Proses (Bermimpilah bagian 7)

Wah ternyata sudah lama saya tidak melanjutkan serial Bermimpilah, ya?

Bagi yang belum tahu, serial ini adalah cerita yang datangnya dari pengalaman pribadi saya yang sedari dulu selalu tergila-gila dengan mimpi, karena mimpi itu saya mengalami beragam pengalaman yang sampai sekarang saya sendiri berpikir "kok bisa ya kaya gitu?".

Oh iya, supaya lebih mudah dipahami, saya sarankan untuk membaca dari bagian awal, tinggal klik aja ya link di bawah ini :

Bagian 1 Bermimpilah

Bagian 2 Wisuda

Bagian 3 Berlarilah Selagi Kamu Bisa!

Bagian 4 Study, Study, and Study!

Bagian 5 Depok

Bagian 6 Nadia

Nah, sebelum saya melanjutkan ke bagian 7, sebelumnya saya ucapkan terima kasih yang hatur nuhun sekaligus thank you kepada teman-teman yang memberikan respon positif terhadap serial ini terutama bagaimana kelanjutan kisah Nadia, dan lanjutan kisah ini saya persembahkan khusus untuk kalian.

Selamat membaca!


***


Semenjak menjadi sepasang kekasih, saya dan Nadia tentunya lebih intens dalam berkomunikasi, jika yang sebelumnya hanya SMS, eits tunggu... SMS? Era chatting begini masih SMS?

Iya, saat itu saya dan Nadia terhubung melalui SMS, tapi inilah yang saya suka dari Nadia, saat teman-teman kami sibuk dengan media sosial sebagai "social climber", Nadia justru cuek dengan itu, dia tidak mempermasalahkan ketika smartphonenya rusak sehingga mengharuskan dia menggunakan handphone yang hanya bisa SMS dan telepon, kalaupun mau dia sebetulnya bisa saja membeli satu smartphone canggih yang dilengkapi dengan kamera, GPS, music player, AC dan kamar mandi dalam.

Tapi Nadia tetaplah Nadia yang masa bodoh dengan media sosial, dia lebih nyaman jika hari-harinya dilalui dengan interaksi bersama teman-teman, sesekali mengecek email, dan SMS yang "khas" dengan saya, oh iya, barusan iseng cek handphone ternyata masih ada SMS khas itu :





Setidaknya saat itu ada dua hal yang membuat saya bisa tersenyum : menonton video Komeng dan membaca SMS dari Nadia.

***

Masa pelatihan pun usai, kami para peserta pelatihan diperbolehkan untuk kembali ke daerah asal masing-masing, beberapa teman yang berasal dari luar pulau Jawa memilih untuk menetap sementara di Depok untuk mengurus segala macam dokumen, sementara saya dan Nadia jelas memutuskan kembali ke Bandung, sesegera mungkin.

Langkah yang harus kami lalui selanjutnya adalah mendaftarkan diri untuk proses wawancara, dan di proses inilah tantangan baru kami hadapi.

Berhubung segala berkas saya duluan selesai, maka saya mendapat panggilan wawancara untuk gelombang pertama, tempat wawancara saat itu di salah satu hotel di Jakarta Pusat, dengan menggunakan travel keberangkatan dini hari dari Bandung saya menuju hotel tersebut, ada rasa gugup dan ketakutan, karena wawancara ini adalah puncak dari proses 6 bulan pelatihan yang sudah saya dan teman-teman lain lalui, selama di perjalanan menuju Jakarta saya sama sekali tidak bisa tidur karena memikirkan akan bertemu professor lintas ilmu yang akan mewawancarai kami.

Jakarta ternyata terlalu panas untuk manusia yang terbiasa berpakaian ala Bandung, bagi saya yang saat itu dibekali jaket milik Nadia merasa puncak panasnya Jakarta adalah di menit-menit sebelum nama saya dipanggil ke ruang wawancara, semua rasa was-was, gugup, dan takut menjadi satu!

saya dan jaket bekal

Akhirnya proses wawancara yang memakan waktu selama belasan menit itupun selesai, hasil wawancara akan diumumkan sekitar satu minggu setelahnya, saya yang saat itu jelas tidak memiliki kepentingan apa-apa lagi langsung menuju pool travel terdekat untuk kembali ke Bandung.

***

Dokumen-dokumen Nadia ternyata sudah selesai semua beberapa hari setelah proses wawancara saya, ini berarti dia bisa mendaftarkan dirinya untuk mengikuti wawancara gelombang 2 yang akan diselenggarakan beberapa minggu kemudian.

Sembari menunggu hasil wawancara saya dan panggilan wawancara untuk Nadia, kuantitas dan kualitas hubungan kami pun bertambah, perjalanan satu jam untuk menjemput dan mengantarnya pulang dengan dua lapis jaket tebal dan sarung tangan dari kost saya di pusat kota Bandung ke rumahnya di dataran tinggi Bandung Barat menjadi rutinitas saya saat itu.

Setidaknya jejeran pohon lebat dan kabut yang muncul adalah hal yang sering dijadikan Nadia sebagai bahan untuk menakut-nakuti saya ketika pulang malam, oh tapi maaf Nadia, usahamu itu percuma, karena pepohonan dan kabut tidak pernah saya hiraukan, saya anggap itu hanya hiasan agar saya ingat kalau saya lebih sering tersenyum sendiri karena terlampau senang setiap pamit pulang dan kamu mengucapkan kalimat itu : "hati-hati di jalan, aku menyayangimu".

saya sempat kasih kado gede, isinya satu renteng sachet Marimas beragam rasa (tau kan Marimas?)



***

"Bro! Pengumuman udah keluar tuh!"

Pagi-pagi sekali Mufid mengabari tentang hasil wawancara, sayangnya pengumuman ini tidak dikirim melalui email ke setiap peserta tetapi lewat website resmi.
Daerah kost saya yang agak terpencil membuat modem tidak bisa berfungsi maksimal, jangankan membuka website, untuk membuka google saja saya harus menambah level kesabaran, ya namanya juga manusia biasa sampailah saya di puncak kesabaran, akhirnya saya membanting modem tersebut di kasur (bukan di lantai, karena takut rusak) lalu pergi mencari tempat yang menyediakan internet gratis hanya untuk mengunduh file pengumuman itu.

Setelah berhasil mendapatkan internet dan mengunduh file saya kembali ke kamar kost untuk membaca hasil pengumuman, file yang berisi beberapa halaman itu saya baca secara teliti untuk mencari nama saya, satu persatu kolom ditelusuri hingga akhirnya saya menemukan kolom yang dicari, namun nama saya justru masuk ke kolom peserta yang tidak lolos wawancara.

Iya, saya gagal.


***

Nadia yang saat itu saya kabari kalau saya tidak lolos wawancara hanya tertawa mendengar kabar itu.

"Masa sih kamu gitu aja down?"
"Ya iyalah kan ini hasil wawancara, bukan hasil pertandingan tinju"
"Kan di situ ditulis masih bisa mengikuti wawancara gelombang selanjutnya, ya ikut aja lagi"
"Tapi aku tetep pengen di jurusan itu"
"Kok banyak tapi?"
"..."

Jadi meskipun saya gagal di gelombang pertama wawancara, penyelenggara masih berbaik hati untuk memberi kesempatan lainnya, kami dipersilakan untuk mengikuti proses di gelombang kedua tentunya dengan syarat yang lebih ketat, berkaca pada pengalaman sebelumnya saya mengevaluasi apa saja yang menjadi kekurangan saya, mungkin dari kemampuan berbicara bahasa Inggris saya atau kelengkapan berkas-berkas.

Hari wawancara gelombang dua pun tiba, saya yang datang bersama Nadia yang juga akan diwawancara hanya bisa berpikir positif, karena gelombang dua ini adalah kesempatan terakhir yang saya miliki, kalau saya gagal lagi berarti hanguslah perjuangan saya selama beberapa bulan terakhir. Hanya mindset positif modal saya saat itu.

Ternyata modal saya itu cukup efektif, entah bagaimana caranya saya dapat pewawancara yang sangat humble, saya lupa nama beliau, yang saya ingat beliau adalah salah satu professor di perguruan tinggi di Bogor, alih-alih "interogasi" saya justru lebih banyak mendapatkan masukan informasi kultur perkuliahan di luar negeri, perasaan gugup saya langsung hilang seketika!

Bukan suasana wawancara, tapi kurang lebih kaya gini suasana saat-saat itu

Berbeda dengan gelombang pertama, pengumuman gelombang kedua ternyata lebih cepat, tidak sampai satu minggu kami sudah diberi kabar tentang hasilnya.

"A, kita lolos!" ucap Nadia yang saat itu lebih dahulu membaca pengumuman
"Eh serius? Waah syukurlaah!"
"Terus ngapain abis ini ngapain ya?"
"Eh, iya ya? Ngapain ya?"



***


Visa Taiwan!

Setelah mendapat informasi dari grup whatsapp, ternyata langkah selanjutnya yang harus dilakukan adalah mengajukan visa menuju Taiwan, tadinya kami kira pergi ke Taiwan bisa dengan modal tiket dan dokumen seperti piagam lomba karaoke atau sertifikat tanah... liat.

Untuk mengajukan visa khusus pelajar ternyata cukup rumit, kami harus mempersiapkan dokumen seperti medical check up, LoA, ijazah+transkrip nilai yang sudah dilegalisir notaris, lalu apa lagi ya saya lupa, proses inilah yang memakan waktu cukup lama karena satu-satunya tempat untuk membuat visa Taiwan hanya ada di Jakarta, ah coba di pasar Ciroyom Bandung bisa bikin visa tentu tidak perlu repot bolak-balik.

Di puncak segala kebingungan prosedur ini saya sempat berucap ke Nadia:

"Tahu enggak, kenapa kita harus barengan ketemu hal-hal ribet kaya gini?"
"Biar apa gitu?"
"Biar ada cerita"
"Cerita apaan?"
"Iya, cerita petualangan di Taiwan yang kita mulai bareng, biar endingnya seru"

Suasana loket tempat pengajuan visa Taiwan


***

10 September 2014

4 hari yang lalu Nadia sudah berangkat terlebih dahulu ke Taiwan, peraturan dari kampus tujuan mengharuskan dia untuk berangkat lebih cepat bersama teman-temannya dengan kampus yang sama.

Dan di sinilah saya sekarang, penerbangan jam 6.30 pagi membuat saya harus standby di bandara Soekarno Hatta lebih awal, mobil travel yang mengantar dari Bandung ternyata melaju sangat kencang di jalan tol, pukul 3 dini hari saya sudah sampai di terminal internasional. Ada rasa sedih dan iri ketika melihat teman-teman lain diantar oleh keluarganya sampai ke bandara, keluarga saya hanya mengantar sampai ke bandara Syamsudin Noor Banjarmasin ketika saya mudik singkat 2 hari yang lalu untuk berpamitan ke keluarga besar di Banjarmasin.

Sepertinya Nadia masih tidur, pesan saya 5 jam lalu belum dibalasnya, terakhir dia bilang sangat kecapekan karena seharian mengurus pendaftaran mahasiswa baru, ah biarlah, yang penting saya sudah kasih kabar kalau saya sudah sampai di bandara.

Satu demi satu tahap saya lewati, dari counter check in, x-ray, sampai imigrasi, semua tidak ada halangan yang berarti, saya beserta rombongan sesama calon mahasiswa dengan tujuan Taiwan saling bercanda, beberapa ada yang sudah saya kenal, sedangkan yang lain baru bertemu saat itu, kelak orang-orang inilah yang mengisi warna warni kehidupan saya selama di Taiwan.

Pemandangan seperti inilah yang bakal kamu temui kalau ke bandara jam 3 pagi

Bersama teman-teman seperjuangan sebelum memasuki counter check-in

20 menit sebelum boarding

Saya tipikal orang yang gampang-gampang susah untuk tidur, selama di perjalanan menuju bandara hanya tidur sebentar dan lebih banyak mengobrol dengan supir travel, posisi tempat duduk tepat di samping supir memudahkan kami untuk berbicara tanpa harus mengganggu penumpang lain yang sedang tertidur, bagi saya obrolan-obrolan dengan orang yang baru dikenal adalah proses pembelajaran karena selalu ada ilmu baru yang bisa kita dapatkan dari sini.

Berhubung sedari Tol Cipularang sampai ke bandara Soekarno Hatta hanya saya isi dengan obrolan dengan supir, maka rasa kantuk menjadi sangat tidak tertahankan ketika kami memasuki ruang tunggu, saya sempat tertidur sebentar di kursi, ketika bangun saya lihat beberapa teman sedang sibuk dengan handphonenya masing-masing, sementara saya? Eh sebentar, dari check in sampai masuk ruang tunggu saya belum mengecek handphone sama sekali, langsung saya rogoh tas kecil tempat menaruh paspor dan barang penting lainnya, dan muncullah pesan-pesan ini :

Aa, maaf aku ketiduran tadi malem

Km udah check in?

Lowbat ya? Yaudh ati2 ya di perjalanan, jgn lupa berdoa, kasih kabar klo lg transit 

Aduh, dasar handphone butut, baru mau balas pesan malah hang, belum lagi petugas melalui pengeras suara memberitahu para penumpang tujuan Hongkong untuk memasuki pesawat, walaah saya tambah kelabakan karena proses restart belum juga selesai, saya memasuki lorong menuju masuk pesawat dengan gelisah karena handphone masih belum waras, dan akhirnya handphone kembali normal ketika sabuk pengaman dikencangkan, langsung saya SMS ke ibu untuk mengabarkan kalau saya akan berangkat, kemudian saya buka aplikasi chatting dan mengetik nama Nadia sebagai penerima pesan ini :

Halo kamu yang sedang baca, ada dua info yang kamu harus tau, pertama aku sudah di pesawat yang beberapa menit lagi terbang dan aku engga tau siapa kaptennya, tapi boleh engga biar akrab kasih nama kaptennya om Bambang? Kedua, si rindu akan segera terobati secepatnya.

Setelah memastikan pesan itu terkirim, handphone saya matikan, perlahan pesawat bergerak ke arah landasan pacu, entah jam berapa saat itu tetapi pikiran saya sudah melayang jauh sebelum roda pesawat melaju dengan kecepatan lebih dari 200 knot membawa beban berton-ton meninggalkan daratan.

Taiwan, I'm coming...
Share:

0 komentar:

Posting Komentar