Dekonstruksi Logika

Corriveau dan P.L Harris dalam makalahnya yang berjudul "Judgement about Fact and Fiction from Religious and Nonreligious Backgrounds" yang diterbitkan tahun 2014 menemukan bahwa anak-anak yang terbiasa dididik dalam pendidikan relijius cenderung kesulitan membedakan fiksi dan fakta, karenanya indoktrinisasi rasa takut berlebihan ditambah dengan pembatasan sikap kritis dapat terus berlangsung hingga anak beranjak dewasa dan tidak menutup kemungkinan berlanjut ke generasi selanjutnya.

Tidak ada yang salah dari pendidikan relijius yang ditanamkan semenjak kecil, bahkan hal tersebut seyogiyanya dilakukan sebagai penyeimbang kehidupan horizontal dan vertikal, tetapi pendidikan dogma satu arah tanpa adanya kesempatan untuk bertanya kebenaran ditambah ancaman judgement tanpa ampun atas kesalahan dapat membentuk pribadi generasi "yes man" selama itu dibalut dengan "bumbu" kepercayaan.

Tradisi berpikir kritis terkadang dianggap sebagai wabah bahkan hama dalam kepercayaan karena bahaya yang dapat menuntun orang untuk berpikir bebas. Dalam Pergolakan Pemikiran Islam, Ahmad Wahib pernah menuliskan bahwa orang-orang yang berpikir walaupun hasilnya salah, masih lebih baik dari orang-orang yang tidak pernah salah karena tidak pernah berpikir, bukankah orang yang tidak berpikir juga memiliki potensi untuk salah? Kalau begitu bagaimana kebenaran-kebenaran baru dapat ditemukan?
Hal ini mengingatkan saya pada sebuah joke yang mengatakan bahwa orang yang beriman tanpa berpikir sejatinya lebih mirip malaikat, dan bukan rahasia kalau malaikat derajatnya lebih rendah dari manusia. Ya, sebuah satir yang menohok.

Lebih lanjut, generasi "yes man" yang semenjak kecil dijejali doktrin secara tekstual dengan mengesampingkan konteks akan lebih cepat menelan mentah mitos tanpa penalaran lebih dalam, mitos-mitos yang disebarkan orang tua pada zaman dahulu dimaksudkan untuk mencegah anak-anak melakukan hal buruk tapi dengan bahasa yang mudah dicerna, namun di era kemudahan akses audio visual tradisi berpikir ala mitos tersebut menjelma menjadi monster pembenaran tanpa penalaran secara logis yang kini kita kenal dengan ilmu "Cocoklogi".

26 Oktober 2015,
Kaohsiung, Taiwan.

(Terinspirasi dari tulisan Prof. Rhenald Kasali)

http://fajar.co.id/headline/2015/10/25/subhanallah-saat-kebakaran-hutan-ada-api-berbentuk-lafadz-allah.html

Share:

Mengasah Hidup

Di tahun awal perkuliahan S1, dosen pengampu mata kuliah Psikologi Komunikasi saya pernah melontarkan kalimat kurang lebih "cobalah menjadi asing, dengan begitu kita bisa lebih menghargai kehidupan".

Kalimat tersebut secara sederhana saya terjemahkan jika ingin menghargai perbedaan, pergilah jauh, carilah pengalaman, jadilah sosok yang asing, hingga akhirnya saya menyimpulkan bahwa suatu saat saya harus berkelana ke Indonesia bagian Timur!

Ide berkelana menuju Indonesia bagian Timur bukan tanpa alasan, Indonesia itu luuuuaaas sekali, tapi bagian Timur jarang terekspos. Berkelana bukan dalam artian datang ke suatu tempat, selfie, lalu tinggalkan. Tapi berkelana untuk mengetahui kehidupan di sana, bergaul dengan masyarakat lokal, melihat perspektif mereka, dan tentunya menjadi asing untuk mampu mengolah rasa tentang hidup.

Saat rekan sejawat mulai menyiapkan Riwayat Hidup terbaik untuk dimasukkan ke setiap perusahaan setelah menyelesaikan study S1, saya justru mencari tahu apa yang harus saya lakukan untuk menambah bekal rupiah dalam kurun waktu minimal 6 bulan di Indonesia Timur, seperti bekerja paruh waktu, sayapun sempat menawarkan kamera, laptop, dan barang yang saya miliki di situs jual beli online.

Sebagai seorang tukang mimpi, keinginan saya setelah menyelesaikan S1 hanya 2 : pergi ke Indonesia Timur atau Belanda. Ya, obsesi besar jangka pendek. Saat itu saya tidak pernah memikirkan tentang jangka panjang.

Karena perihal dana yang belum mencukupi untuk ke Indonesia Timur dan keinginan besar mencari beasiswa ke Belanda, maka saya memilih jalan tengah : belajar bahasa Inggris ke Kampung Pare (silakan googling apa itu Kampung Pare).

Kampung Pare saya pilih secara spontan karena pertimbangan kemampuan bahasa Inggris yang masih kacau dan banyaknya pelajar asal Indonesia Timur yang mencari ilmu di sana, dengan kata lain juga kesempatan besar saya mendapat jaringan dengan warga Indonesia Timur!

Hidup memang sulit ditebak, bukannya mendapatkan jaringan dengan warga Indonesia Timur, saya justru mendapat seorang teman baik yang menginfokan tentang sebuah beasiswa. Singkatnya saya ikuti program beasiswa tersebut, hingga sekarang saya bisa berada di Negeri Formosa.

Rencana Indonesia Timur saya memang kandas -tepatnya belum terwujud-, tapi semesta seakan berkonspirasi memberi saya kesempatan untuk menikmati menjadi terasing ribuan kilometer dari Indonesia.

Benar kata dosen saya 6 tahun lalu tersebut, dengan menjadi terasing kita lebih berpikiran terbuka terhadap gagasan baru, menghargai perbedaan, dan tentunya sadar bahwa kehidupan tidak hanya tentang satu golongan. Ada universalitas yang harus dipahami dan dialami.

Dan kini, realita yang ada di masyarakat adalah mudahnya kita mengiyakan dan mengaminkan segala isu negatif yang mengarah ke golongan di luar kita tanpa mau mempelajari atau setidaknya mendengarkan klarifikasi dari sudut pandang golongan tersebut.

Dengan sukarela kita mau menghabiskan energi sebagai agen kampanye "Waspada!" "Menyimpang!" dan beragam jargon "manis" lainnya karena penggunaan kacamata kuda ditambah dengan pemahaman dari satu dogma melalui pergaulan yang homogen. Energi ini yang justru dapat menyebabkan perpecahan, entah perlu berapa kali kita harus diajarkan oleh sejarah tentang pertumpahan darah yang berpangkal dari pemikiran sempit atas ego golongan.

Tidak berlebihan rasanya jika ingin mengolah rasa maka kita harus menyediakan waktu untuk berlatih, mengasah diri untuk bergerak, bertemu orang yang berbeda dari segi nasib, pandangan, iman, ilmu, dan ideologi dengan kita. Sudah bukan waktunya menghamburkan energi dan pemikiran untuk mendebatkan perbedaan dalam kesamaan, tapi carilah kesamaan dalam perbedaan. Sulit, tapi pasti bisa.


25 Oktober 2015
Kaohsiung, Taiwan
Share:

Mengislamkan Batu

Saya teringat sebuah kalimat yang dilontarkan seorang teman "blaming does not require any research nor thinking, it is occured spontaneously without process". Saya mengamini hal tersebut mengingat banyaknya informasi penuh kebencian yang berseliweran di dunia maya tanpa filter nalar memadai.

Tetapi kalimat tersebut jua yang mengarahkan pemikiran saya kepada salah seorang manusia penuh teladan dari Indonesia. Sosok tersebut adalah Kanjeng Kiai Hamam Ja'far.

Kiai Hamam Ja'far adalah pembangun peradaban intelektual melalui Pondok Pesantren di desa Pabelan Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Di saat mudanya, beliau berjuang membangun Pondok Pesantren Pabelan di tengah masyarakat yang saat itu diliputi dengan kebodohan, takhayul, dan mental rendah diri dengan salah satu ucapannya yang kelak akan selalu diingat oleh santrinya "Ayo Islamkan batu-batu itu" setiap beliau dan santrinya ke Kali Pabelan.

Mengislamkan batu bukanlah hasil, tapi merupakan proses, dimana batu-batu tersebut diangkut, dijadikan fondasi bangunan, sebagian dijual ke pasar dan uangnya dibelikan alat tulis dalam proses belajar-mengajar, ilmu yang didapat dalam kelas ini yang kelak harus diaplikasikan kepada masyarakat.

Dari batu yang "diislamkan" lah pemuda 27 tahun ini berjuang mendidik masyarakat dari hal kecil seperti tentang pentingnya sirkulasi udara, mengingat masyarakat pada saat itu beranggapan bahwa rejeki datang dari pintu sehingga segala ventilasi dianggap hanya akan menghambat rejeki mereka, Kiai Hamam Ja'far dengan sabar menjelaskan sirkulasi udara yang buruk lebih berpotensi mendatangkan penyakit alih-alih mendatangkan rejeki.

Hasilnya? Pondok pesantren yang dulu didirikan dengan modal batu dan niat tulus kini menjelma menjadi menjadi hulu peradaban ilmu dengan memasuki ilayah seni dan budaya. Pondok Pesantren ini pula yang turut mengilhami Vidiadhar Surajprasad Naipaul dalam penulisan novel terkenalnya Among the Believers: an islam Journey. Terlebih entah berapa banyak intelektual muslim yang dilahirkan dari sini, sebutlah Prof. Komaruddin Hidayat, Prof. Bachtiar Effendi, dan Kyai Ahmad Najib Amien Hamam.

Jika saat ini bermunculan banyak ustadz "konon katanya" yang dengan mudah mengobral fatwa A sesat, B haram, C kafir dan diaminkan oleh kaum cuti nalar di dunia maya, maka Kiai yang berguru langsung kepada KH Ahmad Sahal, KH Zainuddin Fanani, dan KH Imam Zarkasyi ini adalah sebuah paradoks, beliau adalah sosok guru bangsa yang berjuang mengislamkan masyarakat dimulai dari batu hingga menjadi sesuatu yang penuh manfaat bagi semesta.

Karena mengislamkan tidak semudah membukanislamkan.

(terinspirasi dari tulisan Arlian. B)
Share:

STIGMA, MUSLIM, LITERASI, DAN WISATA.

Selama satu tahun mencari ilmu di negeri Formosa entah beberapa kali saya disangka sebagai orang lokal, mungkin mereka menyangka saya sebagai orang lokal karena penampilan dan fisik yang tidak beda jauh dengan mereka.

Berbeda dengan rekan-rekan yang lain, saya tipikal orang yang cenderung menutupi identitas terlebih dahulu jika bertemu dengan orang baru, ketika berkenalan sayalah yang terlebih dahulu bertanya "where do you come from?", dan jika lawan bicara tidak bertanya balik belum tentu saya akan memberi tahu tentang kewarganegaraan.

Begitu pula dengan kepercayaan, saya termasuk orang yang tidak menunjukkan diri saya seorang muslim melalui penampilan.

"Penutupan" diri ini bukan tanpa alasan, selama berada di negeri orang, saya ingin tahu apa pendapat bangsa lain secara objektif mengenai dua hal yang melekat pada diri saya, yaitu negara dan agama. Cara saya mencari tahu hal ini adalah dengan membaurkan diri di berbagai kesempatan dan pertemuan yang melibatkan orang dari berbagai bangsa.

Salah satu komunitas yang saya ikuti di sini adalah komunitas traveller dan hiker, rutin setiap minggunya saya selalu bertemu dengan orang-orang baru dari berbagai bangsa dengan beragam tujuan mengunjungi kota Kaohsiung -sebagian besar untuk travelling-,
Seperti yang sudah disebutkan di atas, dalam perkenalan dengan orang baru, saya cenderung "menutup" identitas saya sebagai seorang muslim, tetapi dalam perbincangan yang terjadi saya sangat sering mengarahkan topik pembicaraan tentang reliji dan tentunya muslim dalam perspektif mereka.

Memancing untuk berbicara blak-blakan agak sulit dilakukan jika mereka sebelumnya mengetahui saya seorang muslim, jelas mereka tidak ingin menyakiti perasaan saya jika harus berkata hal yang buruk, karena itu untuk observasi perspektif saya harus "menyembunyikan" identitas terlebih dahulu.
Dan dari diskusi-diskusi yang pernah dilakukan, ada yang biasa-biasa saja, ada yang tertarik untuk mengetahui tentang kehidupan muslim, dan ada yang tertarik untuk bepergian ke negara muslim.

Ajaibnya, dari diskusi tersebut saya tidak pernah mendengar adanya perspektif negatif dari mereka tentang umat Islam (ingat, saya melakukan diskusi ini dengan "tanpa identitas muslim", jadi mereka bebas mengutarakan apa yang ada di pikiran tanpa harus takut menyakiti perasaan saya) mengingat banyaknya pemberitaan -terutama dari media barat- yang mengarahkan Islam ke stigma negatif entah kekerasan atau terorisme.

Dari sini saya mencoba mencari penyebab mengapa mereka tidak berpikiran buruk sementara di sisi lain selalu ada pihak yang selalu merasa dizalimi dan playing victim terhadap media yang ada melalui cara-cara seperti apa yang mereka tuduhkan terhadap media tersebut.

Dan jawabannya adalah Literasi.

Di bumi bagian lain membaca bukanlah suatu hobi ataupun tugas, tapi sudah menjadi bagian dari kehidupan selayaknya makan dan bernafas (oke, saya lebay). Terhadap informasi yang beredar, filter mereka lebih berfungsi, mereka cenderung untuk mencari tahu kebenaran melalui sumber lain, ditambah lagi kemampuan berpikir secara terbuka yang semakin memperpanjang sumbu nalar, secara sederhana hal-hal ini dapat meminimalisir peluang untuk menelan mentah segala informasi.

Sementara itu di sisi lain, budaya literasi yang tidak sebanding bisa kita lihat melalui berita yang bermodal provokasi jualan agama+kebencian dengan headline seperti "Astagfirullah! Terbongkar sudah, ternyata blablabla..." bisa laku terjual melalui ratusan bahkan ribuan klik dan share. Rendahnya budaya literasi ini dimanfaatkan oleh mereka yang melihat ini sebagai peluang bisnis untuk meningkatkan traffic visitor. Ya, keluguan+kebencian bisa dengan mudah dijadikan uang di era informatika.

Kembali lagi soal pembicaraan, saya sering mengarahkan pembicaraan saya dengan teman-teman traveller lintas bangsa tersebut dengan topik "kenapa sih kalian ngga ngunjungin Indonesia?"
Saya bertanya hal tersebut karena cukup ironis, dari traveller yang saya temui kebanyakan mereka pernah atau berminat untuk mengunjungi negara Asia Tenggara seperti Malaysia, Singapura, Vietnam, dan Thailand, sementara Indonesia yang dengan peta apapun jauh lebih luas dari negara Asia Tenggara lainnya justru dijadikan pilihan terakhir, padahal kita tahu kalau wisata alam keren seperti apa yang tidak ada di Indonesia selain salju?

Tadinya saya menduga karena isu terorisme adalah alasan utama mereka mengapa cenderung menjadikan Indonesia pilihan destinasi di bawah negara Asia Tenggara lainnya, tapi dari alasan yang mereka lontarkan ternyata penyebabnya sederhana : mereka tidak tahu banyak Indonesia ataupun akses menuju tempat wisata selain Bali.

Penyebab ini masuk akal dan sangat beralasan, jika saya berada di sisi orang asing, tentunya akan sulit bagi saya untuk mengetahui dan menuju ke tempat-tempat keren di Indonesia tanpa adanya promosi atau informasi yang memadai, terlebih siapa yang mau menghabiskan uang hanya untuk ketidakjelasan, bukan?

Sebetulnya hal ini bisa dijadikan peluang besar, daripada membuat kaya para pemilik portal berita tidak jelas juntrungan dengan memanfaatkan kebencian kita, mengapa tidak berjuang kreatif menambah pundi-pundi rupiah dengan mempromosikan paket wisata daerah sendiri?
 Dunia saat ini sudah masuk era borderless, segala informasi bisa disebarkan kemanapun dan kapanpun, selalu ada peluang selama kita mau berpikir positif dan terbuka.

Kaohsiung, Taiwan.
(berangkat dari pemikiran yang ngalor ngidul)
Share: