Wisuda! (Bermimpilah bagian 2)

(Cerita sebelumnya di sini)


Orang senewen mana yang mendadak mengakhiri sebuah hubungan yang hampir menuju jenjang lebih jauh dengan alasan hanya demi mimpi?

Terlebih mimpi itu tidak jelas kapan terwujudnya.

Ya, nyatanya orang itu adalah saya.

***

Saya dan Lestari memang memutuskan menyerah dan berpisah, tapi toh kami masih berhubungan satu sama lain, kontak melalui aplikasi chatting dan sesekali menelepon menanyakan kabar, namun dengan frekuensi yang jauh lebih sedikit.
Seakan tidak ada yang berubah dari hubungan kami berdua, masih seperti biasanya.

September 2013 adalah bulan penting untuk saya, pada bulan itu saya secara resmi sudah menjadi alumni dari kampus dan menyandang satu gelar di belakang nama panjang, akhirnya saya akan wisuda! Yeah!

Satu minggu sebelum hari besar itu Lestari mengabari akan ke Bandung untuk memenuhi janji. Saat kami masih berstatus mahasiswa baru dia pernah berjanji akan hadir jika kelak saya diwisuda. Karena mengetahui rencananya tersebut makin bertambahlah alasan saya untuk bergembira! Wisuda dan ada pendamping!, oke hanya pendamping walaupun sudah tanpa hubungan spesial.

Dan hari itupun tiba.

Di aula kampus, saya bertemu teman-teman kuliah, mereka adalah teman-teman seperjuangan semenjak kami sama-sama sebagai mahasiswa culun saat ospek, lalu menjadi aktivis organisasi, menjadi "pejabat" di himpunan masing-masing, menjadi senior saat orientasi mahasiswa baru, dipusingkan oleh skripsi, hingga akhirnya kami sama-sama berada di ruangan ini! Kami wisuda! Perjuangan 4 tahun kini terbayar lunas!

Saya berada di puncak kebahagiaan hari itu, orangtua datang jauh menyeberang pulau dari kampung halaman untuk menghadiri wisuda, teman dekat dan adik kelas datang secara khusus untuk memberikan selamat kepada saya yang akhirnya bergelar sarjana, dan Lestari... Ya! Lestari hari itupun menepati janjinya! Dia datang ke Bandung untuk saya!

Saya merasa hari itu milik saya!


Saya bersama rekan angkatan seperjuangan saat yudisium, beberapa hari sebelum wisuda

Akhirnya wisuda! Eh, ini wisuda belasan tahun lalu.



Tak terasa hari beranjak siang, satu persatu teman-teman meninggalkan kampus bersama keluarga masing-masing, setelah selesai mengabadikan momen penting ini di stand photo booth bersama keluarga dan juga Lestari, saya lantas mengajak Lestari untuk makan siang bersama keluarga saya.

"Makan yuk" Ajak saya
"Oh makasih, aku masih kenyang tadi sebelum ke Bandung sudah makan"
"Tapi ini ayahku ngajak kamu juga buat makan siang bareng, mumpung ketemu" balas saya
"Aku udah ada janji siang ini, titip salam aja ya buat mereka"
"Lho? Cuma sebentar kok, setelah makan aku antar kamu pulang"
"Ngga apa-apa, aku bisa berangkat sendiri kok"
"Memangnya kamu tadi ke sini naik apa?"

Belum sempat dia menjawab pertanyaan saya, datang seorang laki-laki yang berusia sekian tahun di atas saya menghampiri kami berdua.

"Mmm.. Yub, kenalin, Ini Faiz..." Ucap Lestari.

Hidup tidak akan bisa kita prediksi, hari yang penuh kebahagiaan bisa 180 derajat berubah dengan sangat cepat. Kebenaran itu semanis tebu tapi tidak jarang sepahit empedu, dan saya saat itu seperti diharuskan menelan berkuintal empedu.

Ya, meskipun harusnya dia bisa lakukan nanti, tetapi Lestari secara tidak sengaja mengenalkan saya dengan orang baru pengisi hidupnya, orang yang lebih dewasa, lebih mantap secara fisik, lebih kuat secara mental, dan tentunya orang yang sangat jauh lebih layak berada di sisinya.

Sedangkan saya? Hanya pengangguran dan pemimpi yang baru wisuda. Kurang ajar sekali berharap ada perasaan khusus kembali datang dari orang yang tidak lebih hanya berniat menepati janjinya. Memangnya apa kelebihan saya? Masih terus berkutat dengan bualan seputar mimpi, mimpi, dan mimpi? Cih.

Hari itu, jika kami masih bersama harusnya menjadi hari spesial bagi kami, karena tepat pada tanggal itu kami menjalin hubungan selama 6 tahun.

Namun hari itu nyatanya jauh berbeda,
Dalam satu hari yang sama saya merasa berada di atas awan, namun dengan cepat terlempar jatuh ke jurang yang terbuka.

Terlalu dalam...

Sangat dalam...



***



Beberapa hari setelah wisuda, orangtua pulang ke kampung halaman, dan tinggallah saya sendiri di kamar kost.

Sontak menikmati kesendirian berhari-hari adalah aktifitas saya, suara Thom Yorke adalah sembilu yang menyayat melalui indera pendengaran hingga puncak perasaan, anehnya saya merasakan candu besar dari lirik yang justru menambah besar mata luka tersebut.

But I'm a creep
I'm a weirdo
What the hell am I doing here?
I don't belong here
(Radiohead - Creep)

Ialah Mutiara dan Elma, dua perempuan teman, sahabat dan rekan kerja terbaik saya selama menjadi assisten di laboratorium fotografi. Mengetahui ada yang tidak lazim dengan saya yang berhari-hari hanya berdiam diri di kamar, mereka berdua mendatangi kamar saya, awalnya saya enggan mengaku saat mereka menanyakan apa yang terjadi, hingga akhirnya saya luluh dan menceritakan semuanya kepada mereka.

Ada dua tipe teman di dunia : pertama, mereka yang selalu menunjukkan wajah baik di depanmu tapi kemudian masa bodoh ketika kamu terjatuh. Kedua, yang masa bodoh dalam keseharian, tapi ada untukmu di kondisi apapun.

Mereka berdua adalah tipe yang kedua.

Mutiara, tetangga yang kamarnya di depan saya (kami tinggal di kost yang sama), di laboratorium fotografi dia adalah perempuan yang sangat menyebalkan, galak, dan cerewet. Entah berapa kali kami ribut karena masalah sepele.
Asal tahu saja, dia adalah perempuan menyebalkan yang tidak pernah menolak setiap kali saya mengetok pintu kamarnya hanya untuk minta air minum ataupun saya minta membangunkan saya ketika sahur. Sebaliknya, dia adalah teman yang tidak pernah saya tolak permintaannya bahkan hanya untuk mencarikan bubur ayam ketika dia sakit.

Sedangkan Elma? Teman satu tahun di bawah saya, dia justru kebalikan Mutiara, menjadi yang paling sering dibully di antara assisten laboratorium fotografi yang lain. Tapi dia adalah pekerja keras, dia ujung tombak laboratorium kami dalam urusan administrasi, yang selalu kami cari ketika sedang makan bersama, kalimat andalannya setiap pulang dari lab adalah "A Ayub, nebeng yak pulang!"

Mereka berdua adalah yang pertama tahu permasalahan saya, entah berapa lama saya bercerita panjang setidaknya untuk mengurangi perasaan saya yang saat itu tidak jelas juntrungannya. Hingga entah kenapa spontan saya mengucapkan sesuatu :

"Tahun depan aing (saya) kudu ke luar negeri!, aing kudu buktiin kalo aing bisa!"


Dan saya mengucapkannya di akhir September 2013...




Bersambung....

Bagian 3


Saya, Mutiara, dan Elma, iseng di sela-sela kesibukan mengurus lighting studio laboratorium fotografi.

Saya dan Mutiara, sang kost-mate, ketika dia wisuda.




Share:

0 komentar:

Posting Komentar