Sakau Smartphone.

Akhir-akhir ini saya banyak dikomplain sama temen-temen.

"Yub, buka Line sekarang!"
"Yub, cek Whatsapp, penting!"
"Yub, kunci gitar lagu band Kuburan yang C A minor D minor ke G itu apa sih?" 

Yak, teman-teman banyak mengeluhkan saya yang sulit sekali dihubungi melalui aplikasi chat sebangsa Line, Whatsapp, Facebook Messenger, dan MiRC.
Ada dua hal yang bakal terjadi kalau mereka chat ke saya ; dibalas cepat, dibalas tapi lama, atau cuma diread, eh ada tiga ya.
Biarin lah, intinya mereka kesel ke saya.

Nah, kenapa saya jadi sulit dihubungi?

Begini teman-teman, sebelumnya terima kasih sudah mau membaca tulisan ini, saya minta maaf kalau beberapa dari kalian yang pernah mengalami hal serupa karena lamanya saya membalas, dan terakhir jangan pernah mau kalau ada teman menyuruhmu nyium kuda, ya ngapain juga sih.

Saat ini saya sedang berada di semester terakhir, yang berarti saya akan disibukkan dengan pengerjaan tesis, tau tesis kan? Hah? Enggak tau tesis?

Ya sudah saya jelasin... Jadi begini, tesis itu adalah.. coba buka google,
Nah gitu...

Ke(sok)sibukan saya menggarap tesis ini membuat saya harus konsentrasi penuh, saya tipikal orang yang mudah sekali terdistraksi oleh keberadaan handphone, semenjak saya mengganti handphone saya dengan smartphone ada beberapa aplikasi chatting dan sosial media yang saya instal, dan total ada sekitar 25.. Aplikasi handphone? Bukan, nama Nabi dan Rasul yang wajib diketahui.

Karena efek distraksi inilah saya jadi kesulitan kalau handphone ada di dekat saya, kualitas konsentrasi saya turun drastis, contohnya baca buku, saat S1 saya bisa menyelesaikan satu buku paling lama lima hari atau minimal ada dua buku yang bisa saya baca setiap bulannya, tapi semenjak mempunyai smartphone saya pernah butuh dua bulan hanya untuk membaca satu buku.

Inilah efek samping teknologi yang saya benci, saya merasa kehilangan kenikmatan untuk membaca buku, dulu saya bisa berjam-jam duduk di bawah pohon di Sabuga Bandung, naik ke genteng kosan sambil menikmati senja, atau ke daerah Ciburial Dago Atas yang sejuk hanya untuk membaca buku, rasanya asoy sekali, tapi semenjak saya punya smartphone dan menginstal beberapa aplikasi chat semua itu berubah, seperti kamu... Uh, sedih.

Awalnya saya merasa sangat terbantu dengan beragam aplikasi yang saya instal, tapi lama-kelamaan saya mulai merasa kecanduan, waktu saya banyak habis hanya untuk mengecek notifikasi, apakah ada Whatsapp masuk? Apakah ada Line baru? Atau apa saya menang undian berhadiah Avanza?

Puncak saya merasa ganteng muak dengan ketergantungan terhadap smartphone ini adalah di suatu hari 2015 tahun setelah masehi kemaren, awalnya saya berniat untuk menghabiskan sebuah buku tipis karya Alm. Gus Dur (idola inyong ikii) di sebuah taman kota, dan sayapun berangkat sendirian, sampai di taman celakanya hanya kaulah yang benar benar aku tunggu hanya kaulah yang benar benar memahamiku kau pergi dan hilang kemanapun kau suuukaaa.

Hayo, bacanya sambil nyanyi ya?

Kembali ke cerita,
Nah, sampai di taman celakanya saya bukan membaca buku tipis yang saya bawa itu, tapi yang saya lakukan malah baca buku sebentar, cek obrolan grup Line/Whatsapp, baca sebentar, cek media sosial, baca sebentar, malakin bocah pulang ngaji.

Alhasil sampai kembali ke kamar saya hanya bisa membaca beberapa halaman dari buku yang harusnya bisa saya selesaikan paling lama satu jam setengah itu. Waktu saya habis hanya untuk mengecek handphone! KZL BGT!

Buku 111 halaman yang saya habiskan selama berminggu-minggu

***

Setelah hari itu saya jadi mikir, sungguh tidak produktif kehidupan saya kalau dekat dengan smartphone, dan saya harus merubah kebiasaan ini!

Tapi mulai dari mana? (tolong jangan nyanyi lagu Sudah Terlalu Lama Sendiri)

Terhitung semenjak Oktober 2015 kemarin perlahan saya mengurangi kuantitas penggunaan smartphone, dimulai dengan mengganti paket internet unlimited seharga 500NT$ (± 200ribu rupiah) dengan paket internet kuota 2 giga seharga 300 NT$ (± 120ribu rupiah), tujuannya sih biar saya terbatasi tidak terlalu sering mengecek handphone saat di luar, eh ternyata kebiasaan main media sosial dan chatting saat menunggu bus atau di dalam kereta tetap saya lakukan, bukannya tambah irit saya jadi tambah boros, karena kehabisan kuota saya bisa sampai dua kali mengisi ulang paket internet dalam sebulan (2x300NT$).

Lalu saya berkesimpulan, jangan salahkan paket internet, salahkan kebiasaan ketergantungan handphone ini.
Tadinya saya ingin membuang handphone saja, andai saya dulu belinya dengan cara barter pakai kelapa dan Marimas rasa mangga mungkin ide itu sudah saya lakukan, tapi sayangnya saya belinya dengan rajin solat dhuha dan menabung di celengan setiap hari seratus ribu rupiah.


Karena tidak mungkin membuang handphone, saya putuskan untuk perlahan menjauhkan handphone dari keseharian.

Hal yang pertama saya lakukan adalah dengan meninggalkan handphone di kamar jika saya pergi ke tempat yang dekat. 
Sadar enggak sih, kalau sekarang kemanapun kita pergi selalu bawa handphone? Entah karena takut ada yang menghubungi, takut kesasar, atau takut enggak ada yang dikerjain selama di perjalanan. Padahal ketakutan itu ya kita juga yang bikin, lagian takut harusnya sama Alloh, yaa bolehlah sesekali takut lupa pin ATM.

Susah? Iya, susah banget pas pertama saya coba menjauhkan handphone dalam keseharian, rasanya ingin segera pulang untuk mengecek notifikasi, padahal baru aja berangkat 5 menit lalu jadi berasa 300 detik kalau handphone ditinggal.

Tapi karena itulah pelan-pelan saya mulai menemukan kembali kenikmatan yang pernah saya alami semasa kuliah 75 tahun yang lalu.

Saya mempunyai kebiasaan membawa buku di tas kemanapun saya pergi, sebelum memulai "diet handphone" buku yang saya bawa seringkali menjadi hiasan dan pemberat di dalam tas karena saya cenderung untuk scrolling sosial media atau ngobrol di grup, tapi setelah memulai diet ini saya bisa fokus dan menikmati membaca, setidaknya ada 4-6 halaman buku yang bisa dibaca saat menunggu bus.

Lalu bagaimana dengan informasi melalui aplikasi chatting?

Nah, untuk mencegah saya kembali kecanduan, saya mute semua notifikasi chatting kecuali hanya dari keluarga, saya hanya online dari aplikasi Line yang saya instal di komputer lab atau browser jika ada pesan dari Facebook Messenger. (Yaa, walaupun sama-sama lama dibalasnya, karena tanpa notifikasi)

Hasilnya? Saya merasakan apa yang disebut real life yang kehidupan nyata, setidaknya saya bisa merasa tersinggung jika saat kumpul dengan teman-teman lalu ada yang asyik bermain sosial media di handphone. Saking kesalnya saya pernah minggat pulang duluan saat kumpul dengan teman-teman Indonesia, saat kumpul bukannya ngobrol, berbagi ide, atau maen jelangkung, mereka justru asyik dengan gadget sendiri untuk scrolling Instagram, check in Path, bahkan main game! Kan kalo gini inyong mending bikin polisi tidur di jalan tol.

Efek sampingnya?
Ya balik lagi ke atas, teman-teman banyak yang komplain karena saya jarang baca chat mereka atau lama membalasnya, karena saya baru memegang handphone untuk mengecek media sosial dan chatting ketika malam hari sepulang saya mengerjakan tesis di lab sedari siang.
 
Hehe maapin Mac Gyver ya teman-teman...

Salam peace, loph, en soleh.

 
Hasil dari mematikan notifikasi.



 
Share:

0 komentar:

Posting Komentar