Nadia (Bermimpilah bagian 6)

(cerita sebelumnya di sini)

Selain mengenal Mufid, Geni, dan teman-teman lelaki lain, selama di Depok jelas saya juga berteman dengan teman-teman perempuan, tapi siapa sangka pertemanan terkadang menjadi hal yang rumit?

Begini ceritanya,

Namanya Nadia, perempuan Bandung, usia sepantaran, dan teman sekelas saya saat pelatihan.

Nadia sebetulnya salah satu orang pertama yang saya kenal ketika hari pertama berada di Depok, saat pagi pertama di kampus UI secara tidak sengaja saya berkenalan dengan Nadia yang saat itu sedang bersama Sani, teman kampusnya yang kebetulan juga diterima di program ini, kami berada di ruang tunggu gedung LBI UI untuk menunggu pembagian kelas.

Awalnya saya sangat akrab dengan Sani, wajar karena sesama lelaki dan nyambung saat berbicara tentang musik indie (karena saya mantan fotografer musik dan Sani pernah aktif di skena musik indie). Tapi setelah pembagian kelas saya dan Sani terpisah, saya di kelas A dan Sani di kelas B.

Berada di kelas A yang diisi mayoritas oleh perempuan jelas membuat saya juga akrab dengan mereka, terlebih beberapa dari mereka menyewa kost dekat dengan kost saya, sehingga setiap hari sering mereka dan saya berangkat dan pulang berbarengan.

Dari beberapa teman itu, pergaulan saya lebih mengerucut, dan tanpa disadari saya berteman dengan Nadia lebih dekat daripada teman perempuan lainnya.

Rutinitas berangkat dan pulang berbarengan menyebabkan saya hapal tentang kebiasaan Nadia, setiap pulang dia selalu menyempatkan diri membeli sebungkus bubur kacang ijo yang masih hangat di depan gang tempat kost, harga 5 ribu rupiah, dan jangan terlalu banyak gula. Selain itu, kebiasaan kami kembali ke Bandung setiap dua minggu sekali menjadi momen di mana kami untuk bercerita banyak hal, dia menceritakan hidup dan hobinya, dan sayapun menceritakan tentang kehidupan saya, oh iya Nadia juga orang yang saya ceritakan tentang Lestari. (yang akhirnya dia cuma bisa menertawakan saya)

Ada beberapa kegiatan yang menjadi kesempatan kami sering bertemu dan berbicara bersama tentang banyak hal, jika malam hari sedang bosan berada di kost saya biasanya akan chat "makan yuk?" kepada Nadia, dan jarang dia menolak ajakan saya itu. Lalu selama di Depok saya sempat mencoba bergabung di komunitas stand up comedy Depok, dan ketika open mic saya selalu meminta Nadia untuk hadir dengan alasan "kamu fans pertama saya, siapa tahu nanti susah buat minta foto bareng, biarin ngga lucu juga sekarang mah" hahaha

Saat itu tak banyak yang tahu intensitas pertemuan saya dengan Nadia, karena di kelas kami bergaul seperti biasa, hanya terkadang setelah kelas usai saya sering mengajaknya untuk ngalor ngidul, biasanya jalan-jalan mengelilingi kampus UI yang sangat luas.

Selain di Depok, ketika di Bandung pun kami beberapa kali hangout bersama, saya pernah menjemput ke rumahnya yang sangat jauh hanya untuk memintanya menemani saya ke Bandung Selatan untuk selfie di plang jalan yang ada unsur nama saya, mengunjungi teleskop Boscha di Lembang hanya untuk bergaya ala film Petualangan Sherina, pergi ke ITB untuk "napak tilas" lokasi film favorit kami : Jomblo, dan menonton gigs-gigs musik gratisan yang banyak ada di Bandung.

Karena faktor rumahnya yang jauh, seringkali ketika akan hangout Nadia pergi ke rumah keluarganya di tengah kota Bandung untuk kemudian saya jemput. Dia sering menolak ketika saya tawarkan untuk menjemputnya langsung di rumahnya, alasannya karena terlalu jauh.
Entah kenapa, setiap akan mengantarnya pulang saya selalu dilanda kekhawatiran, karena setelah saya mengantarnya dia melanjutkan pulang sendiri mengendarai sepeda motor ke rumahnya, pulang sendirian ke rumahnya yang jauh saat malam hari jelas alasan saya mengkhawatirkan perempuan ini.

Namun, kekhawatiran saya langsung sirna jika ada sebuah pesan "hai! aku sudah di rumah looh".


Jalan dengan unsur nama saya
Kurang jelas? Nih...





***



Di penghujung masa pelatihan, tanpa sengaja saya melihat pamflet di tiang listrik pinggir jalan, isinya adalah promosi acara clothing exhibition terbesar di Jakarta, diselenggarakan selama 3 hari berturut-turut, bukan tentang puluhan clothing line yang menjadi perhatian saya, tapi Sheila on 7, band kesukaan saya dan Nadia masuk di line up pengisi acara tersebut!


Awalnya Nadia masih ragu untuk menonton acara yang digelar hari Jumat, Sabtu, dan Minggu itu, tapi saya bilang jangan khawatir karena cukup datang hari Sabtu dan Minggu, lagipula kita bisa pulang dengan menggunakan kereta terakhir dari arah Jakarta menuju Depok, tidak ada yang perlu ditakutkan, dan akhirnya Nadia setuju dengan ajakan saya.

Hari Sabtu siang kami berangkat menggunakan KRL selama satu jam dari Depok dilanjutkan menaiki Metro Mini menuju venue, tujuan utama saya adalah untuk menonton live band pop punk kesukaan semasa SMA, karena itu meskipun acara ini adalah pameran brand pakaian lokal tapi kami tidak tertarik untuk mengunjungi booth-booth distro yang tersebar di situ, kami lebih memilih duduk di dekat panggung untuk menyaksikan musik.

Setelah band kesukaan saya itu selesai manggung, kamipun bergegas kembali ke stasiun mengejar kereta terakhir untuk pulang, dan untung masih ada!
Sampai di Depok, ternyata perut kami keroncongan, selama di venue kami hanya makan snack karena harga makanan di sana sangat mahal, hahaha, untungnya di dekat kost kami masih ada warung makanan yang buka larut malam, jadi perut yang sangat lapar bisa diobati dengan segera.

Makananpun datang, lelah dan muka kucel bukan penghalang kami untuk makan dengan lahap (yaiyalah, lapar!), dan seperti biasa, kami makan sembari ngobrol.

"Nad, besok mau berangkat jam berapa nonton Sheila on 7 nya?" Tanya saya
"Agak sorean ya, kan manggungnya malem"
"Oh, oke deh, biar sempet bungkus makan dulu di warteg trus makan di sana haha"
"Haha, terserah deh" Ujar Nadia
......................
"Nad, kamu pernah ngga sih nyaman sama seseorang?" Saya mengganti topik obrolan
"Nyaman gimana?"
"Ya gitu, nyaman aja, ngga merasa ada beban, fun, dan menikmati"
"Hmm pernah, tapi engga sering" jawab Nadia
"Trus, menurutmu, kamu nyaman engga sama aku?" entah kenapa saya menanyakan hal itu.
"Hah? Pertanyaan apaan itu? Kalau aku engga nyaman sama kamu, mana mau aku diajak jalan, nonton konser, ke toko buku, atau bales chat kamu, pertanyaan aneh"
"Jadi, kamu nyaman sama aku?"
"Ya iyalah!" tutup Nadia sambil menikmati ayam goreng yang dipesannya.

Pernyataan Nadia itu membuat saya sadar, rasa nyaman yang dirasakan saya dan Nadia adalah efek dari frekuensi pertemuan kami berdua, kesamaan selera humor yang cenderung "recehan", dan diskusi dari hal bodoh sampai yang berbobot yang kami lakukan.

Perasaan saya terhadap Nadia seketika kacau campur aduk saat itu,

Entah kenapa...


***

Keesokan harinya, saya bangun lebih cepat dari biasanya, saya buka laptop dan jemari saya secara cepat beradu dengan tuts keyboard untuk membuat kalimat demi kalimat, setelah tulisan selesai saya bergegas menuju tempat fotokopi dekat kost untuk mencetak tulisan yang baru saja saya buat tersebut lalu memasukkannya ke dalam sebuah map.

Setelah dari tempat fotokopi saya chat Nadia, mengingatkan ulang janji untuk menyaksikan Sheila on 7, dan kami sepakat untuk bertemu di sebuah minimarket terdekat dengan gang tempat kami tinggal.

Jam 2.30 siang adalah waktu yang kami sepakati, saya sengaja datang lebih cepat supaya tidak terburu-buru, dan juga saya membawa map yang sudah diisi kertas yang saya cetak tadi pagi, persis seperti penjual bubuk abate.
Tak lama Nadia datang, dengan cengengesan dia minta maaf karena sedikit terlambat, setelah berbasa basi sedikit, saya minta dia untuk memasang headset yang sudah saya sambungkan ke handphone saya.

"Dengerin deh, ini ada lagu" Pinta saya
"Lagu apaan? Ngga ada" Jawab Nadia sambil memasang headset ke telinganya
"Eh ya gitu? Bentar, nih ada yang ketinggalan"

Saya buka tas, dan menyerahkan map baru berisi selembar kertas ke Nadia.

"Baca ya, sampai habis...." Pinta saya ke Nadia

Dan inilah isi kertas itu

Saya ternyata masih menyimpan soft file nya


"Orang gila! hahaha kamu gila Ayub!" Respon Nadia setelah membaca selembar kertas itu
"Lah, kok gila, ih itu kan surat pengajuan"
"Pengajuan macam apa iniiii??"
"Ya macam seperti yang kamu lihat itulaah"
"Hahaha, trus aku harus gimana nih? Aku bingung"
"Lha, itu kan ada kolom yang ada nama kamu, nah kamu bisa isi tanda tangan kamu, atau sekalian sidik jari deh kalau kamu mau" jawab saya.
"Kalau aku udah tanda tangan? Apa artinya?"
"Ya kamu setuju dengan pengajuanku"

Setelah berpikir beberapa menit, sambil cekikikan Nadia kembali membaca perlahan kertas itu, lalu dia mengambil drawing pen yang saya sediakan di samping map dan.... Nadia menandatangani kolom yang ada namanya!

"Jadi... kamu menyetujui nih?" Tanya saya
"Ya bukannya kamu sudah ngajuin, tinggal aku tanda tangani kan?"
"Eh? hehehe sebentar ya"

Saya bergegas menuju lantai bawah minimarket, menuju rak minuman dingin, dan membeli dua kotak sari kacang ijo, lalu kembali ke atas.

"Ngapain sih?" tanya Nadia
"Nih, minuman kesukaan kamu, kacang ijo!"
"Lah terus?"
"Ya kita syukuran jadi sepasang kekasih, kan kamu suka kacang ijo, ini buat selametannya"
"Hahaha, aku harus ngapain?"
"Bilang aamiin aja ya, aku mau berdoa nih" jawab saya

Dan inilah doa syukuran yang saya ucapkan

SEMOGA KITA

Bisa tetep adem, meskipun nanti bisa aja berantem (aamiin)
Tetap saling sokong, jangan jadi sombong (aamiin)
Selalu ceria, biar ngga banyak duka lara (aamiin)
Mengedepankan solusi, untuk segala masalah pribadi (aamiin)
Tetap baik, di setiap detik (aamiin)
Saling membanggakan, untuk menutup kekurangan (aamiin)
Dan tetap saling dukung, biar ngga pundung -ngambek- (aamiin)


Map, kacang ijo, dan naskah doa yang saya catat.



Ya!, kami sepakat mengganti status lebih dari sekedar teman dekat, dan malam itu kami tutup dengan menyaksikan langsung Sheila on 7 di atas panggung, rasanya Duta dan kawan-kawan hari itu dibayar khusus untuk kami berdua, oh andai kamu juga ada di sana, maka kamu pasti juga ikut bernyanyi seperti yang saya dan Nadia lakukan.

Sekilas kau tampak layu
Jika kau rindukan gelak tawa
Yang warnai lembar jalan kita
Reguk dan teguklah
Mimpiku dan mimpimu
Terbelenggu satu
Oleh ucapan janjimu 

Sheila on 7 - Kita 



Malam itu kami pulang dengan penuh tawa, dan.. lapar lagi? Pastilah, tapi kali ini kami makan tanpa harus mempertanyakan kenyamanan, yap! Saya terlalu menikmati saat itu sehingga saya lupa kami membicarakan apa saja.

Yang pasti dalam hati saya berkata,

"Hei Nadia, aku mulai mencintaimu, kamu boleh saja belum, tapi nanti pasti ketularan"




Bersambung ke bagian 7...
Share:

8 komentar: