Mencari Identitas.

Selama di Taiwan saya sering bertemu banyak orang Indonesia, jangan dikira orang Indonesia di sini sedikit, ada buanyaaak sekali, menurut data yang saya dapatkan ada sekitar 7 milyar empat puluh lima orang, semua orang Indonesia? bukan, itu jumlah manusia di bumi.

Intinya banyak deh orang Indonesia di Taiwan.

Nah, kira-kira gimana cara saya supaya tahu seseorang itu orang Indonesia atau orang Senegal?

Gampang, todong orangnya, minta dompetnya, lihat KTPnya, kalau tertulis salah satu provinsi di Indonesia berarti dia satu tanah air dengan kita, kalau tertulisnya cuma angka atau beberapa huruf itu bisa jadi kartu parkir, simpel kan?

Tapi enggak perlu lah saya sampai nodong orang cuma buat tahu kewarganegaraan, lagipula saya males berurusan dengan hukum, bukannya apa, saya sama sekali enggak tahu tentang hukum, karena dulu jurusan kuliah yang saya pilih setelah lulus SMA bukan fakultas hukum, tapi komunikasi, oh iya dulu juga sempet tertarik mau masuk jurusan bisnis tapi saya batalin karena ada senior yang mendadak jatuh cinta sama bus PATAS, eh ternyata dia masuk jurusan bisnis dan ekonomi AC.


Dengan teman-teman Indonesia di Taiwan

Keluarga besar orang Indonesia di kampus saya.



Balik lagi ke topik hidayat utama, karena banyaknya orang Indonesia di Taiwan, jadi hampir setiap weekend saya bertemu dan berkenalan dengan orang baru yang sama-sama dari Indonesia, biasalah namanya juga orang Indonesia pasti ada basa-basi, seringkali kalau bertemu saat makan saya basa-basi nya "Mas, duluan ya" yang biasanya dijawab lawan bicara saya "Oo... Monggo mas silakan", padahal maksudnya itu saya ijin duluan masuk sorga kalau nanti di akherat.

Namanya juga para perantau yang sedang di negeri orang pasti ada kedekatan emosional kalau tahu sama-sama dari Indonesia, apalagi kalau orang yang saya ajak berkenalan itu tahu saya ganteng dan manis manja(t), biasanya makin banyak basa-basi dari hanya bertanya nama, sudah berapa lama di Taiwan, tinggal di mana, betah enggak tinggal di Taiwan, sampai pernah nonton hajatan yang ada dangdut koplonya belum.

Alhamdulillah semua pertanyaan basa-basi biasanya bisa saya jawab dengan lugas, cepat, dan menawan. Tapi ada satu pertanyaan yang membuat saya bingung untuk dicarikan jawaban yang tepat, yaitu "Mas Ayub suka nonton sabung ayam enggak?"

Eh bukan, itu bercanda, pertanyaan yang saya bingung untuk menjawabnya adalah.....






























































Nungguin ya?



Oke lanjut,

Jadi saya bingung kalau ada orang yang nanya ke saya "Mas Ayub orang asli mana?".

Yak, saya bingung buat menjawab pertanyaan ini, serius Rosalinda... Ini merupakan pertanyaan yang membuat saya bingung, bingung saya dengan jawabannya, bingung buat apa mereka tanya ini, mencari jawabannya sungguh membingungungkan, dan kamu pasti bingung karena ngung di kalimat sebelumnya ada dua.

Kenapa bingung? Boleh saya ceritain?
Apa? Enggak boleh? Eeeh ini kan blog saya jadi harus boleh.


Saya lahir 382 tahun yang lalu, kota kelahiran saya adalah Banjarmasin, buat yang enggak tahu di mana Banjarmasin itu makanya smartphone jangan dipakai buat selfie aja, pakailah buat google map lalu follow instagram @ayubanggadireja .

Nah, sempat beberapa tahun menghabiskan masa batita (bayi tapi tampan) di Banjarmasin, lalu dikarenakan ayah harus melanjutkan pendidikan jadi beliau membawa kami sekeluarga pindah ke Bandung, selama di Bandung saya didaftarkan di TK IKIP yang sekarang UPI, tadinya ayah mengharapkan saya bisa berbahasa Sunda eh tapi ternyata teman-teman saya justru anak-anak yang datang dari beragam daerah, jadi selama TK saya menggunakan bahasa Indonesia saat berinteraksi dengan teman-teman.


Isola IKIP yang sekarang UPI, enggak tahu deh 3000 tahun yang lalu namanya apa

Akhirnya ayah menyelesaikan pendidikan, dan karena kehidupan pendidikan saya yang hanya main-main, maklum anak TK, lalu kami kembali pindah ke Banjarmasin, kota kelahiran saya.

Oh iya, selama TK saya sudah lancar membaca dan menulis, sehingga saya hanya menghabiskan masa TK selama satu tahun, tadinya bermodal kemampuan membaca dan menulis itu saya ingin memulai karir sebagai jurnalis New York Times, tapi karena jauh di Amerika ya sudah saya lebih menurut kata ibu untuk didaftarkan SD di sekolah dekat rumah nenek.

Tapi masa SD saya di Banjarmasin hanyalah sebentar, ayah mendapat tawaran melanjutkan kembali pendidikan di Malang, Jawa Timur, sehingga kami sekeluarga kembali harus pindah.

Sampai di Malang, kami tinggal di kontrakan kecil di sebuah dusun yang berjarak 1.5 jam dari pusat kota, dan saya didaftarkan ayah ke sekolah dekat rumah, yang menarik adalah di hari pertama sekolah saya merasa seperti orang asing karena teman-teman sekelas menggunakan bahasa Jawa saat berinteraksi, karena hal itulah perlahan saya mulai mengerti bahasa Jawa.
Masa kecil saya saat itu sangat menyenangkan, setiap pulang sekolah selalu melewati sawah, berenang di kali dekat rumah, dan bermain layangan di lapangan besar. Tidak ada yang namanya gadget bahkan video game, saya merasa seperti anak outdoor sejati, my trip my adventure!

Karena lingkungan sehari-hari saya yang dikeliling warga lokal membuat saya merasa sebagai orang Jawa, meskipun dalam berkomunikasi lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia, tapi saat itu saya bisa memakai medok Jawa, oh andai saya mengerti bahasa Rusia mungkin akan keren berbahasa Rusia dengan medok Jawa.

Tidak terasa sudah bertahun-tahun saya tinggal di Malang, dan pendidikan Ayah pun akhirnya selesai, lagi-lagi kami sekeluarga kembali pindah ke Banjarmasin, lho kenapa Banjarmasin? Ya karena Banjarmasin adalah kampung halaman ibu, dan ayah saya dinasnya di Banjarmasin.

Nah, setelah dari Malang inilah saya menghabiskan masa remaja di Banjarmasin. Menghabiskan sisa masa SD satu tahun, masa nakal di SMP tiga tahun, dan masa sebagai pelajar hampir teladan SMA tiga tahun di Banjarmasin membuat saya fasih berbahasa Banjar baik lisan maupun tulisan, saya bahkan tahu istilah-istilah bahasa Banjar yang jarang terdengar.

Student card saya, dengan konsep minimalis dan enggak tahu apa fungsinya


Selepas SMA, saya melanjutkan kuliah ke Bandung. Ya, akhirnya saya kembali ke kota tempat saya pernah menghabiskan masa kecil yang imut-imut dan pernah bercita-cita jadi begal.

Tanpa terasa saya tinggal di Bandung selama hampir 5 tahun, saya yang sebelumnya tidak mengerti sama sekali bahasa Sunda menjadi mengerti dan bisa berbicara bahasa Sunda, namun di situlah permasalahannya, secara perlahan saya kehilangan logat bahasa Banjar, bahkan saat berbicara dengan orang Banjar yang tinggal di Bandung saya kesulitan untuk mengeluarkan dialek Banjar, saya hanya bisa mengeluarkan dialek Banjar saat berbicara dengan keluarga dan teman-teman SMA, sisanya? Sangat sulit...

***

Secara geografis, saya pernah menguasai tiga logat khas di Indonesia, yaitu Jawa, Banjar, dan Sunda. Namun saat ini ketika siapapun yang pertama kali berkenalan dengan saya akan menyangka saya orang Bandung, karena logat bicara yang saya gunakan (katanya) sudah sangat nyunda, padahal saya merasa logat saya sudah arab sekali karena saya hapal Al-Qur'an (surah Al Ikhlas, Al Kafirun, Al Kautsar, Al Insyiroh, Al Fil)

Nah, sedangkan untuk suku, keluarga besar ibu adalah orang Banjar asli, sedangkan ayah saya lebih beragam, ayah adalah orang Sunda karena lahir dan besar di Garut, Jawa Barat. Nenek dari ayah berasal dari Purwokerto, Jawa Tengah. Dan Buyut dari Ayah lama tinggal di Sawahlunto, Sumatera Barat (saya pernah diajak sekali ke Sawahlunto, melihat peninggalan buyut).

Karena itu, saya bingung kalau ditanya orang yang baru kenal "Mas Ayub orang mana?"

Saya ber-KTP dan fasih bahasa Banjar, logat saya Bandung, dan nanti setelah lulus akan menetap di Jakarta.

Lalu saya orang mana sebenarnya?

Daripada bingung, mending saya ngaku orang Argentina aja ya?
Share:

10 komentar:

  1. ini template blognya kayak harga minyak tanah jaman soeharto, berubah-ubah......

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maklom... berhubung masih menjati cari diri jadi masih bingung milih yang gratis tapi keren...

      Hapus
  2. Iya. Memang seperti itu. Blog baru pasti templatenya suka ganti2. Saya dulu juga begitu. Nanti biasanya berhenti pada auranya sama dengan pemiliknya.

    BalasHapus
  3. Saya juga gt, yub..tp Kan indo itu luas, beraneka ragam budaya dan masyrktnya py hobi seperti kutu loncat..jd gpp drpd bgg ditanya lahir tahun dan tanggal brp haha(nunjuk diri sendiri).. selamat berbingung ria, mas ayub..

    BalasHapus
  4. Hahahhahahaha dasar si robocop

    BalasHapus
  5. Hahaha ngakak baca ini kak Ayub XD jadi kak Ayub adalah orang





    Indonesia

    BalasHapus
  6. Hahaha ngakak baca ini kak Ayub XD jadi kak Ayub adalah orang





    Indonesia

    BalasHapus
  7. Wiii header blognya keren ih, Mang~ :D *salah fokus*

    BalasHapus
  8. Tulisannya menarik-- menarik saya agar tertawa 😂

    BalasHapus
  9. 光環“阿尤布莽” ,你好。
    我特意寫了語言中國分崩離析,所以“驚恐”的倡議轉化互聯網使用..呵呵呵.. ^^


    論文本著“阿尤布莽! ”

    BalasHapus