Nadia (Bermimpilah bagian 6)

(cerita sebelumnya di sini)

Selain mengenal Mufid, Geni, dan teman-teman lelaki lain, selama di Depok jelas saya juga berteman dengan teman-teman perempuan, tapi siapa sangka pertemanan terkadang menjadi hal yang rumit?

Begini ceritanya,

Namanya Nadia, perempuan Bandung, usia sepantaran, dan teman sekelas saya saat pelatihan.

Nadia sebetulnya salah satu orang pertama yang saya kenal ketika hari pertama berada di Depok, saat pagi pertama di kampus UI secara tidak sengaja saya berkenalan dengan Nadia yang saat itu sedang bersama Sani, teman kampusnya yang kebetulan juga diterima di program ini, kami berada di ruang tunggu gedung LBI UI untuk menunggu pembagian kelas.

Awalnya saya sangat akrab dengan Sani, wajar karena sesama lelaki dan nyambung saat berbicara tentang musik indie (karena saya mantan fotografer musik dan Sani pernah aktif di skena musik indie). Tapi setelah pembagian kelas saya dan Sani terpisah, saya di kelas A dan Sani di kelas B.

Berada di kelas A yang diisi mayoritas oleh perempuan jelas membuat saya juga akrab dengan mereka, terlebih beberapa dari mereka menyewa kost dekat dengan kost saya, sehingga setiap hari sering mereka dan saya berangkat dan pulang berbarengan.

Dari beberapa teman itu, pergaulan saya lebih mengerucut, dan tanpa disadari saya berteman dengan Nadia lebih dekat daripada teman perempuan lainnya.

Rutinitas berangkat dan pulang berbarengan menyebabkan saya hapal tentang kebiasaan Nadia, setiap pulang dia selalu menyempatkan diri membeli sebungkus bubur kacang ijo yang masih hangat di depan gang tempat kost, harga 5 ribu rupiah, dan jangan terlalu banyak gula. Selain itu, kebiasaan kami kembali ke Bandung setiap dua minggu sekali menjadi momen di mana kami untuk bercerita banyak hal, dia menceritakan hidup dan hobinya, dan sayapun menceritakan tentang kehidupan saya, oh iya Nadia juga orang yang saya ceritakan tentang Lestari. (yang akhirnya dia cuma bisa menertawakan saya)

Ada beberapa kegiatan yang menjadi kesempatan kami sering bertemu dan berbicara bersama tentang banyak hal, jika malam hari sedang bosan berada di kost saya biasanya akan chat "makan yuk?" kepada Nadia, dan jarang dia menolak ajakan saya itu. Lalu selama di Depok saya sempat mencoba bergabung di komunitas stand up comedy Depok, dan ketika open mic saya selalu meminta Nadia untuk hadir dengan alasan "kamu fans pertama saya, siapa tahu nanti susah buat minta foto bareng, biarin ngga lucu juga sekarang mah" hahaha

Saat itu tak banyak yang tahu intensitas pertemuan saya dengan Nadia, karena di kelas kami bergaul seperti biasa, hanya terkadang setelah kelas usai saya sering mengajaknya untuk ngalor ngidul, biasanya jalan-jalan mengelilingi kampus UI yang sangat luas.

Selain di Depok, ketika di Bandung pun kami beberapa kali hangout bersama, saya pernah menjemput ke rumahnya yang sangat jauh hanya untuk memintanya menemani saya ke Bandung Selatan untuk selfie di plang jalan yang ada unsur nama saya, mengunjungi teleskop Boscha di Lembang hanya untuk bergaya ala film Petualangan Sherina, pergi ke ITB untuk "napak tilas" lokasi film favorit kami : Jomblo, dan menonton gigs-gigs musik gratisan yang banyak ada di Bandung.

Karena faktor rumahnya yang jauh, seringkali ketika akan hangout Nadia pergi ke rumah keluarganya di tengah kota Bandung untuk kemudian saya jemput. Dia sering menolak ketika saya tawarkan untuk menjemputnya langsung di rumahnya, alasannya karena terlalu jauh.
Entah kenapa, setiap akan mengantarnya pulang saya selalu dilanda kekhawatiran, karena setelah saya mengantarnya dia melanjutkan pulang sendiri mengendarai sepeda motor ke rumahnya, pulang sendirian ke rumahnya yang jauh saat malam hari jelas alasan saya mengkhawatirkan perempuan ini.

Namun, kekhawatiran saya langsung sirna jika ada sebuah pesan "hai! aku sudah di rumah looh".


Jalan dengan unsur nama saya
Kurang jelas? Nih...





***



Di penghujung masa pelatihan, tanpa sengaja saya melihat pamflet di tiang listrik pinggir jalan, isinya adalah promosi acara clothing exhibition terbesar di Jakarta, diselenggarakan selama 3 hari berturut-turut, bukan tentang puluhan clothing line yang menjadi perhatian saya, tapi Sheila on 7, band kesukaan saya dan Nadia masuk di line up pengisi acara tersebut!


Awalnya Nadia masih ragu untuk menonton acara yang digelar hari Jumat, Sabtu, dan Minggu itu, tapi saya bilang jangan khawatir karena cukup datang hari Sabtu dan Minggu, lagipula kita bisa pulang dengan menggunakan kereta terakhir dari arah Jakarta menuju Depok, tidak ada yang perlu ditakutkan, dan akhirnya Nadia setuju dengan ajakan saya.

Hari Sabtu siang kami berangkat menggunakan KRL selama satu jam dari Depok dilanjutkan menaiki Metro Mini menuju venue, tujuan utama saya adalah untuk menonton live band pop punk kesukaan semasa SMA, karena itu meskipun acara ini adalah pameran brand pakaian lokal tapi kami tidak tertarik untuk mengunjungi booth-booth distro yang tersebar di situ, kami lebih memilih duduk di dekat panggung untuk menyaksikan musik.

Setelah band kesukaan saya itu selesai manggung, kamipun bergegas kembali ke stasiun mengejar kereta terakhir untuk pulang, dan untung masih ada!
Sampai di Depok, ternyata perut kami keroncongan, selama di venue kami hanya makan snack karena harga makanan di sana sangat mahal, hahaha, untungnya di dekat kost kami masih ada warung makanan yang buka larut malam, jadi perut yang sangat lapar bisa diobati dengan segera.

Makananpun datang, lelah dan muka kucel bukan penghalang kami untuk makan dengan lahap (yaiyalah, lapar!), dan seperti biasa, kami makan sembari ngobrol.

"Nad, besok mau berangkat jam berapa nonton Sheila on 7 nya?" Tanya saya
"Agak sorean ya, kan manggungnya malem"
"Oh, oke deh, biar sempet bungkus makan dulu di warteg trus makan di sana haha"
"Haha, terserah deh" Ujar Nadia
......................
"Nad, kamu pernah ngga sih nyaman sama seseorang?" Saya mengganti topik obrolan
"Nyaman gimana?"
"Ya gitu, nyaman aja, ngga merasa ada beban, fun, dan menikmati"
"Hmm pernah, tapi engga sering" jawab Nadia
"Trus, menurutmu, kamu nyaman engga sama aku?" entah kenapa saya menanyakan hal itu.
"Hah? Pertanyaan apaan itu? Kalau aku engga nyaman sama kamu, mana mau aku diajak jalan, nonton konser, ke toko buku, atau bales chat kamu, pertanyaan aneh"
"Jadi, kamu nyaman sama aku?"
"Ya iyalah!" tutup Nadia sambil menikmati ayam goreng yang dipesannya.

Pernyataan Nadia itu membuat saya sadar, rasa nyaman yang dirasakan saya dan Nadia adalah efek dari frekuensi pertemuan kami berdua, kesamaan selera humor yang cenderung "recehan", dan diskusi dari hal bodoh sampai yang berbobot yang kami lakukan.

Perasaan saya terhadap Nadia seketika kacau campur aduk saat itu,

Entah kenapa...


***

Keesokan harinya, saya bangun lebih cepat dari biasanya, saya buka laptop dan jemari saya secara cepat beradu dengan tuts keyboard untuk membuat kalimat demi kalimat, setelah tulisan selesai saya bergegas menuju tempat fotokopi dekat kost untuk mencetak tulisan yang baru saja saya buat tersebut lalu memasukkannya ke dalam sebuah map.

Setelah dari tempat fotokopi saya chat Nadia, mengingatkan ulang janji untuk menyaksikan Sheila on 7, dan kami sepakat untuk bertemu di sebuah minimarket terdekat dengan gang tempat kami tinggal.

Jam 2.30 siang adalah waktu yang kami sepakati, saya sengaja datang lebih cepat supaya tidak terburu-buru, dan juga saya membawa map yang sudah diisi kertas yang saya cetak tadi pagi, persis seperti penjual bubuk abate.
Tak lama Nadia datang, dengan cengengesan dia minta maaf karena sedikit terlambat, setelah berbasa basi sedikit, saya minta dia untuk memasang headset yang sudah saya sambungkan ke handphone saya.

"Dengerin deh, ini ada lagu" Pinta saya
"Lagu apaan? Ngga ada" Jawab Nadia sambil memasang headset ke telinganya
"Eh ya gitu? Bentar, nih ada yang ketinggalan"

Saya buka tas, dan menyerahkan map baru berisi selembar kertas ke Nadia.

"Baca ya, sampai habis...." Pinta saya ke Nadia

Dan inilah isi kertas itu

Saya ternyata masih menyimpan soft file nya


"Orang gila! hahaha kamu gila Ayub!" Respon Nadia setelah membaca selembar kertas itu
"Lah, kok gila, ih itu kan surat pengajuan"
"Pengajuan macam apa iniiii??"
"Ya macam seperti yang kamu lihat itulaah"
"Hahaha, trus aku harus gimana nih? Aku bingung"
"Lha, itu kan ada kolom yang ada nama kamu, nah kamu bisa isi tanda tangan kamu, atau sekalian sidik jari deh kalau kamu mau" jawab saya.
"Kalau aku udah tanda tangan? Apa artinya?"
"Ya kamu setuju dengan pengajuanku"

Setelah berpikir beberapa menit, sambil cekikikan Nadia kembali membaca perlahan kertas itu, lalu dia mengambil drawing pen yang saya sediakan di samping map dan.... Nadia menandatangani kolom yang ada namanya!

"Jadi... kamu menyetujui nih?" Tanya saya
"Ya bukannya kamu sudah ngajuin, tinggal aku tanda tangani kan?"
"Eh? hehehe sebentar ya"

Saya bergegas menuju lantai bawah minimarket, menuju rak minuman dingin, dan membeli dua kotak sari kacang ijo, lalu kembali ke atas.

"Ngapain sih?" tanya Nadia
"Nih, minuman kesukaan kamu, kacang ijo!"
"Lah terus?"
"Ya kita syukuran jadi sepasang kekasih, kan kamu suka kacang ijo, ini buat selametannya"
"Hahaha, aku harus ngapain?"
"Bilang aamiin aja ya, aku mau berdoa nih" jawab saya

Dan inilah doa syukuran yang saya ucapkan

SEMOGA KITA

Bisa tetep adem, meskipun nanti bisa aja berantem (aamiin)
Tetap saling sokong, jangan jadi sombong (aamiin)
Selalu ceria, biar ngga banyak duka lara (aamiin)
Mengedepankan solusi, untuk segala masalah pribadi (aamiin)
Tetap baik, di setiap detik (aamiin)
Saling membanggakan, untuk menutup kekurangan (aamiin)
Dan tetap saling dukung, biar ngga pundung -ngambek- (aamiin)


Map, kacang ijo, dan naskah doa yang saya catat.



Ya!, kami sepakat mengganti status lebih dari sekedar teman dekat, dan malam itu kami tutup dengan menyaksikan langsung Sheila on 7 di atas panggung, rasanya Duta dan kawan-kawan hari itu dibayar khusus untuk kami berdua, oh andai kamu juga ada di sana, maka kamu pasti juga ikut bernyanyi seperti yang saya dan Nadia lakukan.

Sekilas kau tampak layu
Jika kau rindukan gelak tawa
Yang warnai lembar jalan kita
Reguk dan teguklah
Mimpiku dan mimpimu
Terbelenggu satu
Oleh ucapan janjimu 

Sheila on 7 - Kita 



Malam itu kami pulang dengan penuh tawa, dan.. lapar lagi? Pastilah, tapi kali ini kami makan tanpa harus mempertanyakan kenyamanan, yap! Saya terlalu menikmati saat itu sehingga saya lupa kami membicarakan apa saja.

Yang pasti dalam hati saya berkata,

"Hei Nadia, aku mulai mencintaimu, kamu boleh saja belum, tapi nanti pasti ketularan"




Bersambung ke bagian 7...
Share:

Depok (Bermimpilah bagian 5)

(Cerita sebelumnya di sini)



Depok, Desember 2013.

Kemarin malam saya baru sampai di Depok dan untuk sementara menumpang di rumah om saya, kakak tertua ibu, dan pagi ini babak kehidupan saya untuk 6 bulan ke depan di salah satu universitas terbesar di negeri ini akan dimulai.

Pagi itu saya bertemu dengan banyak wajah baru, pengalaman sok kenal dengan mamang supir angkot ternyata sangat bermanfaat untuk menjadi akrab dengan teman-teman baru, saya berkenalan dengan orang-orang dari beragam kota di Indonesia, dari Bandung, Yogyakarta, Makassar, Jakarta, Aceh, Belitung, Medan, Padang, Lampung, wah banyak sekali teman baru saya!

Uniknya, selain berkenalan dengan menyebutkan daerah asal kami juga satu sama lain berkenalan dengan bangga menyebutkan negara tujuan studi kami kelak.

"Inggris!"
"Australia!"
"Jepang!"
"Singapura!"
"Jerman!"
"Amerika!"

Dan saya seakan tidak mau kalah juga menyebutkan negara lengkap kampus tujuan.

"Belanda, Twente University!" Ucap saya dengan bangga.

Oh, andai kamu tahu perasaan saya hari itu yang betapa senang bertemu orang baru dari penjuru tempat (dan langsung akrab), tapi yang paling penting adalah diri saya yang dipenuhi energi positif yang ditularkan oleh teman-teman baru!

Saya diliputi rasa optimis seakan-akan Belanda sudah di depan mata!

***

Depok memang kota urban yang terletak di pinggir Jakarta, secara administratif kota ini adalah bagian dari Jawa Barat tetapi sebagian besar penduduknya adalah pekerja yang mencari nafkah di Jakarta, mereka adalah pekerja keras yang menggantungkan mimpi dalam rutinitas dengan berangkat saat gelap dan pulang saat gelap.
Meskipun katanya lebih sejuk daripada Jakarta, toh menurut saya Depok tetap kota berhawa panas dan dipenuhi kemacetan layaknya kota besar, sulit membedakan antara Depok dan Jakarta.

Tapi di balik itu semua, nyatanya Depok mempunyai cerita yang sulit untuk dilupakan.

Saya yang saat itu sudah mendapat tempat kost yang tidak jauh dari kampus UI memulai keseharian dengan berangkat pukul 7.30 pagi menuju tempat pelatihan dengan berjalan kaki selama 15 menit.
Dalam pelatihan ini para peserta dibagi menjadi dua kelas, dan saya masuk di kelas A, kelas ini mayoritas diisi oleh perempuan, sementara itu peserta laki-laki hanya ada 7 orang termasuk saya, hal yang paling saya sukai adalah kelas ini diisi oleh anak muda yang sebaya dengan saya, sehingga pembicaraan apapun terasa lebih nyambung dan mudah akrab.

Di dua bulan awal semangat belajar kami masih menggebu-gebu, keinginan untuk melanjutkan studi di negara impian jelas merupakan motivasi terbesar, obrolan kami saat itu tidak jauh dari apa yang akan kami lakukan di negara masing-masing kelak, ada yang ingin menonton klub sepakbola favoritnya secara langsung, ada yang ingin belajar bahasanya, bahkan ada yang ingin cari jodoh di negara tujuan kelak! hahaha

Rutinitas dengan kelas yang dimulai pukul 8 pagi sampai jam 4 sore dari Senin sampai Jum'at mempelajari hal yang sama untuk kemudian mengulanginya sepulang ke kost masing-masing memang mudah sekali membuat kami jenuh. Tapi nyatanya mimpi adalah kekuatan terbesar kami sebagai pembunuh rasa jenuh itu, beruntungnya saya saat itu berada di lingkungan yang memiliki impian yang sama : belajar ke negeri lain.

Oh iya, ada hal menarik, beberapa tahun yang lalu saya yang saat itu masih berstatus pelajar SMA yang akan menghadapi ujian akhir nasional pernah bilang "nanti saya yang akan belajar di UI!", mungkin saat itu saya hanya asal celoteh karena melihat teman sebangku saya yang sangat ingin melanjutkan pendidikannya ke UI (tapi akhirnya dia memilih UGM), eh ternyata beberapa tahun kemudian kalimat itu terwujud, saya benar-benar belajar di UI! Ya memang bukan sebagai mahasiswa, hanya sebagai peserta pelatihan yang numpang sebentar. Tapi toh perkataan adalah doa terbaik, bukan?

Andai saat itu saya berkata spesifik "nanti saya yang bakal jadi mahasiswa UI!" mungkin akan beda ceritanya.

Penghuni kelas

Masih penghuni kelas

Di dalam kelas



Ini lelaki di kelas saya, saya pernah nyaranin khusus yang laki-laki buat bikin hari dress code gitu dua minggu sekali biar rame dan mencuri perhatian, nah ini waktu hari dress code jersey klub bola

Ini hari dress code hitam


Ini hari dress code santri
***

Pelatihan sudah memasuki akhir bulan ketiga, kami yang saat itu dijejali dengan materi writing, listening, reading, dan speaking mendapat kabar jika pihak sponsor beasiswa akan mengunjungi kami untuk menyampaikan informasi terbaru. Kedatangan pihak sponsor ini jelas memberi angin segar kepada kami yang selama 3 bulan diombang-ambingkan oleh kesimpangsiuran informasi karena tidak adanya kabar jelas mengenai kelanjutan nasib kami ke depannya, momen pertemuan ini akan kami pergunakan untuk bertanya segala hal tentang kepastian study kami.

Dan tibalah hari di mana pihak sponsor menemui kami.

Pertemuan hari itu dibuka dengan penjelasan dari sponsor mengenai tujuan dari beasiswa tersebut dan apa yang harus kami lakukan selama menjalani pelatihan 6 bulan ini, awalnya penjelasan terasa menyenangkan sampai akhirnya pihak sponsor menerangkan tentang negara tempat kami study kelak, dan penjelasan inilah yang membuat kami terkejut.

Pihak sponsor memberitahu bahwa kami hanya diperkenankan mengambil study di 3 tempat tujuan ; Jerman, Austria, dan Taiwan. Salah seorang teman bertanya tentang kemungkinan untuk mengambil di negara selain 3 pilihan tersebut, tapi ternyata tetap tidak diperkenankan dengan alasan biaya hidup dan kuliah di luar 3 pilihan tersebut jauh lebih mahal, kami yang saat itu hanya berstatus penerima jelas tidak memiliki posisi tawar, yang kami miliki hanya pilihan take it or leave it, sederhananya : "dikasih aja kok protes?"

Setelah mendapatkan informasi baru tersebut, kami kembali ke kelas masing-masing, dalam kelas saya bisa melihat ekspresi kekecewaan dari teman-teman karena pupusnya harapan mereka untuk dapat ke negara impian yang diucapkan dengan penuh semangat di hari pertama kami berkenalan, saya jelas seperti mereka yang sama-sama kecewa karena Belanda tidak masuk list mengingat biaya hidup dan pendidikan di Belanda termasuk mahal.

Ah, Belanda... Padahal saya sudah hampir beberapa langkah lagi menuju ke sana.


***


Beberapa hari setelah mendapatkan info tersebut saya merasakan ada semangat yang turun dari teman-teman di kelas, wajar karena mereka masih merasa kecewa karena kenyataan tersebut, tapi untungnya hal ini hanya sebentar, seminggu setelah itu keadaan kembali seperti biasa.

Saat-saat seperti ini saya merasa beruntung mengenal seorang teman, namanya Mufid, dari puluhan peserta pelatihan lain hanya kami berdua yang berasal dari jurusan non-teknik, kami berdua adalah sarjana komunikasi sehingga ada kesamaan "nasib" untuk kampus yang akan kami cari.
Laki-laki ini sebetulnya 3 tahun berusia di atas saya, tapi saya tidak pernah merasa ada aura tua dari dirinya, saya cenderung lebih nyaman memanggilnya dengan nama atau "bro" ketimbang "mas", mungkin karena merasa dia sebaya, hahaha
Mengenal Mufid berarti harus siap merasakan energi positif, pengalaman berorganisasinya yang kaya menjadikan pribadinya sebagai problem solver, dia adalah tipe orang yang lebih memilih untuk menyalakan lilin ketimbang mengutuk kegelapan, dia bisa menempatkan dirinya sebagai orang yang asik untuk diajak bercanda dan menarik untuk berdiskusi serius.

Kepribadian Mufid dengan sikap problem solver ini secara konsisten diterapkannya kepada siapapun, saya yang saat itu sudah hopeless karena mimpi Belanda saya pupus perlahan mulai disulut kembali.

"Kita harus coba Jerman dan Austria! Kan deket tuh sama Belanda! Kamu bisa ke Belanda kapanpun!" Ucap Mufid saat itu.

Oh, benar juga! Kenapa saya begitu bodoh tidak memikirkan hal sesederhana itu? Bukankah satu pintu tertutup bukan berarti tidak ada pintu lain yang terbuka?

Sontak semangat saya muncul kembali, setelah itu entah berapa sering setelah kelas selesai kami pergi ke ruangan komputer perpustakaan UI yang menyediakan akses internet kencang gratis, tujuan kami hanya satu : mencari informasi tentang kampus di Jerman dan Austria yang memiliki program studi yang linear dengan jurusan kami berdua.

Memang, kami menemukan beberapa kampus yang menyediakan program studi sesuai dengan yang kami inginkan, tapi ternyata kendala tetap kami hadapi, seperti deadline pendaftaran yang sudah ditutup, penyertaan sertifikat IELTS yang belum kami miliki, persyaratan yang mengharuskan penguasaan bahasa Jerman, standardisasi ijasah S1, dan beragam kendala lainnya.

Di titik itu saya akhirnya melihat Mufid menunjukkan raut wajah stres karena kebuntuan ini.



Saya dan Mufid

Mufid di perpustakaan UI, kehujanan dan kami ngotot buat cari informasi kampus di ruang internet gratisan.



***

Akhir bulan keempat pelatihan.

Pihak sponsor akhirnya datang lagi menemui kami, tapi bukan dalam rangka sesi tanya jawab seperti sebelumnya, mereka kali ini membawa beberapa perwakilan dari kampus di Taiwan yang akan mempromosikan kampus mereka kepada kami.

Taiwan? Hmmm kami sama sekali tidak ada pikiran tentang pendidikan di Taiwan, yang kami tahu cuma F4 dan Meteor Garden.

Pihak perwakilan kampus Taiwan yang datang ke kami saat itu terdiri dari para professor dari beragam kampus, mereka sangat ramah dan terbuka dalam sesi tanya jawab, bayangan kami tentang professor yang serius dan dingin terkikis dengan sikap mereka yang hangat dan penuh canda, ditambah meskipun saat itu tujuan mereka adalah untuk mempromosikan kampusnya tetapi saya tidak melihat adanya "kompetisi" antar mereka untuk menggaet calon mahasiswa.

Oke, dengan adanya promosi ini bertambahlah kejelasan alternatif kampus, meskipun pada awalnya sebagian besar dari teman-teman ingin melanjutkan ke Jerman atau Austria, tapi kedatangan perwakilan kampus Taiwan ini sangatlah membantu, bahkan beberapa kampus menawarkan LoA (Letter of Acceptance) unconditional, beberapa dari kami berhasil mendapatkan LoA unconditional itu melalui proses wawancara, dan sebagian lainnya sudah mendapatkan banyak informasi mengenai jurusan yang cocok dengan background pendidikan mereka.

Berbeda dengan teman-teman lain yang sudah mendapat kejelasan mengenai kampus di Taiwan dan beberapa dari mereka sudah mendaftarkan diri secara online, saya justru hanya diam di tempat, karena ternyata sangat sulit mencari jurusan yang total linear dengan latar studi S1, sebagian besar teman-teman yang memiliki latar ilmu teknik bisa dengan mudah menemukan program yang sesuai dengan mereka.
Saya ingin menyerah, mengundurkan diri dari program ini, bekerja normal, mengumpulkan uang, menikah muda, dan hidup bahagia seperti teman-teman kuliah saya yang lain.

Soal Belanda?
Sudah tahu ngga bisa, mau apa lagi? Realistis!

Setidaknya sesederhana itulah pikiran saya saat itu.

***

Suatu hari saat jam istirahat, saya bertemu dengan Geni, seorang teman pelatihan dari kelas sebelah, lelaki jawa dengan medok yang khas sehingga akan aneh ketika dia berbicara menggunakan lu-gue.

Di bangku kantin sambil menunggu pesanan makan siang datang kami mengobrol basa-basi, topik obrolan kami tidak jauh tentang nasib kami selanjutnya di program ini. Hal yang menarik dari Geni, sebelum mengikuti program ini dia adalah karyawan di sebuah perusahaan tambang, yang kamu tahu sendiri bagaimana besarnya pendapatan di bidang pertambangan.

"Gen, kok kamu mau sih ikut program ini?" Tanya saya saat itu.
"Mau gimana maksudnya?"
"Iya, kok mau-maunya belajar lagi, ikut kelas, padahal kan enak tuh gaji di tambang udah gede, uang banyak, eh justru keluar buat ikut program ini, mana ngga ada kepastian lagi"
"Ini persoalan kenyamanan, Yub"
"Kenyamanan gimana?" Selidik saya.
"Iya, saat itu memang pendapatan saya bagus, fasilitas kantor enak, tapi saya ngga nyaman"
"Maksudmu?"
"Begini, kamu tahu sendiri kalau kehidupan tambang terutama di lapangan itu jauh dari kota, kehidupan saya cuma mess dan site, di lapangan saya bekerja, lalu setelah itu hari libur saya ke kota, uang habis dengan cepat"
"Soal uang ya?"
"Bukan cuma itu, saya kurang nyaman dengan suasana kerja, setiap pulang ke mess harusnya saya istirahat, tapi lingkungan saat itu tidak memungkinkan, setiap harinya saya harus mendengarkan keluhan, keluhan, dan keluhan"
"Iya juga sih, capek dengerin keluhan tanpa ada solusi"
"Nah itu dia Yub, lagipula dengan rutinitas dan pergaulan yang itu-itu saja saya memang punya uang, tapi saya ngga punya kesempatan buat mengembangkan diri lebih jauh, padahal saya suka bersosialisasi, berkenalan dengan orang-orang baru, dapat ilmu baru. Itu kenapa saya lebih memilih resign dan mengikuti program ini. Uang bisa dicari, tapi pengalaman lebih mahal harganya" tutup Geni.

Berdiskusi dengan Geni saat itu setidaknya membuat pikiran saya terbuka, dengan usia yang masih muda, belum ada tanggungan apapun, saya dihadapkan pada pilihan untuk mengundurkan dari program dan mengejar materi, atau lanjut program ini untuk mengambil kesempatan studi (meskipun penuh ketidakjelasan akan nasib saya ke depannya)

Saya ambil pilihan kedua, melanjutkan meskipun tanpa adanya kejelasan tentang nasib.

Geni, yang berkacamata di samping saya.


***

Berbekal saran dari Mufid saya mendaftarkan diri ke salah satu universitas di Taiwan. Melalui aplikasi yang bisa diakses online saya memberanikan diri dengan modal sertifikat IELTS yang akhirnya saya miliki dari hasil pelatihan beberapa bulan.

Tak perlu menunggu waktu lama untuk menunggu respon dari pihak universitas, beberapa hari setelah saya mengajukan pendaftaran, pihak kampus mengabarkan bahwa pengumuman apakah saya diterima atau ditolak sedang dalam proses, saya diminta menunggu keputusan dari pihak department tujuan studi.

Satu minggu berlalu, dua minggu, belum ada kabar apapun, sedangkan teman-teman yang lain sudah mendapatkan LoA dari kampus tujuan masing-masing, mungkin hanya saya yang belum ada.

Saya dalam keadaan pasrah, kalau ternyata pendaftaran saya ditolak ya sudah berarti langkah saya cukup sampai sini, tapi kalau ternyata saya diterima, berarti perjalanan saya masih panjang.

Penantianpun akhirnya melahirkan hasil, sebuah email dari pihak universitas masuk ke dalam inbox lengkap dengan satu file berformat .pdf, saya buka file tersebut, sebuah surat dengan kop resmi universitas dan nama saya terlampir di bawahnya menyatakan bahwa lamaran pendaftaran saya diterima di sana.

Untuk pertama kali dalam hidup, saya mendapatkan surat resmi dari instansi pendidikan dari luar negeri, sungguh saya sangat senang dan.... udik!

LoA saya.




Bersambung....


Bagian 6
Share:

Study, study, and study! (Bermimpilah bagian 4)

(Cerita sebelumnya di sini)


Sepulang dari Kampung Pare membuat pikiran saya kembali segar, saya kembali ke Bandung dengan hati yang lebih plong dan tentunya suasana yang baru. Karena bagaimanapun selama di Pare saya rindu dengan Bandung yang sejuk dan makanan yang beragam jenisnya.

Tapi pulang ke Bandung berarti saya kembali ke zona nyaman, saya takut kemampuan bahasa Inggris yang selama ini didapatkan di Pare hilang jika saya jarang berlatih, hingga akhirnya saya memutuskan mencari tempat kursus lagi di Bandung.

Bermodal informasi dari teman dan iklan yang ada di spanduk akhirnya saya menemukan dua tempat saya bisa memperdalam bahasa Inggris.

Pertama, sebuah tempat kursus sederhana, milik seorang bapak separuh baya yang berpengalaman mengajar bahasa Inggris di berbagai tempat dan sewaktu muda pernah mengikuti pertukaran pelajar. Saya tertarik untuk mengikuti kursus beliau yang bertempat di sebuah ruko yang dikontraknya karena kurikulum dan text book disusun sendiri oleh beliau, oh iya, di tempat ini saya mengikuti kelas dari program paling dasar, jadi saya kembali belajar grammar yang pernah diajarkan sewaktu dulu SD, saya belajar to be, tenses, vocabularies, dan lain-lain. Teman-teman sekelas saya saat itu didominasi oleh pelajar SMP dan SMA, hanya saya yang seorang sarjana! hahaha

Saya sadar, berada di tempat kursus itu hanya mengajari saya passive English (istilah saya pribadi sih), intinya di kelas itu saya hanya belajar membaca dan menulis, sedangkan saya juga ingin bisa berbicara! Tapi rasanya agak sulit, karena di kelas itu sebagian besar dari kami belajar bahasa Inggris dari nol, satu-satunya fluent English speaker hanyalah Pak Dadang, pemilik sekaligus pengajar lembaga kursus itu, sementara saya ingin mengasah kemampuan speaking lebih dalam lagi.

Melalui seorang teman, akhirnya saya diberitahu tempat baru, namanya The Center Bandung.
Secara singkatnya, tempat ini adalah lembaga yang diisi oleh para ekspatriat yang sedang berada di Bandung untuk bekerja dan mereka ada di sini untuk sekedar ngobrol ataupun bersosialisasi dengan masyarakat lokal, bertukar ilmu dan pengalaman.
Di sini juga sebetulnya menyediakan tempat kursus bahasa Inggris yang diajar langsung oleh bule, tapi berhubung saya sudah terlebih dahulu ikut kursus di tempat Pak Dadang ya sudahlah saya tidak ikut kursusnya.

Bergabung di The Center Bandung memberi saya pengalaman baru, dengan biaya keanggotaan sebesar 250 ribu rupiah per tahun (entah sekarang berapa) saya berkenalan dengan banyak orang asing, sebagian besar berasal dari Amerika, pada awalnya memang kikuk dan malu karena tidak ada satupun orang yang saya kenal, setiap kali berbicara ke mereka saya meminta maaf terlebih dahulu tentang kemampuan bahasa Inggris saya yang pas-pasan tapi saya bilang keseriusan saya memperlancar speaking dengan bergaul dengan mereka.
(Oh iya, di The Center ini saya justru dapat geng baru, teman main yang terdiri dari orang Amerika dan orang Indonesia, mereka para pemimpi yang menakjubkan! Nanti di postingan yang lain saya ceritain deh ya)

Jadi kehidupan saya saat itu adalah seperti ini:
Pagi hari menuju laboratorium fotografi di kampus, lalu beranjak sore dari jam 4 sampai jam 6.30 saya pergi ke tempat Pak Dadang untuk belajar grammar dan passive English, sepulang dari sana saya langsung menuju The Center untuk mengasah kemampuan berbicara bahasa Inggris, dan malamnya di kamar kost saya lanjut belajar mandiri melalui film ataupun buku berbahasa Inggris.

Tanpa saya sadari, rutinitas ini merupakan wujud kebelaguan saya untuk keras kepala belajar bahasa Inggris dari nol disebabkan oleh mimpi yang sudah tertanam di otak saya.

Iya! Untuk ke Belanda saya merasa harus bisa berbahasa Inggris aktif dan pasif!


Suasana di The Center Bandung



***

Suatu ketika saat saya sedang berada di The Center, sebuah notification Line masuk ke handphone saya.

Oh, dari Saprian, lama juga engga tahu kabarnya, ada apa ya?

"Yub!, sudah cek email? Ada pengumuman tuh!" tulis Saprian melalui chatnya.

Saya yang penasaran langsung buka email saat itu dan benar kata Saprian, ada pengumuman baru tentang beasiswa yang pernah saya daftar sewaktu di Pare!

Tahukah kawan? Isi email itu memberitahukan tentang daftar nama orang yang lolos seleksi administrasi beasiswa, dan ada nama saya dengan Saprian masuk dalam daftar itu!

Kami lolos seleksi tahap pertama!

Alhamdulillah.


***


Jadi, pengumuman yang masuk ke email saya itu mengharuskan kami yang lolos seleksi administrasi untuk mengikuti seleksi selanjutnya, yaitu seleksi kemampuan akademik dan kemampuan bahasa Inggris.

Di sinilah saya sadar, hidup memang sebuah mata rantai, usaha saya belajar keras bahasa Inggris ternyata merupakan rantai yang menghubungkan rantai yang lain, tes ini merupakan pembuktian untuk diri sendiri bahwa semua yang saya pelajari dengan ngotot dari nol haruslah berguna! Saya harus berjuang maksimal!

Dalam email dituliskan tempat seleksi saya adalah di sebuah kampus di selatan Jakarta dan Saprian di Yogyakarta. Beberapa hari sebelum seleksi kami saling memberi semangat untuk tes itu!
Demi Eropa!

Dan hari tes pun tiba, pagi itu saya datang dengan wajah yang hanya dibilas dengan air setelah perjalanan 4 jam dari Bandung ke Jakarta semenjak dini hari, tes dilaksanakan secara online di sebuah ruangan yang penuh dengan komputer, saya sempat minder sewaktu sampai di ruangan itu, bagaimana tidak, sebagian besar peserta lain datang dengan teman-teman yang mereka kenal, dan mereka terlihat sudah sangat siap untuk tes ini, sangat kontras dengan saya yang saat itu datang hanya sendiri dan masih setengah sadar menahan rasa kantuk karena perjalanan subuh.

Seleksi saat itu terdiri dari dua sesi, sesi pertama adalah tes potensi akademik, bagi yang pernah mengikuti psikotes pasti familiar dengan tes seperti ini, dan yang kedua adalah tes kemampuan bahasa Inggris.
Tes potensi akademik saya lewati dengan amburadul, saya masih bisa melewati sesi tes uji visual dan logika, tapi saat sesi tes kemampuan mekanik dan matematik saya sangat kewalahan, saya sangat lemah di bagian ini, sehingga di sesi tes potensi akademik ini saya justru banyak mengisi jawaban secara sembarangan dan tanpa keyakinan! Aduh!

Ketika jeda istirahat setelah tes akademik, saya menegaskan kepada diri sendiri untuk berjuang maksimal di sesi tes kemampuan bahasa Inggris, saya sudah mempersiapkan berbulan-bulan belajar bahasa Inggris, inilah saat terbaik untuk menguji kemampuan diri!

Dan tes pun dimulai, pada awalnya saya tidak merasa terlalu kesulitan untuk menjawab soal-soal yang terdiri dari grammar dasar bahasa Inggris, 30 menitpun berlalu, beralih ke soal reading comprehensive di mana saya harus membaca paragraf panjang dengan istilah-istilah ilmiah yang saya tidak tahu artinya sehingga hanya bisa menerka-nerka. Pada awalnya saya penuh percaya diri mengerjakan soal dengan hanya mengklik jawaban pilihan ganda, tapi menjelang waktu habis saya panik!, komputer yang saya gunakan hang sementara saya belum selesai mengerjakan semua soal! Saya dilanda kebingungan!

Waktupun habis. Saya kesal, marah, dan kecewa. Tes bahasa Inggris yang harusnya bisa saya selesaikan secara maksimal harus berakhir kacau karena masalah teknis, sedangkan panitia tidak mengijinkan untuk menambah waktu karena sistem tes saat itu bersifat real time dan tidak bisa diulang.


Akhirnya pada hari itu juga saya kembali ke Bandung dengan rasa pesimis bisa lolos di tes ini, tes potensi akademik kacau dan tes bahasa Inggris meragukan, lalu apa lagi yang bisa saya harapkan?.


***


Penghujung 2013.

Sudah lama saya tidak pulang ke kampung halaman di Banjarmasin, saya kangen rumah, lagipula sudah berminggu-minggu tes tersebut berlalu masih belum ada kabar mengenai hasilnya, ah saya sudah pesimis untuk bisa lolos, tes amburadul begitu kok berharap bisa lolos?

Lalu saya putuskan untuk pulang ke Banjarmasin, saya berencana ingin menghabiskan tahun baru 2014 di kota kelahiran saya ini dengan teman-teman SMA lagipula saya ingin setiap hari ketemu ibu, prinsip pulang ke Banjarmasin saat itu jelas for family, friends, and food!

Di hari kedua pulang ke Banjarmasin dan belum sempat bertemu teman-teman, ayah saya menelpon, katanya pengumuman hasil tes yang kemarin saya ikuti sudah keluar dan bisa dilihat di website!
Saya yang saat itu sedang memasak langsung membuka laptop dan mengecek website tersebut, dan tahukah kawan? Nama orang yang pesimis ini ternyata dinyatakan lolos dalam tes tersebut! Iya! Saya lolos! Entah nilai tes akademik atau tes bahasa Inggris yang membuat saya bisa lolos!

Eh? Tapi dari puluhan orang yang lolos, kok saya tidak melihat ada nama Saprian? Saya ulangi secara perlahan dan detail sampai ke kolom universitas asal untuk mencari nama Saprian, tapi ternyata tidak ada sama sekali, lalu saya langsung hubungi Saprian untuk menanyakan kepastian tentang hal ini.

"Iya Yub, aku emang ngga lolos, selamat ya! Mimpimu ke Eropa semakin dekat!, kamu pasti bisa!" jawab Saprian ketika saya tanyakan tentang dirinya.

Ada sebuah kesedihan ketika tahu  teman yang menginfokan, mendorong, sampai menyemangati saya untuk mengejar mimpi justru gagal di tahap yang seharusnya bisa kami lewati, saya berada di posisi serba tidak enak ke Saprian saat itu, karena sesungguhnya beasiswa ini adalah mimpi Saprian, saya hanya menemaninya untuk mendaftar, dia lebih layak mendapatkan ini.

Ah Saprian! Kenapa tidak bisa kita berdua lolos di seleksi ini? Bagian tes mana yang membuat namamu tidak ada di daftar ini??



***



Show must goes on, semesta memang bekerja dengan caranya yang unik, seumur hidup kami sekeluarga tidak ada tradisi mengucapkan selamat ataupun merayakan ulang tahun ayah, dan pengumuman ini keluar tepat pada hari ulang tahun ayah! Saya merasa pengumuman kelolosan ini adalah kado pertama saya untuk ayah! Ada kebahagiaan tersendiri ketika melihat ayah pulang ke rumah dan senyam senyum karena saya lolos di hari ulang tahunnya (entahlah, apa beliau juga ingat saat itu adalah hari ulang tahunnya).

Happy Birthday, dad!

Rasa senang berkumpul dengan keluarga ternyata tidak bisa saya nikmati berlama-lama, niat menghabiskan tahun baru di kampung halaman harus dibatalkan karena pengumuman yang saya terima mengharuskan saya untuk kembali ke pulau jawa, tepatnya Depok, Jawa Barat. Ini semua karena pengumuman itu menyatakan nama-nama yang dinyatakan lolos diwajibkan menjalani pelatihan bahasa Inggris intensif selama enam bulan di kampus UI (Universitas Indonesia) Depok sebelum bisa melanjutkan study.

Memang berat rasanya meninggalkan rumah sebagai tempat terbaik yang memberikan kenyamanan dan kehangatan, terlebih saya baru 5 hari pulang ke rumah dan dengan karena informasi yang datangnya sangat mendadak saya harus pergi lagi.

Oke, selamat tinggal Banjarmasin! Sampai jumpa lagi... hmm entahlah kapan...



Bersambung...

Bagian 5



Foto bareng sekeluarga sebelum besok paginya saya kembali meninggalkan rumah.




Share:

Berlarilah selagi kamu bisa! (Bermimpilah bagian 3)

(Cerita sebelumnya di sini)

Setiap orang mempunyai caranya sendiri untuk menikmati dan mengakhiri masa patah hati.

Terlebih jika patah hati secara absurd seperti saya (patah hati justru sebulan setelah mengakhiri hubungan).

Saya menikmati masa patah hati seperti halnya orang kebanyakan, entah berapa banyak lagu berlirik dan bernada penuh kepiluan yang diputar berulang kali. Saya dengarkan segala musik yang menggambarkan keadaan saat itu.
Kesedihan adalah kenyamanan terbaik untuk setiap individu yang merasa harus demikian.

Hingga akhirnya saya jenuh.

Saya harus bisa mengatakan STOP sebelum kesedihan ini menjadi candu, saya harus bergerak mengakhirinya!


***

Saya mencoba mengakhiri masa patah hati dengan mengurangi drastis intensitas kesendirian, saya mulai kembali ke laboratorium fotografi meskipun berstatus sebagai alumni, keran pergaulan saya buka seluas-luasnya, berkenalan dengan orang baru entah di kampus, angkot, warung, tempat fotokopi, minimarket, pasar, toko buku, saya ajak ngobrol siapapun dan di manapun tempat yang saya singgahi! Tidak peduli kenal ataupun tidak, yang penting saya jangan sendirian, dari introvert dadakan menjadi ekstrovert (yang juga) dadakan.

Sok akrab ternyata obat paling ampuh untuk mengakhiri patah hati, saya mendapat sangat banyak teman baru dari dedek-dedek SMA hingga ke emak-emak belanja, kehidupan sosial saya meningkat drastis!
Oh, lihat juga saya saat itu, dari yang semula hanya pecundang patah hati akhirnya perlahan belajar menertawakan hidup dari sense of joke yang saya dengar setiap ngobrol dengan supir angkot, ya! Mereka adalah guru saya!

Saya kembali menjadi diri saya! Asyik!



Sok akrab dengan sosok yang kelak menginspirasi banyak orang, sebelum beliau resmi dilantik.


***

Bandung adalah kota penuh harapan dan (tentunya) kenangan. Setiap pengkolan kota ini adalah cerita, kembali menjadi diri sendiri adalah hal terbaik yang bisa saya lakukan dalam waktu singkat, tapi melewati Bandung dengan setiap sudutnya ketika masih "belum sembuh total" adalah hal yang menyiksa.
Ingin rasanya saya pindahkan Bandung ke dataran Nigeria, biar saya puas biar saya lupa lalu teriak "di mana anakku? Di mana anakku?".

Berhubung sangat mustahil memindahkan Bandung ke Nigeria, biarlah saya yang mengalah, dan mendadak terlintas di pikiran bahwa saya harus meninggalkan Bandung sejenak!

Tapi ke mana?

***

Bermimpi tentang Belanda berarti saya harus menyiapkan banyak hal dari jauh hari, salah satu hal yang pernah saya siapkan adalah belajar bahasa.
Pada saat proses merampungkan skripsi saya sempat ingin belajar bahasa Belanda di salah satu lembaga kursus di Bandung, tepatnya dekat lapangan Saparua. Tempat itu adalah gedung tua peninggalan era kolonial tapi masih terawat dengan baik, suatu hari saya berkunjung ke sana untuk menanyakan prosedur pendaftaran, tapi ternyata saya diharuskan menunggu kuota terlebih dahulu untuk membentuk kelas baru (sebetulnya bisa membuka kelas privat, tapi sangat mahal).
Ketika itu saya sedang berada di puncak haus ilmu untuk belajar bahasa Belanda, enggan menunggu kuota akhirnya saya memilih untuk belajar sendiri, semua materi saya kumpulkan dari artikel internet, aplikasi android, kamus online, video di youtube, dan lain-lain.
Saya belajar semuanya secara mandiri.

Kesulitan dari belajar bahasa secara mandiri adalah kesempatan mempraktikkannya, saya hanya belajar bahasa Belanda secara pasif karena tidak ada lawan bicara, sadar akan hal ini maka saya beranggapan bahwa ada hal lain yang harus saya perdalam sebelum belajar bahasa Belanda dan lebih memungkinkan untuk dipraktikkan. Saya harus belajar bahasa Inggris!

Di kota besar seperti Bandung, ada baaanyak sekali tempat kursus bahasa Inggris, saya bisa memilih yang sesuai dengan bujet, tapi saya merasa kemampuan bahasa Inggris gitu gitu aja, hingga akhirnya secara tidak sengaja ketika sedang membaca artikel di internet saya menemukan tempat yang kelak menjadi batu loncatan : Kampung Inggris Pare.

Tertarik dengan nama Kampung Inggris, saya cari segala informasi melalui internet, semua tempat kursus yang direkomendasikan saya telaah, dan tekad saya sudah bulat, dengan uang tabungan yang ada saya harus "melarikan diri" ke Pare! (Cerita awal kedatangan saya di Pare ada di sini)

***

Pare bukan hanya sebuah kampung kecil di kota Kediri Jawa Timur, tapi Pare adalah tempat di mana ratusan orang berproses dalam fase meraih harapan dan mimpinya, saya belajar tentang perjuangan menggapai mimpi di kampung ini.

Ialah Saprian, dia adalah orang yang saya kenal di kampung ini, seorang anak kampung dari pedalaman Riau yang hijrah ke Yogyakarta untuk menuntut ilmu, satu angkatan masuk kuliah dengan saya, lulus pada tahun yang sama dengan saya, dan sedang belajar bahasa Inggris di tempat kursus yang sama juga.

Lelaki yang meskipun sudah bertahun-tahun tinggal di Jawa tapi sulit menghilangkan medok melayunya ini adalah tandem saya selama di Pare. Bersama dengan Fikri (tentang Fikri ada di link yang saya taruh di atas) kami sering bepergian ke manapun entah ke angkringan, taman kecil, pasar malam, Simpang Gumul, atau sekedar makan siang bersama.
Tapi siapa sangka, dibalik ke sotoy an dia tentang seluk beluk Pare, saya menemukan sosok lain di dirinya, saya menemukan sosok Arai dalam novel Sang Pemimpi!

Berdiskusi dengan Sapri adalah hal yang menyenangkan, dia sangat jarang berkata tidak mungkin. Eh sebentar, satu-satunya hal yang membuatnya berkata tidak mungkin adalah saat saya tawari makan sate biawak di pasar malam Simpang Gumul, dia geli! hahaha
Yang ada di pikirannya selalu kata pasti bisa untuk sebuah mimpi. Mimpi jualah yang membuatnya nekad melawan arus meninggalkan zona nyaman di Yogyakarta untuk pergi seorang diri ke Pare hanya untuk mengambil kelas bahasa Inggris dari level dasar.
Mimpinya hanya satu : melanjutkan study ke Eropa.

Kami sering bertukar cerita, topiknya adalah mimpi dia tentang study dan saya tentang Belanda. Kami berdua adalah anak muda pemimpi akut di siang bolong yang sedang diombang-ambing harapan.

Sate biawak yang ditakuti Sapri.


Suatu hari setelah kelas usai dan saya sedang ingin beristirahat, secara mendadak Sapri menanyakan posisi saya, lalu tak lama dia datang menghampiri dengan terburu-buru setelah saya jawab sedang berada di asrama.

"Yub! Baca ini Yub! Penting!" Tanpa basa-basi Sapri menodongkan gawainya ke saya.

Kedatangan Sapri secara mendadak dan terburu-buru itu ternyata untuk mengabari saya informasi tentang beasiswa study di luar negeri, saya yang saat itu masih kaget awalnya menolak untuk menanggapi serius informasi beasiswa itu.

"Beasiswa apaan? Bahasa Inggris masih kacau gini ngomongin beasiswa, mana luar negeri lagi" jawab saya
"Coba dulu aja! Ngga ada salahnya kan? Toh tinggal upload berkas aja buat daftar!"
"Tapi kan background studiku ngga masuk dalam kriteria"
"Halah Yub! Coba aja belum sudah menyerah!"
"Soalnya ijasahku masih di Bandung, kan harus upload ijasah juga buat daftar"
"Ambil! Balik ke Bandung! Jangan banyak alasan! Temani aku daftar beasiswa ini!" Balas Saprian
"Tapi kan..."
"Kamu masih mau Belanda kan?!"

Tidak ada yang bisa saya bantah setelah mendengar kata Belanda, pada malam itu juga saya langsung minta temani Saprian untuk ke minimarket terdekat mencari tiket kereta api termurah dari Kediri ke Bandung.
Setelah mendapatkan tiket untuk keberangkatan esok hari, ketika di jalan menuju pulang ke asrama saya tanya ke Saprian.

"Nanti di kolom pendaftaran kampus tujuan aku masukkin Universitas mana ya?"
"Nanti aja dipikirin, yang penting Belanda kan?" jawab Saprian
"Iya sih, trus kampusmu nanti di mana?"
"Aku sih pengen di Jerman"
"Deket ya sama Belanda?"
"Ngga tau, aku belum pernah ke sana, haha"
"Emang yakin gitu bakal keterima?" Jawab saya semi pesimis
"Jangan mikir itu! Yang penting coba dulu!"

Perjalanan pulang menaiki sepeda ke asrama malam itu kami tutup dengan janji jika kelak di Eropa kami harus tetap mengunjungi satu sama lain, Sapri akan ke Belanda mengunjungi saya, dan saya akan ke Jerman mengunjungi Sapri.


Dasar! Dua anak kampung pemimpi akut!


Sepeda yang saya gunakan malam itu menuju ke minimarket.



Tulisan penuh semangat di salah satu dinding di kampung Pare.


***

Jika bukan karena Saprian si penggila mimpi ini, mungkin saya ogah bercapek-capek mendadak pulang ke Bandung mengurus legalisir ijasah dan urusan tetek bengek lainnya dengan kampus untuk kemudian secepatnya kembali ke Pare karena masih harus menyelesaikan beberapa kelas bahasa Inggris yang tersisa.
Ya! Saprian memang sinting!

Setelah kembali ke Pare dan mengupload berkas syarat pendaftaran di portal beasiswa, kehidupan saya berjalan seperti biasanya, pagi hari jam 05.30 memulai kelas sampai jam 16.30, lalu istirahat sebentar, dan keluar untuk makan malam bersama Saprian dan Fikri.
Berhari-hari rutinitas asrama-kelas-warung-asrama ini kami jalankan, hingga tak terasa masa kursus kami sebentar lagi berakhir.

Ada rasa senang dan sedih menjelang akhir masa kursus, senang karena rutinitas membosankan tersebut akan segera berakhir, dan sedih karena saya sudah terlanjur mempunyai teman-teman yang menyenangkan selama berada di kelas.
Sebetulnya saya bisa saja extend satu bulan lagi di Pare mencari tempat kursus lain, tapi ternyata saya kurang betah di Pare, meskipun segala hal jauh lebih murah daripada Bandung, ternyata saya rindu dengan Bandung. Saya ingin pulang ke Bandung.

Dan tibalah hari terakhir itu.

Hari terakhir di Pare dimulai dengan perpisahan dengan Saprian, dia berangkat menuju Yogyakarta di pagi hari, sedangkan saya dan Fikri akan berangkat ke Bandung di sore harinya.
Salam perpisahan Saprian dengan saya lagi-lagi dengan kalimat penuh mimpi.


"Sampai ketemu di Eropa, Yub!"


Bersambung...



Bagian 4.




Fikri, Saprian, dan Saya. Naik limosin bak terbuka.




Bersama rekan sekelas, para pemimpi yang sedang berproses.


Share:

Wisuda! (Bermimpilah bagian 2)

(Cerita sebelumnya di sini)


Orang senewen mana yang mendadak mengakhiri sebuah hubungan yang hampir menuju jenjang lebih jauh dengan alasan hanya demi mimpi?

Terlebih mimpi itu tidak jelas kapan terwujudnya.

Ya, nyatanya orang itu adalah saya.

***

Saya dan Lestari memang memutuskan menyerah dan berpisah, tapi toh kami masih berhubungan satu sama lain, kontak melalui aplikasi chatting dan sesekali menelepon menanyakan kabar, namun dengan frekuensi yang jauh lebih sedikit.
Seakan tidak ada yang berubah dari hubungan kami berdua, masih seperti biasanya.

September 2013 adalah bulan penting untuk saya, pada bulan itu saya secara resmi sudah menjadi alumni dari kampus dan menyandang satu gelar di belakang nama panjang, akhirnya saya akan wisuda! Yeah!

Satu minggu sebelum hari besar itu Lestari mengabari akan ke Bandung untuk memenuhi janji. Saat kami masih berstatus mahasiswa baru dia pernah berjanji akan hadir jika kelak saya diwisuda. Karena mengetahui rencananya tersebut makin bertambahlah alasan saya untuk bergembira! Wisuda dan ada pendamping!, oke hanya pendamping walaupun sudah tanpa hubungan spesial.

Dan hari itupun tiba.

Di aula kampus, saya bertemu teman-teman kuliah, mereka adalah teman-teman seperjuangan semenjak kami sama-sama sebagai mahasiswa culun saat ospek, lalu menjadi aktivis organisasi, menjadi "pejabat" di himpunan masing-masing, menjadi senior saat orientasi mahasiswa baru, dipusingkan oleh skripsi, hingga akhirnya kami sama-sama berada di ruangan ini! Kami wisuda! Perjuangan 4 tahun kini terbayar lunas!

Saya berada di puncak kebahagiaan hari itu, orangtua datang jauh menyeberang pulau dari kampung halaman untuk menghadiri wisuda, teman dekat dan adik kelas datang secara khusus untuk memberikan selamat kepada saya yang akhirnya bergelar sarjana, dan Lestari... Ya! Lestari hari itupun menepati janjinya! Dia datang ke Bandung untuk saya!

Saya merasa hari itu milik saya!


Saya bersama rekan angkatan seperjuangan saat yudisium, beberapa hari sebelum wisuda

Akhirnya wisuda! Eh, ini wisuda belasan tahun lalu.



Tak terasa hari beranjak siang, satu persatu teman-teman meninggalkan kampus bersama keluarga masing-masing, setelah selesai mengabadikan momen penting ini di stand photo booth bersama keluarga dan juga Lestari, saya lantas mengajak Lestari untuk makan siang bersama keluarga saya.

"Makan yuk" Ajak saya
"Oh makasih, aku masih kenyang tadi sebelum ke Bandung sudah makan"
"Tapi ini ayahku ngajak kamu juga buat makan siang bareng, mumpung ketemu" balas saya
"Aku udah ada janji siang ini, titip salam aja ya buat mereka"
"Lho? Cuma sebentar kok, setelah makan aku antar kamu pulang"
"Ngga apa-apa, aku bisa berangkat sendiri kok"
"Memangnya kamu tadi ke sini naik apa?"

Belum sempat dia menjawab pertanyaan saya, datang seorang laki-laki yang berusia sekian tahun di atas saya menghampiri kami berdua.

"Mmm.. Yub, kenalin, Ini Faiz..." Ucap Lestari.

Hidup tidak akan bisa kita prediksi, hari yang penuh kebahagiaan bisa 180 derajat berubah dengan sangat cepat. Kebenaran itu semanis tebu tapi tidak jarang sepahit empedu, dan saya saat itu seperti diharuskan menelan berkuintal empedu.

Ya, meskipun harusnya dia bisa lakukan nanti, tetapi Lestari secara tidak sengaja mengenalkan saya dengan orang baru pengisi hidupnya, orang yang lebih dewasa, lebih mantap secara fisik, lebih kuat secara mental, dan tentunya orang yang sangat jauh lebih layak berada di sisinya.

Sedangkan saya? Hanya pengangguran dan pemimpi yang baru wisuda. Kurang ajar sekali berharap ada perasaan khusus kembali datang dari orang yang tidak lebih hanya berniat menepati janjinya. Memangnya apa kelebihan saya? Masih terus berkutat dengan bualan seputar mimpi, mimpi, dan mimpi? Cih.

Hari itu, jika kami masih bersama harusnya menjadi hari spesial bagi kami, karena tepat pada tanggal itu kami menjalin hubungan selama 6 tahun.

Namun hari itu nyatanya jauh berbeda,
Dalam satu hari yang sama saya merasa berada di atas awan, namun dengan cepat terlempar jatuh ke jurang yang terbuka.

Terlalu dalam...

Sangat dalam...



***



Beberapa hari setelah wisuda, orangtua pulang ke kampung halaman, dan tinggallah saya sendiri di kamar kost.

Sontak menikmati kesendirian berhari-hari adalah aktifitas saya, suara Thom Yorke adalah sembilu yang menyayat melalui indera pendengaran hingga puncak perasaan, anehnya saya merasakan candu besar dari lirik yang justru menambah besar mata luka tersebut.

But I'm a creep
I'm a weirdo
What the hell am I doing here?
I don't belong here
(Radiohead - Creep)

Ialah Mutiara dan Elma, dua perempuan teman, sahabat dan rekan kerja terbaik saya selama menjadi assisten di laboratorium fotografi. Mengetahui ada yang tidak lazim dengan saya yang berhari-hari hanya berdiam diri di kamar, mereka berdua mendatangi kamar saya, awalnya saya enggan mengaku saat mereka menanyakan apa yang terjadi, hingga akhirnya saya luluh dan menceritakan semuanya kepada mereka.

Ada dua tipe teman di dunia : pertama, mereka yang selalu menunjukkan wajah baik di depanmu tapi kemudian masa bodoh ketika kamu terjatuh. Kedua, yang masa bodoh dalam keseharian, tapi ada untukmu di kondisi apapun.

Mereka berdua adalah tipe yang kedua.

Mutiara, tetangga yang kamarnya di depan saya (kami tinggal di kost yang sama), di laboratorium fotografi dia adalah perempuan yang sangat menyebalkan, galak, dan cerewet. Entah berapa kali kami ribut karena masalah sepele.
Asal tahu saja, dia adalah perempuan menyebalkan yang tidak pernah menolak setiap kali saya mengetok pintu kamarnya hanya untuk minta air minum ataupun saya minta membangunkan saya ketika sahur. Sebaliknya, dia adalah teman yang tidak pernah saya tolak permintaannya bahkan hanya untuk mencarikan bubur ayam ketika dia sakit.

Sedangkan Elma? Teman satu tahun di bawah saya, dia justru kebalikan Mutiara, menjadi yang paling sering dibully di antara assisten laboratorium fotografi yang lain. Tapi dia adalah pekerja keras, dia ujung tombak laboratorium kami dalam urusan administrasi, yang selalu kami cari ketika sedang makan bersama, kalimat andalannya setiap pulang dari lab adalah "A Ayub, nebeng yak pulang!"

Mereka berdua adalah yang pertama tahu permasalahan saya, entah berapa lama saya bercerita panjang setidaknya untuk mengurangi perasaan saya yang saat itu tidak jelas juntrungannya. Hingga entah kenapa spontan saya mengucapkan sesuatu :

"Tahun depan aing (saya) kudu ke luar negeri!, aing kudu buktiin kalo aing bisa!"


Dan saya mengucapkannya di akhir September 2013...




Bersambung....

Bagian 3


Saya, Mutiara, dan Elma, iseng di sela-sela kesibukan mengurus lighting studio laboratorium fotografi.

Saya dan Mutiara, sang kost-mate, ketika dia wisuda.




Share:

Bermimpilah! (bagian 1)

Obsesi memang membuat kita gila.

Di tahun 2008, saat itu saya yang seorang pelajar SMA iseng celoteh "aku pengen ke Belanda", ucapan secara tidak sengaja keluar dari mulut saya yang saat itu melihat Timnas Belanda di Euro 2008, dan semenjak itulah Belanda selalu terngiang dalam pikiran.

Lucunya, sebelum itu saya tidak pernah terpikiran bahkan "masa bodoh" dengan negeri mantan penjajajah ini, tapi itulah manusia, terkadang apa yang tidak kita pikirkan akan menjadi obsesi tersendiri, Columbus yang terobsesi mencari jalan lain ke India malah jauh mengembara ke benua Amerika, begitupun saya, yang tadinya tidak tertarik sama sekali dengan Belanda justru menjadi tergila-gila.

Semenjak ucapan itu, saya mensugesti otak tentang Belanda, hanya Belanda Belanda dan Belanda.

Jika banyak orang jatuh cinta karena pandangan pertama, saya justru jatuh cinta karena ucapan pertama.

Ini saya jaman SMA, lihat itu poster pembagian dan perkalian untuk anak SD yang ditempel di dinding? Saya beli di pasar malam khusus buat hiasan di kelas.


***

2009

Saya berubah status, dari yang semula pelajar SMA, kini menjadi anak kuliahan.

Di akhir 2009, ada sebuah film yang diangkat dari novel kesukaan saya judulnya Sang Pemimpi, dan selain menyukai novelnya saya juga menjadi suka dengan filmnya, bagaimana tidak, GIGI menjadi band pengisi soundtrack film ini!, band yang sudah saya idolakan semenjak masa puber 12 tahunan lalu (ugh! ternyata saya bukan ABG lagi) ini mempunyai lagu yang menohok!.

Perpaduan antara novel-film-musik inilah yang menjadikan Sang Pemimpi menjadi karya paling berpengaruh untuk hidup saya (hwalah! bahasanya!). Semenjak menikmati Sang Pemimpi saya memiliki hasrat tersendiri untuk menggapai cita-cita, saya terinspirasi dari dua sosok yang menjadi sentral dari film ini : Ikal dan Arai, dua orang kampung kecil yang punya mimpi teramat besar untuk menjelajah Eropa.

Klise ya? Nonton film, terinspirasi, lalu berkeinginan meniru sosok yang ada dalam film. Biarlah, toh ini hidup saya.

Oh iya, balik lagi ke idealisme. Jadi, karena terinspirasi oleh dua sosok itu saya juga bermimpi suatu saat pasti akan menjejakkan kaki di dataran Eropa terutama Belanda, dan entah kenapa saya mencanangkan mimpi itu harus terwujud sebelum usia 25 tahun.

Oke, mimpi dan target sudah, lalu apalagi?

Ya! Dana! Saya bukan terlahir dari keluarga kaya raya, ayah saya dosen, ibu saya guru. Saya tidak mungkin sekonyong-konyong bilang "Mah! Ke Eropa yuk!", kecuali kalau saya bisa memastikan kalau rawa-rawa di bawah rumah berisi emas, bukan hanya biawak.

Satu-satunya jalan yang bisa saya lakukan adalah lewat jalur akademis. Di masa SMA saya bukan pelajar yang cerdas dan penuh prestasi, sementara teman-teman sekelas ada yang mengikuti kongres anak nasional (teman sebangku!), atlet basket, dan anak band yang menang berbagai festival, lah saya? Bisa melewati kelas kimia tanpa ketiduran aja sudah prestasi besar, rasanya pengen potong tumpeng.

Semenjak punya mimpi dan tahu bagaimana satu-satunya jalan yang bisa ditempuh, saya menggembleng diri untuk disiplin dalam hal akademis, saat SMA saya terbiasa untuk ambil jalur bebas hambatan saat ujian (nyontek) maka di masa kuliah saya harus total meninggalkan hal itu.
Kenapa? Pikiran saya saat itu sederhana, kalau saya ingin ke Belanda, saya harus menyiapkan mental terutama di bidang akademis, saya enggan dimanja dengan kesempatan-kesempatan jalan pintas yang bisa membuat saya terlena, dan hal kecil seperti menyontek ini yang sebetulnya seperti paku yang menempel di ban, kecil tapi bisa menghambat perjalanan.

Tekad besar merubah perilaku kecil itu awalnya sulit, ada saja godaan dan alasan sebagai pembenaran, karena itu setiap ujian saya selalu meminta untuk duduk di bangku paling depan, kenapa? Agar saya dekat dengan pengawas ujian dan keinginan untuk berbuat curang selalu gagal. Oh iya, jangan dikira setiap ujian saya selalu bisa menjawab semua pertanyaan dan mendapat nilai bagus, bahkan seringkali saya lebih memilih untuk mengosongkan lembar jawaban ketimbang saya mendapatkan jawaban tapi melanggar tekad diri sendiri. Ini bukan persoalan nilai di secarik kertas, ini persoalan mental.

Dan alhamdulillah, tekad pembentukan mental ini bisa saya jalankan penuh dari semester awal sampai saya lulus kuliah. Dari yang semula sulit tapi akhirnya terbiasa.





Saya, mahasiswa tingkat awal nih


***

Tahun 2010, 2011, dan 2012 adalah masa saya menikmati dunia kuliah, mendapatkan banyak teman baru, sibuk berorganisasi, keasikan berbisnis kecil-kecilan, bekerja sebagai fotografer musik, dan beragam hal lainnya. Saat itu saya sudah lupa mimpi saya tentang Belanda, saya terlena dengan keasyikan prinsip "gimana nanti".

Hingga akhirnya saya berada di penghujung 2012.

Suatu hari di akhir 2012 saya merenung tentang rencana hidup, karena tahun depan 2013 adalah semester terakhir dan saya akan lulus kuliah, yang ada dalam pikiran adalah "what will I do next year?", karena beberapa tahun sebelumnya saya sama sekali tidak pernah menyusun resolusi atau rencana apapun.

Lalu muncul nama itu : BELANDA.

Ya, saya masih punya mimpi tentang Belanda! Mimpi masa remaja saya!

Jaman kuliah semester akhir dengan jersey Timnas Belanda, sok asik ya?



***

2013 adalah tahun titik balik tentang banyak hal.

Saya mulai awal tahun dengan kegilaan tentang Belanda, saya pajang bendera, logo, dan apapun tentang Belanda sebagai wallpaper di laptop, handphone, dan profile picture, tujuannya hanya satu : mengembalikan dan memunculkan obsesi tentang Belanda. Mungkin teman-teman saya sampai eneg melihat tingkah laku saya saat itu, bagaimana tidak, bahkan sampai main PES mereka sudah tahu timnas mana yang akan saya mainkan, hahaha

Karena saat itu adalah semester akhir, otomatis saya harus mengerjakan skripsi, namun saat itu saya yang berada di puncak gila secara tidak sengaja dapat info tentang lomba menulis artikel yang berhadiah utama Summer Course di Belanda, sungguh lomba yang sangat menggiurkan, bukan?

Demi tergoda dengan lomba itu, saya lupakan skripsi, selama sebulan lebih saya tanya sana-sini tentang Belanda, nonton film tentang Belanda, dan baca buku tentang Belanda, hanya untuk membuat artikel tentang negeri bawah permukaan laut ini. Hingga akhirnya saya bisa menyelesaikan tulisan ini , coba buka dan baca, sungguh cetek sekali ya tulisannya? haha saat itu saya punya banyak ide cerita tentang Belanda tapi entah kenapa justru tulisan cetek ini yang saya kirim ke panitia.

Dan hasilnya? Bisa ditebak, gagal, saya bahkan sama sekali tidak masuk dalam nominasi pemenang, sampai akhirnya galau, lalu curhat hal ini.

Angin segar justru muncul kembali, gagal dalam lomba artikel saya dapat selentingan info kalau timnas Belanda akan melakukan pertandingan persahabatan dengan timnas Indonesia, yang berarti mereka akan mengunjungi Indonesia!, saya yang tahu kabar itu langsung kelabakan cari info kapan tanggalnya, berapa harga tiket terbaik yang bisa saya jangkau, dan bagaimana cara menuju Gelora Bung Karno dari Bandung. Tabungan pribadi dari laba bisnis kecil-kecilan saya bobol karena kapan lagi saya bisa nonton Van Persie, Robben, Sneijder, Kuyt, dkk bermain di depan mata!

Jelas saat itu saya tidak ingin berangkat sendiri, saya ajak teman-teman dekat untuk pergi ke sana bersama, beragam respon yang saya dapatkan, dari yang semula sangat tertarik, lalu mikir-mikir dulu, lalu bilang tiketnya mahal, kemudian membatalkan saat H-3 karena katanya belum punya tiket.
Akhirnya saya nekad nonton sendiri dari Bandung ke Jakarta hanya untuk Belanda. Saya sebetulnya sadar, tingkat ketertarikan teman-teman lebih banyak kepada klub sepakbola bukan ke Timnas Negara, tapi karena saya kadung terlanjur mencintai Timnas Belanda maka saya harus berangkat dengan atau tanpa teman!

Dan... Akhirnya saya bisa menyaksikan secara langsung tim kesayangan saya!, tapi jujur saat itu saya bingung, karena di sisi lain saya harus mendukung timnas Indonesia dan di sisi lain saya mengidolakan timnas Belanda, hahaha


 




Ternyata saya masih menyimpan foto di atas dalam instagram saya, lihat ratusan minggu yang lalu foto ini saya posting, hihi

Oh iya, saya juga masih menyimpan kok foto lengkap lainnya di sini



***

Terkadang kita harus merelakan dan mengorbankan banyak hal untuk sebuah mimpi...


Semasa SMA saya dekat dengan seorang perempuan, oke kekasih, panggillah dia Lestari.

Lestari adalah perempuan yang tahu segala obsesi gila saya semenjak kami sama-sama berada di bangku sekolah hingga melanjutkan pendidikan di kota yang sama namun beda kampus, dia yang selalu sabar setiap saya mengoceh tentang mimpi, tentang kerennya Belanda, dan banyak hal lain tentang fanatiknya saya. Dia adalah pendengar terbaik tentang mimpi saya.

Dia lulus lebih dahulu daripada saya. Karena dia saya tahu betapa sulitnya cari kerja, mengingat  di bulan-bulan pertama setelah dia lulus saya harus berangkat subuh ketika Bandung sedang dingin-dinginnya untuk menjemput lalu mengantarnya ke pool travel yang kemudian dia pergi ke kota lain demi menghadiri job fair dan saya menjemputnya pulang ketika malam. Entah berapa lamaran yang sudah dia masukkan saat itu, hingga akhirnya kabar baik datang yang menyatakan dia diterima di sebuah perusahaan di kota kelahirannya yang berjarak 4 jam perjalanan dari Bandung.

Meskipun hanya berjarak 4 jam perjalanan, tapi inilah saat kesabaran diuji.

Di bulan-bulan awal LDR kami masih sering saling mengunjungi, setiap pekannya saya ke tempat dia atau dia yang ke Bandung mengunjungi saya yang saat itu berstatus mahasiswa tingkat akhir, namun beberapa lama akhirnya frekuensi itu berkurang karena kesibukan masing-masing, hal ini berdampak kepada setiap pertemuan kami yang selalu diawali dengan pertengkaran, walaupun pada akhirnya kami berdamai lagi, tapi saat itu saya merasa ada sesuatu yang sebetulnya dia pendam.

Di suatu ketika saat mengunjunginya saya tanyakan langsung apa yang membuat hubungan kami saat itu seperti ada yang berbeda, tadinya saya menduga karena saya yang terlalu cuek dan sibuk menyelesaikan skripsi saya yang sempat tertunda, tapi ternyata saya salah.

"Aku butuh kepastian" ucapnya saat itu.

Perempuan adalah mahluk yang lebih cepat dewasa ketimbang laki-laki seusianya, pada usia awal 20an kebanyakan perempuan akan mengalami masa orientasi baru (ini cuma istilah saya) transisi dari remaja ke young adult, mereka akan memikirkan soal pernikahan, mempunyai anak, dan membangun rumah tangga. Sedangkan laki-laki? Masih sedang sibuk dengan hobinya.

Begitupun keadaan kami saat itu, saya sama sekali tidak menyadari kalau dia sudah memasuki masa orientasi baru tersebut, dia butuh kepastian tentang hubungan yang lebih serius, dan dia meminta saya mulai memikirkan bahkan meminta saya menentukan "deadline".
Saya yang saat itu mahasiswa tingkat akhir mulanya hanya beranggapan kalau permintaan ini hanyalah permintaan yang "ah nanti juga lupa", tapi ternyata saya salah, setelah saat itu hampir setiap hari dia memberi "kode" tentang permintaannya.

Hingga sampailah kami di sebuah titik.

Di suatu akhir pekan saya meminta secara khusus waktu untuk berdiskusi dengannya. Membicarakan tentang hubungan kami.

"Memangnya apa sih yang jadi patokanmu? Kamu menunggu sampai punya rumah sendiri?" Tanyanya saat itu.
"Bukan, bukan itu masalahnya"
"lalu apa?"

Ada banyak orang yang menjadikan kemapanan adalah patokan untuk memulai hidup baru, entah harus memiliki kendaraan sendiri, rumah, atau apapun. Manusiawi, karena setiap orang butuh materi. Tapi jawabanku saat itu bagi sebagian orang adalah suatu kekonyolan yang naif.

"Aku masih mau Belanda, kamu tahu kan mimpiku?"

Ketahuilah, sebelum itu kami bagai magnet yang menempel, ada saya selalu ada dia, tapi hari itu dua magnet ini mendadak berubah wujud, salah satu berubah menjadi batu.
Entah siapa yang magnet dan siapa yang batu, karena kami berdua tetap bersikeras dengan keinginan masing-masing, dia yang ingin ke jenjang serius dalam waktu setidaknya setahun setelah saya lulus, dan saya yang bersikeras ingin melanjutkan mimpi ke Belanda... yang entah kapan akan terwujud.

Dalam hal ini tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah, semua murni karena sudah tidak ada titik temu penyelesaian masalah seperti sebelumnya.

Sadar sudah berada di titik nadir perjuangan akhirnya kami berdua sepakat untuk menyerah.

Iya, menyerah.

Kami berdua menyerah bukan seperti magnet dengan kutub yang sama, saling menolak dan melempar jauh-jauh. Kami menyerah seperti halnya magnet dan batu, tidak akan pernah bisa menyatu karena ketidaksamaan unsur pembentuk. Kami berpisah dengan baik-baik, tanpa pertengkaran tanpa debat panjang dan tanpa ada yang tersakiti ataupun menyakiti, semua murni keputusan berdua.

Kami berpisah tepat satu bulan sebelum hubungan kami genap 6 tahun.



Demi mimpi....






Bersambung...

Bagian 2 
Share: