Wisuda AnggaDireja

Heyhow teman-teman! Ada kabar baru nih!

Saya kemaren wisuda.




















Udah? Gitu aja?

Ya enggaklaah, kalau cuma gitu jelas bukan ayubanggadirejadotcom tapi tumblr saya yang ada di robocopmenyamar.tumblr.com, eh atau harusnya saya kasih "Astaga!", "Heboh!", "Terbongkar Sudah!" aja kali ya biar kaya portal berita tapi blog yang tinggal dikasih bumbu agama banyak deh yang share, uhuy!

Kemaren saya wisuda, dan ini pengalaman saya merasakan suasana berbeda dengan di Indonesia.

Wih, apa saja itu? Langsung saya ceritain ya...

Percaya enggak, meskipun saya sudah wisuda tapi saya belum sidang? Bahkan belum selesai tesisnya? Harus percaya laaah.

Lho? Kenapa?

Jadi, di Taiwan itu unik, wisuda di sini bukan dihitung dari sudah atau belumnya kita menyelesaikan skripsi/tesis, tapi berdasarkan angkatan. Begini contohnya, saya masuk kuliah di sini angkatan 2014, nah normalnya mahasiswa S2 menyelesaikan studi selama 2 tahun, jadi saya beserta teman-teman angkatan lain harus wisuda tahun 2016 seperti sekarang.
Sama halnya jika saya mahasiswa S1 yang masuk pada tahun 2014, maka normalnya saya akan diwisuda pada tahun 2018 alias 4 tahun setelahnya.

Di Taiwan, wisuda hanyalah seremonial saja, bukan berarti saya sudah menyelesaikan studi, saya bahkan punya teman yang sudah wisuda sejak 2 tahun lalu tapi sampai sekarang belum juga lulus karena keasyikan kerja dan tesisnya belum diselesaikan. Menarik ya?

Meskipun hanya seremonial, tapi prosesi wisuda di sini tetap dianggap hal yang sakral seperti di Indonesia, jelas keluarga para mahasiswa datang untuk menyaksikan langsung prosesi ini, tapi yang pasti tidak ada photo booth ataupun paparazi dadakan yang akan jual foto kita seharga 15ribu rupiah yang kalau sudah sepi bisa kita tawar jadi hanya 5 ribu atau 10rb untuk 3 lembarnya.

Hal yang saya kagumi dari prosesi wisuda di sini adalah efisiensi dari segala hal terutama ruangan,waktu, dan pakaian.

Wisuda di kampus saya dilakukan di gedung serbaguna, ukuran gedungnya tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil, hmm kira-kira 4x lapangan futsal, tapi kalau gedung itu digunakan untuk seluruh fakultas dan wisudawan dari bachelor, master, dan PhD jelas tidak akan mencukupi.

Gedung serbaguna sebagai tempat wisuda


Lalu bagaimana cara mensiasatinya?

Prosesi wisuda dibagi menjadi 3 bagian, dalam hari yang sama ada yang jadwal pagi, siang, dan sore.  Selain memudahkan pengaturan jadwal juga memperlancar arus kendaraan pengunjung di dalam kampus sehingga tumpukan di lapangan parkir bisa dihindari dan kendaraan yang parkir bisa digantikan oleh kendaraan pengunjung yang akan datang di sesi selanjutnya.
Simpel, bukan?

Nah, fakultas management tempat saya belajar dapat jadwal siang, bersama 4 orang teman yang lain yang berasal dari Indonesia wisuda di sesi ini.

Saya dan 4 orang teman Indonesia lainnya


Dimulai tepat pukul 10.30, wisuda sesi ke dua dimulai, saya agak kaget karena prosesi wisuda dimulai oleh seorang berpakaian militer yang maju ke tengah tempat wisuda, semacam memberi laporan ke pemimpin upacara Senin gitu.
Nah setelah itu dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Taiwan, saya tidak hapal lagunya jadi hanya diam saja, kalau di Indonesia menyanyikan lagu kebangsaan sambil hormat ke bendera maka di Taiwan mereka menyanyikan sambil menghadap bendera nasional yang di sampingnya terpampang foto Chiang Kai Sek, founding father Taiwan, setelah menyanyikan lagu mereka menundukkan badan untuk memberi penghormatan kepada bapak Soekarno nya Taiwan.

Sebelum wisuda dimulai foto dulu, biar khidmat


Seperti lazimnya prosesi seremonial, wisuda di sini juga diisi oleh sambutan dari pejabat-pejabat kampus tapi yang saya kenal hanyalah President Yang (rektor), meskipun pejabat penting tapi sambutan tidak berlangsung lama bahkan President sempat menyanyikan sebuah lagu yang saya tebak hymne kampus saya, mungkin bertujuan agar acara tidak berlangsung membosankan, salut!

President Yang sedang memberi sambutan

Namanya juga Taiwan, efisiensi adalah hal utama di sini, termasuk soal waktu, kalau di Indonesia prosesi pemindahan tali toga dilakukan satu persatu dengan memanggil nama seluruh wisudawan ke atas panggung, maka di Taiwan justru sebaliknya, para Chairman (kalau di Indonesia setara dengan dekan) tiap department yang mendatangi ke bangku wisudawan untuk proses simbolik pemindahan tali toga dan memberi selamat, bayangkan ada berapa banyak waktu yang bisa dihemat ketimbang para wisudawan dipanggil satu persatu ke depan.

Ini Chairman department saya yang datang ke bangku wisudawan


Hal yang paling saya sukai dari wisuda ini adalah acara yang harusnya formal bisa berlangsung secara santai dan fun terutama dari penampilan. Ketika S1 dulu semacam ada keharusan bagi setiap wisudawan untuk mengenakan pakaian formal, sedangkan di Taiwan? Memang semua mengenakan pakaian wisuda lengkap dengan toga, tapi pakaian lainnya mereka sangat santai, ada yang mengenakan celana pendek, kaos, dan sepatu olahraga saat wisuda, sama sekali tidak terkesan kaku! Justru saya yang merasa kaku karena saat itu saya mengenakan kemeja, celana chino, dan sepatu kulit, hahaha

Tongsis mah tetaap

Bersama chairman department saya

Ini profesor paling asoy, setiap kelasnya pasti beliau bawa teh atau kopi buat diminum rame-rame

Ini profesor statistik, aduh saya sering ketiduran di kelasnya



Apa tujuan saya wisuda?
Orangtua, hanya itu.

Cuma itu? Serius?

Begini Mamayukero, ada orang yang beranggapan kalau belajar harus ditempuh melalui jalur formal (sekolah), tapi ada juga yang menganggap belajar bisa di manapun termasuk di kehidupan sehari-hari. Saya berada di tengah-tengah dua anggapan ini. Wisuda bagi saya bukanlah simbol dan tolak ukur bagi kehidupan, saya wisuda karena ibu saya bangga melihat saya mengenakan toga, dan saya ingin membuat ibu saya senang, hanya itu.

Bagi saya, belajar di sekolah ataupun di luar sekolah itu ibarat menerangi menyalakan lilin, ada yang pakai korek api batangan ada juga yang pakai zippo (eh apaan sih istilahnya?), tidak ada yang salah dari dua hal ini karena sama-sama untuk menerangi tempat gelap, yang harus dipertanyakan adalah jika kita tidak melakukan apapun untuk menerangi tempat itu.

Beberapa orang ada yang sangat membenci sekolah karena justru dianggap memasung kemampuan diri, tadinya saya juga termasuk orang yang setuju dengan hal ini, karena saya pernah beranggapan "ngapain sekolah tinggi, toh banyak orang yang kerjaannya enggak nyambung sama jurusan kuliahnya"

Sekilas memang anggapan ini benar, tapi hati-hati, ini malah bisa menjadi penghalang bagi diri kita sendiri untuk mengembangkan diri. Kita justru dapat terpaku pada satu hal, enggan mencoba hal-hal baru karena dianggap bukan keahlian kita, sederhananya masa seorang insinyur mesin ngurus masak kue?

Lebih lanjut, inti pendidikan itu bukan sepenuhnya menjadikan orang menjadi bisa, tapi tentang perubahan pola pikir.

Jujur, saya tipikal orang yang tidak suka duduk berjam-jam mendengarkan dosen, mencatat, lalu membaca jurnal-jurnal, tapi saya yakin ada hal positif yang tidak sengaja saya dapatkan dari proses ini.
Semenjak S1 saya memang sangat menginginkan dapat melanjutkan studi di luar Indonesia, keinginan saya bukanlah untuk bertambah pintar, kemampuan akademis saya terlalu lemah, tapi yang saya inginkan dari studi di luar Indonesia adalah untuk memperkaya sudut pandang saya terhadap dunia, saya ingin belajar untuk lebih toleran, menghargai perbedaan, dan menghormati kemajemukan.

Memang, pada satu titik saya pernah takabur atas kemampuan yang saya miliki, sifat itu muncul karena saya masih terlalu lugu, semakin saya mencari tahu maka semakin tahu saya bahwa yang saya ketahui tidak ada apa-apanya, oh rasanya malu sekali mengingat kondisi saya saat itu yang penuh dengan rasa bangga terhadap diri sendiri.
Dengan semua kerendahan hati saya ingin meminta maaf kepada siapapun yang pernah kesal ke sifat saya pada saat itu.

Akhir kata, pendidikan itu bukanlah persoalan gelar di belakang nama, pendidikan adalah bagaimana mengubah pola pikir dan perspektif seseorang terhadap perbedaan, karena makin melangit ilmu yang dimiliki seseorang harus makin membumi dirinya terhadap lingkungan. Bukan sebaliknya.

Saya jadi ingat salah seorang teman yang sedang menjalani PhD di sini namun ketika pulang dia justru berencana tidak ingin berkarir dari ilmu yang dipelajarinya, ketika saya tanya kenapa karena sayang sekali dia cuma bilang : "Seseorang bukan diingat dari S1, S2, atau S3 nya, tapi dari dia sebagai dirinya".


Share:

4 komentar:

  1. Wah seru ya wisuda di sana, enggak harus dandan dari subuh. Hihi. Dan baca posting ini jadi ingin ikut nulis tentang wisuda juga. Tulis jangan ya? Haha. Sukses, Mang!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Temen-temenku cewek yang di foto itu mereka memang dandan tapi nyantai banget wisuda pake sepatu sport lebih simpel ketimbang hak tinggi,
      Bikin dongss, blogmu udah lama bangets ngga diapdet~

      Hapus
  2. Tunggu laopran wisuda versi Huwei :D

    BalasHapus
  3. Tunggu laopran wisuda versi Huwei :D

    BalasHapus