Petualangan Sherina (Bagian 1)

Disclaimer!
(Apaan sih arti disclaimer?)

Kali ini saya mencoba membuat cerita bersambung, ini adalah cerita alternatif dari Petualangan Sherina yang sudah pernah rilis belasan tahun lalu. 
Adapun genre cerita ini adalah drama petualangan romantis reliji pop rock en roll.

Selamat membaca! 

Bukan bagian dari cerita, cuma biar keliatan asik di cover


***

Di sebuah kota yang disebut Jakarta, hiduplah seorang anak SD yang bernama Sherina, dia adalah anak yang sangat baik, pintar, dan pandai bergaul, karena kepandaiannya itulah maka dia mempunyai banyak teman. Sherina bergaul tanpa memilih-milih, dia ramah kepada saja termasuk ke hewan peliharannya yang bernama Serigala.

Serigala adalah ikan mas koki yang dibelinya dari bang Saepul, nah bang Saepul ini tinggal di daerah Manggarai, hobi bang Saepul adalah rooftop party di genteng kontrakannya, biasanya bang Saepul...

Bentar, kok jadi cerita bang Saepul ya? Balik lagi ah ke Sherina!

Nah, suatu hari saat Sherina baru pulang sekolah, namanya juga di film, Sherina pulang sekolah sambil nyanyi-nyanyi penuh keceriaan, padahal dia lipsing.

Sampai di rumah, Sherina menjumpai ibunya dengan wajah muram, hati kecil bocah berumur 9 tahun ini mendadak gusar, jarang sekali dia melihat wajah ibunya sesedih ini.

"Wahai mommy..."
"...."
"Mom..."
Masih saja ibunya tidak menjawab
"EMAAAK!"
"Eh iya, iya, kenapa? Ngagetin emak aja"
"Lagian dipanggil enggak noleh"
"Lah kan emak lagi pake headset ini denger lagu Slipknot live in Ponorogo enak buat joget"


Singkat cerita, ternyata ibu Sherina bersedih karena ayah Sherina memutuskan untuk keluar dari perusahaannya sekarang untuk bekerja di tempat lain.

"Sherina..." ucap sang ayah memanggil namanya
"Iya yah..."
"Kamu tahu, kenapa ayah harus pindah ke Bandung?
"Karena mengejar cita-cita ayah?"
"Iya betul, kamu tahu kan gelar sarjana ayah?"
"Tahu yah, S.Ikom kan?"
"Nah, tahu kepanjangan S.Ikom?"
"Sarjana Ilmu Komedi Olahraga dan Musik yah"
"Loh, kok tahu? Kan kamu masih SD"
"Ya kan sama kaya gelar orang yang nulis cerita ini yah"

Tak terasa sore beranjak malam, di depan sebuah akuarium berisi Serigala, Sherina tampak galau, datanglah sang ibu yang kebetulan pernah menjadi guru piano di sebuah lembaga kursus otomotif menawarinya untuk menyanyi bersama.

"Anakku sayang, kamu terlihat sangat galau"
"Iya mom.. Eh emak..."
"Kalau gitu kita nyanyi aja yuk, ini emak punya lagu yang cocok buat suasana melankolis kamu"
"Lagu apa itu ibundaku tercinta?"
"Anjing Tanah by Burgerkill...."


Dan malam itupun dihabiskan duo ibu-anak ini dengan teriak-teriak.

***

Seminggu kemudian keluarga kecil ini memulai hijrah mereka ke kota Bandung, mereka menaiki mobil pribadi yang di belakangnya sudah dimodif sedemikian rupa dengan bantuan konsultan yang pernah menangani acara TV  "Pimp My Ride", dana yang dihabiskan untuk memodifikasi mobil mereka dengan konsep elegan futuristik ini tidak play-play, maklum mengingat sang ayah yang menyenangi otomotif dengan tingkat ma'rifat yang sangat tinggi.

Dan berikut mobil mereka:



Mereka berangkat dari Jakarta sejak jam 9 pagi, dan sekarang sudah magrib tapi masih belum sampai juga di Bandung, Sherina mulai gelisah mengetahui hal itu karena sedari tadi yang terlihat hanya aspal dan pepohonan, sedangkan Sherina ingin pemandangan gerobak baso tahu yang berjejer indah.

"Ayaah... Kok kita belum sampai juga sih ke Bandung?"
"Sabar Sherina, toh kamu juga dari tadi tidur aja kan"
"Tadi aku enggak tidur ayah"
"Trus ngapain?"
"Praktek buku primbon 1001 ramalan mimpi plus tajwid"

30 menit kemudian
"Yah, aku laper..."
"Bentar ini masih di jalanan gelap"
"Tapi yah..."
"Sherina, take it easy..."
"Easy apa maksudnya?"
"Easy bensin"

2 jam kemudian
"Sherina! Bangun! Akhirnya kita sampai!"
"Horeee! Serius ayah?"
"Iyaa! Itu tuh liat... Ada tulisan gede selamat datang"
"Kurang jelas ayah, coba deketin"
"Tuh, keliatan kan jelas tulisannya SELAMAT DATANG DI BAN...."
"BAN..."
"BANYUMAS!"

Ternyata satu hari sebelum keberangkatan ayah Sherina cari tahu rute jalan buat ke Bandung, nah beliau sembarang aja nanya orang yang lewat, hampir aja beliau mau digebukin orang karena dikira mau malakin bocah ngaji, tapi untungnya hasil dari nanya itu beliau dapat informasi rute jalan dari Jakarta ke Bandung yang paling simpel:

"Oo, Bandung? Terus aja om ikutin jalan, kalau ada belok ya belok aja, pokoknya sampai bosen, kalau om bosen berarti udah nyampe"


***


Beberapa hari kemudian.


Teng...teng...teng!

Suara lonceng berbunyi menandakan kelas harus dimulai, seorang guru terlihat sedang tergopoh-gopoh memasuki kelas.

"Selamat pagi anak-anak"
"Selamat pagi buuuu"

Tapi kemudian sang guru kaget karena melihat seseorang yang ada di atas lemari.

"Siapa... Yang taruh Fariz di situ?"

Hening

"Dudung, kamu tahu siapa yang taruh Fariz di situ?"
"Icank bu"
"Icank, betul kamu yang taruh Fariz di situ?"
"Be... Betul bu.."
"Sableng kamu Icank! Kan Fariz kepala sekolah kita! Turunin!"

Hari itu adalah hari pertama Sherina masuk di sekolah barunya, dengan seragam berwarna putih-biru muda Sherina dengan canggung masuk di kelas baru, tetapi kecanggungannya itu sedikit berkurang ketika sang ibu guru yang barusan kaget karena kepala sekolah ada di atas lemari mempersilakan Sherina untuk masuk ke kelas.

"Anak-anak! Hari ini kita kedatangan teman baru"
"Waaah" ucap anak-anak ketika melihat teman baru mereka
"Anak-anak, ini dia teman baru kalian, namanya Sherina"
"Halo, namaku Sherina"
"Sherina, tulis nama lengkap kamu di papan tulis" pinta sang ibu guru.

Dan Sherina pun menuliskan nama lengkapnya di papan tulis, tadinya dia mau nulis pakai pahat biar kaya relief tapi ibu guru melarangnya, akhirnya ditulislah pakai kapur biasa.

Dan dengan tulisan yang seperti kaligrafi hansip masang togel, ditulislah nama ini:

SHERINA M DHARMAWAN

"Wah nama kamu bagus sekali Sherina" puji ibu guru
"Wkwkwk, terima kasih bu guru"
"Ngomong-ngomong, M nya apa Sherina?"
"MULYADIIII!" celetuk salah seorang siswa
"Eeeh wanian euy! Eta ngaran babeh aing!" Teriak bu guru karena kaget salah seorang muridnya meneriakkan nama papi sang ibu guru.


***


Bel istirahatpun berbunyi, anak-anak berlari ke luar kelas, ada yang ke kantin, duduk di bawah pohon, makan bekal, sabung ayam, merampok bank, jadi begal, sampai nyolong gagang pintu alfamart. Heran, ini sekolah atau sarang penyamun.

Tapi tidak untuk Sherina, karena dia saat itu adalah murid baru, otomatis dia dikerubungi oleh teman-temannya, sebagian besar teman-temannya banyak bertanya banyak hal tentang diri Sherina

"Ooh, jadi kamu suka main musik?"
"Wah, kamu sering nyanyi dong?"
"Sherina, bisa nyetak batako enggak?"

Dari kejauhan terlihat Sadam, murid yang tadi teriak Mulyadi di kelas sedang memperhatikan Sherina dengan pandangan sinis, lalu Sadam dan dua orang temannya mendekati Sherina.
Melihat Sadam cs mendekatinya, Sherina pun berdiri lalu langsung menantang Sadam.

"Kenappaa? Takut?" Cetus Sherina
"Diih, siapa yang takut!" Balas Sadam
"Mau minta maaf enggak udah ngatain aku Mulyadi?"
"Dih, geer, kan itu nama babehnya bu guru, aaah serbet warteg!"

Lalu dari jauh terdengar musik intro yang entah dari mana

Jreeeeeeeenggggg....

DIA PIKIIIIIRRR...
PIKIR, APANYA APANYA AAAPANYA DOONG

"Lah? Kok salah lagu?!"
"Eh bentar, benerin kasetnya dulu"

Teng...teng...teng!

Mendadak lonceng berbunyi lagi menandakan para murid harus kembali ke kelasnya masing-masing, aaah kan enggak jadi deh joget-joget di lapangannya.


Bersambung....


***
 
Nah kawan-kawan, kira-kira apakah yang akan terjadi pada Sherina dan Sadam setelah mereka masuk kelas?
Ayo komen di bawah dan sebarkan cerita ini biar teman-temanmu baca! Biar cerita Petualangan Sherina bagian 2 bisa langsung rilis!
Salam sayang, dari Mamang Ayub!
Share:

6 komentar:

  1. Sherina dan Sadam menikah mang, pasti itu. Gak salah lagi, mereka berdua menikah.

    BalasHapus
  2. Saat masuk kelas, Sherina dkk kaget karena yang duduk di meja guru bukanlah ibu guru Dewi Hugges, melainkan XZibit. Ternyata XZibit dan Dewi Hugges tukar profesi. Ibu guru Dewi Hugges jadi host Pimp My Ride menggantikan XZibit dan sebaliknya.

    BalasHapus
  3. Singkat cerita Sadam jatuh cinta kepada Sherina. Kemudian Sadam memberanikan diri menyatakan cintanya kepada Sherina. Tapi Sherina tidak bisa menerima cintanya Sadam, karena ternyata Sherina mencintai lelaki lain, yaitu Mamang Ayub.

    Mengetahui hal itu, Sadam marah besar, marahnya sebesar gaban. Dan akhirnya Sadam mencari tahu, tahu bulat yang digoreng dadakan, karena dia lapar.
    Tapi karena dia tidak menemukan dimana tahu bulat berada, akhirnya dia memutuskan untuk mencari tahu siapa Mamang Ayub itu sebenarnya.

    Setelah dia mencari info tentang Mamang Ayub, akhirnya dia menemukan dimana Mamang Ayub berada. Dan ternyata Mamang Ayub itu adalah penjual tahu bulat. Kebetulan sekali dia lapar dan ingin makan tahu bulat. Dia pun membeli tahu bulat sambil berbincang dengan Mamang Ayub untuk mencari tahu tentang Mamang Ayub.

    Setelah lama berbincang dengan Mamang Ayub, akhirnya Sadam mengerti kenapa Sherina jatuh cinta kepada Mamang Ayub. Itu karena Mamang Ayub baik hati, tidak sombong, rajin menabung, dan karena Mamang Ayub suka memberikan tahu bulat jualannya secara cuma-cuma.
    Tapi, ada sesuatu yang mengganjal di hati Sadam, tanpa Sadam sadari, dia jatuh cinta kepada Mamang Ayub.

    Hari demi hari dilewati, Sadam semakin dekat dengan Mamang Ayub. Dan tanpa disadari pula, Mamang Ayub pun menaruh rasa kepada Sadam. Mereka tau mereka salah, tapi mereka tidak bisa mengingkari apa yang mereka rasa.
    Beberapa tahun kemudian, Mamang Ayub dapat kesempatan untuk pergi ke Belanda karena bisnis tahu bulatnya sudah sampai ke Belanda sana. Mamang Ayub pun mengajak Sadam untuk pergi ke Belanda. Tanpa ragu, Sadam menerima ajakan Mamang Ayub. Mereka pun pergi ke Belanda bersama dan....


    menikah disana.

    - T A M A T -

    *umaaaa..saking kdd gawiannya aku membaca kisah ini, abis tu menyambungakan pulaang..hahaha

    BalasHapus
  4. Ngajak seluruh isi kelas buat joget ramai-ramai. Flash mob gitulah :))

    BalasHapus
  5. Hha sableng!plg ngakak pas foto tahu buleud

    BalasHapus
  6. Hha sableng!plg ngakak pas foto tahu buleud

    BalasHapus