Depok (Bermimpilah bagian 5)

(Cerita sebelumnya di sini)



Depok, Desember 2013.

Kemarin malam saya baru sampai di Depok dan untuk sementara menumpang di rumah om saya, kakak tertua ibu, dan pagi ini babak kehidupan saya untuk 6 bulan ke depan di salah satu universitas terbesar di negeri ini akan dimulai.

Pagi itu saya bertemu dengan banyak wajah baru, pengalaman sok kenal dengan mamang supir angkot ternyata sangat bermanfaat untuk menjadi akrab dengan teman-teman baru, saya berkenalan dengan orang-orang dari beragam kota di Indonesia, dari Bandung, Yogyakarta, Makassar, Jakarta, Aceh, Belitung, Medan, Padang, Lampung, wah banyak sekali teman baru saya!

Uniknya, selain berkenalan dengan menyebutkan daerah asal kami juga satu sama lain berkenalan dengan bangga menyebutkan negara tujuan studi kami kelak.

"Inggris!"
"Australia!"
"Jepang!"
"Singapura!"
"Jerman!"
"Amerika!"

Dan saya seakan tidak mau kalah juga menyebutkan negara lengkap kampus tujuan.

"Belanda, Twente University!" Ucap saya dengan bangga.

Oh, andai kamu tahu perasaan saya hari itu yang betapa senang bertemu orang baru dari penjuru tempat (dan langsung akrab), tapi yang paling penting adalah diri saya yang dipenuhi energi positif yang ditularkan oleh teman-teman baru!

Saya diliputi rasa optimis seakan-akan Belanda sudah di depan mata!

***

Depok memang kota urban yang terletak di pinggir Jakarta, secara administratif kota ini adalah bagian dari Jawa Barat tetapi sebagian besar penduduknya adalah pekerja yang mencari nafkah di Jakarta, mereka adalah pekerja keras yang menggantungkan mimpi dalam rutinitas dengan berangkat saat gelap dan pulang saat gelap.
Meskipun katanya lebih sejuk daripada Jakarta, toh menurut saya Depok tetap kota berhawa panas dan dipenuhi kemacetan layaknya kota besar, sulit membedakan antara Depok dan Jakarta.

Tapi di balik itu semua, nyatanya Depok mempunyai cerita yang sulit untuk dilupakan.

Saya yang saat itu sudah mendapat tempat kost yang tidak jauh dari kampus UI memulai keseharian dengan berangkat pukul 7.30 pagi menuju tempat pelatihan dengan berjalan kaki selama 15 menit.
Dalam pelatihan ini para peserta dibagi menjadi dua kelas, dan saya masuk di kelas A, kelas ini mayoritas diisi oleh perempuan, sementara itu peserta laki-laki hanya ada 7 orang termasuk saya, hal yang paling saya sukai adalah kelas ini diisi oleh anak muda yang sebaya dengan saya, sehingga pembicaraan apapun terasa lebih nyambung dan mudah akrab.

Di dua bulan awal semangat belajar kami masih menggebu-gebu, keinginan untuk melanjutkan studi di negara impian jelas merupakan motivasi terbesar, obrolan kami saat itu tidak jauh dari apa yang akan kami lakukan di negara masing-masing kelak, ada yang ingin menonton klub sepakbola favoritnya secara langsung, ada yang ingin belajar bahasanya, bahkan ada yang ingin cari jodoh di negara tujuan kelak! hahaha

Rutinitas dengan kelas yang dimulai pukul 8 pagi sampai jam 4 sore dari Senin sampai Jum'at mempelajari hal yang sama untuk kemudian mengulanginya sepulang ke kost masing-masing memang mudah sekali membuat kami jenuh. Tapi nyatanya mimpi adalah kekuatan terbesar kami sebagai pembunuh rasa jenuh itu, beruntungnya saya saat itu berada di lingkungan yang memiliki impian yang sama : belajar ke negeri lain.

Oh iya, ada hal menarik, beberapa tahun yang lalu saya yang saat itu masih berstatus pelajar SMA yang akan menghadapi ujian akhir nasional pernah bilang "nanti saya yang akan belajar di UI!", mungkin saat itu saya hanya asal celoteh karena melihat teman sebangku saya yang sangat ingin melanjutkan pendidikannya ke UI (tapi akhirnya dia memilih UGM), eh ternyata beberapa tahun kemudian kalimat itu terwujud, saya benar-benar belajar di UI! Ya memang bukan sebagai mahasiswa, hanya sebagai peserta pelatihan yang numpang sebentar. Tapi toh perkataan adalah doa terbaik, bukan?

Andai saat itu saya berkata spesifik "nanti saya yang bakal jadi mahasiswa UI!" mungkin akan beda ceritanya.

Penghuni kelas

Masih penghuni kelas

Di dalam kelas



Ini lelaki di kelas saya, saya pernah nyaranin khusus yang laki-laki buat bikin hari dress code gitu dua minggu sekali biar rame dan mencuri perhatian, nah ini waktu hari dress code jersey klub bola

Ini hari dress code hitam


Ini hari dress code santri
***

Pelatihan sudah memasuki akhir bulan ketiga, kami yang saat itu dijejali dengan materi writing, listening, reading, dan speaking mendapat kabar jika pihak sponsor beasiswa akan mengunjungi kami untuk menyampaikan informasi terbaru. Kedatangan pihak sponsor ini jelas memberi angin segar kepada kami yang selama 3 bulan diombang-ambingkan oleh kesimpangsiuran informasi karena tidak adanya kabar jelas mengenai kelanjutan nasib kami ke depannya, momen pertemuan ini akan kami pergunakan untuk bertanya segala hal tentang kepastian study kami.

Dan tibalah hari di mana pihak sponsor menemui kami.

Pertemuan hari itu dibuka dengan penjelasan dari sponsor mengenai tujuan dari beasiswa tersebut dan apa yang harus kami lakukan selama menjalani pelatihan 6 bulan ini, awalnya penjelasan terasa menyenangkan sampai akhirnya pihak sponsor menerangkan tentang negara tempat kami study kelak, dan penjelasan inilah yang membuat kami terkejut.

Pihak sponsor memberitahu bahwa kami hanya diperkenankan mengambil study di 3 tempat tujuan ; Jerman, Austria, dan Taiwan. Salah seorang teman bertanya tentang kemungkinan untuk mengambil di negara selain 3 pilihan tersebut, tapi ternyata tetap tidak diperkenankan dengan alasan biaya hidup dan kuliah di luar 3 pilihan tersebut jauh lebih mahal, kami yang saat itu hanya berstatus penerima jelas tidak memiliki posisi tawar, yang kami miliki hanya pilihan take it or leave it, sederhananya : "dikasih aja kok protes?"

Setelah mendapatkan informasi baru tersebut, kami kembali ke kelas masing-masing, dalam kelas saya bisa melihat ekspresi kekecewaan dari teman-teman karena pupusnya harapan mereka untuk dapat ke negara impian yang diucapkan dengan penuh semangat di hari pertama kami berkenalan, saya jelas seperti mereka yang sama-sama kecewa karena Belanda tidak masuk list mengingat biaya hidup dan pendidikan di Belanda termasuk mahal.

Ah, Belanda... Padahal saya sudah hampir beberapa langkah lagi menuju ke sana.


***


Beberapa hari setelah mendapatkan info tersebut saya merasakan ada semangat yang turun dari teman-teman di kelas, wajar karena mereka masih merasa kecewa karena kenyataan tersebut, tapi untungnya hal ini hanya sebentar, seminggu setelah itu keadaan kembali seperti biasa.

Saat-saat seperti ini saya merasa beruntung mengenal seorang teman, namanya Mufid, dari puluhan peserta pelatihan lain hanya kami berdua yang berasal dari jurusan non-teknik, kami berdua adalah sarjana komunikasi sehingga ada kesamaan "nasib" untuk kampus yang akan kami cari.
Laki-laki ini sebetulnya 3 tahun berusia di atas saya, tapi saya tidak pernah merasa ada aura tua dari dirinya, saya cenderung lebih nyaman memanggilnya dengan nama atau "bro" ketimbang "mas", mungkin karena merasa dia sebaya, hahaha
Mengenal Mufid berarti harus siap merasakan energi positif, pengalaman berorganisasinya yang kaya menjadikan pribadinya sebagai problem solver, dia adalah tipe orang yang lebih memilih untuk menyalakan lilin ketimbang mengutuk kegelapan, dia bisa menempatkan dirinya sebagai orang yang asik untuk diajak bercanda dan menarik untuk berdiskusi serius.

Kepribadian Mufid dengan sikap problem solver ini secara konsisten diterapkannya kepada siapapun, saya yang saat itu sudah hopeless karena mimpi Belanda saya pupus perlahan mulai disulut kembali.

"Kita harus coba Jerman dan Austria! Kan deket tuh sama Belanda! Kamu bisa ke Belanda kapanpun!" Ucap Mufid saat itu.

Oh, benar juga! Kenapa saya begitu bodoh tidak memikirkan hal sesederhana itu? Bukankah satu pintu tertutup bukan berarti tidak ada pintu lain yang terbuka?

Sontak semangat saya muncul kembali, setelah itu entah berapa sering setelah kelas selesai kami pergi ke ruangan komputer perpustakaan UI yang menyediakan akses internet kencang gratis, tujuan kami hanya satu : mencari informasi tentang kampus di Jerman dan Austria yang memiliki program studi yang linear dengan jurusan kami berdua.

Memang, kami menemukan beberapa kampus yang menyediakan program studi sesuai dengan yang kami inginkan, tapi ternyata kendala tetap kami hadapi, seperti deadline pendaftaran yang sudah ditutup, penyertaan sertifikat IELTS yang belum kami miliki, persyaratan yang mengharuskan penguasaan bahasa Jerman, standardisasi ijasah S1, dan beragam kendala lainnya.

Di titik itu saya akhirnya melihat Mufid menunjukkan raut wajah stres karena kebuntuan ini.



Saya dan Mufid

Mufid di perpustakaan UI, kehujanan dan kami ngotot buat cari informasi kampus di ruang internet gratisan.



***

Akhir bulan keempat pelatihan.

Pihak sponsor akhirnya datang lagi menemui kami, tapi bukan dalam rangka sesi tanya jawab seperti sebelumnya, mereka kali ini membawa beberapa perwakilan dari kampus di Taiwan yang akan mempromosikan kampus mereka kepada kami.

Taiwan? Hmmm kami sama sekali tidak ada pikiran tentang pendidikan di Taiwan, yang kami tahu cuma F4 dan Meteor Garden.

Pihak perwakilan kampus Taiwan yang datang ke kami saat itu terdiri dari para professor dari beragam kampus, mereka sangat ramah dan terbuka dalam sesi tanya jawab, bayangan kami tentang professor yang serius dan dingin terkikis dengan sikap mereka yang hangat dan penuh canda, ditambah meskipun saat itu tujuan mereka adalah untuk mempromosikan kampusnya tetapi saya tidak melihat adanya "kompetisi" antar mereka untuk menggaet calon mahasiswa.

Oke, dengan adanya promosi ini bertambahlah kejelasan alternatif kampus, meskipun pada awalnya sebagian besar dari teman-teman ingin melanjutkan ke Jerman atau Austria, tapi kedatangan perwakilan kampus Taiwan ini sangatlah membantu, bahkan beberapa kampus menawarkan LoA (Letter of Acceptance) unconditional, beberapa dari kami berhasil mendapatkan LoA unconditional itu melalui proses wawancara, dan sebagian lainnya sudah mendapatkan banyak informasi mengenai jurusan yang cocok dengan background pendidikan mereka.

Berbeda dengan teman-teman lain yang sudah mendapat kejelasan mengenai kampus di Taiwan dan beberapa dari mereka sudah mendaftarkan diri secara online, saya justru hanya diam di tempat, karena ternyata sangat sulit mencari jurusan yang total linear dengan latar studi S1, sebagian besar teman-teman yang memiliki latar ilmu teknik bisa dengan mudah menemukan program yang sesuai dengan mereka.
Saya ingin menyerah, mengundurkan diri dari program ini, bekerja normal, mengumpulkan uang, menikah muda, dan hidup bahagia seperti teman-teman kuliah saya yang lain.

Soal Belanda?
Sudah tahu ngga bisa, mau apa lagi? Realistis!

Setidaknya sesederhana itulah pikiran saya saat itu.

***

Suatu hari saat jam istirahat, saya bertemu dengan Geni, seorang teman pelatihan dari kelas sebelah, lelaki jawa dengan medok yang khas sehingga akan aneh ketika dia berbicara menggunakan lu-gue.

Di bangku kantin sambil menunggu pesanan makan siang datang kami mengobrol basa-basi, topik obrolan kami tidak jauh tentang nasib kami selanjutnya di program ini. Hal yang menarik dari Geni, sebelum mengikuti program ini dia adalah karyawan di sebuah perusahaan tambang, yang kamu tahu sendiri bagaimana besarnya pendapatan di bidang pertambangan.

"Gen, kok kamu mau sih ikut program ini?" Tanya saya saat itu.
"Mau gimana maksudnya?"
"Iya, kok mau-maunya belajar lagi, ikut kelas, padahal kan enak tuh gaji di tambang udah gede, uang banyak, eh justru keluar buat ikut program ini, mana ngga ada kepastian lagi"
"Ini persoalan kenyamanan, Yub"
"Kenyamanan gimana?" Selidik saya.
"Iya, saat itu memang pendapatan saya bagus, fasilitas kantor enak, tapi saya ngga nyaman"
"Maksudmu?"
"Begini, kamu tahu sendiri kalau kehidupan tambang terutama di lapangan itu jauh dari kota, kehidupan saya cuma mess dan site, di lapangan saya bekerja, lalu setelah itu hari libur saya ke kota, uang habis dengan cepat"
"Soal uang ya?"
"Bukan cuma itu, saya kurang nyaman dengan suasana kerja, setiap pulang ke mess harusnya saya istirahat, tapi lingkungan saat itu tidak memungkinkan, setiap harinya saya harus mendengarkan keluhan, keluhan, dan keluhan"
"Iya juga sih, capek dengerin keluhan tanpa ada solusi"
"Nah itu dia Yub, lagipula dengan rutinitas dan pergaulan yang itu-itu saja saya memang punya uang, tapi saya ngga punya kesempatan buat mengembangkan diri lebih jauh, padahal saya suka bersosialisasi, berkenalan dengan orang-orang baru, dapat ilmu baru. Itu kenapa saya lebih memilih resign dan mengikuti program ini. Uang bisa dicari, tapi pengalaman lebih mahal harganya" tutup Geni.

Berdiskusi dengan Geni saat itu setidaknya membuat pikiran saya terbuka, dengan usia yang masih muda, belum ada tanggungan apapun, saya dihadapkan pada pilihan untuk mengundurkan dari program dan mengejar materi, atau lanjut program ini untuk mengambil kesempatan studi (meskipun penuh ketidakjelasan akan nasib saya ke depannya)

Saya ambil pilihan kedua, melanjutkan meskipun tanpa adanya kejelasan tentang nasib.

Geni, yang berkacamata di samping saya.


***

Berbekal saran dari Mufid saya mendaftarkan diri ke salah satu universitas di Taiwan. Melalui aplikasi yang bisa diakses online saya memberanikan diri dengan modal sertifikat IELTS yang akhirnya saya miliki dari hasil pelatihan beberapa bulan.

Tak perlu menunggu waktu lama untuk menunggu respon dari pihak universitas, beberapa hari setelah saya mengajukan pendaftaran, pihak kampus mengabarkan bahwa pengumuman apakah saya diterima atau ditolak sedang dalam proses, saya diminta menunggu keputusan dari pihak department tujuan studi.

Satu minggu berlalu, dua minggu, belum ada kabar apapun, sedangkan teman-teman yang lain sudah mendapatkan LoA dari kampus tujuan masing-masing, mungkin hanya saya yang belum ada.

Saya dalam keadaan pasrah, kalau ternyata pendaftaran saya ditolak ya sudah berarti langkah saya cukup sampai sini, tapi kalau ternyata saya diterima, berarti perjalanan saya masih panjang.

Penantianpun akhirnya melahirkan hasil, sebuah email dari pihak universitas masuk ke dalam inbox lengkap dengan satu file berformat .pdf, saya buka file tersebut, sebuah surat dengan kop resmi universitas dan nama saya terlampir di bawahnya menyatakan bahwa lamaran pendaftaran saya diterima di sana.

Untuk pertama kali dalam hidup, saya mendapatkan surat resmi dari instansi pendidikan dari luar negeri, sungguh saya sangat senang dan.... udik!

LoA saya.




Bersambung....


Bagian 6
Share:

6 komentar:

  1. GA ada yang bisa mengalahkan kekuatan sebuah keyakinan, ya.
    Yang penting yakin aja dulu, walaupun keyakinan kita ga realistis. Tapi Tuhan bakal bantu kalo hambaNya yakin :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ucapan adalah doa, tetap stay tune di cerita cerita ini~

      Hapus
  2. yub aku mimpi ke roma haha

    BalasHapus
  3. The power of dream...my dream ingin keliling dunia...

    BalasHapus