratnya saya pakai kaos timnas senegal,dan dia pakai kaos timnas korea utara,pasti rame..

otw to Somalia.kursus bajak laut gitu deeh.

selamat tahun baru 1976.

terompet paling yahud itu ya terompet atun..

































































Share:

Dekonstruksi Logika

Corriveau dan P.L Harris dalam makalahnya yang berjudul "Judgement about Fact and Fiction from Religious and Nonreligious Backgrounds" yang diterbitkan tahun 2014 menemukan bahwa anak-anak yang terbiasa dididik dalam pendidikan relijius cenderung kesulitan membedakan fiksi dan fakta, karenanya indoktrinisasi rasa takut berlebihan ditambah dengan pembatasan sikap kritis dapat terus berlangsung hingga anak beranjak dewasa dan tidak menutup kemungkinan berlanjut ke generasi selanjutnya.

Tidak ada yang salah dari pendidikan relijius yang ditanamkan semenjak kecil, bahkan hal tersebut seyogiyanya dilakukan sebagai penyeimbang kehidupan horizontal dan vertikal, tetapi pendidikan dogma satu arah tanpa adanya kesempatan untuk bertanya kebenaran ditambah ancaman judgement tanpa ampun atas kesalahan dapat membentuk pribadi generasi "yes man" selama itu dibalut dengan "bumbu" kepercayaan.

Tradisi berpikir kritis terkadang dianggap sebagai wabah bahkan hama dalam kepercayaan karena bahaya yang dapat menuntun orang untuk berpikir bebas. Dalam Pergolakan Pemikiran Islam, Ahmad Wahib pernah menuliskan bahwa orang-orang yang berpikir walaupun hasilnya salah, masih lebih baik dari orang-orang yang tidak pernah salah karena tidak pernah berpikir, bukankah orang yang tidak berpikir juga memiliki potensi untuk salah? Kalau begitu bagaimana kebenaran-kebenaran baru dapat ditemukan?
Hal ini mengingatkan saya pada sebuah joke yang mengatakan bahwa orang yang beriman tanpa berpikir sejatinya lebih mirip malaikat, dan bukan rahasia kalau malaikat derajatnya lebih rendah dari manusia. Ya, sebuah satir yang menohok.

Lebih lanjut, generasi "yes man" yang semenjak kecil dijejali doktrin secara tekstual dengan mengesampingkan konteks akan lebih cepat menelan mentah mitos tanpa penalaran lebih dalam, mitos-mitos yang disebarkan orang tua pada zaman dahulu dimaksudkan untuk mencegah anak-anak melakukan hal buruk tapi dengan bahasa yang mudah dicerna, namun di era kemudahan akses audio visual tradisi berpikir ala mitos tersebut menjelma menjadi monster pembenaran tanpa penalaran secara logis yang kini kita kenal dengan ilmu "Cocoklogi".

26 Oktober 2015,
Kaohsiung, Taiwan.

(Terinspirasi dari tulisan Prof. Rhenald Kasali)

http://fajar.co.id/headline/2015/10/25/subhanallah-saat-kebakaran-hutan-ada-api-berbentuk-lafadz-allah.html

Share:

Mengasah Hidup

Di tahun awal perkuliahan S1, dosen pengampu mata kuliah Psikologi Komunikasi saya pernah melontarkan kalimat kurang lebih "cobalah menjadi asing, dengan begitu kita bisa lebih menghargai kehidupan".

Kalimat tersebut secara sederhana saya terjemahkan jika ingin menghargai perbedaan, pergilah jauh, carilah pengalaman, jadilah sosok yang asing, hingga akhirnya saya menyimpulkan bahwa suatu saat saya harus berkelana ke Indonesia bagian Timur!

Ide berkelana menuju Indonesia bagian Timur bukan tanpa alasan, Indonesia itu luuuuaaas sekali, tapi bagian Timur jarang terekspos. Berkelana bukan dalam artian datang ke suatu tempat, selfie, lalu tinggalkan. Tapi berkelana untuk mengetahui kehidupan di sana, bergaul dengan masyarakat lokal, melihat perspektif mereka, dan tentunya menjadi asing untuk mampu mengolah rasa tentang hidup.

Saat rekan sejawat mulai menyiapkan Riwayat Hidup terbaik untuk dimasukkan ke setiap perusahaan setelah menyelesaikan study S1, saya justru mencari tahu apa yang harus saya lakukan untuk menambah bekal rupiah dalam kurun waktu minimal 6 bulan di Indonesia Timur, seperti bekerja paruh waktu, sayapun sempat menawarkan kamera, laptop, dan barang yang saya miliki di situs jual beli online.

Sebagai seorang tukang mimpi, keinginan saya setelah menyelesaikan S1 hanya 2 : pergi ke Indonesia Timur atau Belanda. Ya, obsesi besar jangka pendek. Saat itu saya tidak pernah memikirkan tentang jangka panjang.

Karena perihal dana yang belum mencukupi untuk ke Indonesia Timur dan keinginan besar mencari beasiswa ke Belanda, maka saya memilih jalan tengah : belajar bahasa Inggris ke Kampung Pare (silakan googling apa itu Kampung Pare).

Kampung Pare saya pilih secara spontan karena pertimbangan kemampuan bahasa Inggris yang masih kacau dan banyaknya pelajar asal Indonesia Timur yang mencari ilmu di sana, dengan kata lain juga kesempatan besar saya mendapat jaringan dengan warga Indonesia Timur!

Hidup memang sulit ditebak, bukannya mendapatkan jaringan dengan warga Indonesia Timur, saya justru mendapat seorang teman baik yang menginfokan tentang sebuah beasiswa. Singkatnya saya ikuti program beasiswa tersebut, hingga sekarang saya bisa berada di Negeri Formosa.

Rencana Indonesia Timur saya memang kandas -tepatnya belum terwujud-, tapi semesta seakan berkonspirasi memberi saya kesempatan untuk menikmati menjadi terasing ribuan kilometer dari Indonesia.

Benar kata dosen saya 6 tahun lalu tersebut, dengan menjadi terasing kita lebih berpikiran terbuka terhadap gagasan baru, menghargai perbedaan, dan tentunya sadar bahwa kehidupan tidak hanya tentang satu golongan. Ada universalitas yang harus dipahami dan dialami.

Dan kini, realita yang ada di masyarakat adalah mudahnya kita mengiyakan dan mengaminkan segala isu negatif yang mengarah ke golongan di luar kita tanpa mau mempelajari atau setidaknya mendengarkan klarifikasi dari sudut pandang golongan tersebut.

Dengan sukarela kita mau menghabiskan energi sebagai agen kampanye "Waspada!" "Menyimpang!" dan beragam jargon "manis" lainnya karena penggunaan kacamata kuda ditambah dengan pemahaman dari satu dogma melalui pergaulan yang homogen. Energi ini yang justru dapat menyebabkan perpecahan, entah perlu berapa kali kita harus diajarkan oleh sejarah tentang pertumpahan darah yang berpangkal dari pemikiran sempit atas ego golongan.

Tidak berlebihan rasanya jika ingin mengolah rasa maka kita harus menyediakan waktu untuk berlatih, mengasah diri untuk bergerak, bertemu orang yang berbeda dari segi nasib, pandangan, iman, ilmu, dan ideologi dengan kita. Sudah bukan waktunya menghamburkan energi dan pemikiran untuk mendebatkan perbedaan dalam kesamaan, tapi carilah kesamaan dalam perbedaan. Sulit, tapi pasti bisa.


25 Oktober 2015
Kaohsiung, Taiwan
Share:

Mengislamkan Batu

Saya teringat sebuah kalimat yang dilontarkan seorang teman "blaming does not require any research nor thinking, it is occured spontaneously without process". Saya mengamini hal tersebut mengingat banyaknya informasi penuh kebencian yang berseliweran di dunia maya tanpa filter nalar memadai.

Tetapi kalimat tersebut jua yang mengarahkan pemikiran saya kepada salah seorang manusia penuh teladan dari Indonesia. Sosok tersebut adalah Kanjeng Kiai Hamam Ja'far.

Kiai Hamam Ja'far adalah pembangun peradaban intelektual melalui Pondok Pesantren di desa Pabelan Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Di saat mudanya, beliau berjuang membangun Pondok Pesantren Pabelan di tengah masyarakat yang saat itu diliputi dengan kebodohan, takhayul, dan mental rendah diri dengan salah satu ucapannya yang kelak akan selalu diingat oleh santrinya "Ayo Islamkan batu-batu itu" setiap beliau dan santrinya ke Kali Pabelan.

Mengislamkan batu bukanlah hasil, tapi merupakan proses, dimana batu-batu tersebut diangkut, dijadikan fondasi bangunan, sebagian dijual ke pasar dan uangnya dibelikan alat tulis dalam proses belajar-mengajar, ilmu yang didapat dalam kelas ini yang kelak harus diaplikasikan kepada masyarakat.

Dari batu yang "diislamkan" lah pemuda 27 tahun ini berjuang mendidik masyarakat dari hal kecil seperti tentang pentingnya sirkulasi udara, mengingat masyarakat pada saat itu beranggapan bahwa rejeki datang dari pintu sehingga segala ventilasi dianggap hanya akan menghambat rejeki mereka, Kiai Hamam Ja'far dengan sabar menjelaskan sirkulasi udara yang buruk lebih berpotensi mendatangkan penyakit alih-alih mendatangkan rejeki.

Hasilnya? Pondok pesantren yang dulu didirikan dengan modal batu dan niat tulus kini menjelma menjadi menjadi hulu peradaban ilmu dengan memasuki ilayah seni dan budaya. Pondok Pesantren ini pula yang turut mengilhami Vidiadhar Surajprasad Naipaul dalam penulisan novel terkenalnya Among the Believers: an islam Journey. Terlebih entah berapa banyak intelektual muslim yang dilahirkan dari sini, sebutlah Prof. Komaruddin Hidayat, Prof. Bachtiar Effendi, dan Kyai Ahmad Najib Amien Hamam.

Jika saat ini bermunculan banyak ustadz "konon katanya" yang dengan mudah mengobral fatwa A sesat, B haram, C kafir dan diaminkan oleh kaum cuti nalar di dunia maya, maka Kiai yang berguru langsung kepada KH Ahmad Sahal, KH Zainuddin Fanani, dan KH Imam Zarkasyi ini adalah sebuah paradoks, beliau adalah sosok guru bangsa yang berjuang mengislamkan masyarakat dimulai dari batu hingga menjadi sesuatu yang penuh manfaat bagi semesta.

Karena mengislamkan tidak semudah membukanislamkan.

(terinspirasi dari tulisan Arlian. B)
Share:

STIGMA, MUSLIM, LITERASI, DAN WISATA.

Selama satu tahun mencari ilmu di negeri Formosa entah beberapa kali saya disangka sebagai orang lokal, mungkin mereka menyangka saya sebagai orang lokal karena penampilan dan fisik yang tidak beda jauh dengan mereka.

Berbeda dengan rekan-rekan yang lain, saya tipikal orang yang cenderung menutupi identitas terlebih dahulu jika bertemu dengan orang baru, ketika berkenalan sayalah yang terlebih dahulu bertanya "where do you come from?", dan jika lawan bicara tidak bertanya balik belum tentu saya akan memberi tahu tentang kewarganegaraan.

Begitu pula dengan kepercayaan, saya termasuk orang yang tidak menunjukkan diri saya seorang muslim melalui penampilan.

"Penutupan" diri ini bukan tanpa alasan, selama berada di negeri orang, saya ingin tahu apa pendapat bangsa lain secara objektif mengenai dua hal yang melekat pada diri saya, yaitu negara dan agama. Cara saya mencari tahu hal ini adalah dengan membaurkan diri di berbagai kesempatan dan pertemuan yang melibatkan orang dari berbagai bangsa.

Salah satu komunitas yang saya ikuti di sini adalah komunitas traveller dan hiker, rutin setiap minggunya saya selalu bertemu dengan orang-orang baru dari berbagai bangsa dengan beragam tujuan mengunjungi kota Kaohsiung -sebagian besar untuk travelling-,
Seperti yang sudah disebutkan di atas, dalam perkenalan dengan orang baru, saya cenderung "menutup" identitas saya sebagai seorang muslim, tetapi dalam perbincangan yang terjadi saya sangat sering mengarahkan topik pembicaraan tentang reliji dan tentunya muslim dalam perspektif mereka.

Memancing untuk berbicara blak-blakan agak sulit dilakukan jika mereka sebelumnya mengetahui saya seorang muslim, jelas mereka tidak ingin menyakiti perasaan saya jika harus berkata hal yang buruk, karena itu untuk observasi perspektif saya harus "menyembunyikan" identitas terlebih dahulu.
Dan dari diskusi-diskusi yang pernah dilakukan, ada yang biasa-biasa saja, ada yang tertarik untuk mengetahui tentang kehidupan muslim, dan ada yang tertarik untuk bepergian ke negara muslim.

Ajaibnya, dari diskusi tersebut saya tidak pernah mendengar adanya perspektif negatif dari mereka tentang umat Islam (ingat, saya melakukan diskusi ini dengan "tanpa identitas muslim", jadi mereka bebas mengutarakan apa yang ada di pikiran tanpa harus takut menyakiti perasaan saya) mengingat banyaknya pemberitaan -terutama dari media barat- yang mengarahkan Islam ke stigma negatif entah kekerasan atau terorisme.

Dari sini saya mencoba mencari penyebab mengapa mereka tidak berpikiran buruk sementara di sisi lain selalu ada pihak yang selalu merasa dizalimi dan playing victim terhadap media yang ada melalui cara-cara seperti apa yang mereka tuduhkan terhadap media tersebut.

Dan jawabannya adalah Literasi.

Di bumi bagian lain membaca bukanlah suatu hobi ataupun tugas, tapi sudah menjadi bagian dari kehidupan selayaknya makan dan bernafas (oke, saya lebay). Terhadap informasi yang beredar, filter mereka lebih berfungsi, mereka cenderung untuk mencari tahu kebenaran melalui sumber lain, ditambah lagi kemampuan berpikir secara terbuka yang semakin memperpanjang sumbu nalar, secara sederhana hal-hal ini dapat meminimalisir peluang untuk menelan mentah segala informasi.

Sementara itu di sisi lain, budaya literasi yang tidak sebanding bisa kita lihat melalui berita yang bermodal provokasi jualan agama+kebencian dengan headline seperti "Astagfirullah! Terbongkar sudah, ternyata blablabla..." bisa laku terjual melalui ratusan bahkan ribuan klik dan share. Rendahnya budaya literasi ini dimanfaatkan oleh mereka yang melihat ini sebagai peluang bisnis untuk meningkatkan traffic visitor. Ya, keluguan+kebencian bisa dengan mudah dijadikan uang di era informatika.

Kembali lagi soal pembicaraan, saya sering mengarahkan pembicaraan saya dengan teman-teman traveller lintas bangsa tersebut dengan topik "kenapa sih kalian ngga ngunjungin Indonesia?"
Saya bertanya hal tersebut karena cukup ironis, dari traveller yang saya temui kebanyakan mereka pernah atau berminat untuk mengunjungi negara Asia Tenggara seperti Malaysia, Singapura, Vietnam, dan Thailand, sementara Indonesia yang dengan peta apapun jauh lebih luas dari negara Asia Tenggara lainnya justru dijadikan pilihan terakhir, padahal kita tahu kalau wisata alam keren seperti apa yang tidak ada di Indonesia selain salju?

Tadinya saya menduga karena isu terorisme adalah alasan utama mereka mengapa cenderung menjadikan Indonesia pilihan destinasi di bawah negara Asia Tenggara lainnya, tapi dari alasan yang mereka lontarkan ternyata penyebabnya sederhana : mereka tidak tahu banyak Indonesia ataupun akses menuju tempat wisata selain Bali.

Penyebab ini masuk akal dan sangat beralasan, jika saya berada di sisi orang asing, tentunya akan sulit bagi saya untuk mengetahui dan menuju ke tempat-tempat keren di Indonesia tanpa adanya promosi atau informasi yang memadai, terlebih siapa yang mau menghabiskan uang hanya untuk ketidakjelasan, bukan?

Sebetulnya hal ini bisa dijadikan peluang besar, daripada membuat kaya para pemilik portal berita tidak jelas juntrungan dengan memanfaatkan kebencian kita, mengapa tidak berjuang kreatif menambah pundi-pundi rupiah dengan mempromosikan paket wisata daerah sendiri?
 Dunia saat ini sudah masuk era borderless, segala informasi bisa disebarkan kemanapun dan kapanpun, selalu ada peluang selama kita mau berpikir positif dan terbuka.

Kaohsiung, Taiwan.
(berangkat dari pemikiran yang ngalor ngidul)
Share:

KETIKA PEREMPUAN MELAWAN

Tak ada hal yang lebih luar biasa dari perempuan yang berjuang untuk haknya dan kaumnya, katakanlah Leila Khaled, seorang pejuang Front Rakyat Pembebasan Palestina, HR Rasuna Said, perempuan Indonesia pertama yang dikenakan hukum Speek Delict karena pidatonya yang melawan pemerintah kolonial Belanda, Teungku Fakinah, seorang mujahidah Aceh yang memimpin pasukan empat batalion tempur di era kolonial, Marsinah, pejuang wanita pembela hak buruh yang berani mengambil resiko hingga nyawanya menjadi taruhan, dan Ibu Sumarsih, yang sampai hari ini tidak pernah lelah mengobarkan semangat perjuangan melawan impunitas para pelanggar HAM melalui Aksi Kamisan yang rutin dilakukan di depan istana negara.

Film Samin vs Semen ini merekam tentang perjuangan warga di sebuah desa di Pati dan Rembang, Jawa Tengah dalam mempertahankan lahan pertanian mereka dari alihfungsi menjadi pabrik semen. Dalam durasi 39 menit kita diajak Dandhy Laksono-sang sutradara untuk menyelami bagaimana pemikiran dan kearifan lokal para penganut ajaran Samin terutama merekontruksi ulang apa yang selama ini kita sebut dengan "kesejahteraan", sepanjang film ini dapat kita saksikan bagaimana perjuangan para perempuan perkasa dalam mempertahankan tanah yang harus mereka jaga hingga anak cucu dari tangan korporasi, bagaimana cara mendidik anak-anak mereka dengan mengutamakan pendidikan terhadap tindakan dan ucapan, dan bagaimana kerukunan masyarakat terhadap perbedaan kepercayaan yang ada di lingkungan mereka (salah satu narasumber dan pejuang yang ada di film ini tidak menuliskan apapun pada kolom agama di KTP nya).

Semasa menempuh pendidikan S1, saya selalu beranggapan bahwa jurnalistik adalah tentang cover by both side, tetapi Dandhy Laksono mampu melukiskan subjektifitas dengan cara menakjubkan melalui karyanya ini, harus diakui Jurnalisme seperti ini adalah tentang keberanian berkarya dengan menantang resiko, kelak karya seperti inilah yang akan di rekam oleh sejarah.

Hal yang menarik perhatian saya adalah ketika adegan wawancara dengan warga dari desa lain tentang tanah mereka sudah dibeli untuk dijadikan pabrik semen 20 tahun yang lalu. Diakui oleh warga tersebut bahwa mereka terpaksa menjual tanah mereka kepada korporasi karena adanya ancaman dan intimidasi dari pria-pria berbadan besar berpakaian hijau di era "piye kabare penak jamanku toh?", dimana mereka saat itu tidak memiliki pilihan lain selain menjual tanah yang seharusnya mereka kelola sendiri untuk diwariskan kepada anak cucunya.

Film ini sering dikatakan berbahaya, banyak kecaman dari pihak-pihak yang merasa dirugikan dari film ini, dari pelarangan nonton dan diskusi publik, perlawanan informasi melalui media massa, bahkan salah seorang teman dicap Komunis karena menonton dan menyebarkan film ini (yap, propaganda dan pembodohan massal yang telah terjadi beberapa puluh tahun masih terasa dampaknya hingga sekarang).

Beruntung kita hidup di era kemudahan informasi dimana dalam merespon segala informasi yang berseliweran kita perlu modal penting : akal sehat, nalar, logika, dan nurani.



Selamat menyaksikan.

-Ayub Angga Direja
Share:

Hiking, Caving, and Camping trip! (Part.1)

Jadi sekitar bulan Maret atau April kemaren saya dapet temen baru dari komunitas backpacker di Kaohsiung, namanya David, dia orang Amrik yang seumuran dengan saya dan sekarang di Kaohsiung bekerja sebagai guru bahasa Inggris.

Nah, suatu hari dia ngajak saya buat jalan-jalan ke Kenting, suatu daerah di sebelah selatan Taiwan yang terkenal dengan pantai dan keindahan alamnya (surely! talk about beach in Taiwan, Kenting is the best!), David ngajak berangkat Sabtu pagi pake skuter dia, dan dia bilang siapin fisik karena bakalan menempuh perjalanan lumayan lama dan rencananya kami akan kemping di Kenting.

Oke, hari yang ditunggu pun tiba! saya yang biasanya melanjutkan tidur sejenak setelah solat subuh, kali ini saya harus packing barang-barang yang akan saya bawa selama trip ini (saya tipe orang yang lebih nyaman packing yang dadakan, bukan dipersiapkan, haha)

Saya janjian dengan David di stasiun MRT Weiwuying, karena stasiun ini deket dengan apartment dia, pas ketemu sih saya sedikit kaget, lah ini bocah bule nyantai banget dandanannya, dia cuma pake kaos dan celana pendek selutut, padahal kan ini mau perjalanan yang lumayan jauh, oh iya.. saya lupa, mereka tidak pernah merasakan masuk angin, hahaha

Dan perjalanan pun dimulai..

Hari itu cuaca di Kaohsiung sangat cerah, kami menyusuri jalan di daerah selatan Kaohsiung, lalu melewati Pingtung, hal yang paling saya sukai saat perjalanan menuju daerah Kenting adalah di jalan raya kita dapat melihat gunung eh tepatnya bukit kali ya yang berbatasan langsung dengan laut.

Pemandangan selama perjalanan ke Kenting


Tujuan pertama dari trip ini adalah Baisha Beach 白沙灣 , Baisha Beach atau Pantai Putih ini adalah salah satu pantai terkenal di daerah Kenting, pantai ini adalah salah satu pantai yang dijadikan salah satu lokasi syuting film Life of Pi (salah satu film favorit saya nih!), sebenernya menurut saya pribadi pantai ini sama aja kaya pantai di Indonesia, yang bikin beda tentunya pantai ini dijaga dengan baik, ngga ada sampah bertebaran, dan untuk masuk tidak dikenakan pungutan apapun termasuk ongkos parkir.


Baisha Beach 白沙灣
Setelah 2 jam disana, kami lanjut perjalanan lagi, David nawarin ke saya mau ngga perjalanannya spontanitas aja, maksudnya yaa ngalor ngidul aja kemanapun tanpa tujuan, kalo ada tempat bagus ya berhenti, saya mah jelas ngeiyain toh untuk packing aja saya sukanya dadakan apalagi perjalanan.

Perjalanan selanjutnya David ngajak ke Kenting National Park, tempat ini sebenernya sudah pernah saya kunjungi bulan Oktober tahun kemaren, tapi jalur yang diambil kali ini agak berbeda karena jalur kali ini nanjak lewat gunung (yaiyalah namanya juga National Park). Setelah sampai di tempat parkir sepeda motor, kami pun melanjutkan dengan berjalan kaki, tempat ini sih sebenarnya tempat wisata yaa katakanlah mirip kebun raya Bogor tapi versi banyak tanjakan, sampai disana cuaca agak gerimis dan bodohnya saya lupa bawa payung! ah tapi bukan masalah toh saya robocop.
Selama jalan kaki banyak sekali orang tua yang sedang berwisata di tempat ini, saya sendiri kadang heran orang tua di Taiwan kebanyakan fisiknya masih kuat, sangat sering sekali saya menjumpai kakek atau nenek yang ikut rombongan hiking di Taiwan.

Tempat pertama yang saya datengin adalah tower dimana jelas dari atas tower saya bisa liat pemandangan sekitar,  tapi saya tidak bisa berlama lama di puncak tower, karena saat itu sedang gerimis dan tentunya angin kenceng, ah tida asik lah, jadi saya cuma bentar doang buat selfie.

Selfie ganteng di atas tower
Turun dari tower David ngajakin buat ke gua, gua bukan dalam artian gue ya, tapi gua yang terbentuk dari alam, alam apa? alam mbah dukun? alam ghaib? aaah kok ngelantur gini, yaudah liat ini deh fotonya
dalam gua, bukan elo

Bersambung dulu ya...
Share:

Lagi demen!

Saya adalah tipikal orang yang kalau suka sama video clip sering diputer berulang-ulang. Video clip yang saya sukai kebanyakan yang sederhana, tanpa perlu efek visual yang macem-macem tapi konsepnya kuat, saya pribadi punya videographer favorit, namanya Anggun Priambodo, ada beberapa video clip karya Anggun Priambodo yang menjadi kesukaan saya dimana terlihat sederhana tapi konsepnya sangat kuat, seperti video clipnya Bangkutaman - Ode Buat Kota atau Lain - Train Song , video klipnya sangat sederhana dan dana yang diperlukan tentunya tidak akan sebesar memproduksi video klip pada umumnya, yang saya kagumi disini adalah kemampuan dan kreatifitas Anggun Priambodo memproduksi video klip dengan dana yang tidak terlalu besar namun tetap keren (saya tahu, keren adalah kata yang sangat subjektif)

Nah, akhir-akhir ini saya sedang tergila-gila dengan karya Anggun Priambodo yang terbaru, video clip lagunya Mondo Gascaro - Komorebi,
Mondo Gascaro adalah eks keyboardisnya band SORE, Komorebi adalah single keduanya yang diambil dari nama anak pertamanya,
Video clip ini sendiri dikonsep secara sederhana dan kita bisa sangat menikmatinya, dimana diperlihatkan Mondo yang sedang menghabiskan hari dengan anaknya,
buat saya pribadi video clip ini saaangat manis (so sweet), seorang ayah yang bersantai bersama anaknya, berjalan-jalan di taman, melihat-lihat ikan di akuarium, ke toko musik, dan menggendong anaknya yang tertidur sambil membawa totebag yang isinya (mungkin) susu dan perlengkapan bayi lainnya sehingga sukses membuat saya ingin menjadi sosok ayah yang seperti di video clip ini kelak, haha!

Dan sekarang sambil mengetik ini saya membayangkan, anak saya kelak yang mengenakan kaos band untuk bayi, saya ajak setiap minggu pergi ke taman sekedar bersantai, pergi ke toko musik, dan menikmati sore hari, waaah~


Springs of flower, and autumn sands
Trees will grow as life grows within
Peaceful is your sunday evening
Think of all the words and laughters
Will you shine like a million stars 


 
Share:

4 Pertanyaan yang sering dijumpai

Selama saya di Taiwan, sering banget dapet banyak pertanyaan atau quote-quote yang diajuin ke saya, pertanyaan-pertanyaan itu biasanya dari orang yang baru kenal, antara lain :


What??! Are you Indonesian? I think you are Taiwanesse!
Biasanya pertanyaan ini dari orang yang ngajak saya ngobrol bahasa Chinese lalu saya bilang dengan bahasa Inggris kalau saya tidak bisa ngomong Chinese

Are you master degree? you looks very young!
Untuk quote ini seringkali berasal dari teman-teman diluar kampus, maklum.. muka saya masih muka anak SMA, entahlah nanti jika sudah menjadi dosen, bisa jadi disangka sebagai teman sekelas, hahaha!

Why you choose Taiwan? not other countries?
Biasanya dari temen kelas orang lokal, mungkin mereka menganggap kalau orang Indonesia ke Taiwan cuma buat kerja, jarang untuk mencari ilmu, rasanya pengen ngasih tau kalau kata nabi "tuntutlah ilmu sampai ke negeri China"

Why you do not eat pork?
Mengingat di Taiwan banyak makanan yang mengandung babi, maka saya harus berhati-hati jika ingin makan, tapi untungnya orang Taiwan sangat open minded dan menghormati setelah saya kasih tahu alasan mengapa saya tidak makan babi


Yaa begitulah, rada bosen juga sih ditanya kaya gitu, apa kudu ditulis aja gitu ya jawaban-jawaban dari pertanyaan itu disini? biar kalo ditanya, tinggal bilang "just see my blog".


 No one from these three guys is Taiwanesse
Share:

Sekedar Introduction yang perkenalan

Heyhow!

Saat ini saya tinggal di Kaohsiung, kota kedua terbesar di Taiwan,

Sudah 6 bulan saya tinggal disini untuk menuntut ilmu, iya.. saya sedang study S2, sehingga membuat saya memiliki kesempatan untuk berjalan-jalan seantero Taiwan,

Selama 6 bulan terakhir saya sudah mengunjungi banyak tempat di Taiwan, beberapa pengalaman itu akan saya ceritakan, karena itulah mungkin di awal-awal blog ini akan dipenuhi dengan pengalaman travelling saya ke beberapa tempat yang sebenarnya sudah dilakukan beberapa bulan lalu, yaa semacam #LatePost kalau bahasa dunia sosmed mah, tapi biarlah lebih baik terlambat daripada cepat tapi ternyata hari libur (prinsip jaman sma)

Adapun tokoh yang (kemungkinan) akan sering muncul di cerita saya antara lain :

Ayub Angga Direja (Saya Sendiri)
Go-nyon (Nama kesayangan untuk kamera go-pro saya)
Nicky (nama kesayangan untuk kamera nikon)



terlihat sangar ya?
Share:

Heyhow Lezzgoh!

Halo!

Saya Ayub Angga Direja,

Blog ini saya bikin untuk bercerita banyak hal, dengan bahasa yang simpel dan semoga mudah dimengerti,

Tujuan blog ini tidak lain hanya untuk bersenang-senang jangan berharap ada kalimat motivasi atau apapun itu, karena nantinya saya hanya akan bercerita tentang kehidupan sehari-hari saya, sesederhana mungkin saya ceritakan, dari yang tidak penting sampai ke yang sangat tidak penting.

Yaa sebenarnya saya sudah punya banyak blog, tapi layaknya manusia yang hidup segan ngeblog tak keurus, banyak blog saya yang pada akhirnya tumbang di tengah jalan atau dalam bahasa kerennya LUPA PASSWORD,

Tapi semoga melalui password yang sudah saya tulis di notes handphone, kelak banyak tulisan yang ada disini, jadi saya tidak ada alasan untuk lupa akan password, lupa password boleh asal jangan lupa Tuhan.

sekian dulu ah.





Share: