Bermimpilah! (bagian 1)

Obsesi memang membuat kita gila.

Di tahun 2008, saat itu saya yang seorang pelajar SMA iseng celoteh "aku pengen ke Belanda", ucapan secara tidak sengaja keluar dari mulut saya yang saat itu melihat Timnas Belanda di Euro 2008, dan semenjak itulah Belanda selalu terngiang dalam pikiran.

Lucunya, sebelum itu saya tidak pernah terpikiran bahkan "masa bodoh" dengan negeri mantan penjajajah ini, tapi itulah manusia, terkadang apa yang tidak kita pikirkan akan menjadi obsesi tersendiri, Columbus yang terobsesi mencari jalan lain ke India malah jauh mengembara ke benua Amerika, begitupun saya, yang tadinya tidak tertarik sama sekali dengan Belanda justru menjadi tergila-gila.

Semenjak ucapan itu, saya mensugesti otak tentang Belanda, hanya Belanda Belanda dan Belanda.

Jika banyak orang jatuh cinta karena pandangan pertama, saya justru jatuh cinta karena ucapan pertama.

Ini saya jaman SMA, lihat itu poster pembagian dan perkalian untuk anak SD yang ditempel di dinding? Saya beli di pasar malam khusus buat hiasan di kelas.


***

2009

Saya berubah status, dari yang semula pelajar SMA, kini menjadi anak kuliahan.

Di akhir 2009, ada sebuah film yang diangkat dari novel kesukaan saya judulnya Sang Pemimpi, dan selain menyukai novelnya saya juga menjadi suka dengan filmnya, bagaimana tidak, GIGI menjadi band pengisi soundtrack film ini!, band yang sudah saya idolakan semenjak masa puber 12 tahunan lalu (ugh! ternyata saya bukan ABG lagi) ini mempunyai lagu yang menohok!.

Perpaduan antara novel-film-musik inilah yang menjadikan Sang Pemimpi menjadi karya paling berpengaruh untuk hidup saya (hwalah! bahasanya!). Semenjak menikmati Sang Pemimpi saya memiliki hasrat tersendiri untuk menggapai cita-cita, saya terinspirasi dari dua sosok yang menjadi sentral dari film ini : Ikal dan Arai, dua orang kampung kecil yang punya mimpi teramat besar untuk menjelajah Eropa.

Klise ya? Nonton film, terinspirasi, lalu berkeinginan meniru sosok yang ada dalam film. Biarlah, toh ini hidup saya.

Oh iya, balik lagi ke idealisme. Jadi, karena terinspirasi oleh dua sosok itu saya juga bermimpi suatu saat pasti akan menjejakkan kaki di dataran Eropa terutama Belanda, dan entah kenapa saya mencanangkan mimpi itu harus terwujud sebelum usia 25 tahun.

Oke, mimpi dan target sudah, lalu apalagi?

Ya! Dana! Saya bukan terlahir dari keluarga kaya raya, ayah saya dosen, ibu saya guru. Saya tidak mungkin sekonyong-konyong bilang "Mah! Ke Eropa yuk!", kecuali kalau saya bisa memastikan kalau rawa-rawa di bawah rumah berisi emas, bukan hanya biawak.

Satu-satunya jalan yang bisa saya lakukan adalah lewat jalur akademis. Di masa SMA saya bukan pelajar yang cerdas dan penuh prestasi, sementara teman-teman sekelas ada yang mengikuti kongres anak nasional (teman sebangku!), atlet basket, dan anak band yang menang berbagai festival, lah saya? Bisa melewati kelas kimia tanpa ketiduran aja sudah prestasi besar, rasanya pengen potong tumpeng.

Semenjak punya mimpi dan tahu bagaimana satu-satunya jalan yang bisa ditempuh, saya menggembleng diri untuk disiplin dalam hal akademis, saat SMA saya terbiasa untuk ambil jalur bebas hambatan saat ujian (nyontek) maka di masa kuliah saya harus total meninggalkan hal itu.
Kenapa? Pikiran saya saat itu sederhana, kalau saya ingin ke Belanda, saya harus menyiapkan mental terutama di bidang akademis, saya enggan dimanja dengan kesempatan-kesempatan jalan pintas yang bisa membuat saya terlena, dan hal kecil seperti menyontek ini yang sebetulnya seperti paku yang menempel di ban, kecil tapi bisa menghambat perjalanan.

Tekad besar merubah perilaku kecil itu awalnya sulit, ada saja godaan dan alasan sebagai pembenaran, karena itu setiap ujian saya selalu meminta untuk duduk di bangku paling depan, kenapa? Agar saya dekat dengan pengawas ujian dan keinginan untuk berbuat curang selalu gagal. Oh iya, jangan dikira setiap ujian saya selalu bisa menjawab semua pertanyaan dan mendapat nilai bagus, bahkan seringkali saya lebih memilih untuk mengosongkan lembar jawaban ketimbang saya mendapatkan jawaban tapi melanggar tekad diri sendiri. Ini bukan persoalan nilai di secarik kertas, ini persoalan mental.

Dan alhamdulillah, tekad pembentukan mental ini bisa saya jalankan penuh dari semester awal sampai saya lulus kuliah. Dari yang semula sulit tapi akhirnya terbiasa.





Saya, mahasiswa tingkat awal nih


***

Tahun 2010, 2011, dan 2012 adalah masa saya menikmati dunia kuliah, mendapatkan banyak teman baru, sibuk berorganisasi, keasikan berbisnis kecil-kecilan, bekerja sebagai fotografer musik, dan beragam hal lainnya. Saat itu saya sudah lupa mimpi saya tentang Belanda, saya terlena dengan keasyikan prinsip "gimana nanti".

Hingga akhirnya saya berada di penghujung 2012.

Suatu hari di akhir 2012 saya merenung tentang rencana hidup, karena tahun depan 2013 adalah semester terakhir dan saya akan lulus kuliah, yang ada dalam pikiran adalah "what will I do next year?", karena beberapa tahun sebelumnya saya sama sekali tidak pernah menyusun resolusi atau rencana apapun.

Lalu muncul nama itu : BELANDA.

Ya, saya masih punya mimpi tentang Belanda! Mimpi masa remaja saya!

Jaman kuliah semester akhir dengan jersey Timnas Belanda, sok asik ya?



***

2013 adalah tahun titik balik tentang banyak hal.

Saya mulai awal tahun dengan kegilaan tentang Belanda, saya pajang bendera, logo, dan apapun tentang Belanda sebagai wallpaper di laptop, handphone, dan profile picture, tujuannya hanya satu : mengembalikan dan memunculkan obsesi tentang Belanda. Mungkin teman-teman saya sampai eneg melihat tingkah laku saya saat itu, bagaimana tidak, bahkan sampai main PES mereka sudah tahu timnas mana yang akan saya mainkan, hahaha

Karena saat itu adalah semester akhir, otomatis saya harus mengerjakan skripsi, namun saat itu saya yang berada di puncak gila secara tidak sengaja dapat info tentang lomba menulis artikel yang berhadiah utama Summer Course di Belanda, sungguh lomba yang sangat menggiurkan, bukan?

Demi tergoda dengan lomba itu, saya lupakan skripsi, selama sebulan lebih saya tanya sana-sini tentang Belanda, nonton film tentang Belanda, dan baca buku tentang Belanda, hanya untuk membuat artikel tentang negeri bawah permukaan laut ini. Hingga akhirnya saya bisa menyelesaikan tulisan ini , coba buka dan baca, sungguh cetek sekali ya tulisannya? haha saat itu saya punya banyak ide cerita tentang Belanda tapi entah kenapa justru tulisan cetek ini yang saya kirim ke panitia.

Dan hasilnya? Bisa ditebak, gagal, saya bahkan sama sekali tidak masuk dalam nominasi pemenang, sampai akhirnya galau, lalu curhat hal ini.

Angin segar justru muncul kembali, gagal dalam lomba artikel saya dapat selentingan info kalau timnas Belanda akan melakukan pertandingan persahabatan dengan timnas Indonesia, yang berarti mereka akan mengunjungi Indonesia!, saya yang tahu kabar itu langsung kelabakan cari info kapan tanggalnya, berapa harga tiket terbaik yang bisa saya jangkau, dan bagaimana cara menuju Gelora Bung Karno dari Bandung. Tabungan pribadi dari laba bisnis kecil-kecilan saya bobol karena kapan lagi saya bisa nonton Van Persie, Robben, Sneijder, Kuyt, dkk bermain di depan mata!

Jelas saat itu saya tidak ingin berangkat sendiri, saya ajak teman-teman dekat untuk pergi ke sana bersama, beragam respon yang saya dapatkan, dari yang semula sangat tertarik, lalu mikir-mikir dulu, lalu bilang tiketnya mahal, kemudian membatalkan saat H-3 karena katanya belum punya tiket.
Akhirnya saya nekad nonton sendiri dari Bandung ke Jakarta hanya untuk Belanda. Saya sebetulnya sadar, tingkat ketertarikan teman-teman lebih banyak kepada klub sepakbola bukan ke Timnas Negara, tapi karena saya kadung terlanjur mencintai Timnas Belanda maka saya harus berangkat dengan atau tanpa teman!

Dan... Akhirnya saya bisa menyaksikan secara langsung tim kesayangan saya!, tapi jujur saat itu saya bingung, karena di sisi lain saya harus mendukung timnas Indonesia dan di sisi lain saya mengidolakan timnas Belanda, hahaha


 




Ternyata saya masih menyimpan foto di atas dalam instagram saya, lihat ratusan minggu yang lalu foto ini saya posting, hihi

Oh iya, saya juga masih menyimpan kok foto lengkap lainnya di sini



***

Terkadang kita harus merelakan dan mengorbankan banyak hal untuk sebuah mimpi...


Semasa SMA saya dekat dengan seorang perempuan, oke kekasih, panggillah dia Lestari.

Lestari adalah perempuan yang tahu segala obsesi gila saya semenjak kami sama-sama berada di bangku sekolah hingga melanjutkan pendidikan di kota yang sama namun beda kampus, dia yang selalu sabar setiap saya mengoceh tentang mimpi, tentang kerennya Belanda, dan banyak hal lain tentang fanatiknya saya. Dia adalah pendengar terbaik tentang mimpi saya.

Dia lulus lebih dahulu daripada saya. Karena dia saya tahu betapa sulitnya cari kerja, mengingat  di bulan-bulan pertama setelah dia lulus saya harus berangkat subuh ketika Bandung sedang dingin-dinginnya untuk menjemput lalu mengantarnya ke pool travel yang kemudian dia pergi ke kota lain demi menghadiri job fair dan saya menjemputnya pulang ketika malam. Entah berapa lamaran yang sudah dia masukkan saat itu, hingga akhirnya kabar baik datang yang menyatakan dia diterima di sebuah perusahaan di kota kelahirannya yang berjarak 4 jam perjalanan dari Bandung.

Meskipun hanya berjarak 4 jam perjalanan, tapi inilah saat kesabaran diuji.

Di bulan-bulan awal LDR kami masih sering saling mengunjungi, setiap pekannya saya ke tempat dia atau dia yang ke Bandung mengunjungi saya yang saat itu berstatus mahasiswa tingkat akhir, namun beberapa lama akhirnya frekuensi itu berkurang karena kesibukan masing-masing, hal ini berdampak kepada setiap pertemuan kami yang selalu diawali dengan pertengkaran, walaupun pada akhirnya kami berdamai lagi, tapi saat itu saya merasa ada sesuatu yang sebetulnya dia pendam.

Di suatu ketika saat mengunjunginya saya tanyakan langsung apa yang membuat hubungan kami saat itu seperti ada yang berbeda, tadinya saya menduga karena saya yang terlalu cuek dan sibuk menyelesaikan skripsi saya yang sempat tertunda, tapi ternyata saya salah.

"Aku butuh kepastian" ucapnya saat itu.

Perempuan adalah mahluk yang lebih cepat dewasa ketimbang laki-laki seusianya, pada usia awal 20an kebanyakan perempuan akan mengalami masa orientasi baru (ini cuma istilah saya) transisi dari remaja ke young adult, mereka akan memikirkan soal pernikahan, mempunyai anak, dan membangun rumah tangga. Sedangkan laki-laki? Masih sedang sibuk dengan hobinya.

Begitupun keadaan kami saat itu, saya sama sekali tidak menyadari kalau dia sudah memasuki masa orientasi baru tersebut, dia butuh kepastian tentang hubungan yang lebih serius, dan dia meminta saya mulai memikirkan bahkan meminta saya menentukan "deadline".
Saya yang saat itu mahasiswa tingkat akhir mulanya hanya beranggapan kalau permintaan ini hanyalah permintaan yang "ah nanti juga lupa", tapi ternyata saya salah, setelah saat itu hampir setiap hari dia memberi "kode" tentang permintaannya.

Hingga sampailah kami di sebuah titik.

Di suatu akhir pekan saya meminta secara khusus waktu untuk berdiskusi dengannya. Membicarakan tentang hubungan kami.

"Memangnya apa sih yang jadi patokanmu? Kamu menunggu sampai punya rumah sendiri?" Tanyanya saat itu.
"Bukan, bukan itu masalahnya"
"lalu apa?"

Ada banyak orang yang menjadikan kemapanan adalah patokan untuk memulai hidup baru, entah harus memiliki kendaraan sendiri, rumah, atau apapun. Manusiawi, karena setiap orang butuh materi. Tapi jawabanku saat itu bagi sebagian orang adalah suatu kekonyolan yang naif.

"Aku masih mau Belanda, kamu tahu kan mimpiku?"

Ketahuilah, sebelum itu kami bagai magnet yang menempel, ada saya selalu ada dia, tapi hari itu dua magnet ini mendadak berubah wujud, salah satu berubah menjadi batu.
Entah siapa yang magnet dan siapa yang batu, karena kami berdua tetap bersikeras dengan keinginan masing-masing, dia yang ingin ke jenjang serius dalam waktu setidaknya setahun setelah saya lulus, dan saya yang bersikeras ingin melanjutkan mimpi ke Belanda... yang entah kapan akan terwujud.

Dalam hal ini tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah, semua murni karena sudah tidak ada titik temu penyelesaian masalah seperti sebelumnya.

Sadar sudah berada di titik nadir perjuangan akhirnya kami berdua sepakat untuk menyerah.

Iya, menyerah.

Kami berdua menyerah bukan seperti magnet dengan kutub yang sama, saling menolak dan melempar jauh-jauh. Kami menyerah seperti halnya magnet dan batu, tidak akan pernah bisa menyatu karena ketidaksamaan unsur pembentuk. Kami berpisah dengan baik-baik, tanpa pertengkaran tanpa debat panjang dan tanpa ada yang tersakiti ataupun menyakiti, semua murni keputusan berdua.

Kami berpisah tepat satu bulan sebelum hubungan kami genap 6 tahun.



Demi mimpi....






Bersambung...

Bagian 2 
Share:

1 komentar: