Nenek

Saya senang bercerita tentang apapun, dan kali ini saya ingin bercerita tentang nenek saya, tepatnya nenek dari pihak bapak.

Bapak adalah anak kedua dari -kalau tidak salah- lima bersaudara, kenapa "kalau tidak salah" ?, karena jujur saya kurang terlalu dekat dengan nenek dari pihak bapak, sejak kecil saya lebih dekat dengan nenek dari pihak ibu.

Kenangan masa kecil saya yang paling kuat dengan nenek adalah saat saya masih balita, dulu rumah beliau berada di tengah kota Garut, pekerjaan kakek sebagai pegawai pabrik es mengharuskan mereka tinggal dekat dengan pabrik, saya masih ingat dulu saya senang sekali berkunjung ke Garut karena berarti saya bisa makan es krim sepuasnya. Itu semua sebelum kakek meninggal di tahun 1996 dan kemudian nenek saya harus pindah rumah ke sebuah desa di kaki gunung Bayongbong, Garut.


Rumah beliau di Bayongbong, Garut. Beliau yang sedang memetik tanaman


Meskipun tidak terlalu dekat, saya selalu merasa sebagai cucu kesayangan beliau, mungkin karena saya adalah cucu pertama beliau. Bapak pernah cerita, pada usia saya yang sekian bulan saya diboyong bapak dari Kalimantan ke pulau Jawa dengan menaiki kapal yang berlabuh di Cirebon, jauh sebelum kapal berlabuh sampai kami sekeluarga menjejakkan kaki ternyata nenek sudah siap menunggu kami -tepatnya saya- dengan penuh kegembiraan (di rumah ada foto saat beliau menggendong saya yang berusia beberapa bulan di pelabuhan).

Saya usia beberapa bulan di pangkuan beliau
Saya baru bisa berhubungan lebih dekat dengan beliau semenjak saya tinggal di Bandung, meskipun sudah bukan lagi anak-anak beliau tetap memperlakukan saya seperti cucu kecil kesayangannya, setiap kali berkunjung ke rumahnya saya selalu disuguhi beragam makanan enak, entah yang dimasakkan khusus untuk saya atau dibelinya dari warung langganannya, saat berpamitan untuk kembali ke Bandung pun saya masih dikasih bekal entah nasi bungkus, kue, atau buah-buahan, pada awalnya saya sering menolak karena toh kalau lapar saya bisa saja membeli makanan selama di perjalanan, tapi bapak bilang kalau makanan itu bukan persoalan gampang atau tidaknya didapatkan tapi itu bentuk perhatian seorang nenek kepada cucunya yang harus saya hargai, lagi pula apa susahnya menerima, dari situ saya sadar kita sebagai generasi muda sering tidak peka dengan kearifan yang dimiliki orang-orang sebelum kita.

Saya belajar banyak dari beliau, saya belajar tentang kesederhanaan, tentang pendidikan, tentang hubungan sosial, tentang kerja keras, dan tentang hidup.
Beliau adalah pekerja keras, meskipun tidak pernah mengecap bangku sekolah, beliau adalah orang yang sangat memperhatikan pendidikan anak-anaknya. Saya ingat bapak pernah cerita kalau semasa kecilnya dulu hidup mereka sangat memprihatinkan, tidak jarang bapak harus berbagi satu telur untuk dimakan bersama adik-adiknya, atau daging yang hanya bisa dimakan saat hari raya. Meskipun hidup di tengah kesulitan, nenek saya bekerja keras agar anak-anaknya dapat sekolah tinggi, salah satunya adalah dengan berjualan lotek di pinggir jalan kota Garut.

Saat beliau (kerudung kuning) menghadiri wisuda bapak (yang pakai kacamata)
Hasilnya? Semua anak-anak beliau bisa mengecap sekolah tinggi seperti yang diinginkan, walaupun anak-anaknya saat ini sudah menjadi orang sukses tapi nenek saya tetaplah berpegang prinsip pada kesederhanaan, beliau sering menolak jika anak-anaknya menawarkan untuk merenovasi rumah beliau, dengan alasan : jaga perasaan tetangga, ini di kampung bukan di kota.

Ketika saya tinggal di Bandung sebetulnya bapak sering meminta saya untuk menengok beliau barang satu-dua hari, tidak perlu membawakan beliau apapun yang penting dikunjungi saja beliau sudah sangat senang, tapi saya sering menolaknya dengan alasan sibuk segala macam hal, mungkin dalam satu tahun frekuensi saya mengunjungi beliau masih bisa dihitung jari, saya hanya mengunjungi beliau jika libur panjang atau saat kebetulan bapak sedang ke Bandung.

Terakhir saya mengunjungi beliau adalah di pertengahan 2014 untuk pamit beberapa minggu sebelum saya pergi ke Taiwan. Sebetulnya di tahun 2015 kemarin saya pulang ke Indonesia sekitar satu bulan lebih, tapi di waktu yang sekian banyak itu bukannya mengunjungi beliau untuk beberapa hari saya malah bepergian ke sana sini bersenang-senang dengan teman-teman.

Dan ternyata 2 tahun lalu adalah kesempatan terakhir saya bertemu dengan beliau, satu jam lalu bapak mendadak menghubungi saya, sosok sederhana ini baru saja berpulang ke tempatNya setelah sekian lama melawan kanker yang menyerang paru-parunya.

Postingan ini saya tulis dalam keadaan runtuh, kalut, dan penuh sesal. Saya mengutuki diri sendiri yang selalu banyak alasan ketika diminta menyenangkan hati beliau yang bahagia kalau saya kunjungi, beliau yang setiap saya datang ke rumahnya selalu mengambilkan selimut favorit saya di lantai atas walaupun sudah saya bilang saya bisa ambil sendiri tapi tetap ngotot mengambilkan dengan merangkak karena kakinya yang sudah rapuh, beliau yang dalam keadaan sangat lemah sekalipun di rumah sakit saat video call dengan saya masih sempat menanyakan saya sudah makan atau belum.

Saya tidak tahu saat ini harus berbuat apa dari kejauhan selain mendoakan segala hal terbaik untuk beliau.

Al Fatihah...

Kaohsiung, Taiwan. 16 Juli 2016, 4.07 pagi.

Nenek bersama saya (sebelah kanan) dan adik-adik, 1997.

Share:

1 komentar:

  1. Turut beduka cita, Mang. Semoga nenek khusnul khotimah, Tuhan lebih menyayangi nenek. Nenek pasti bangga punya cucu seperti Mang Ayub. Tetap jadi cucu kebanggaan nenek, Mang :)

    BalasHapus