Senang-senang lulus.

Corat-coret seragam setelah pengumuman kelulusan memang sudah seperti "tradisi" pelajar di Indonesia. Entah kapan dan siapa yang pertama kali secara resmi memulai ngalap berkah dari corat-coret seragam ini sehingga bisa terjaga kelestariannya sampai sekarang, sebenarnya saya males googling dan mencari tahu, karena kamu tahu sendiri kalau saya setiap harinya fokus untuk sibuk mencari pahala saja di kehidupan ini.

Oh iya, saya bisa mencari pahala via google lho, ini buktinya.





Nah, biasanya dalam euphoria pelajar yang saban tahun dilaksanakan ini, masyarakat yang menonton terbagi menjadi dua bagian, pihak yang kontra dengan yang bodo amat. Kriteria ini jelas menurut saya pribadi, dan ingat... Pendapat saya bisa benar bisa juga tidak salah, jangan dipusingkan.

Kelompok yang kontra biasanya ciri-ciri mereka bisa sendiri atau berdua, lalu memegang senjata yang pelurunya bulat atau paling oke sih laser, musuhnya bisa orang tapi bisa juga alien, badan kekar tapi kena musuh malah mati. Eh ini sih kelompok kontra yang ini...




Aduh... Serius ya... Capek nih becanda mulu...

Nah, jadi menurut wikipedia, Seurieus adalah sebuah grup musik yang berawal dari sekumpulan mahasiswa Seni Rupa ITB yang ingin mengekspresikan kegilaan dirinya dalam bermusik setelah dalam setahun cukup pusing dengan keadaan mereka sebagai mahasiswa baru Seni Rupa yang ternyata sangat melelahkan. Mereka tampil sebagai band kampus yang sering muncul di berbagai acara musik ITB. Terbentuk sekitar akhir tahun 1994 memulai kiprahnya pada panggung-panggung kecil di kota Bandung dan sekitarnya dengan konsep entertaining the audience, sehingga muncul sebagai sebuah sajian musik yang polos, total, penuh aksi, lugu namun menghibur. Tak heran jika logat Sunda mereka atas kata Heavy Metal pun terdengar menjadi Hepi Metal (happy metal) atau musik metal yang gembira.

Keren ya panjang banget tulisan di atas, apa rahasianya? Gampang... Copas aja dari wikipedia.

Sampai mana tadi?

Sampai kontra.

Biasanya nih pemirsa, orang-orang yang kontra sebenernya dibilang anti banget enggak, tapi lebih menyayangkan sikap pelajar SMA yang mencorat-coret pakaian ketika lulus, karena katanya sih mending seragamnya itu disumbangkan ke yang lebih memerlukan ketimbang dicorat-coret, bagus sih solusinya tapi enggak bisa dipaksakan juga.

Mau sedikit cerita nih, gini-gini saya juga pernah SMA, yaa walaupun setelah SMP saya bisa saja sih langsung masuk ke Universitas terdekat di kota saya... Buat numpang fotokopi.

Saya dulu bersekolah di salah satu SMA di Banjarmasin, sekolah saya spesial karena punya guru yang sampai sekarang masih sering bertegur sapa dengan saya lewat Facebook, punya ubin yang sampai sekarang belum pernah saya hitung berapa jumlah total keseluruhan karena males, punya dinding yang cicak bisa merayap sehingga dibikin lagu, dan jelas punya mesin yang bisa mencetak ijasah tapi enggak bisa mencetak gol karena dia bukan Lionel Messin.

Setelah 3 tahun bersekolah di sana akhirnya saya lulus, rasanya senang sekali saat tahu saya bisa lulus dengan nilai yang setidaknya bisa membuktikan saya adalah manusia bukan serbet warteg, nah ketika pengumuman kelulusan itu teman-teman angkatan saya langsung mengekspresikan kegembiraan mereka dengan corat-coret baju mereka, sementara saya tidak.

Loh, kenapa?

Jadi begini pemirsa yang Budiman... Tahu kan Budiman? Nih...

 


Sewaktu pengumuman kelulusan SMA, saya sedang tidak berada di Banjarmasin, kota kelahiran yang juga tempat SMA saya berada. 
Saat itu saya sedang berada di Somalia, mengikuti tes masuk kursus bajak laut dengan sertifikasi internasional yang cuma diakui di Somalia, sehingga saya hanya tahu kabar kelulusan itu melalui SMS yang dikirimkan teman-teman.
(iya, soal saya ke Somalia jangan dipercaya, biar kamu tambah bingung saja, tapi saya beneran sedang di luar kota saat itu)

Nah, berkaca dari pengalaman saya ini kita balik lagi ke topik utama "seragamnya disumbangkan saja".

Saya tidak termasuk pelajar yang mencorat-coret baju saat itu, karena selain termasuk golongan orang-orang yang beriman dan bermain, saya juga adalah orang yang masa bodoh dengan corat-coret, eh ini bukan berarti saya menolak atau anti corat-coret, lah siapa saya? Toh cat semprot mereka beli dengan uang sendiri, lalu seragam yang dicoret juga punya mereka. Akan beda halnya kalau cat semprot punya mereka dipakai untuk corat-coret sambil ngamuk di gedung lembaga negara biar caper dan bikin capek petugas kebersihan, eh tapi kan saat itu kami belum mahasiswa ya? Ups....

Walaupun saya yakin bakal masuk sorga karena bisa mengaji, tapi rasanya saya enggak tega kalau seragam SMA saya yang tidak dicoret itu disumbangkan.
Gini... Seragam saya itu sudah dipakai selama 3 tahun, kebayang lah ya gimana bututnya? Kalau diminta menyumbangkan, saya malah enggak tega ngasih yang bekas dan rombeng kaya gitu, prinsip saya saat itu kalau bisa menyumbang yang lebih layak kenapa harus yang butut? Nah, kayanya beberapa teman saya pun berpikiran yang sama, pengen disumbangkan enggak tega tapi kalau disimpan buat kenang-kenangan kok enggak ada yang spesial cuma seragam polos doang.

Ibarat martabak, kalau polos sebenarnya enak sih, tapi ditambah cokelat, susu, kacang, dan keju kan lebih yahud apalagi ditambah senyum manismu, kaya gitu juga mungkin yang ada di pikiran teman saya dan pelajar-pelajar SMA lain yang baru lulus, makanya ada yang mengungkapkan kebahagiaannya dengan corat-coret, biar seragam yang tadinya polos terlihat lebih nyeni karena berwarna warni.

Sebenarnya persoalan ekspresi kebahagiaan ini bukan masalah yang penting-penting amat sih, kalau mau corat-coret ya bukan hak kita buat ngelarang, toh bukan kita yang beli pakaiannya, dan kalau mau dengan bakti sosial atau apapun juga silakan karena itu hak. Tapi ingat... Kita boleh marah kalau mereka sehabis corat-coret lalu konvoi tanpa pakai helm, terobos lampu merah, trus bikin polisi tidur di landasan pacu bandara.

Andaikan saya ditanya mau ngapain kalau bisa lulus SMA lagi, saya bakal jawab mau merayakannya dengan mindahin Monas ke samping menara Eifel, biar orang Paris kaget trus mereka bangun pasar kaget di bawah menara Eifel.

Oh iya, biarpun saya enggak ikutan euphoria kelulusan SMA, tapi saya ikut acara perpisahan yang diselenggarakan dua kali, pertama di sekolah dan yang ke second di gedung gitu. Tujuannya sih biar kami senang dan ingat, untung tujuannya itu sukses karena sampai sekarang saya masih ingat dan senang setiap melihat fotonya.

Nih saya riya sedikit pamer foto perpisahan SMA.

Menyapa para penggemar di karpet merah dengan pot bunga yang enggak tahu fungsinya buat apa

Saya baru tahu kalau badge SMA ini harusnya dipakai di depan


Nah ini sewaktu acara perpisahan di gedung, saya dulu pernah jadi tukang gebuk beduk Inggris, makanya berzodiak Aquarius.

Ini Rio Alief,  dia bilang gaya main drum saya yang di atas itu mirip Michael Jackson dan ngefans ke saya, eh sekarang dia sukses jadi drummer Noah.

Udah gitu dulu ya, intinya saya pengen cerita kalau corat-coret seragam kelulusan itu enggak usah dipermasalahin, biarin aja asalkan enggak ganggu ketertiban umum, soal disumbangkan atau enggak ya itu pilihan masing-masing, biarlah para remaja menikmati masanya yang indah sebelum mereka bertemu kehidupan di fase selanjutnya yang lebih berat, toh kita semua pengen senang walaupun berbeda cara, kan?
Kamu boleh setuju atau enggak dengan pendapat saya tapi yang pasti kamu yang sedang membaca ini sudah dan akan selalu menjadi teman baik saya.

Muah!

Share:

0 komentar:

Posting Komentar