Berlarilah selagi kamu bisa! (Bermimpilah bagian 3)

(Cerita sebelumnya di sini)

Setiap orang mempunyai caranya sendiri untuk menikmati dan mengakhiri masa patah hati.

Terlebih jika patah hati secara absurd seperti saya (patah hati justru sebulan setelah mengakhiri hubungan).

Saya menikmati masa patah hati seperti halnya orang kebanyakan, entah berapa banyak lagu berlirik dan bernada penuh kepiluan yang diputar berulang kali. Saya dengarkan segala musik yang menggambarkan keadaan saat itu.
Kesedihan adalah kenyamanan terbaik untuk setiap individu yang merasa harus demikian.

Hingga akhirnya saya jenuh.

Saya harus bisa mengatakan STOP sebelum kesedihan ini menjadi candu, saya harus bergerak mengakhirinya!


***

Saya mencoba mengakhiri masa patah hati dengan mengurangi drastis intensitas kesendirian, saya mulai kembali ke laboratorium fotografi meskipun berstatus sebagai alumni, keran pergaulan saya buka seluas-luasnya, berkenalan dengan orang baru entah di kampus, angkot, warung, tempat fotokopi, minimarket, pasar, toko buku, saya ajak ngobrol siapapun dan di manapun tempat yang saya singgahi! Tidak peduli kenal ataupun tidak, yang penting saya jangan sendirian, dari introvert dadakan menjadi ekstrovert (yang juga) dadakan.

Sok akrab ternyata obat paling ampuh untuk mengakhiri patah hati, saya mendapat sangat banyak teman baru dari dedek-dedek SMA hingga ke emak-emak belanja, kehidupan sosial saya meningkat drastis!
Oh, lihat juga saya saat itu, dari yang semula hanya pecundang patah hati akhirnya perlahan belajar menertawakan hidup dari sense of joke yang saya dengar setiap ngobrol dengan supir angkot, ya! Mereka adalah guru saya!

Saya kembali menjadi diri saya! Asyik!



Sok akrab dengan sosok yang kelak menginspirasi banyak orang, sebelum beliau resmi dilantik.


***

Bandung adalah kota penuh harapan dan (tentunya) kenangan. Setiap pengkolan kota ini adalah cerita, kembali menjadi diri sendiri adalah hal terbaik yang bisa saya lakukan dalam waktu singkat, tapi melewati Bandung dengan setiap sudutnya ketika masih "belum sembuh total" adalah hal yang menyiksa.
Ingin rasanya saya pindahkan Bandung ke dataran Nigeria, biar saya puas biar saya lupa lalu teriak "di mana anakku? Di mana anakku?".

Berhubung sangat mustahil memindahkan Bandung ke Nigeria, biarlah saya yang mengalah, dan mendadak terlintas di pikiran bahwa saya harus meninggalkan Bandung sejenak!

Tapi ke mana?

***

Bermimpi tentang Belanda berarti saya harus menyiapkan banyak hal dari jauh hari, salah satu hal yang pernah saya siapkan adalah belajar bahasa.
Pada saat proses merampungkan skripsi saya sempat ingin belajar bahasa Belanda di salah satu lembaga kursus di Bandung, tepatnya dekat lapangan Saparua. Tempat itu adalah gedung tua peninggalan era kolonial tapi masih terawat dengan baik, suatu hari saya berkunjung ke sana untuk menanyakan prosedur pendaftaran, tapi ternyata saya diharuskan menunggu kuota terlebih dahulu untuk membentuk kelas baru (sebetulnya bisa membuka kelas privat, tapi sangat mahal).
Ketika itu saya sedang berada di puncak haus ilmu untuk belajar bahasa Belanda, enggan menunggu kuota akhirnya saya memilih untuk belajar sendiri, semua materi saya kumpulkan dari artikel internet, aplikasi android, kamus online, video di youtube, dan lain-lain.
Saya belajar semuanya secara mandiri.

Kesulitan dari belajar bahasa secara mandiri adalah kesempatan mempraktikkannya, saya hanya belajar bahasa Belanda secara pasif karena tidak ada lawan bicara, sadar akan hal ini maka saya beranggapan bahwa ada hal lain yang harus saya perdalam sebelum belajar bahasa Belanda dan lebih memungkinkan untuk dipraktikkan. Saya harus belajar bahasa Inggris!

Di kota besar seperti Bandung, ada baaanyak sekali tempat kursus bahasa Inggris, saya bisa memilih yang sesuai dengan bujet, tapi saya merasa kemampuan bahasa Inggris gitu gitu aja, hingga akhirnya secara tidak sengaja ketika sedang membaca artikel di internet saya menemukan tempat yang kelak menjadi batu loncatan : Kampung Inggris Pare.

Tertarik dengan nama Kampung Inggris, saya cari segala informasi melalui internet, semua tempat kursus yang direkomendasikan saya telaah, dan tekad saya sudah bulat, dengan uang tabungan yang ada saya harus "melarikan diri" ke Pare! (Cerita awal kedatangan saya di Pare ada di sini)

***

Pare bukan hanya sebuah kampung kecil di kota Kediri Jawa Timur, tapi Pare adalah tempat di mana ratusan orang berproses dalam fase meraih harapan dan mimpinya, saya belajar tentang perjuangan menggapai mimpi di kampung ini.

Ialah Saprian, dia adalah orang yang saya kenal di kampung ini, seorang anak kampung dari pedalaman Riau yang hijrah ke Yogyakarta untuk menuntut ilmu, satu angkatan masuk kuliah dengan saya, lulus pada tahun yang sama dengan saya, dan sedang belajar bahasa Inggris di tempat kursus yang sama juga.

Lelaki yang meskipun sudah bertahun-tahun tinggal di Jawa tapi sulit menghilangkan medok melayunya ini adalah tandem saya selama di Pare. Bersama dengan Fikri (tentang Fikri ada di link yang saya taruh di atas) kami sering bepergian ke manapun entah ke angkringan, taman kecil, pasar malam, Simpang Gumul, atau sekedar makan siang bersama.
Tapi siapa sangka, dibalik ke sotoy an dia tentang seluk beluk Pare, saya menemukan sosok lain di dirinya, saya menemukan sosok Arai dalam novel Sang Pemimpi!

Berdiskusi dengan Sapri adalah hal yang menyenangkan, dia sangat jarang berkata tidak mungkin. Eh sebentar, satu-satunya hal yang membuatnya berkata tidak mungkin adalah saat saya tawari makan sate biawak di pasar malam Simpang Gumul, dia geli! hahaha
Yang ada di pikirannya selalu kata pasti bisa untuk sebuah mimpi. Mimpi jualah yang membuatnya nekad melawan arus meninggalkan zona nyaman di Yogyakarta untuk pergi seorang diri ke Pare hanya untuk mengambil kelas bahasa Inggris dari level dasar.
Mimpinya hanya satu : melanjutkan study ke Eropa.

Kami sering bertukar cerita, topiknya adalah mimpi dia tentang study dan saya tentang Belanda. Kami berdua adalah anak muda pemimpi akut di siang bolong yang sedang diombang-ambing harapan.

Sate biawak yang ditakuti Sapri.


Suatu hari setelah kelas usai dan saya sedang ingin beristirahat, secara mendadak Sapri menanyakan posisi saya, lalu tak lama dia datang menghampiri dengan terburu-buru setelah saya jawab sedang berada di asrama.

"Yub! Baca ini Yub! Penting!" Tanpa basa-basi Sapri menodongkan gawainya ke saya.

Kedatangan Sapri secara mendadak dan terburu-buru itu ternyata untuk mengabari saya informasi tentang beasiswa study di luar negeri, saya yang saat itu masih kaget awalnya menolak untuk menanggapi serius informasi beasiswa itu.

"Beasiswa apaan? Bahasa Inggris masih kacau gini ngomongin beasiswa, mana luar negeri lagi" jawab saya
"Coba dulu aja! Ngga ada salahnya kan? Toh tinggal upload berkas aja buat daftar!"
"Tapi kan background studiku ngga masuk dalam kriteria"
"Halah Yub! Coba aja belum sudah menyerah!"
"Soalnya ijasahku masih di Bandung, kan harus upload ijasah juga buat daftar"
"Ambil! Balik ke Bandung! Jangan banyak alasan! Temani aku daftar beasiswa ini!" Balas Saprian
"Tapi kan..."
"Kamu masih mau Belanda kan?!"

Tidak ada yang bisa saya bantah setelah mendengar kata Belanda, pada malam itu juga saya langsung minta temani Saprian untuk ke minimarket terdekat mencari tiket kereta api termurah dari Kediri ke Bandung.
Setelah mendapatkan tiket untuk keberangkatan esok hari, ketika di jalan menuju pulang ke asrama saya tanya ke Saprian.

"Nanti di kolom pendaftaran kampus tujuan aku masukkin Universitas mana ya?"
"Nanti aja dipikirin, yang penting Belanda kan?" jawab Saprian
"Iya sih, trus kampusmu nanti di mana?"
"Aku sih pengen di Jerman"
"Deket ya sama Belanda?"
"Ngga tau, aku belum pernah ke sana, haha"
"Emang yakin gitu bakal keterima?" Jawab saya semi pesimis
"Jangan mikir itu! Yang penting coba dulu!"

Perjalanan pulang menaiki sepeda ke asrama malam itu kami tutup dengan janji jika kelak di Eropa kami harus tetap mengunjungi satu sama lain, Sapri akan ke Belanda mengunjungi saya, dan saya akan ke Jerman mengunjungi Sapri.


Dasar! Dua anak kampung pemimpi akut!


Sepeda yang saya gunakan malam itu menuju ke minimarket.



Tulisan penuh semangat di salah satu dinding di kampung Pare.


***

Jika bukan karena Saprian si penggila mimpi ini, mungkin saya ogah bercapek-capek mendadak pulang ke Bandung mengurus legalisir ijasah dan urusan tetek bengek lainnya dengan kampus untuk kemudian secepatnya kembali ke Pare karena masih harus menyelesaikan beberapa kelas bahasa Inggris yang tersisa.
Ya! Saprian memang sinting!

Setelah kembali ke Pare dan mengupload berkas syarat pendaftaran di portal beasiswa, kehidupan saya berjalan seperti biasanya, pagi hari jam 05.30 memulai kelas sampai jam 16.30, lalu istirahat sebentar, dan keluar untuk makan malam bersama Saprian dan Fikri.
Berhari-hari rutinitas asrama-kelas-warung-asrama ini kami jalankan, hingga tak terasa masa kursus kami sebentar lagi berakhir.

Ada rasa senang dan sedih menjelang akhir masa kursus, senang karena rutinitas membosankan tersebut akan segera berakhir, dan sedih karena saya sudah terlanjur mempunyai teman-teman yang menyenangkan selama berada di kelas.
Sebetulnya saya bisa saja extend satu bulan lagi di Pare mencari tempat kursus lain, tapi ternyata saya kurang betah di Pare, meskipun segala hal jauh lebih murah daripada Bandung, ternyata saya rindu dengan Bandung. Saya ingin pulang ke Bandung.

Dan tibalah hari terakhir itu.

Hari terakhir di Pare dimulai dengan perpisahan dengan Saprian, dia berangkat menuju Yogyakarta di pagi hari, sedangkan saya dan Fikri akan berangkat ke Bandung di sore harinya.
Salam perpisahan Saprian dengan saya lagi-lagi dengan kalimat penuh mimpi.


"Sampai ketemu di Eropa, Yub!"


Bersambung...



Bagian 4.




Fikri, Saprian, dan Saya. Naik limosin bak terbuka.




Bersama rekan sekelas, para pemimpi yang sedang berproses.


Share:

3 komentar:

  1. haaa.. daku masih menunda untuk bisa ke Pare, euy.
    masih getol pengen ngeblog, rasanya sayang kalo harus ditinggalin hehe..
    pengen luar negeri juga, ke London! Hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Loh kan di Pare juga bisa ngeblog, malah lebih asik baru dapat pengalaman langsung ditulis,
      Kalo bisa jangan ditunda sesegeranya ke sana, mumpung masih ada si Adit

      Hapus
  2. rami yub kisahnya, dibukukan mantap ni

    BalasHapus