Study, study, and study! (Bermimpilah bagian 4)

(Cerita sebelumnya di sini)


Sepulang dari Kampung Pare membuat pikiran saya kembali segar, saya kembali ke Bandung dengan hati yang lebih plong dan tentunya suasana yang baru. Karena bagaimanapun selama di Pare saya rindu dengan Bandung yang sejuk dan makanan yang beragam jenisnya.

Tapi pulang ke Bandung berarti saya kembali ke zona nyaman, saya takut kemampuan bahasa Inggris yang selama ini didapatkan di Pare hilang jika saya jarang berlatih, hingga akhirnya saya memutuskan mencari tempat kursus lagi di Bandung.

Bermodal informasi dari teman dan iklan yang ada di spanduk akhirnya saya menemukan dua tempat saya bisa memperdalam bahasa Inggris.

Pertama, sebuah tempat kursus sederhana, milik seorang bapak separuh baya yang berpengalaman mengajar bahasa Inggris di berbagai tempat dan sewaktu muda pernah mengikuti pertukaran pelajar. Saya tertarik untuk mengikuti kursus beliau yang bertempat di sebuah ruko yang dikontraknya karena kurikulum dan text book disusun sendiri oleh beliau, oh iya, di tempat ini saya mengikuti kelas dari program paling dasar, jadi saya kembali belajar grammar yang pernah diajarkan sewaktu dulu SD, saya belajar to be, tenses, vocabularies, dan lain-lain. Teman-teman sekelas saya saat itu didominasi oleh pelajar SMP dan SMA, hanya saya yang seorang sarjana! hahaha

Saya sadar, berada di tempat kursus itu hanya mengajari saya passive English (istilah saya pribadi sih), intinya di kelas itu saya hanya belajar membaca dan menulis, sedangkan saya juga ingin bisa berbicara! Tapi rasanya agak sulit, karena di kelas itu sebagian besar dari kami belajar bahasa Inggris dari nol, satu-satunya fluent English speaker hanyalah Pak Dadang, pemilik sekaligus pengajar lembaga kursus itu, sementara saya ingin mengasah kemampuan speaking lebih dalam lagi.

Melalui seorang teman, akhirnya saya diberitahu tempat baru, namanya The Center Bandung.
Secara singkatnya, tempat ini adalah lembaga yang diisi oleh para ekspatriat yang sedang berada di Bandung untuk bekerja dan mereka ada di sini untuk sekedar ngobrol ataupun bersosialisasi dengan masyarakat lokal, bertukar ilmu dan pengalaman.
Di sini juga sebetulnya menyediakan tempat kursus bahasa Inggris yang diajar langsung oleh bule, tapi berhubung saya sudah terlebih dahulu ikut kursus di tempat Pak Dadang ya sudahlah saya tidak ikut kursusnya.

Bergabung di The Center Bandung memberi saya pengalaman baru, dengan biaya keanggotaan sebesar 250 ribu rupiah per tahun (entah sekarang berapa) saya berkenalan dengan banyak orang asing, sebagian besar berasal dari Amerika, pada awalnya memang kikuk dan malu karena tidak ada satupun orang yang saya kenal, setiap kali berbicara ke mereka saya meminta maaf terlebih dahulu tentang kemampuan bahasa Inggris saya yang pas-pasan tapi saya bilang keseriusan saya memperlancar speaking dengan bergaul dengan mereka.
(Oh iya, di The Center ini saya justru dapat geng baru, teman main yang terdiri dari orang Amerika dan orang Indonesia, mereka para pemimpi yang menakjubkan! Nanti di postingan yang lain saya ceritain deh ya)

Jadi kehidupan saya saat itu adalah seperti ini:
Pagi hari menuju laboratorium fotografi di kampus, lalu beranjak sore dari jam 4 sampai jam 6.30 saya pergi ke tempat Pak Dadang untuk belajar grammar dan passive English, sepulang dari sana saya langsung menuju The Center untuk mengasah kemampuan berbicara bahasa Inggris, dan malamnya di kamar kost saya lanjut belajar mandiri melalui film ataupun buku berbahasa Inggris.

Tanpa saya sadari, rutinitas ini merupakan wujud kebelaguan saya untuk keras kepala belajar bahasa Inggris dari nol disebabkan oleh mimpi yang sudah tertanam di otak saya.

Iya! Untuk ke Belanda saya merasa harus bisa berbahasa Inggris aktif dan pasif!


Suasana di The Center Bandung



***

Suatu ketika saat saya sedang berada di The Center, sebuah notification Line masuk ke handphone saya.

Oh, dari Saprian, lama juga engga tahu kabarnya, ada apa ya?

"Yub!, sudah cek email? Ada pengumuman tuh!" tulis Saprian melalui chatnya.

Saya yang penasaran langsung buka email saat itu dan benar kata Saprian, ada pengumuman baru tentang beasiswa yang pernah saya daftar sewaktu di Pare!

Tahukah kawan? Isi email itu memberitahukan tentang daftar nama orang yang lolos seleksi administrasi beasiswa, dan ada nama saya dengan Saprian masuk dalam daftar itu!

Kami lolos seleksi tahap pertama!

Alhamdulillah.


***


Jadi, pengumuman yang masuk ke email saya itu mengharuskan kami yang lolos seleksi administrasi untuk mengikuti seleksi selanjutnya, yaitu seleksi kemampuan akademik dan kemampuan bahasa Inggris.

Di sinilah saya sadar, hidup memang sebuah mata rantai, usaha saya belajar keras bahasa Inggris ternyata merupakan rantai yang menghubungkan rantai yang lain, tes ini merupakan pembuktian untuk diri sendiri bahwa semua yang saya pelajari dengan ngotot dari nol haruslah berguna! Saya harus berjuang maksimal!

Dalam email dituliskan tempat seleksi saya adalah di sebuah kampus di selatan Jakarta dan Saprian di Yogyakarta. Beberapa hari sebelum seleksi kami saling memberi semangat untuk tes itu!
Demi Eropa!

Dan hari tes pun tiba, pagi itu saya datang dengan wajah yang hanya dibilas dengan air setelah perjalanan 4 jam dari Bandung ke Jakarta semenjak dini hari, tes dilaksanakan secara online di sebuah ruangan yang penuh dengan komputer, saya sempat minder sewaktu sampai di ruangan itu, bagaimana tidak, sebagian besar peserta lain datang dengan teman-teman yang mereka kenal, dan mereka terlihat sudah sangat siap untuk tes ini, sangat kontras dengan saya yang saat itu datang hanya sendiri dan masih setengah sadar menahan rasa kantuk karena perjalanan subuh.

Seleksi saat itu terdiri dari dua sesi, sesi pertama adalah tes potensi akademik, bagi yang pernah mengikuti psikotes pasti familiar dengan tes seperti ini, dan yang kedua adalah tes kemampuan bahasa Inggris.
Tes potensi akademik saya lewati dengan amburadul, saya masih bisa melewati sesi tes uji visual dan logika, tapi saat sesi tes kemampuan mekanik dan matematik saya sangat kewalahan, saya sangat lemah di bagian ini, sehingga di sesi tes potensi akademik ini saya justru banyak mengisi jawaban secara sembarangan dan tanpa keyakinan! Aduh!

Ketika jeda istirahat setelah tes akademik, saya menegaskan kepada diri sendiri untuk berjuang maksimal di sesi tes kemampuan bahasa Inggris, saya sudah mempersiapkan berbulan-bulan belajar bahasa Inggris, inilah saat terbaik untuk menguji kemampuan diri!

Dan tes pun dimulai, pada awalnya saya tidak merasa terlalu kesulitan untuk menjawab soal-soal yang terdiri dari grammar dasar bahasa Inggris, 30 menitpun berlalu, beralih ke soal reading comprehensive di mana saya harus membaca paragraf panjang dengan istilah-istilah ilmiah yang saya tidak tahu artinya sehingga hanya bisa menerka-nerka. Pada awalnya saya penuh percaya diri mengerjakan soal dengan hanya mengklik jawaban pilihan ganda, tapi menjelang waktu habis saya panik!, komputer yang saya gunakan hang sementara saya belum selesai mengerjakan semua soal! Saya dilanda kebingungan!

Waktupun habis. Saya kesal, marah, dan kecewa. Tes bahasa Inggris yang harusnya bisa saya selesaikan secara maksimal harus berakhir kacau karena masalah teknis, sedangkan panitia tidak mengijinkan untuk menambah waktu karena sistem tes saat itu bersifat real time dan tidak bisa diulang.


Akhirnya pada hari itu juga saya kembali ke Bandung dengan rasa pesimis bisa lolos di tes ini, tes potensi akademik kacau dan tes bahasa Inggris meragukan, lalu apa lagi yang bisa saya harapkan?.


***


Penghujung 2013.

Sudah lama saya tidak pulang ke kampung halaman di Banjarmasin, saya kangen rumah, lagipula sudah berminggu-minggu tes tersebut berlalu masih belum ada kabar mengenai hasilnya, ah saya sudah pesimis untuk bisa lolos, tes amburadul begitu kok berharap bisa lolos?

Lalu saya putuskan untuk pulang ke Banjarmasin, saya berencana ingin menghabiskan tahun baru 2014 di kota kelahiran saya ini dengan teman-teman SMA lagipula saya ingin setiap hari ketemu ibu, prinsip pulang ke Banjarmasin saat itu jelas for family, friends, and food!

Di hari kedua pulang ke Banjarmasin dan belum sempat bertemu teman-teman, ayah saya menelpon, katanya pengumuman hasil tes yang kemarin saya ikuti sudah keluar dan bisa dilihat di website!
Saya yang saat itu sedang memasak langsung membuka laptop dan mengecek website tersebut, dan tahukah kawan? Nama orang yang pesimis ini ternyata dinyatakan lolos dalam tes tersebut! Iya! Saya lolos! Entah nilai tes akademik atau tes bahasa Inggris yang membuat saya bisa lolos!

Eh? Tapi dari puluhan orang yang lolos, kok saya tidak melihat ada nama Saprian? Saya ulangi secara perlahan dan detail sampai ke kolom universitas asal untuk mencari nama Saprian, tapi ternyata tidak ada sama sekali, lalu saya langsung hubungi Saprian untuk menanyakan kepastian tentang hal ini.

"Iya Yub, aku emang ngga lolos, selamat ya! Mimpimu ke Eropa semakin dekat!, kamu pasti bisa!" jawab Saprian ketika saya tanyakan tentang dirinya.

Ada sebuah kesedihan ketika tahu  teman yang menginfokan, mendorong, sampai menyemangati saya untuk mengejar mimpi justru gagal di tahap yang seharusnya bisa kami lewati, saya berada di posisi serba tidak enak ke Saprian saat itu, karena sesungguhnya beasiswa ini adalah mimpi Saprian, saya hanya menemaninya untuk mendaftar, dia lebih layak mendapatkan ini.

Ah Saprian! Kenapa tidak bisa kita berdua lolos di seleksi ini? Bagian tes mana yang membuat namamu tidak ada di daftar ini??



***



Show must goes on, semesta memang bekerja dengan caranya yang unik, seumur hidup kami sekeluarga tidak ada tradisi mengucapkan selamat ataupun merayakan ulang tahun ayah, dan pengumuman ini keluar tepat pada hari ulang tahun ayah! Saya merasa pengumuman kelolosan ini adalah kado pertama saya untuk ayah! Ada kebahagiaan tersendiri ketika melihat ayah pulang ke rumah dan senyam senyum karena saya lolos di hari ulang tahunnya (entahlah, apa beliau juga ingat saat itu adalah hari ulang tahunnya).

Happy Birthday, dad!

Rasa senang berkumpul dengan keluarga ternyata tidak bisa saya nikmati berlama-lama, niat menghabiskan tahun baru di kampung halaman harus dibatalkan karena pengumuman yang saya terima mengharuskan saya untuk kembali ke pulau jawa, tepatnya Depok, Jawa Barat. Ini semua karena pengumuman itu menyatakan nama-nama yang dinyatakan lolos diwajibkan menjalani pelatihan bahasa Inggris intensif selama enam bulan di kampus UI (Universitas Indonesia) Depok sebelum bisa melanjutkan study.

Memang berat rasanya meninggalkan rumah sebagai tempat terbaik yang memberikan kenyamanan dan kehangatan, terlebih saya baru 5 hari pulang ke rumah dan dengan karena informasi yang datangnya sangat mendadak saya harus pergi lagi.

Oke, selamat tinggal Banjarmasin! Sampai jumpa lagi... hmm entahlah kapan...



Bersambung...

Bagian 5



Foto bareng sekeluarga sebelum besok paginya saya kembali meninggalkan rumah.




Share:

1 komentar:

  1. Duh sedih bukan rezekinya mas Saprian buat bisa ke Eropa :(
    Tapi pasti mas Saprian bangga punya temen kaya anda. Karna berhasil mewujudkan mimpinya :)

    BalasHapus