Sakau Smartphone.

Akhir-akhir ini saya banyak dikomplain sama temen-temen.

"Yub, buka Line sekarang!"
"Yub, cek Whatsapp, penting!"
"Yub, kunci gitar lagu band Kuburan yang C A minor D minor ke G itu apa sih?" 

Yak, teman-teman banyak mengeluhkan saya yang sulit sekali dihubungi melalui aplikasi chat sebangsa Line, Whatsapp, Facebook Messenger, dan MiRC.
Ada dua hal yang bakal terjadi kalau mereka chat ke saya ; dibalas cepat, dibalas tapi lama, atau cuma diread, eh ada tiga ya.
Biarin lah, intinya mereka kesel ke saya.

Nah, kenapa saya jadi sulit dihubungi?

Begini teman-teman, sebelumnya terima kasih sudah mau membaca tulisan ini, saya minta maaf kalau beberapa dari kalian yang pernah mengalami hal serupa karena lamanya saya membalas, dan terakhir jangan pernah mau kalau ada teman menyuruhmu nyium kuda, ya ngapain juga sih.

Saat ini saya sedang berada di semester terakhir, yang berarti saya akan disibukkan dengan pengerjaan tesis, tau tesis kan? Hah? Enggak tau tesis?

Ya sudah saya jelasin... Jadi begini, tesis itu adalah.. coba buka google,
Nah gitu...

Ke(sok)sibukan saya menggarap tesis ini membuat saya harus konsentrasi penuh, saya tipikal orang yang mudah sekali terdistraksi oleh keberadaan handphone, semenjak saya mengganti handphone saya dengan smartphone ada beberapa aplikasi chatting dan sosial media yang saya instal, dan total ada sekitar 25.. Aplikasi handphone? Bukan, nama Nabi dan Rasul yang wajib diketahui.

Karena efek distraksi inilah saya jadi kesulitan kalau handphone ada di dekat saya, kualitas konsentrasi saya turun drastis, contohnya baca buku, saat S1 saya bisa menyelesaikan satu buku paling lama lima hari atau minimal ada dua buku yang bisa saya baca setiap bulannya, tapi semenjak mempunyai smartphone saya pernah butuh dua bulan hanya untuk membaca satu buku.

Inilah efek samping teknologi yang saya benci, saya merasa kehilangan kenikmatan untuk membaca buku, dulu saya bisa berjam-jam duduk di bawah pohon di Sabuga Bandung, naik ke genteng kosan sambil menikmati senja, atau ke daerah Ciburial Dago Atas yang sejuk hanya untuk membaca buku, rasanya asoy sekali, tapi semenjak saya punya smartphone dan menginstal beberapa aplikasi chat semua itu berubah, seperti kamu... Uh, sedih.

Awalnya saya merasa sangat terbantu dengan beragam aplikasi yang saya instal, tapi lama-kelamaan saya mulai merasa kecanduan, waktu saya banyak habis hanya untuk mengecek notifikasi, apakah ada Whatsapp masuk? Apakah ada Line baru? Atau apa saya menang undian berhadiah Avanza?

Puncak saya merasa ganteng muak dengan ketergantungan terhadap smartphone ini adalah di suatu hari 2015 tahun setelah masehi kemaren, awalnya saya berniat untuk menghabiskan sebuah buku tipis karya Alm. Gus Dur (idola inyong ikii) di sebuah taman kota, dan sayapun berangkat sendirian, sampai di taman celakanya hanya kaulah yang benar benar aku tunggu hanya kaulah yang benar benar memahamiku kau pergi dan hilang kemanapun kau suuukaaa.

Hayo, bacanya sambil nyanyi ya?

Kembali ke cerita,
Nah, sampai di taman celakanya saya bukan membaca buku tipis yang saya bawa itu, tapi yang saya lakukan malah baca buku sebentar, cek obrolan grup Line/Whatsapp, baca sebentar, cek media sosial, baca sebentar, malakin bocah pulang ngaji.

Alhasil sampai kembali ke kamar saya hanya bisa membaca beberapa halaman dari buku yang harusnya bisa saya selesaikan paling lama satu jam setengah itu. Waktu saya habis hanya untuk mengecek handphone! KZL BGT!

Buku 111 halaman yang saya habiskan selama berminggu-minggu

***

Setelah hari itu saya jadi mikir, sungguh tidak produktif kehidupan saya kalau dekat dengan smartphone, dan saya harus merubah kebiasaan ini!

Tapi mulai dari mana? (tolong jangan nyanyi lagu Sudah Terlalu Lama Sendiri)

Terhitung semenjak Oktober 2015 kemarin perlahan saya mengurangi kuantitas penggunaan smartphone, dimulai dengan mengganti paket internet unlimited seharga 500NT$ (± 200ribu rupiah) dengan paket internet kuota 2 giga seharga 300 NT$ (± 120ribu rupiah), tujuannya sih biar saya terbatasi tidak terlalu sering mengecek handphone saat di luar, eh ternyata kebiasaan main media sosial dan chatting saat menunggu bus atau di dalam kereta tetap saya lakukan, bukannya tambah irit saya jadi tambah boros, karena kehabisan kuota saya bisa sampai dua kali mengisi ulang paket internet dalam sebulan (2x300NT$).

Lalu saya berkesimpulan, jangan salahkan paket internet, salahkan kebiasaan ketergantungan handphone ini.
Tadinya saya ingin membuang handphone saja, andai saya dulu belinya dengan cara barter pakai kelapa dan Marimas rasa mangga mungkin ide itu sudah saya lakukan, tapi sayangnya saya belinya dengan rajin solat dhuha dan menabung di celengan setiap hari seratus ribu rupiah.


Karena tidak mungkin membuang handphone, saya putuskan untuk perlahan menjauhkan handphone dari keseharian.

Hal yang pertama saya lakukan adalah dengan meninggalkan handphone di kamar jika saya pergi ke tempat yang dekat. 
Sadar enggak sih, kalau sekarang kemanapun kita pergi selalu bawa handphone? Entah karena takut ada yang menghubungi, takut kesasar, atau takut enggak ada yang dikerjain selama di perjalanan. Padahal ketakutan itu ya kita juga yang bikin, lagian takut harusnya sama Alloh, yaa bolehlah sesekali takut lupa pin ATM.

Susah? Iya, susah banget pas pertama saya coba menjauhkan handphone dalam keseharian, rasanya ingin segera pulang untuk mengecek notifikasi, padahal baru aja berangkat 5 menit lalu jadi berasa 300 detik kalau handphone ditinggal.

Tapi karena itulah pelan-pelan saya mulai menemukan kembali kenikmatan yang pernah saya alami semasa kuliah 75 tahun yang lalu.

Saya mempunyai kebiasaan membawa buku di tas kemanapun saya pergi, sebelum memulai "diet handphone" buku yang saya bawa seringkali menjadi hiasan dan pemberat di dalam tas karena saya cenderung untuk scrolling sosial media atau ngobrol di grup, tapi setelah memulai diet ini saya bisa fokus dan menikmati membaca, setidaknya ada 4-6 halaman buku yang bisa dibaca saat menunggu bus.

Lalu bagaimana dengan informasi melalui aplikasi chatting?

Nah, untuk mencegah saya kembali kecanduan, saya mute semua notifikasi chatting kecuali hanya dari keluarga, saya hanya online dari aplikasi Line yang saya instal di komputer lab atau browser jika ada pesan dari Facebook Messenger. (Yaa, walaupun sama-sama lama dibalasnya, karena tanpa notifikasi)

Hasilnya? Saya merasakan apa yang disebut real life yang kehidupan nyata, setidaknya saya bisa merasa tersinggung jika saat kumpul dengan teman-teman lalu ada yang asyik bermain sosial media di handphone. Saking kesalnya saya pernah minggat pulang duluan saat kumpul dengan teman-teman Indonesia, saat kumpul bukannya ngobrol, berbagi ide, atau maen jelangkung, mereka justru asyik dengan gadget sendiri untuk scrolling Instagram, check in Path, bahkan main game! Kan kalo gini inyong mending bikin polisi tidur di jalan tol.

Efek sampingnya?
Ya balik lagi ke atas, teman-teman banyak yang komplain karena saya jarang baca chat mereka atau lama membalasnya, karena saya baru memegang handphone untuk mengecek media sosial dan chatting ketika malam hari sepulang saya mengerjakan tesis di lab sedari siang.
 
Hehe maapin Mac Gyver ya teman-teman...

Salam peace, loph, en soleh.

 
Hasil dari mematikan notifikasi.



 
Share:

Hikayat Bebek.

Assalamualaikum.... Wr...












Tadi malam saya mimpi ketemu Almarhum Lemmy Motorhead, ceritanya saya lagi goreng bakwan, trus mendadak beliau dateng nawarin saya tiket ke Dufan, mau ditolak enggak enak tapi diterima jadi enak ya sudah saya terima saja tawaran tiket itu, lagipula saya sudah lama enggak ke Dufan, terakhir empat tahun lalu.

Nah pas saya mau nerima tawaran tiket itu eh alarm handphone bunyi jadi aja saya kebangun, untung saya masih ingat mimpi barusan, jadi aja saya jadikan intermezzo buat tulisan saya ini, karena sebenarnya saya bukan mau cerita tentang Lemmy Motorhead yang ketemu saya pas lagi goreng bakwan.

Saya mau cerita dongeng, tepatnya dongeng sebelum bangun.

Boleh ya?

Ini ceritanya, selamat membaca.


***


Pada zaman sekarang kala, hiduplah seekor ibu bebek, dia adalah bebek betina yang kuat, tangguh, dan cerdas, selain itu ibu bebek ini punya lagu favorit yaitu Sempurna yang dinyanyikan oleh band Andre and the bebekbon.

Suatu ketika, ibu bebek ini iseng pengen bertelur, lalu bertelurlah dia, eh ternyata dari telur itu lahirlah seekor bebek baru yang berjenis kelamin jantan, alhamdulillah... Tadinya ibu bebek ingin merayakan kelahiran putranya ini, tapi karena kesulitan ekonomi dan dia tidak mengerti bahasa manusia kalau ingin belanja ke Indomaret jadilah ibu bebek hanya bisa merayakan kecil-kecilan.

Waktu berlalu, anak bebek yang diberi nama Folbek ini tumbuh menjadi anak bebek yang lincah, sehat, dan cerdas, meskipun dia tidak sekolah tapi dia bisa mengerjakan soal-soal fisika yang sulit, apa rahasianya? Ternyata Folbek ini sembarangan saja mengerjakan, dan setelah mengerjakan dia pamer ke teman-temannya para anak bebek yang buta huruf dan lugu, jadi aja dia kelihatan pintar di mata teman-temannya.

Karena dianggap pintar, maka Folbek ini merasa jumawa, dia merasa dialah segalanya, padahal kan dia bukan siapa-siapa, karena bagiku engkaulah yang segalanya...


Lanjut jangan nih ceritanya? Lanjut lah ya.


Di usianya yang beranjak remaja, Folbek ingin mencari pengalaman di dunia luar. Berbeda dengan ibunya, Folbek lancar berbahasa manusia, dia belajar secara otodidak dari Mulyadi, anak pemilik peternakan yang setiap hari datang ke kandang untuk memberi makan, melalui Mulyadi inilah perlahan tapi pasti Folbek mulai mengerti bahasa manusia yang kebetulan saat itu bahasa Indonesia.

Meskipun bisa berbahasa manusia, Folbek tidak pernah menunjukkannya secara langsung kepada Mulyadi, dia takut kalau Mulyadi tahu kemampuannya itu dia akan ditunjuk sebagai juru bicara pihak peternakan kepada hewan ternak, sebagai hewan billingual pertama di peternakan Folbek lebih memilih diam setiap Mulyadi datang membawa makanan, karena tidak baik kalau makan sambil bicara apalagi sambil senam lantai.

Malam Rabu Pahing Folbek menemui ibunya yang saat itu sedang menonton kandang, maklum namanya juga peternakan, tidak ada tv atau internet jadilah para bebek hanya menonton kandang, seringkali para bebek tertawa melihat kandang, katanya lucu, saya sendiri sebagai penulis merasa kasihan dengan kondisi psikologis mereka, mungkin mereka sangat stres dan kekurangan hiburan, karena itu melihat kandang saja mereka ketawa, kalau saya punya uang berlebih rasanya ingin mengajak mereka refreshing ke bioskop, nonton film? Bukan, nonton sobekan tiket.

Eh, sampai mana tadi? Oh iya, sampai Folbek menemui ibunya.

Nah, ibunya yang saat itu sedang menonton kandang sambil ketawa karena katanya kandang lagi stand up comedy mendadak kaget seperti disambar petir, bagaimana tidak, anak satu-satunya meminta ijin untuk pergi merantau.

"Wek wek weeeek wekwek wek weeeek wek wrekekek??"

Eh maaf saya lupa menerjemahkan dalam bahasa manusia, ini percakapan mereka yang sudah diterjemahkan biar kamu mengerti.

"Apaah? Kamu mau pergi meninggalkan ibumu??" tanya ibu bebek.
"Iya bu... Aku ingin mencari pengalaman"
"Kamu tega meninggalkan ibu di sini sendirian?"
"Lah, kan ibu ngga sendirian, ada ratusan bebek lainnya keless"
"Oh iya ya tul ugha" jawab ibu bebek
"Nah, jadi ibu ngijinin ngga?"
"Hmm..."

Ibu bebek lama sekali memikirkan perijinan ini, sampai 73.4 menit dia memikirkannya.

"Bu! Jadi gimana bu?" Tanya Folbek menyadarkan ibunya dari lamunan
"Eh copot-copot"
"Ih ibu latah deh"
"Ya kan maklum ibu udah tua, kamu nanya apaan tadi?"
"Iya, ini bu, ibu ngijinin ngga aku merantau?"
"Folbek... Ibu sebenarnya kuatir kalau kamu merantau"
"Kuatir kenapa bu?"
"Kamu mau jadi kaya Malin Kundang?
"Jadi anak durhaka yang karena merantau dan dikutuk jadi batu maksud ibu?"
"Eh? Bukan... Itu tuh.. yang mau merantau trus di kapal kenal dan naksir cewek lalu kapal yang dia naikin tenggelam"
"Itu bukan Malin Kundang bu, itu Jack Dawson di film Titanic"
"Oh iya, itu maksud ibu, Jek... Jek apa tadi?"
"Jack Dawson"
"Nah itu, Jek Samson..."
 
Setelah perundingan panjang dan sengit antara Folbek dan ibunya karena mereka mendebatkan mengapa Jack jadi mati di film Titanic padahal di samping Rose masih ada sedikit space buat dinaiki Jack, akhirnya ibu bebek mengabulkan permintaan anaknya itu.

"Ya sudah, kamu silakan merantau, tapi ibu takut kamu bakal ngalamin nasib kaya di film itu"
"Lah, kan aku ngga naik kapal bu, aku jalan kaki"
"Eh? Serius jalan kaki?"
"Iya bu, lagian kalau aku naik kapal dan kapalnya tenggelam kan aku bebek jadi bisa berenang"
"Wah kalau gitu aman ya, baydewey nih, kamu punya uang buat merantau?"
"Engga bu, ibu mau kasih aku bekal?"
"Engga sih, basa basi aja, bebek kan engga mungkin megang uang"

Singkat kata akhirnya Folbek diberi izin oleh ibunya, dan seketika itu dia langsung menyusun strategi bagaimana cara merantau tanpa ketahuan Mulyadi. Sebagai gambaran, rutinitas di kandang bebek itu rumit, mereka (para bebek) harus makan saat Mulyadi datang memberi makan, lalu harus keluar kandang untuk digiring Mulyadi pergi ke kolam, alasannya sih untuk mandi, yang membuat rumit adalah meskipun ini rutinitas tapi waktunya tidak menentu, suka-suka Mulyadi saja kapan mau kasih makan kapan mau nonton bebek mandi, Mulyadi otoriter!

Folbek mendapat ide, dia ingin melancarkan niatnya itu saat Mulyadi datang dan menggiring mereka ke kolam, dia akan kabur dari rombongan saat di perjalanan, tapi dia butuh bantuan karena tidak mungkin dia mendadak kabur saat perjalanan, karena biasanya perjalanan bebek menuju ke kolam itu sangat tertib, nah saat inilah dia meminta bantuan dari teman-teman ibunya untuk membuat keributan ketika menuju kolam, untungnya para ibu-ibu bebek langsung menyanggupi permintaan Folbek.


Sekedar ilustrasi, nemu di google image.


***

Hari pelarian.

Pagi itu Mulyadi datang ke kandang dengan mengenakan kaos bertuliskan I LOVE HER, BUT SHE LOVES HIM. Iya... Meskipun berwajah knalpot motor 2 tak tapi hati Mulyadi selembut adonan martabak.
Konon dia sangat menginginkan dipanggil bebeb sama seseorang, tapi karena orang tersebut melukai hatinya dengan menerima lamaran dari anak pak lurah jadi dia bersumpah "Daripada enggak ada yang manggil aku bebeb, lebih baik aku dekat dengan bebek!"
Dan jadilah Mulyadi seperti sekarang.

Kedatangan Mulyadi pagi itu ke kandang adalah untuk mengajak para bebeb bebek untuk pergi ke kolam, mengetahui hal itu Folbek langsung memberi isyarat ke ibu-ibu bebek yang sedang asik ngerumpi tentang sinetron yang ditonton tadi malam (alias nonton kandang), ibu-ibu yang diberi isyarat langsung paham apa yang dimaksud Folbek tersebut, dan di sisa waktu yang ada Folbek juga meminta izin kepada ibunda bahwa dia akan pergi dan enggak tahu kapan akan kembali.

"Bundooo... Ini saat terakhir aku, aku pamit ya bundo"
"Iya nak, jaga diri kamu ya, sukses di negeri orang"

Brakkk!
Belum sempat Folbek mencium tangan ibunya untuk berpamitan (jangan dibayangkan bagaimana bebek bisa salim, namanya juga dongeng) Mulyadi datang dengan galah panjang sebagai alat navigasi para bebek menuju kolam.

Satu persatu bebek mulai keluar dari kandang menuju kolam, letak kolam sebetulnya tidak jauh, hanya sekitar 500 meter dari kandang, yang membuat jauh adalah kaki bebek yang kecil jadi mereka harus melangkah lebih banyak daripada Mulyadi.

Sekitar 100 meter setelah keluar kandang, aksi pun dilancarkan.

Ibu-ibu bebek yang kemarin sudah diberi arahan oleh Folbek langsung berpura-pura membuat keributan di kerumunan bebek yang lain, mereka berteriak dan membuat kegaduhan secara mendadak di tengah perjalanan.

"Dia pikiiiiiir, dia yang paling hebat, merasa paling jago dan paling dahsyat!"

Eh itu lagu Petualangan Sherina, enggak ada hubungannya sama cerita ini, pokoknya keributan yang terjadi di kerumunan bebek itu membuat Mulyadi kelabakan, dia (Mulyadi, bukan bebek) kebingungan kenapa para bebek yang biasanya tertib mendadak heboh dan susah diatur seperti ini.

Folbek yang tahu rencana berjalan seperti seharusnya tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini, dia (Folbek, bukan Mulyadi) langsung berlari memisahkan diri dari rombongan, ke mana? Entahlah yang ada di pikirannya sekarang hanyalah kabur untuk keinginannya merantau sejauh-jauhnya!

***

Hampir satu jam Folbek berlari, akhirnya dia merasa cukup jauh dari rombongan, dia tidak tahu di mana dia saat itu, yang ada hanyalah aspal dan semak-semak, Folbek yang kini sebatang kara terus berjalan menyusuri jalan yang entah berakhir di mana.

Di tengah perjalanan, datang seorang manusia dengan tinggi badan sekitar 170 cm dan memakai jaket berwarna merah marjan (sirup), awalnya Folbek hanya cuek khas bebek ketika manusia tersebut mendekatinya, "Ah, paling cuma numpang lewat" pikir Folbek saat itu, tapi ternyata manusia tersebut semakin mendekat, Folbek yang didekati oleh orang asing langsung refleks berbahasa manusia.

"Hey!, mau apa kamu manusia?"
"Loh? Kamu bisa berbicara bahasa manusia? Kaget!" Jawab manusia itu sambil kaget
"Iya! Meskipun aku bebek aku bisa berbahasa manusia!"

Dan dimulailah perkenalan di antara mereka. Manusia tersebut adalah Om Santoso, petani yang tinggal di kampung sebelah, saat itu kebetulan Om Santoso sedang ingin pergi ke kota, pengen ikut klub Zumba katanya, karena di perjalanan kasihan melihat Folbek yang berjalan kaki dan ternyata bisa berbahasa manusia Om Santoso lantas mengajak Folbek untuk pergi ke kota menaiki sepeda motornya, Folbek yang saat itu sudah lelah berlari langsung mengiyakan tawaran Om Santoso untuk menaiki sepeda motornya.

Selama di atas motor Folbek mengenang kehidupannya di kandang, dia ingat waktu dulu dia baru menetas dari telor, menjadi bayi bebek yang pengen minta ASI tapi enggak mungkin karena dia bukan mamalia, menjadi anak bebek, remaja bebek, hingga sekarang menjadi bebek dewasa yang mencari jati diri dengan merantau, dia bertekad untuk menjadi bebek yang sukses karena perjuangan untuk bisa seperti ini sangatlah sulit!

Akhirnya setelah satu jam perjalanan sampailah mereka di kota, dan motor Om Santoso mengarah ke tempat karaoke terdekat untuk kemudian berhenti di situ lalu Om Santoso masuk ke gedung tersebut, Folbek diminta untuk menunggu di luar karena Om Santoso katanya cuma sebentar saja, beliau mau nyanyi dua album Dewa19.

Folbek yang ditinggal di parkiran bingung mau ngapain selama Om Santoso karokean. "Ah, aku tidur ajalah, capek nungguin orang nyanyi" gumam Folbek saat itu.

Baru saja Folbek mau merem, ada seseorang yang mendekati motor, apakah itu Om Santoso? Bukan! Lho? Orang ini mau ngapain? Dia mulai mencongkel bagian kunci sepeda motor Om Santoso! Dia maling! Wah maliiiiing!

Kaget melihat ada bebek bisa berteriak orang tersebut langsung mendekap Folbek dan membawanya lari, dasar maling kekurangan yodium, bukannya bawa motor malah bawa bebek!

Folbekpun dimasukkan sang maling ke ruangan khusus, entah di mana, yang Folbek rasakan hanyalah gelap dan pengap, dia ingin menangis tapi tidak bisa, kenapa? Karena saya sebagai penulis enggak tahu gimana bebek menangis.

Setelah berhari-hari tinggal di ruangan tersebut akhirnya sang maling menampakkan diri, tapi maling itu dengan paksa langsung menarik badan Folbek ke suatu tempat yang sudah disediakan! Dan di tempat itu ada banyak pisau! Waaaaaa!


***

Nah teman-teman pembaca, demikianlah akhir dongeng ini, akhir kata mohon maaf kalau saya ada salah ucap.





Loh? Kok gitu aja ceritanya?
Iya teman-teman, karena Folbek sekarang sudah berubah, dia bukanlah seperti Folbek yang dulu lagi.

Memangnya jadi apa?

Jadi ini...






Folbeknya kakaaak.




TAMAT.


Share:

Mencari Identitas.

Selama di Taiwan saya sering bertemu banyak orang Indonesia, jangan dikira orang Indonesia di sini sedikit, ada buanyaaak sekali, menurut data yang saya dapatkan ada sekitar 7 milyar empat puluh lima orang, semua orang Indonesia? bukan, itu jumlah manusia di bumi.

Intinya banyak deh orang Indonesia di Taiwan.

Nah, kira-kira gimana cara saya supaya tahu seseorang itu orang Indonesia atau orang Senegal?

Gampang, todong orangnya, minta dompetnya, lihat KTPnya, kalau tertulis salah satu provinsi di Indonesia berarti dia satu tanah air dengan kita, kalau tertulisnya cuma angka atau beberapa huruf itu bisa jadi kartu parkir, simpel kan?

Tapi enggak perlu lah saya sampai nodong orang cuma buat tahu kewarganegaraan, lagipula saya males berurusan dengan hukum, bukannya apa, saya sama sekali enggak tahu tentang hukum, karena dulu jurusan kuliah yang saya pilih setelah lulus SMA bukan fakultas hukum, tapi komunikasi, oh iya dulu juga sempet tertarik mau masuk jurusan bisnis tapi saya batalin karena ada senior yang mendadak jatuh cinta sama bus PATAS, eh ternyata dia masuk jurusan bisnis dan ekonomi AC.


Dengan teman-teman Indonesia di Taiwan

Keluarga besar orang Indonesia di kampus saya.



Balik lagi ke topik hidayat utama, karena banyaknya orang Indonesia di Taiwan, jadi hampir setiap weekend saya bertemu dan berkenalan dengan orang baru yang sama-sama dari Indonesia, biasalah namanya juga orang Indonesia pasti ada basa-basi, seringkali kalau bertemu saat makan saya basa-basi nya "Mas, duluan ya" yang biasanya dijawab lawan bicara saya "Oo... Monggo mas silakan", padahal maksudnya itu saya ijin duluan masuk sorga kalau nanti di akherat.

Namanya juga para perantau yang sedang di negeri orang pasti ada kedekatan emosional kalau tahu sama-sama dari Indonesia, apalagi kalau orang yang saya ajak berkenalan itu tahu saya ganteng dan manis manja(t), biasanya makin banyak basa-basi dari hanya bertanya nama, sudah berapa lama di Taiwan, tinggal di mana, betah enggak tinggal di Taiwan, sampai pernah nonton hajatan yang ada dangdut koplonya belum.

Alhamdulillah semua pertanyaan basa-basi biasanya bisa saya jawab dengan lugas, cepat, dan menawan. Tapi ada satu pertanyaan yang membuat saya bingung untuk dicarikan jawaban yang tepat, yaitu "Mas Ayub suka nonton sabung ayam enggak?"

Eh bukan, itu bercanda, pertanyaan yang saya bingung untuk menjawabnya adalah.....






























































Nungguin ya?



Oke lanjut,

Jadi saya bingung kalau ada orang yang nanya ke saya "Mas Ayub orang asli mana?".

Yak, saya bingung buat menjawab pertanyaan ini, serius Rosalinda... Ini merupakan pertanyaan yang membuat saya bingung, bingung saya dengan jawabannya, bingung buat apa mereka tanya ini, mencari jawabannya sungguh membingungungkan, dan kamu pasti bingung karena ngung di kalimat sebelumnya ada dua.

Kenapa bingung? Boleh saya ceritain?
Apa? Enggak boleh? Eeeh ini kan blog saya jadi harus boleh.


Saya lahir 382 tahun yang lalu, kota kelahiran saya adalah Banjarmasin, buat yang enggak tahu di mana Banjarmasin itu makanya smartphone jangan dipakai buat selfie aja, pakailah buat google map lalu follow instagram @ayubanggadireja .

Nah, sempat beberapa tahun menghabiskan masa batita (bayi tapi tampan) di Banjarmasin, lalu dikarenakan ayah harus melanjutkan pendidikan jadi beliau membawa kami sekeluarga pindah ke Bandung, selama di Bandung saya didaftarkan di TK IKIP yang sekarang UPI, tadinya ayah mengharapkan saya bisa berbahasa Sunda eh tapi ternyata teman-teman saya justru anak-anak yang datang dari beragam daerah, jadi selama TK saya menggunakan bahasa Indonesia saat berinteraksi dengan teman-teman.


Isola IKIP yang sekarang UPI, enggak tahu deh 3000 tahun yang lalu namanya apa

Akhirnya ayah menyelesaikan pendidikan, dan karena kehidupan pendidikan saya yang hanya main-main, maklum anak TK, lalu kami kembali pindah ke Banjarmasin, kota kelahiran saya.

Oh iya, selama TK saya sudah lancar membaca dan menulis, sehingga saya hanya menghabiskan masa TK selama satu tahun, tadinya bermodal kemampuan membaca dan menulis itu saya ingin memulai karir sebagai jurnalis New York Times, tapi karena jauh di Amerika ya sudah saya lebih menurut kata ibu untuk didaftarkan SD di sekolah dekat rumah nenek.

Tapi masa SD saya di Banjarmasin hanyalah sebentar, ayah mendapat tawaran melanjutkan kembali pendidikan di Malang, Jawa Timur, sehingga kami sekeluarga kembali harus pindah.

Sampai di Malang, kami tinggal di kontrakan kecil di sebuah dusun yang berjarak 1.5 jam dari pusat kota, dan saya didaftarkan ayah ke sekolah dekat rumah, yang menarik adalah di hari pertama sekolah saya merasa seperti orang asing karena teman-teman sekelas menggunakan bahasa Jawa saat berinteraksi, karena hal itulah perlahan saya mulai mengerti bahasa Jawa.
Masa kecil saya saat itu sangat menyenangkan, setiap pulang sekolah selalu melewati sawah, berenang di kali dekat rumah, dan bermain layangan di lapangan besar. Tidak ada yang namanya gadget bahkan video game, saya merasa seperti anak outdoor sejati, my trip my adventure!

Karena lingkungan sehari-hari saya yang dikeliling warga lokal membuat saya merasa sebagai orang Jawa, meskipun dalam berkomunikasi lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia, tapi saat itu saya bisa memakai medok Jawa, oh andai saya mengerti bahasa Rusia mungkin akan keren berbahasa Rusia dengan medok Jawa.

Tidak terasa sudah bertahun-tahun saya tinggal di Malang, dan pendidikan Ayah pun akhirnya selesai, lagi-lagi kami sekeluarga kembali pindah ke Banjarmasin, lho kenapa Banjarmasin? Ya karena Banjarmasin adalah kampung halaman ibu, dan ayah saya dinasnya di Banjarmasin.

Nah, setelah dari Malang inilah saya menghabiskan masa remaja di Banjarmasin. Menghabiskan sisa masa SD satu tahun, masa nakal di SMP tiga tahun, dan masa sebagai pelajar hampir teladan SMA tiga tahun di Banjarmasin membuat saya fasih berbahasa Banjar baik lisan maupun tulisan, saya bahkan tahu istilah-istilah bahasa Banjar yang jarang terdengar.

Student card saya, dengan konsep minimalis dan enggak tahu apa fungsinya


Selepas SMA, saya melanjutkan kuliah ke Bandung. Ya, akhirnya saya kembali ke kota tempat saya pernah menghabiskan masa kecil yang imut-imut dan pernah bercita-cita jadi begal.

Tanpa terasa saya tinggal di Bandung selama hampir 5 tahun, saya yang sebelumnya tidak mengerti sama sekali bahasa Sunda menjadi mengerti dan bisa berbicara bahasa Sunda, namun di situlah permasalahannya, secara perlahan saya kehilangan logat bahasa Banjar, bahkan saat berbicara dengan orang Banjar yang tinggal di Bandung saya kesulitan untuk mengeluarkan dialek Banjar, saya hanya bisa mengeluarkan dialek Banjar saat berbicara dengan keluarga dan teman-teman SMA, sisanya? Sangat sulit...

***

Secara geografis, saya pernah menguasai tiga logat khas di Indonesia, yaitu Jawa, Banjar, dan Sunda. Namun saat ini ketika siapapun yang pertama kali berkenalan dengan saya akan menyangka saya orang Bandung, karena logat bicara yang saya gunakan (katanya) sudah sangat nyunda, padahal saya merasa logat saya sudah arab sekali karena saya hapal Al-Qur'an (surah Al Ikhlas, Al Kafirun, Al Kautsar, Al Insyiroh, Al Fil)

Nah, sedangkan untuk suku, keluarga besar ibu adalah orang Banjar asli, sedangkan ayah saya lebih beragam, ayah adalah orang Sunda karena lahir dan besar di Garut, Jawa Barat. Nenek dari ayah berasal dari Purwokerto, Jawa Tengah. Dan Buyut dari Ayah lama tinggal di Sawahlunto, Sumatera Barat (saya pernah diajak sekali ke Sawahlunto, melihat peninggalan buyut).

Karena itu, saya bingung kalau ditanya orang yang baru kenal "Mas Ayub orang mana?"

Saya ber-KTP dan fasih bahasa Banjar, logat saya Bandung, dan nanti setelah lulus akan menetap di Jakarta.

Lalu saya orang mana sebenarnya?

Daripada bingung, mending saya ngaku orang Argentina aja ya?
Share:

Biodata Diri

Karena tadi jam 9 malem udah tidur jadi aja sekarang kebangun, langsung bikin biodata diri buat kenang-kenangan.


Data Diri

Nama : Ayub Angga Direja

Nama Panggilan : Mamang Ayub Beneran Oke Kakaak (MABOK)

TTL : Tukang Tambal Las

Bukan ih : Eh terus apa?

Tempat Tanggal Lahir : Ooh, Banjarmasin, 16 Februari 1942

Jenis Kelamin : Laki-Laki

Agama : Islam

Orang yang : Bertakwa

Sholat : Khusu’

Jamaah Mesjid : Raya Bandung

Berat badan : 57kg

Tinggi badan : 165cm

Rupa : wan

Ganteng dong : Iya

Manis dong : iyalah

Golongan Darah : Bangsawan

Hobi : Berbuat kebajikan

Contohnya : Jaga kontak infak

Trus : Senyum

Lalu : Rahasia, takut riya



Pendidikan

TK : Drop Out

SD : Pernah

SMP : Negeri

SMA : Senandung Masa Algojo

Universitas : Lulus



Keahlian

Bahasa : Indonesia (aktif), Banjar (aktif), Sunda (semi aktif), Merapi (aktif), Jawa (pasif) Senegal (belum kepikiran), Pemrograman (ngga ngerti)

Komputer : Final Cut Studio, Adobe Photoshop, Adobe Ilustrator, Adobe Lightroom, Motion, Winamp, Calculator, Recycle Bin

Fotografi : Studio Lighting, Concert Photography, Landscape Photography, Selfie Photography, Laminating dan fotokopi



Lain-lain

Bisa sulap : sedikit

Bisa futsal : sebagai bek kiri

Bisa badminton : bisa

Bisa tinju : engga

Bisa masak : indomie goreng

Bisa marah : bisa

Ih galak : manggis manggis buah salak, manis manis tak boleh galak

Hehe maaf bercanda : ngga apa-apa

Bisa mencari : kesalahan diri sendiri

Maksudnya : introspeksi diri

Pernah salaman sama Ariel Noah : pernah

Pernah salaman sama Ridwan Kamil : pernah

Pernah salaman sama Komeng : belum

Katanya fans berat : iya, belum rejeki, huhu

Punya kucing : punya

Punya ayam : pernah punya

Punya lumba-lumba : baru aja kepikiran pengen punya

Punya pantun : ada

Apa : kalau ada sumur di ladang

Ih pasaran : eh iya ya

Sekarang mau : tidur


Share:

Kisah si Anjas.

Jadi saya punya teman, namanya Anjas.

Tadinya saya enggak mau kenal sama Anjas, tapi berhubung sewaktu SMA kami dua tahun sekelas ya sudah kami jadi kenal lalu akrab sampai sekarang.

Anjas ini sewaktu kecil suka main dingdong, itu lho mainan elektronik jaman dulu yang kalau kita kasih makan koin terus bisa kita mainkan sampai batas waktu tertentu, asyik ya? Tapi saya sekarang lagi enggak mau cerita dingdong.

Saya mau cerita Anjas batal nikah.

Haah? Batal nikah?!


***


Di suatu hari yang ada di tahun kemaren, karena lelah seharian di kelas dan baru pulang ke dormitory saya yang juga sudah makan sambil nonton Komeng mendadak iseng buka whatsapp dan memulai chat ke Anjas .
(sudah saya terjemahkan dari bahasa Banjar ke bahasa Indonesia biar bisa dimengerti barangkali dibaca Armand Maulana)

Ayub : Njas, bosen nih, bikin keramaian yuk
Anjas : Apaan?
Ayub : Bikin isu
Anjas :Maksudnya?
Ayub : Yaa bikin rame
Anjas : Dimana?
Ayub : Di grup ipadua (grup whatsapp SMA saya)

Lama menunggu balasan

Ayub : Njas, gimana? Mau ngga?
Anjas : Eeeh tadi lagi makan, yok, bikin isu apaan?
Ayub : Bikin undangan pernikahan
Anjas : Undangan pernikahan siapa?
Ayub : Yaa bikin aja isu kalau Rambo nikah (nama asli Rambo adalah Radhian, sayalah yang pertama memanggilnya Rambo, dia teman sekelas kami juga semasa SMA)
Anjas : Ide bagus tuh, trus mempelai perempuannya siapa?
Ayub : Hmm... Chelsea Islan aja gimana?
Anjas : Jangan Chelsea Islan, yang lain aja, nanti beneran jadi doa
Ayub : Kalau kamu aja gimana?
Anjas : Aku jadi mempelai perempuan?
Ayub : Bukaaan, kamu yang jadi mempelai laki-lakinya Chelsea Islan, mau ngga?
Anjas : Kalau beneran jadi doa mau aja (iya, Anjas ini fans Chelsea Islan)
Ayub : Bener ya, nanti siapa yang postingnya di grup ipadua? Aku aja atau kamu?
Anjas : Ente aja Yub, nanti aku pura-pura kaget kok undangan sudah tersebar ke publik
Ayub : Eh, atau nanti minta Hery aja yang nyebar?
Anjas : Boleh-boleh, dia punya sifat terpuji nabi, bisa dipercaya dan amanah
Ayub : Oke, aku bikin dulu ya

Nah malam itu saya langsung cari contoh undangan dan kalimat pernikahan yang lazim digunakan, setelah dapat contoh saya buka photoshop dan mulailah membuat desain undangan pernikahan semeyakinkan mungkin.

Satu jam berlalu.

Dan akhirnya desain undangan pun selesai, saya chat lagi Anjas.

Ayub : Njas, sudah selesai nih *saya kirim juga desainnya
Anjas : Haduuuh... Geli aku bacanya
Ayub : Asik ya?
Anjas : Hooh, tapi nama-nama di undangan itu siapa aja?
Ayub : Ngga tau, ngasal aja

Jadi awalnya saya pengen nulis Chelsea Islan sebagai mempelai perempuan, tapi saya ingat Anjas (dan saya) kan ngefans berat sama Ghaida JKT48, jadi saya tulis aja nama lengkap Ghaida sebagai mempelai perempuannya, karena enggak banyak yang tahu nama lengkap Ghaida.
Oh iya, lazimnya kan undangan juga menyertakan nama keluarga besar dan tokoh-tokoh yang turut diundang, nah untuk ini juga saya isi, tapi sembarangan saja, yang penting meyakinkan.

Anjas :  Ih, aku jadi ngga tega nih sama temen-temen ipadua
Ayub : Ngga apa-apa, biar rame, daripada grup sepi gini ngga ada obrolan
Anjas : Ya udah, aku ngga ikut campur ya, situ aja yang mainkan
Ayub : Siap bos!
Anjas : Jadi kapan mau disebar?
Ayub : Ntar weekend aja, biar pas anak-anak lagi free, supaya asik.
Anjas : Ya sudah, terserah kamu aja

Saat itu juga langsung saya hubungi Andre, Rambo, Adit, Emen, dan Hery tentang ide saya ini, mereka adalah teman SMA saya dulu dan kebetulan beberapa dari mereka juga tinggal satu kost dengan Anjas selama beberapa tahun.

Buat apa saya kasih tahu ide ini ke mereka?

Begini, semasa kuliah hubungan di grup SMA kami tetap jalan, setiap hari selalu ada pembicaraan yang sebetulnya tidak penting di grup whatsapp kami, nah mereka ini saya minta buat berpura-pura kaget ketika tahu kabar pernikahan Anjas dan ngasih selamat biar ada kesan "akhirnya diumumkan juga siapa perempuan itu", intinya mereka saya briefing biar isu ini kelihatan nyata, yaa kamu tahu sendirilah informasi yang bisa dipercaya adalah yang berasal dari orang-orang terdekat, dan mereka inilah orang-orang terdekat Anjas. Konspirasi kecil-kecilan.

Oke, desain undangan sudah jadi dan tim hura-hura sudah siap.

Tinggal menunggu weekend tiba!

Merekomendasikan Hery sebagai informan (dalam bahasa Banjar)



***


Akhirnya weekend yang dinantikan tiba, saya sengaja menunggu siang sambil mengingatkan teman-teman yang sudah saya kasih tahu untuk menyebarkan isu ini.
Nah itu dia si Hery yang saya suruh buat menyebarkannya di grup kelas SMA saya, kenapa Hery yang dipilih? Simpel, karena Hery adalah teman Anjas satu fakultas dan dia yang lebih dekat selama masa perkuliahan.

Dan undangan inipun disebarkan ke grup whatsapp kelas SMA saya.




Ow, kamu tahu betapa ramainya grup kelas SMA saya setelah undangan itu disebar?
Hampir semua penghuni di grup muncul dan memberikan selamat ke Anjas, ada juga yang surprise kok Anjas yang belum pernah terdengar soal asmara tahu-tahu menyebar undangan nikah, dan juga 5 teman yang sudah saya kabari menambah heboh suasana di grup whatsapp.

"Anjas! Selamat! Semoga jadi keluarga yang samawa!"
"Akhirnyaa, sampai juga jodohnya, selamat Njas!"
"Aku bakal dateng nanti!"
"Waaw! Ini toh perempuan yang selama ini dirahasiakan, turut berbahagia Njas!"
"Ini nih, diam2 menghanyutkan, keren Njas!"

Dan saya jelas turut memberi selamat,
Walaupun mengetiknya sambil tertawa~

Info yang disebarkan Hery

Info yang disebarkan Hery

Ucapan selamat dari teman-teman kelas


Tapi kehebohan tidak sampai di situ, si Andre ternyata juga mengupload undangan itu di path nya, dan banyak teman-teman kami semasa SMA yang berasal dari kelas lain juga mengomentari, mereka sama-sama kaget tahu kabar ini, dan rupanya kabar ini menjadi viral, sampai salah seorang teman mengirim pesan ke Line saya.

"Yub, Anjas beneran nikah?"
"Eh? Kabar dari mana?" Jawab saya
"Itu di pathnya Andre"
"Loh? Waah Anjas tau2 udah mau nikah aja, kasih selamat yuk ke dia"

Dan saya membalas Line itu dengan (lagi-lagi) penuh tawa.

Pokoknya sepanjang hari itu yang saya lakukan hanyalah tertawa setiap melihat isi grup whatsapp kelas, semua yang muncul memberikan selamat, Anjas sudah seperti superstar karena dikabarkan menikah, iya... Anjas yang sebelumnya tidak pernah terdengar soal asmara dan tidak ada yang tahu sedang dekat dengan perempuan mana sekarang justru mau menikah!

Dan dengan seorang perempuan yang, hmm tidak ada yang kenal... Kecuali saya tentunya. 


***

Seperti kata pepatah, sepandai-pandainya Tupai melompat, apa daya tangan tak sampai. Begitu juga isu pernikahan Anjas ini, kalau bukan teman saya si Ema yang curiga karena di undangan ini tidak mencantumkan nama ibu dari kedua mempelai mungkin isu ini takkan ada yang tahu kebenarannya sampai saya sendiri menyampaikan pengakuan.

Akhirnya ketahuan Ema


hahaha, maafkan saya Riskon, ketua kelas kami yang saat itu berkomentar "Secukupnya aja kalau bercanda, sudah usia segini".

Percayalah, saya membuat ini hanya karena rindu dengan kalian, saya tahu kalian sudah sibuk dengan kehidupan masing-masing, saya cuma ingin kalian sesekali menampakkan diri di grup ini dan tidak sekedar menjadi silent reader, maafkan jika saya banyak mengoceh memenuhi notifikasi kalian, saya senang tahu kabar kalian yang sudah meniti karir mengejar mimpi masing-masing, saya bangga pernah menjadi bagian dari cerita kalian, ketahuilah... segala useless chats yang sering saya lakukan di grup tidak lain hanyalah usaha saya agar silaturahmi kita tidak putus, karena saya sayang kalian, orang-orang yang beberapa tahun ke depan akan menjadi sosok hebat, sebagai pengusaha sukses, dokter, birokrat, akademisi, apapun itu.

Semoga kalian selalu ingat dengan saya.


See you on top, great people!






Tambahan :

Beberapa bulan kemudian saya baru tahu, isu ini ternyata juga menyebar ke teman-teman satu fakultas Anjas, dan pada tanggal yang tercantum ada teman kuliah Anjas yang hampir datang ke gedung tempat resepsi.
Share: