Phobia Tua

Selain takut kalau bumi mendadak kiamat pas saya lagi ngadu panco sama The Rock Smackdown dan takut kalau lupa pin atm karena ketuker sama nomer call center dinas kebersihan pemerintah kota Buenos Aires, saya juga punya ketakutan lain yang bersifat sangat duniawi.

Saya takut tua.

Bagi sebagian orang, tua berarti persoalan usia, tapi tidak bagi saya, di 182... Bukan, angka itu bukan umur saya, cuma nama band, Blink 182, tapi saya aminkan sajalah semoga usia saya sampai 182 tahun, aamiin...

Eh tapi ya katanya kalau mau panjang umur sampai ratusan tahun harus mau jadi jenglot,
iya JENGLOT!

Kok bisa?

Begini penjelasan ilmiahnya.

JENGLOT = 7 huruf

AWETMUDA = 8 huruf

7+8 = 15

PANJANGUMURNYAA = 15 huruf

Kebetulan? Jelas tidak.

Sudah terkesima? Pasti iya.

Mau lanjut baca? Mau dong sayang.

Oke, ketakutan tua bagi saya bukan hanya persoalan umur karena menurut saya tua itu meliputi banyak hal, tapi dalam tulisan ini hanya ada dua hal yang saya tekankan.
Sebutin jangan?

Sebutin lah ya.
Pertama, saya takut tua secara selera.

Ada sebuah pepatah bijak masyarakat bule "If it's too loud, then you are too old" yang artinya "Jika teringat tentang dikau jauh di mata dekat di hati" eh ini lirik lagu Ari Lasso sama Melly Goeslaw.
Intinya sih kamu pasti sudah tahu apa arti pepatah itu, apa? Enggak tau? Ih cari sendiri dong di kamus, udah gede gini masa harus dicariin juga?

Saya takut kalau saya tua secara selera, terutama musik. Dalam hidup saya hanya ada dua jenis musik ; keras dan sukan, yang kalau digabungkan jadi kerasukan.

Hehehe becanda.

Hampir 75% isi playlist music player saya adalah lagu-lagu dengan genre pop punk, heavy metal, alternative rock, britpop, postrock, dan mutiara hati.

Semasa SMP saya tergila gila dengan band GIGI karena karakter vokal Armand Maulana yang bagi saya dengan lagu apapun akan tetap terasa rock. Beranjak SMA saya sudah mengenal internet, di masa ini saya kenal dengan Black Dahlia Murder, Forever the Sickest Kids, MCR, The Used, Rufio, MXPX, The Brandals, All Time Low, Scenes from a movie, Pee Wee Gaskins, The Adams, The SIGIT, banyak lagi musisi lainnya. Saya mengenal mereka biasanya dari review Majalah HAI yang kemudian saya cari musik mereka di dunia maya (biasanya Myspace).

Koleksi kaset GIGI saya dari album 1994 sampai 2008, setelah 2008 saya beralih ke CD.

Beranjak kuliah saya pindah ke Bandung dengan beragam skena musik yang dimilikinya. Tahun-tahun awal berkuliah di Bandung hobi saya adalah berburu gigs, biasanya hampir setiap weekend selalu ada acara musik dan sudah dipastikan saya ada di sana. Saya menikmati masa ini, di mana saya berada dalam moshpit mendengarkan musik keras sambil dorong sana dorong sini jungkir balik di kerumunan penonton sesama penikmat musik keras atau setidaknya jika tidak berada di moshpit saya bisa mengangguk-anggukkan kepala menikmati hentakan musik yang berasal dari panggung. Ah rindu rasanya!

Ketakutan saya adalah kalau suatu saat nanti ketika mendengarkan musik keras saya tidak bisa menikmatinya, untungnya saat ini saya masih bisa menganggukkan kepala secara spontan setiap kali mendengarkan entah itu Motorhead, Seringai, New Found Glory, Bowling for Soup, dan lain-lain.
Karena saya selalu merasa beberapa tahun lebih muda setiap kali mendengarkan musik keras. Itu saja.

Ketika saya beranjak kuliah

Lalu hal kedua yang saya takutkan adalah tua secara pemikiran.

Semasa SMA dan kuliah setidaknya setiap minggu saya bisa menghabiskan satu buku dari beragam jenis, entah itu filsafat, sejarah, teologi, biografi, novel, atau komik. Sedikit banyak buku-buku ini jelas mempengaruhi pikiran saya, di satu sisi saya kecanduan dengan filsafat logika Bertrand Russel, dialektika sains Carl Sagan, progresif nusantara Gus Dur, yaa meskipun di sisi lain saya belum kesampaian untuk mempraktikkan kiat beternak lele metode pak Wahyudi.

Entah kamu setuju atau tidak, dibandingkan dengan hanya membaca artikel-artikel yang bertebaran di internet, membaca buku lebih akseleratif dalam menambah sudut pandang kita.
Membaca buku berarti membuka diri terhadap hal-hal baru, membiasakan diri untuk lebih banyak mendengar ketimbang berbicara.

Maka dari itu kamu jangan heran jika mereka yang lebih banyak ocehan tanpa substantif lebih mudah untuk terpengaruh isu apapun, mengingat terperangkap pada tempurung pola pikir adalah hak individu, dan tidak sedikit yang memanfaatkan haknya itu dengan maksimal.

Yang saya takutkan dari tua secara pemikiran adalah jika suatu saat kelak saya sudah enggan untuk mengkaji segala hal yang baru, malas bersentuhan dengan dunia luar, terperangkap pada zona nyaman pemikiran. Kalau kata Steven Anh "amit-amit dah Udiiin", siapa Steven Anh? Enggak tau, asal aja saya nulisnya.

Lalu saya teringat dengan diskusi dengan seorang teman dan kakak yang baik, namanya Shinta Saloewa atau yang biasa saya panggil assalamualaikum kalau memulai chat dengan beliau. Kami pernah berdiskusi tentang orang-orang yang dulu terlihat memiliki ide-ide cemerlang tapi seiring berjalannya waktu orang-orang tersebut merasa terlalu nyaman dengan "status" dirinya sehingga menutup dirinya dari hal-hal baru lalu enggan berdamai dengan dinamisnya perubahan, orang-orang seperti inilah yang akan selalu merasa apa yang baginya benar harus benar bagi orang lain, sehingga cenderung tidak rasional dalam menanggapi segala perbedaan.
Sederhananya, kuantitas umur tidak selalu sejalan dengan kualitas mindset.

Saya merasa beruntung, saat ini bergabung di komunitas Pecandu Buku (PB), di komunitas ini saya bertemu dengan anak muda lain dari seantero Indonesia yang memiliki pengetahuan spesial di bidang yang mereka sukai, kami sudah terbiasa berbagi pengetahuan dan informasi apapun, menyenangkan rasanya berkenalan dengan anak-anak muda Indonesia yang tidak apatis terhadap perubahan zaman dan terbuka terhadap hal-hal baru, diskusi-diskusi yang sering ada -dan sering juga saya lewatkan karena keterbatasan waktu- biasanya tentang ideologi, sains, sejarah, teologi, bahkan tips memasak, dan diskusi berlangsung menyenangkan kok seperti biasa kita di tongkrongan ngobrol ngalor ngidul.
Oh iya, kalau kamu mau dan tertarik dengan komunitas yahud ini, coba cek instagram @PecanduBuku atau bisa tanya-tanya ke saya langsung lewat komen yang ada di bawah.

Setidaknya melalui berkenalan dengan teman-teman Pecandu Buku saya sangat optimis bisa berharap satu hal penting:

Saya tidak mau tua secara pemikiran sampai kapanpun.

Amin.





Share:

2 komentar:

  1. bangcyadddddd T____________T nama panjang ekeu jadi sholehah banget, padahal maunya dipanggil Sela aja.... selamualaikom ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. waaah yang dighibahin dateeng,
      kaya lagu dangdut aja Sela,
      Selaaaa mat malam duhai kekasiih

      Hapus