Dia Adalah...

Dia adalah yang pertama mengajari saya mengenal aksara, di usia yang baru 3 tahun perlahan saya dikenalkan dengan huruf dari A sampai Z, di rumah kontrakan kecil di jalan Cipedes Bandung saya dikasih papan tulis untuk belajar mengeja, mungkin nama belakang Direja yang saya miliki bisa jadi adalah harapan agar saya selalu bisa mengeja dan tetap membaca seumur hidup.

Dia adalah yang tangannya saya pegang erat ketika hari pertama saya masuk di sekolah TK, hari itu saya begitu ketakutan bertemu orang-orang baru sehingga sampai masuk kelaspun tangannya yang mengulur dari balik jendela kelas tetap saya pegang, beberapa hari kemudian akhirnya saya terbiasa masuk kelas tanpa harus memegang tangannya.

Dia adalah yang membelikan saya satu bundel buku komik wayang karya R.A Kosasih di awal-awal kepindahan saya ke Malang, pasar buku yang saat itu berada di Jalan Majapahit adalah tempat wisata favorit saya, saya pernah menangis karena suatu ketika tidak diizinkan untuk membeli buku cerita anak-anak keinginan saya, dan belakangan saya tahu saat itu tidak diizinkan karena dia sedang tidak punya cukup uang untuk menebus buku yang cukup mahal itu.

Dia adalah yang sampai saya dewasa tidak pernah mengizinkan saya memiliki konsol game, saat teman-teman lain bermain Nintendo, Sega, dan Playstation di rumah masing-masing, saya hanya bisa numpang, menurutnya bermain game hanya membuang waktu saja, mungkin karena pemikiran konservatifnya itulah sampai saat ini saya tidak terlalu suka bermain game, hmmm lebih tepatnya cepat bosan ketika main game.

Sebaliknya, dia adalah yang selalu mengiyakan ketika saya meminta untuk dibelikan buku, kalaupun tidak diiyakan saya diminta bersabar (seperti yang terjadi di paragraf atas), dia tidak pernah membatasi atau melarang saya membaca buku jenis apapun, justru dia sering memberikan saya saran untuk membaca buku yang sekiranya cocok dengan rasa ingin tahu saya. Sederhananya, semenjak kecil saya dibiasakan konsumtif untuk buku.

Dia adalah yang selalu membebaskan saya memilih apa yang saya inginkan asal selalu bertanggung jawab. Saat teman-teman SMA saya bingung bahkan stres karena jurusan kuliah yang mereka ambil adalah "paksaan" orang terdekat, saya justru dibebaskan untuk memilih jurusan yang saya suka. Tidak pernah satu kalipun saya dilarang untuk memilih yang saya mau, pesan dia hanya satu : "jangan sampai pilihanmu merugikan orang banyak".

Dia adalah orang yang selalu tepat waktu, bepergian dengannya berarti harus siap dengan segala kegelisahannya jika ada hal yang terlambat 5 menit dari jadwal yang direncanakan, dia yang selalu berprinsip "lebih baik nungguin orang" mengajari saya bagaimana menghormati siapapun lewat waktu.

Dia adalah yang selalu bangga bercerita tentang hobinya menaiki sepeda tua, berkebun, dan beternak ikan di kolam. Memulai pembicaraan dengannya sungguh mudah, mulailah tanyakan tentang kegiatan bersepedanya maka dia akan senang menceritakan tentang spare parts yang baru dia punya, jadwal berkeliling rutin, bibit tanaman yang dia dapatkan dari setiap daerah yang dikunjunginya, atau lele di kolam yang dia urus sendiri.

Dia adalah koki yang baik, pengalaman hidup membuat dia terbiasa untuk memasak segala makanan sendiri, menu kesukaan saya adalah baso tahu buatannya yang dulu sering dia buat ketika akhir pekan, meskipun jago memasak jangan harap bisa mengajak dia untuk makan di restoran cepat saji, dia tidak bisa makan tanpa adanya sayur terhidang, dia lebih memilih untuk makan nasi dengan sayur ketimbang steak. Sesederhana itu selera makannya.

Dia adalah yang bilang ke saya kalau sampai sekarang teman-teman semasa kuliahnya memanggilnya "Bing", kependekan dari Kang Ibing, seorang seniman komedi Sunda, karena ketika dia kuliah dulu berdandan ala Kang Ibing dengan peci hitam yang dipasang miring, celana pendek, dan sarung. Selain itu dia juga penggemar berat Kang Ibing yang mempengaruhi sifatnya untuk mudah bergaul dan bercanda dengan siapapun, yang tanpa disadari sifat itu menurun ke saya.

Dan dialah orang yang saya panggil Papa,

Orang yang berpengaruh besar di kehidupan saya,
Orang yang banyak bercanda dan banyak berpikir,
Orang yang mengajarkan tentang arti kerja keras,
Orang yang selalu ingin menjadi sederhana,
Orang yang mendidik dengan contoh bukan hanya ucapan.

Selamat ulang tahun Pa, selalu sehat dan tetap menjadi inspirasi bagi orang di sekelilingmu.




13 Desember 2016.
Dari anakmu yang selalu bangga menjadikanmu role model dalam hidup.

When he was around 20s

Me, a copy of him



Share: