KETIKA PEREMPUAN MELAWAN

Tak ada hal yang lebih luar biasa dari perempuan yang berjuang untuk haknya dan kaumnya, katakanlah Leila Khaled, seorang pejuang Front Rakyat Pembebasan Palestina, HR Rasuna Said, perempuan Indonesia pertama yang dikenakan hukum Speek Delict karena pidatonya yang melawan pemerintah kolonial Belanda, Teungku Fakinah, seorang mujahidah Aceh yang memimpin pasukan empat batalion tempur di era kolonial, Marsinah, pejuang wanita pembela hak buruh yang berani mengambil resiko hingga nyawanya menjadi taruhan, dan Ibu Sumarsih, yang sampai hari ini tidak pernah lelah mengobarkan semangat perjuangan melawan impunitas para pelanggar HAM melalui Aksi Kamisan yang rutin dilakukan di depan istana negara.

Film Samin vs Semen ini merekam tentang perjuangan warga di sebuah desa di Pati dan Rembang, Jawa Tengah dalam mempertahankan lahan pertanian mereka dari alihfungsi menjadi pabrik semen. Dalam durasi 39 menit kita diajak Dandhy Laksono-sang sutradara untuk menyelami bagaimana pemikiran dan kearifan lokal para penganut ajaran Samin terutama merekontruksi ulang apa yang selama ini kita sebut dengan "kesejahteraan", sepanjang film ini dapat kita saksikan bagaimana perjuangan para perempuan perkasa dalam mempertahankan tanah yang harus mereka jaga hingga anak cucu dari tangan korporasi, bagaimana cara mendidik anak-anak mereka dengan mengutamakan pendidikan terhadap tindakan dan ucapan, dan bagaimana kerukunan masyarakat terhadap perbedaan kepercayaan yang ada di lingkungan mereka (salah satu narasumber dan pejuang yang ada di film ini tidak menuliskan apapun pada kolom agama di KTP nya).

Semasa menempuh pendidikan S1, saya selalu beranggapan bahwa jurnalistik adalah tentang cover by both side, tetapi Dandhy Laksono mampu melukiskan subjektifitas dengan cara menakjubkan melalui karyanya ini, harus diakui Jurnalisme seperti ini adalah tentang keberanian berkarya dengan menantang resiko, kelak karya seperti inilah yang akan di rekam oleh sejarah.

Hal yang menarik perhatian saya adalah ketika adegan wawancara dengan warga dari desa lain tentang tanah mereka sudah dibeli untuk dijadikan pabrik semen 20 tahun yang lalu. Diakui oleh warga tersebut bahwa mereka terpaksa menjual tanah mereka kepada korporasi karena adanya ancaman dan intimidasi dari pria-pria berbadan besar berpakaian hijau di era "piye kabare penak jamanku toh?", dimana mereka saat itu tidak memiliki pilihan lain selain menjual tanah yang seharusnya mereka kelola sendiri untuk diwariskan kepada anak cucunya.

Film ini sering dikatakan berbahaya, banyak kecaman dari pihak-pihak yang merasa dirugikan dari film ini, dari pelarangan nonton dan diskusi publik, perlawanan informasi melalui media massa, bahkan salah seorang teman dicap Komunis karena menonton dan menyebarkan film ini (yap, propaganda dan pembodohan massal yang telah terjadi beberapa puluh tahun masih terasa dampaknya hingga sekarang).

Beruntung kita hidup di era kemudahan informasi dimana dalam merespon segala informasi yang berseliweran kita perlu modal penting : akal sehat, nalar, logika, dan nurani.



Selamat menyaksikan.

-Ayub Angga Direja
Share: