Jalan Raya dan Absurdnya Ibukota

Setidaknya dalam kehidupan sehari-hari kita sering dihadapkan pada hal-hal yang klise yang kalau dipikirkan sebetulnya kocak juga.

Dan saya mengalami banyak hal itu.

***

Flashback ke sekitar awal 2016, saat itu saya mengalami fase banyak pikiran nu teu paruguh ketika masih studi di Taiwan, selain karena dikejar kewajiban harus menyelesaikan tesis di semester terakhir, saya juga bersikap denial karena dibayangi semacam "keharusan" untuk tinggal di Jakarta.

Pengalaman tinggal lama di Bandung membuat saya enggan meninggalkan zona nyaman di kota Sabuga ini (FYI, Bandung adalah satu-satunya kota di dunia yang punya gedung Sabuga di pinggir jalan Taman Sari, Jepang aja enggak punya). Keinginan saya selepas lulus S1 dulu adalah tetap stay di Bandung bagaimanapun caranya, saya sama sekali enggak pernah kepikiran untuk bekerja di Jakarta, selain panas dan macetnya yang ampun tuan guru, saya masih berpikir Jakarta bukanlah tempat yang cocok bagi saya, dan di mata saya saat itu orang Jakarta terlihat tidak friendly.

Itu belum ditambah dengan zona nyaman tinggal di Taiwan, selama di Taiwan saya terbiasa dihadapkan dengan keteraturan, ketertiban, dan kerapian. Hal-hal seperti ketepatan waktu dalam segala hal, transportasi umum yang nyaman, hingga hal kecil seperti membersihkan sendiri meja di restoran fast food sudah menjadi kebiasaan sehari-hari.

Rasa nyaman tinggal di dua tempat inilah yang membuat saya menjadi takut untuk berpindah tempat lagi, sedangkan seperti yang pernah saya ceritakan di sini, semenjak kecil saya sudah terbiasa berpindah dan beradaptasi dari satu tempat ke tempat yang lain.

Saya tidak tahu apa istilah ilmiahnya sindrom ini, yang pasti saat itu saya mengalami fase enggan mendengar apapun tentang Jakarta, saya bahkan menghindari membaca kata "Jakarta" di media sosial.

Beberapa bulan kemudian tesis saya rampung dan akhirnya saya bisa menyelesaikan studi di Taiwan, selesainya studi berarti selesai juga living permit saya di negeri F4 ini. Menjelang beberapa minggu sebelum kepulangan lagi-lagi saya masih dihantui rasa denial itu, mungkin saya pernah mengigau saking enggannya untuk menerima kenyataan yang harus saya hadapi sepulang ke tanah air: tinggal di Jakarta.

Waktupun berlalu, keharusan untuk tinggal di ibukota membuat saya harus mulai beradaptasi dengan hal-hal baru seperti menyesuaikan diri dengan pola hidup orang urban, bersosialisasi dan membangun jaringan baru, bahkan membiasakan penggunaan "lu-gue" sebagai kata ganti yang dipakai sehari-hari agar lebih mudah bergaul.

Dan sekarang saya bisa sedikit menertawakan diri saya yang dulu teu paruguh, karena kenyataannya saya bisa beradaptasi jauh lebih cepat dari yang saya kira, di Jakarta saya mulai mendapatkan pengalaman baru, jaringan baru, dan tentunya, ehem... Kekasih baru (alasan utama sekarang saya bisa betah di Jakarta).

Walaupun bisa dikatakan sudah bisa tinggal di Jabodetabek (yaa belum bisa dikatakan 100% betah sih), nyatanya masih ada hal-hal yang membuat saya sering dibuat melongo karena heran, biasanya saya temukan ketika berkendara di jalan raya, dan seringkali karena terlalu sering kita malah menganggap ini adalah hal biasa, padahal hal-hal ini terlampau absurd bagi saya.

Apa sajakah hal-hal itu?

  1.  Jus Manis

    Saya adalah penggemar buah yang seringkali malas untuk mengupas sebelum dimakan, mangga, sirsak, dan alpukat adalah komplotan buah yang paling jarang saya beli untuk dikupas sendiri kulitnya, kalaupun saya harus mengupas maka dapat dipastikan bentuknya sangat amburadul.

    Untungnya saat ini saya dianugerahi bakat hidup di tahun yang sudah lewat millenium, saya mendapatkan previllege yang tidak dimiliki oleh manusia purba ratusan ribu tahun yang lalu, yaitu bisa menikmati buah yang berkulit tanpa harus saya kupas sendiri.

    Bagaimana caranya?

    Ya tinggal beli ke tukang jus.

    Etapi, meskipun kemewahan ini bisa saya dapatkan dengan mudah, nyatanya saya masih menemukan rasa kurang sreg ketika membeli jus.

    Saya selalu heran kenapa tukang jus buah selalu menambahkan gula ke setiap porsi jusnya, ini bisa dimaklumi jika buah yang diblender adalah buah yang basic rasanya plain seperti alpukat, nah yang saya kurang mengerti mengapa untuk buah-buah yang rasanya manis seperti pisang, jeruk, pepaya, bahkan semangka masih saja ditambah gula?

    Kan ini aneh, ya. Sudah manis masa ditambah manis, mirip kaya janji politisi (yaelah), dan absurdnya lagi biasanya di cup minumannya sering ada slogan dengan kalimat positif tentang pentingnya menjaga kesehatan.

    Lah itu gulanya apa kareba?

  2.  Palang Perlintasan Kereta ApiBagi saya, tidak ada tontonan yang lebih menegangkan selain melihat copet yang beraksi di depan mata dan percobaan bunuh diri.

    Dan poin yang kedua itu hampir setiap harinya saya alami di Jakarta.

    Sebagai orang yang lebih banyak menggantungkan mobilitasnya dengan menggunakan sepeda motor, dalam sehari entah berapa kali saya melewati palang perlintasan rel kereta api, itu loh, yang biasanya bunyi "tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung" setiap kali ada kereta api yang mau melintas di jalan umum.
    (eh, kira-kira total kata "tung" barusan udah sama persis enggak dengan jumlah "tung" dalam setiap kali palang perlintasan ditutup? Saya belum pernah ngitung sih)

    Karena adanya palang perlintasan inilah saya merasa penumpang kereta api adalah pengguna transportasi umum yang previllege nya paling besar di dunia, lha bayangkan saja, jalan harus ditutup demi dia lewat, bahkan iring-iringan presiden juga harus berhenti kalau palang perlintasan ditutup, kurang sakti apa lagi?

    Entah kenapa, walaupun sudah sangat sering berada berhenti di perlintasan rel kereta api, tapi saya masih deg-degan kalau di depan masih ada orang yang menerobos ketika palang mulai diturunkan, jangankan menerobos, ada yang menyelinap dan berhenti di dekat rel saja saya sudah deg-degan melihatnya.

    Saya tidak mempermasalahkan orang-orang yang kepingin kena kecelakaan atau mau mati dengan cara seperti itu, bebaslah itu hak dia, tapi saya cuma kurang sreg dengan caranya, yaa intinya sih kalau mati jangan nyusahin orang laah, kasihan orang-orang yang harus rapihin mayat dia yang berantakan karena keserempet kereta api gara-gara nyelonong sembarangan.

    Lah kok saya jadi emosi sendiri.


  3. Polisi TidurTerkadang saya masih suka iri dengan manusia purba untuk beberapa hal, seperti keistimewaan mereka untuk mendapat udara jauh lebih segar (murni oksigen, enggak ada asap knalpot Damri), lalu kemewahan mereka untuk bisa CFD (Car Free Day) setiap hari, dan yang paling utama adalah... Mereka bebas pergi kemanapun tanpa kena polisi tidur.

    Menurut ensiklopedia yang dirilis oleh Haji Nicolas Copernicus pada tahun 1997, polisi tidur, atau yang dalam bahasa ilmiahnya sleeping beauty, adalah suatu gundukan yang sering tau-tau nongol di tengah jalan ketika kita mengendarai sepeda motor dengan kecepatan di atas 7.5 km/jam, tingginya pun beragam, berkisar antara 7 sampai 15 centimeter atau bahkan lebih, biasanya dibuat dari material kayu, semen, bata, tapi belum pernah saya temui yang dibuat dari kedelai hitam pilihan yang bernama Malika. Sama halnya seperti Bitcoin, pembuat polisi tidur biasanya bersifat anonim atau tidak diketahui identitasnya, tetapi para pembuatnya biasanya distereotipkan dengan bapak-bapak pakai singlet dan sarung yang sore-sore hobi nyiram jalan di depan rumah.

    Mungkin bisa saya katakan kalau polisi tidur adalah hal di jalanan yang paling saya benci nomer 162, tolong jangan tanya nomer 1-161 apa, karena akan makan banyak waktu. Saya benci dengan polisi tidur karena sifatnya yang sering tau-tau nongol tanpa ada pertanda, padahal nabi tidak pernah mencontohkan sifat tercela seperti itu.
    Polisi tidur jelas merupakan masalah bagi saya dan mereka yang mempunyai kendaraan dengan rangka rendah, mungkin hal ini bukan masalah bagi mereka yang menggunakan tank militer atau excavator untuk menunjang kebutuhan mobilitas sehari-harinya (eh tapi pernah ada yang liat orang ke kantor naik tank, enggak?)

    Karena masalah inilah, saya jadi kepikiran wajar kalau Pak Presiden sekarang sangat fokus untuk membangun jalan di daerah sampai ke pelosok, lah orang di kota soalnya enggak bisa liat jalan mulus sedikit pasti langsung pengen bangun polisi tidur, tapi giliran jalan berlubang ngamuk dan protesnya ampun-ampunan.

    Bahkan saya juga kepikiran, kayanya kalau tren bikin polisi tidur ini tidak ditekan, bisa jadi beberapa tahun ke depan jalan tol dan landasan pacu bandara dipasang polisi tidur juga.

  4. Iring-iringan Jenazah

    Buat yang pernah maen ke Jabodetabek mungkin pernah mengalami fenomena ketika kendaraanmu mendadak disuruh minggir oleh pengendara motor yang enggak pakai helm, bawa bambu/galah pendek berbendera kuning, dan terkadang menyuruhnya sambil membentak.

    Ya, betul. Kamu sedang berhadapan dengan pengiring rombongan jenazah.

    Saya masih belum bisa mengerti, kenapa mereka sebegitu arogannya di jalan raya (yang bahkan macet parah) menyuruh orang minggir sampai membentak, kamu boleh saja denial menganggap bahwa itu hanya dilakukan oleh segelintir orang, tapi bagi saya menyuruh orang minggir untuk mengantar jenazah itu cukup absurd.

    Beberapa minggu yang lalu ketika menjemput kekasih pulang kuliah jam 8 malam saya bertemu dengan rombongan ini, sungguh bagi saya ini merupakan pengalaman yang sangat absurd karena beberapa hal:

    • Pertama, apa urgensinya terburu-buru sampai super ugal-ugalan menyuruh kami minggir saat itu? Padahal itu sudah malam, dan saya rasa tidak ada pemakaman yang dilakukan di malam hari, setidaknya pemakaman dilakukan keesokan pagi harinya
    • Kedua, para pengantar yang bersepeda motor hampir sebagian besar tidak menggunakan helm, bukankah ini cukup aneh? Kenapa "demi" mengantar jenazah, mereka sampai harus "bertaruh" membuka peluang diri mereka sebagai jenazah baru? Ditambah kebetulan saat itu di depan saya ada pengendara sepeda motor lain yaitu ibu-ibu yang sedang membawa anaknya, bagaimana kalau mereka mendadak kaget lalu keserempet rombongan? Bukannya itu malah menambah masalah?
    • Ketiga, bukankah yang harusnya diutamakan itu mobil ambulans sedang membawa pasien yang masih hidup? Mungkin korban kecelakaan atau ibu yang mau melahirkan, lalu kemana saja mereka para pengiring ini? Apakah mereka turut mengiringi? Atau malah cuma mengiringi kalau sudah menjadi jenazah?

    Rasanya malam itu saya marah sekali ke para pengiring yang dengan seenaknya dan arogan menyuruh pengendara lain minggir, untungnya tidak jadi, karena si mbak kekasih selain cantik dia juga terlalu pandai menenangkan hati saya yang saat itu terbawa senewen.


    ***



    Itu baru kejadian-kejadian yang sering saya alami di Jabodetabek, mungkin bisa juga hal ini terjadi di daerah lain, atau bahkan lebih absurd lagi.



    *Teu paruguh =  tidak jelas, tidak nyaman, tidak enak
    ** Mohon diperhatikan, untuk poin tulisan nomer empat itu hanya saya tujukan kepada para pengiring, tanpa mengurangi rasa hormat kepada siapapun keluarga yang sedang berduka.
Share:

Cara Ampuh Terhindar Dari Bayar Parkir

Gara-gara tulisan saya beberapa hari yang lalu tentang tempat parkir, tidak sedikit teman-teman yang beranggapan kalau saya "sensi" dengan tukang parkir, kesimpulan ini didapat karena beberapa teman-teman di media sosial men-tag saya ke postingan yang berbau parkir, seperti artikel tentang biaya parkir di negara lain yang harganya ampun-ampunan, cerita tentang professornya temen yang kaget ternyata di Indonesia harus bayar parkir untuk sekedar ke minimarket, bahkan yang paling baru saya tadi di-tag tentang bayar parkir ditinjau dari sudut pandang agama.

Sebenarnya anggapan itu bisa benar bisa juga tidak, karena toh saya masih sering kok bilang terima kasih ke kang parkir yang he/she deserves for it, dan kang parkir yang layak harus memiliki beragam kriteria, misalnya lahan parkirnya jelas, ada karcis, mau bantu mengeluarkan sepeda motor yang kejepit atau menggeser sepeda motor yang ada di samping, kalau memungkinkan menaruh alas entah itu kardus atau apapun untuk menutupi jok sepeda motor saat terik matahari (optional, not a mandatory), dan yang paling penting adalah ramah.

Bukan tau-tau nongol, modal peluit, trus ngeloyor setelah dikasih uang. Saya tidak akan pernah ikhlas membayar parkir untuk hal ini.

Dan kalau kamu masih beranggapan "ah, cuma uang seribu dua ribu doang dipermasalahin" saya hargai pendapat kamu, tapi saya enggan menanggapinya, karena saya terlalu malas untuk mendebat.

***

Nah, karena saya sempat disangka cuma misuh-misuh tanpa solusi, okelah kali ini saya ingin berbagi solusi ampuh agar terhindar dari bayar parkir setengah hati.

Caranya?

Ya dengan datang ke tempat-tempat yang tidak dijaga parkir laah.

Mungkin kalian yang sedang membaca ini bingung, tempat mana sih (khususnya di Jabodetabek) yang enggak dijaga parkir zaman sekarang? Karena rasanya hampir pergi kemanapun sekarang ditagih bayar parkir, bukan begitu?

Aha! Di sinilah saya punya solusinya, dirangkum dari beragam litelatur klasik dari bermacam keilmuan (ilmu kanuragan, ilmu siluman monyet, dan ilmu cepat kaya)


Berikut tempat-tempat yang bebas bayar parkir (setidaknya di sekitar Jabodetabek):

1. Bengkel dealer sepeda motor

Pasti di pikiran kalian setelah liat poin ini adalah "ya wajarlaah, namanya dealer dan bengkel sepeda motor sudah seharusnya gratis parkir, karena kan buat pelanggannya sendiri"

Helloow kisanak, gimana kabarnya dengan bank? Memangnya kamu enggak pernah ditagih parkir sewaktu ke bank? Atau logis enggak ada kang parkir di minimarket yang ada tulisan PARKIR GRATIS?

Pilihan terhadap bengkel dealer motor sebagai tempat favorit terinspirasi dari kejadian beberapa minggu yang lalu ketika saya harus ke bengkel untuk perawatan rutin, saat itu karena bosan menunggu antrian servis saya iseng keluar dan beli minuman di minimarket seberang bengkel itu, dari minimarket itu saya mendadak seakan mendapat wahyu "wah, baru kali ini inyong bawa sepeda motor di Jabodetabek lalu ke minimarket enggak harus bayar parkir".

Bayangkan pemirsa, sungguh pengalaman yang tidak akan terlupakan ketika kita bisa belanja di minimarket dengan sepeda motor yang berada dengan aman di seberang kita, rasanya ingin berlama-lama di situ menikmati hidup yang telah Tuhan berikan, mukjizat itu benar ada, dan itu berkat parkir gratis di dealer motor!

Buat kalian yang merasa ini lebay, kalian harus tahu kalau di dekat tempat tinggal saya ada tempat pencucian mobil yang ada kang parkirnya,
Paham maksud saya?
Renungkan, tempat pencucian mobil, lalu bayar parkir...

Got it?

Kalau belum, coba dipikirkan lebih dalam.

Biar lebih jelas
2. Rel kereta api

Ini serius, sejauh ini saya belum pernah menemukan kang parkir berada di rel kereta api, okelah kalau mungkin terdengar aneh karena mana mungkin ada orang yang mau parkir di bantalan rel kereta api. Tapi hellooow.... Memangnya kamu pikir normal apa fenomena orang yang nonton konser pake helm tapi naik motor pake peci? Kan sama ajeeh.

Oke enggak harus deh persis di relnya, cukup di pinggir rel aja, dan ini adalah hal-hal yang harus kamu lakukan kalau parkir motor di pinggir rel tanpa harus bayar parkir:

  • Pastikan jarak antara sepeda motor dengan rel cukup mepet tanpa harus kesenggol kereta yang akan lewat, tujuannya agar kamu terbiasa memperhitungkan segalanya, yaaa kayak temen yang udah lama enggak ketemu trus tau-tau ngehubungi buat prospek MLM, temen sendiri dihitung sebagai aset.
     
  • Cari rel kereta yang jauh dari pemukiman penduduk, karena biasanya makin sepi makin jarang ada kang parkir, terowongan kereta api yang panjang bisa dijadikan pilihan untuk hal ini, karena selain gelap juga tidak memungkinkan untuk kang parkir mendadak nongol saking jauhnya.
     
  • Jika tidak memungkinkan, kamu tetap bisa menggunakan rel kereta yang berada di tengah kota. Kamu pasti mikir "Enggak bisa dong! Diusir petugasnya!"
    Hahaha, cobalah sedikit kreatif, Ricardo Batistuta. Logikanya kan kalau kamu diusir petugas berarti kamu ketahuan saat mau parkir sepeda motormu, nah, hal yang bisa dan harus kamu lakukan adalah mendadani sepeda motormu sampai mirip dengan gerbong kereta api, semacam kamuflase gitu, lalu gimana cara sepeda motor mirip gerbong kereta api? Ya saya enggak tahu, kamu pikirin aja sendiri, biar sibuk.

Di rel kereta mah bebas parkir


3. Kolam lele

Kalau kamu beranggapan lele hanya bisa untuk dimakan oooh jelas kamu salah Romario Gonzales. Ibarat fenomena gunung es, kegunaan lele yang bisa dikonsumsi itu hanyalah permukaan atasnya saja, sedangkan permukaan bawahnya malah banyak yang tidak kita sadari, contohnya ya penggunaan kolamnya untuk tempat parkir.

Sama seperti rel kereta api, dari lahir sampai tulisan ini diketik, saya belum pernah menemukan ada kang parkir di kolam lele, yang saya tahu banyaknya justru di warung pecel lele, heran saya kenapa tidak ada yang tertarik untuk ngejogrog di dalam kolam lele dengan alesan "daerah kekuasaan gue nih"

Tapi pemirsa, justru dari itu, sebagai pengguna sepeda motor inilah momen emas kita untuk terhindar dari keharusan mengeluarkan uang, kalau dulu seringnya kita merasa kecele karena kang parkir di tempat yang bertuliskan PARKIR GRATIS, kini saatnya kita kadalin mereka, semacam our sweetest revenge :)

Saya memberi referensi ini bukan tanpa alasan, jelas ada keuntungan yang bisa kamu dapatkan dengan parkir di dalam kolam lele, yaitu:
  • Gratis. Seperti yang sudah disebutkan di atas, karena tidak ada kang parkir, maka dapat dipastikan kamu tidak harus mengeluarkan uang sepeserpun, coba kita kalkulasikan, dalam sekali parkir sepeda motor di Jabodetabek biasanya 2000 rupiah dimana rata-rata dalam sehari kita bisa sampai 3x parkir, yang kalau dihitung:
    2000 x 3 = 6000
    Berarti ada 6000 rupiah yang kita keluarkan setiap hari untuk bayar parkir.


    Nah, sekarang kita hitung untuk sebulan:
    6000 x 30 = 180,000
    Wow, ada 180,000 rupiah yang kita keluarkan untuk bayar parkir dalam sebulan.


    Lanjut, kita hitung dalam setahun:
    180,000 x 12 = 2,160,000
    Fantastik! Ada Dua Juta Seratus Enam Puluh Ribu Rupiah yang kita keluarkan dalam setahun untuk bayar parkir!


    Oke, lanjut hitung dalam kurun waktu sepuluh tahun:
    2,160,000 x 10 = 21,600,000
    Amazing! Dalam sepuluh tahun kita mengeluarkan Dua Puluh Satu Juta Rupiah untuk bayar parkir!


    Kurang? Oke lagi, kita hitung dalam kurun waktu 50 tahun:
    21,600,000 x 5 = 108,000,000
    Sableng! Dalam waktu setengah abad kita sudah mengeluarkan lebih dari SERATUS JUTA RUPIAH untuk bayar parkir sepeda motor!

    Oh iya, ini dengan catatan baru biaya minimalnya ya, toh saya yakin kalau kamu yang bawa sepeda motor bisa lebih dari 3x dalam sehari bayar parkir, bener enggak?

    Lalu apa tujuan saya mengkalkulasikan ini semua? Enggak apa-apa, iseng aja biar kalkulator di hape ada fungsinya.

  • Aman. Larena letaknya yang berada di daerah perairan, saya yakin tidak ada maling yang mau untuk berenang mengangkat sepeda motormu dari keluar dari kolam, jangankan nyolong motor, ngambil helm atau botol minum yang tergantung di gantungan juga kayaknya ogah.

    Tapi advantage keamanan ini jelas bukan tanpa tantangan, kamu dituntut untuk bisa berenang dan menahan nafas agak lama, karena bisa jadi sebagian dari kamu butuh menambahkan gembok tambahan di cakram roda demi keamanan, nah untuk mencangklongkan gembok itu kan jelas kamu harus menyelam, di situlah keterampilan dalam menyelammu diuji, kalaupun kamu tidak bisa menahan nafas agak lama, kamu bisa membekali diri dengan tabung oksigen yang sering dipakai untuk diving di laut.
  •  
Kurang lebih seperti ini tabung selam, bisa dibeli online

  • Bersih. Salah satu fungsi air yang paling utama adalah membersihkan, begitu pula dengan kolam lele, bayangkan, selain dapat menekan pengeluaran tidak terduga untuk bayar parkir, dengan menaruh sepeda motor di dalam kolam lele kamu berarti kamu juga bisa menambah pundi-pundi sebagian imanmu di sepeda motor.

    Kamu tidak harus pergi ke pencucian sepeda motor hanya untuk membersihkan kotoran yang menempel entah di spakbor, lampu, spion, atau speedometer motormu yang jelas harus mengeluarkan uang, belum lagi kalau tempat pencuciannya ada kang parkir seperti yang saya ceritakan di atas, karena cukup parkir di dalam kolam, tinggalkan, eeeh pas diambil sudah bersih kembali.


Sekedar ilustrasi, sumber: http://gambar-rumah.com/



Nah, bagaimana teman-teman? Cukup bermanfaat bukan tips dari saya? Sudahlaah akui saja kalau kalian terkesima dan merasa tercerahkan dari postingan saya ini.

Eh, tapi saya pengen tahu nih, kira-kira kalian ada alternatif lain enggak tempat yang bisa dijadikan parkir tanpa harus bayar parkir?
Share:

Aristoteles Tidak Pernah Bayar Parkir


Akhir-akhir ini saya kesel dengan bayar parkir.

 Begini pemirsa, sebagai orang yang menggantungkan mobilitas sehari-harinya dengan sepeda motor, saya sering berhenti di tempat-tempat tertentu entah itu warung makan, tempat fotokopi, atau ATM, selain mengeluarkan uang untuk makan atau belanja, saya juga agak kesel dengan bayar parkir.

Mungkin terdengar egois, karena buat sebagian orang bisa saja beranggapan "ah cuma uang dua rupiah doang kok dipermasalahin"

Tapi, coba deh bayangin, "esensi" dari parkir itu kan sebetulnya kita membayar jasa kepada seseorang/perusahaan untuk menjaga kendaraan kita yang ditaruh untuk sementara waktu, bukan begitu?

Nah, sekarang kita "studi kasus" deh, pernah enggak kalian setelah keluar ATM ditagih bayar parkir?

Saya pernah, waktu itu saya sama sekali enggak megang uang karena uang receh ketinggalan di rumah, sementara kalau balik ke rumah buat ngambil ya bakal makan waktu, jadi harus narik uang tunai di ATM pinggir jalan.

Saat itu lingkungan di sekitara ATM enggak ada siapa-siapa, eh pas baru mau nyalain motor mendadak ada orang di belakang saya yang nagih bayar parkir.

Keadaan saya waktu itu cuma punya pecahan seratus ribu rupiah dari ATM, masih fresh, baru disablon kayanya.

Kebingungan muncul saat saya mau bayar parkir yang dadakan itu, kalau saya punya uang pecahan lima ribu atau sepuluh ribu sih gampang ngasih kembaliannya, lah ini uang seratus ribu, kaya bocah SD make baju hansip... Kegedean.

Dan tahukah engkau wahai sobat indieku, apa kata kang parkirnya sewaktu saya bilang kalau enggak punya uang selain ratusan ribu itu?

"Belanjain aja dulu bang di warung"

Lah, ini kan semacam "dipalak" ya, toh tujuan saya cuma pengen ambil uang, kok malah disuruh belanja barang yang saya enggak butuhin di warung.

***

Selain di ATM, saya juga punya pengalaman menyebalkan lainnya di blantika bayar parkir Indonesia.

Ceritanya waktu itu saya pergi ke tempat fotokopi di sekitar Stasiun Pondok Cina Depok, tujuannya buat fotokopi KTP, dan kamu tahu sendiri laah kalau fotokopi KTP itu kan sebentar doang.
Nah, pas balik ke sepeda motor yang ditaruh CUMA di depan tempat fotokopi tersebut eeh mendadak muncul orang yang nagih buat bayar parkir, sumpah sebelumnya saya enggak lihat sama sekali kang parkir itu, tau-tau nongol aja gitu.

Satu-satunya uang pecahan paling kecil di saku saat itu adalah dua ribu rupiah, karena saya kira bakal dikasih kembalian yaa setidaknya seribu rupiah ya sudah saya kasihkan aja itu uang dua ribuan, eeh ternyata setelah kasih dia ngeloyor gitu aja ke tempat dia ngejogrok, saya sampai tertegun melihat kejadian ajaib ini.

Pertama, secara logika, posisi saya saat itu lebih deket dengan sepeda motor karena ditaroh persis di depan kios fotokopi, sedangkan tempat ngejogrok kang parkir itu berada beberapa meter lebih jauh dari kios, kalaupun ada orang yang mau nyolong motor atau helm, jelas saya bakal tahu dan bisa menangkap duluan ketimbang si kang parkir yang letaknya lebih jauh. Nah, dari sini saja saya masih belum mengerti kenapa saya harus bayar parkir itu, demi keamanan? Ya kali, Maliiiih.

Kedua, tujuan utama saya ke kios itu kan untuk fotokopi, dimana untuk fotokopi saya cuma mengeluarkan uang sebesar 500 perak, dan jasa fotokopi itu bisa saya nikmati langsung, sedangkan bayar parkir? DUA RIBU! Yang saya enggak tahu jasa apa yang saya bayar itu.

Di titik ini saya merasa kalau saya sudah satu level dengan miliarder sekelas Mark Zuckerberg, Bill Gates, atau Jack Ma. Kalau mereka bisa "menghamburkan" uang dengan cara investasi ke dunia teknologi, sementara saya "menghamburkan" juga tapi di bidang...

Bayar parkir.

Saya, ketika bayar parkir seperti besar pasak daripada tiang

Selain dua kejadian itu, saya juga pernah mengalami jackpot bayar parkir dua kali berturut-turut pada hari yang sama.

Kejadian pertama ketika nonton acara musik di Taman Ismail Marzuki sehabis Magrib, saat itu saya parkir di pinggir jalan karena saya tidak tahu kalau pengelola TIM sebetulnya menyediakan fasilitas parkir yang resmi di dalam.

Setelah acara selesai saya ke parkiran, sadar kalau di event-event tertentu harga parkir bisa melonjak dari biasanya, dalam hati saya bilang "ah mungkin lima ribu nih parkirnya", ya sudah saya siapkan uang lima ribu rupiah untuk bayar parkir, pas sudah dibayar kang parkirnya bilang "kurang lima ribu lagi, bang!", lah kaget saya, ternyata bayar parkir untuk dua jam acara musik ini sepuluh ribu rupiah, pemirsa!, iya!, SEPULUH RIBU! Dan itu enggak bisa kurang!

Gila, ini orang mau ikut pesugihan tapi ogah mati jadi siluman monyet kayanya.

Kesel karena bayar parkir sebegitu gede, ngedumel lah saya sepanjang jalan pulang. Sadar ternyata ngedumel bikin haus dan sedikit lapar, saya lalu berhenti di sebuah minimarket di sekitar Tebet dengan inisial TERAMODNI, di situ saya beli susu cokelat dan roti untuk makan di tempat, setelah menghabiskan makanan dan minuman itu saya kembali ke parkiran, di saku jaket sudah saya siapkan uang dua ribu rupiah untuk bayar parkir, sewaktu saya kasih uang tersebut kang parkirnya bilang "tiga ribu, bang"

Lah? Belom juga kelar kesel saya sama parkir di TIM barusan, sekarang harus bayar parkir lagi dengan harga mirip nembak togel? Sableng nih orang!

Dan malam itu saya pulang ke rumah dengan perasaan yang super dongkol, karena uang tiga belas ribu rupiah saya harus melayang dengan cara konyol dalam rentang waktu enggak lebih dari satu jam.


***

Semenjak sering dikadalin tukang parkir, saya sekarang jauh lebih selektif + berhati-hati ketika bepergian menggunakan sepeda motor dan mampir ke suatu tempat.

Saya lebih memilih untuk jalan memutar mencari ATM yang murni free parking, biasanya ATM jenis ini bisa ditemui di SPBU, karena di sebagian besar bank di sekitar Jabodetabek masih sering saya jumpai orang yang nagih bayar parkir walaupun ada plang tertulis PARKIR GRATIS.

Selain itu akhir-akhir ini saya juga cenderung lebih memilih warung biasa pinggir jalan ketimbang minimarket ketika ingin belanja eceran kebutuhan sehari-hari. Bukan karena alesan mendukung ekonomi rakyat dan lain-lain, tapi alesan saya sederhana:

Karena di warung enggak ditagih bayar parkir.


***

*Saya jadi kepikiran, bisa jadi karena "peluang" parkir ini prospeknya makin bagus, dalam 10 tahun ke depan kalau kita berhenti pinggir jalan sebentar buat ngangkat telepon atau balas chatting juga bakal ditagih bayar parkir,

Bisa jadi loh yaaaa.
Share:

Mempromosikan Hal Yang Seharusnya Linear

Kita tahu, dalam mempromosikan suatu produk kita butuh teknik marketing tertentu melalui iklan,
 
Nah dalam beriklan diperlukan linearitas antara produk yang diiklankan, citra produk yang diiklankan, dan pihak yang mengiklankan.

Ambil contoh, saya menjual gel rambut (produk) dengan kualitas yang terbaik, karena kualitasnya terbaik maka dipercaya pasar dapat membuat penampilan lebih menawan, ganteng, dan elegan (citra produk),
 
Sejauh ini tidak ada masalah dengan hal ini karena kualitas dan citra produk sudah terpercaya sejak dulu.

Nah, masalah justru timbul setelah saya mempromosikannya dengan teriak-teriak sampai memekakkan telinga, dandanan acak-acakan sembarangan, dan dengan gencar merendahkan produk lain.

Saya beranggapan kalau itu adalah cara terbaik untuk "mempromosikan" produk saya, eh tapi saya kaget kenapa konsumen bahkan calon konsumen produk saya justru beralih ke produk lain? Padahal kan produk saya jelas terbaik dari segi kualitas dan komposisi? Apa yang salah? Toh saya sudah mengatakan yang sesungguhnya kan?

Lalu saya mencak-mencak, marah menuduh tim produk lain mengambil konsumen dan calon konsumen saya, saya bilang mereka licik, bahkan saya salahkan pengurus lahan tempat saya promosi. 

Pokoknya saya salahkan semua! Saya merasa diri saya sekarang teraniaya!

Lalu datanglah Heru, konsumen setia saya. Dia bilang kalau konsumen pindah ke produk lain bukan karena terbujuk oleh promosi produk lain, tapi justru karena kesalahan saya sendiri.

Ujarnya, percuma produk saya berkualitas tinggi kalau saya bersikap seperti itu,
 
Saya rutin promosi produk saya baik tapi saya sendiri berdandan sembarangan dan awut-awutan, alih-alih menunjukkan kualitas produk sendiri saya justru selalu menjelek-jelekkan produk lain, bahkan saya sering membagikan selebaran isinya "Awas! Jangan pakai produk ini di penjual yang lain! Hanya tempat saya yang paling bisa dipercaya!" (padahal dengan merk yang sama)

Memang ada beberapa konsumen yang suka dengan cara saya, dan dengan penuh kebanggaan saya berseloroh kalau konsumen yang suka itu adalah tanda kesuksesan saya!, tapi saya tidak menyadari kalau sebenarnya konsumen yang mulai antipati dengan produk saya juga ada dan jumlahnya tidak sedikit, malah mereka berasal dari calon konsumen bahkan pernah jadi konsumen loyal, hanya saja mereka yang antipati ini seperti fenomena gunung es, tidak terlihat banyak di permukaan.

Akhirnya Heru pamit pulang, tapi sebelum pulang dia bilang ke saya "konsumen loyal itu dulu suka produkmu karena orang sebelum kamu mempromosikannya sesuai dengan kualitas produk, mereka selalu berdandan rapi, ganteng, dan sabar menjelaskan manfaat produk, walaupun dulu juga ada produk lain tapi konsumen tetap percaya karena yang mempromosikannya punya linearitas yang sama sebagai representasi dari produk dan sesuai dengan citra produk"

***

Oke, sekarang kita ganti "term" produk itu dengan agama, dan lihatlah apa yang berseliweran di timelinemu saat ini.

Got what I mean?




*Ini tulisan lama di akun Facebook saya yang ditulis 2015




Share:

Bagaimana Menjadi Waras di Media Sosial?

Sudah 2017 masehi ternyata, dan saya yang tidak terasa berumur ratusan tahun ini bersyukur masih diberikan nikmat yang tidak didapatkan Firaun, yaitu nikmat punya akses internet.

Lah, bayangin aja, Firaun udah kaya raya, punya kuasa, tapi seumur hidupnya enggak pernah nonton Youtube, sementara saya yang cuma punya temen banyak, bisa bernafas menghirup oksigen, dan keseleo kalau ngadu panco sama Agung Hercules malah bisa sepuas-puasnya nonton Youtube (selama ada jaringan internet pastinya).

Ayub 1 - 0 Firaun

Sebagai pengguna internet aktif setiap hari -kecuali hari kiamat- saya menghabiskan hampir sebagian besar kehidupan saya di depan layar, entah itu layar handphone, layar laptop, sampai layar lunas cicilan hutang. Saya akui, sebagian besar aktifitas saya di internet tidak jauh dari sosial media, saya menyukai sosial media karena di sinilah saya bisa menemukan beragam jenis kehidupan, dari yang menyenangkan, menyebalkan, dan menyebalkan banget.

Disadari atau tidak, beberapa tahun terakhir ini di timeline media sosial kita entah itu di Facebook, Instagram, atau Twitter banyak bermunculan orang-orang yang serba dadakan, dalam artian mereka mendadak menjadi ahli politik, mendadak jadi ahli agama, mendadak jadi ahli hukum, tapi saya belum pernah menemukan ada yang ahli nemu huruf N dalam bungkus permen YOSAN, yaa bisa jadi untuk menemukan huruf N tidak segampang jadi ahli politik-agama-hukum di media sosial.

Aku, ketika melihat perdebatan di media sosial

Beberapa platform media sosial memang sudah memberikan fitur khusus demi kenyamanan penggunanya, misalnya Facebook dengan fitur unfollow yang memungkinkan kita untuk berhenti melihat postingan teman di Facebook tanpa harus memutuskan pertemanan, dan fitur ini sangat berguna bagi saya, entah berapa banyak saya mengklik ikon unfollow di akun orang-orang yang sering share, bikin status, dan berkomentar hal-hal yang menurut saya berbahaya untuk kesehatan pikiran umat manusia modern.

Sederhananya, ketimbang secara tidak sadar saya terjerumus ke level mereka, lebih baik saya melakukan tindakan preventif dengan bantuan tombol unfollow ini. Terima kasih Facebook!

Tadinya saya pikir dengan tombol unfollow saja sudah cukup, tapi ampunmak, ternyata setiap hari ada saja keributan dan kesenewenan yang terjadi di media sosial, dan masalahnya masih sekitar itu-itu doang, tidak jauh dari urusan politik.

Saya sadar, semenjak pilpres 2014, terjadi perubahan konstelasi dan lanskap konten pembicaraan di media sosial, dimana sebelum 2014 media sosial masih diisi hal menyenangkan; Facebook masih diisi tag-tag foto jual hape BM dan promo MLM, Twitter masih dipenuhi becandaan khas selebtwit, Instagram masih belum banyak penggunanya, dan grup Whatsapp masih belum dipenuhi jokes bapak-bapak+dakwah copas grup sebelah.

Nah berhubung ini sudah 2017, tahun depan dan depannya lagi kita bakal menghadapi hal yang saya prediksi lebih semrawut di media sosial yaitu Pilkada 2018 dan Pilpres 2019.

Berkaca pada pengalaman Pilkada 2014 dan Pilkada DKI 2017, pesta demokrasi nanti akan ada kemungkinan membuat perubahan lagi di dunia media sosial, saya pribadi sih sudah terlanjur skeptis jika keadaan media sosial nanti akan membaik, bisa jadi akan banyak isu SARA, berita hoax, dan black campaign yang mengisi ranah media sosial kita.

Karena itu sodara-sodara, postingan ini bertujuan untuk memberikan solusi bagi kita semua dalam menghadapi tahun depan di media sosial, tepatnya untuk menjaga diri kita terbawa arus kesenewenan, untungnya internet masih mempunyai banyak pahlawan yang dapat menjaga kewarasan, tapi kali ini saya khususkan untuk para pahlawan di Youtube dulu aja, ya.

Siapakah sosok para pahlawan tersebut? Mari kita cek satu persatu!


 1. Mat Kiding

Buat kalian yang suka jajan dan wisata kuliner, Mat Kiding jelas merupakan channel Youtube yang paling cocok buat kalian.

Bagi saya Mat Kiding adalah sosok Sid Vicious untuk dunia vlog kuliner, bisa dilihat dari cover channelnya, alih-alih menggunakan vector, typography, atau foto yang representatif sebagai channel kuliner, doi lebih memilih foto dirinya dengan golok yang ditaroh di tangan, semangat DIY (Do It Yourself) khas punk sudah bisa dirasakan dari kesan pertama melihat channel ini!

Lanjut ke konten, Mat Kiding berani menabrak segala unsur estetika yang lazim dipakai di vlog-vlog bergenre kuliner. Lupakan tentang host yang cantik dan ganteng, menu di rumah makan terkenal yang dekat dengan tempat wisata, atau pengambilan gambar yang artsy, karena Mat Kiding seringnya "menggunakan" jasa orang-orang terdekatnya atau orang lain secara random untuk ditraktirnya makan (dan juga dikasih angpao sebagai tanda terima kasih!). Lucunya, Mat Kiding sangat jarang muncul di dalam videonya sendiri (bahkan sejauh ini kayanya belom pernah), karena dia bertindak sebagai Videographer, Narator, dan Administrator sekaligus.

Kalau kamu penasaran buat ngerasain sensasi ngidam jajanan pinggir jalan kaya somay abang-abang, telor gulung, atau bahkan sosis yang dijual di SD, coba tonton salah satu videonya, berhubung ada lebih dari enam ribu video yang sudah diupload, saya sarankan klik random saja.

Selamat mencoba!


How to understand Mat Kiding for Dummies



Sewaktu di Taiwan saya pernah ngidam berat makan bakso pinggir jalan gara-gara nonton video ini


2. Toni Blank

Saya lupa tepatnya kapan pertama menonton videonya, tapi yang jelas Toni Blank merupakan sebuah kata yang mewakili seorang sosok fenomenal yang dulu pernah menjadi viral baik khususnya di timeline Facebook.
Toni Blank Show adalah serial yang digarap oleh temen-temen dari X-CODE Films yang bermarkas di Yogyakarta, pada dasarnya X-CODE adalah creative house yang menangani pembuatan media kreatif seperti video klip, iklan, atau company profile, tapi dari beberapa artikel yang saya baca, tim X-CODE Films tidak mencari profit sama sekali dari Toni Blank Show, padahal dari kualitas dan teknik pengambilan gambarnya saya tebak menghabiskan alokasi dana yang lumayan gede.

Eh, tapi kamu sudah tahu belum kenapa Toni Blank Show masuk dalam list pahlawan internet versi saya? Tonton ya video di bawah ini.

(sayangnya Toni Blank Show sekarang tidak lagi rutin muncul, video terakhir diunggah 3 bulan lalu)






 

 3. Agus Mulyadi

Berbicara tentang Agus Mulyadi jelas erat kaitannya dengan Mojok.co, dua hal ini sudah seperti Upin dan Ipin, Batman dan Robin, Doraemon dan Nobita, Dang dan Dut. Karena dimana ada Mojok pasti ada Agus Mulyadi sebagai atribusi, tidak terpisahkan.
Karena itu, tanpa mengurangi rasa hormat terhadap Mojok, saya beranggapan bahwa Agus adalah superhero internet sekelas Ironman, dan Mojok adalah Marvel (sama-sama diawali huruf M).

Saya kenal Agus dan menjadi fans dengan tulisan-tulisannya semenjak membaca Mojok.co beberapa tahun lalu. Pada awalnya saya agak sedikit sulit mencerna sense of jokes khas tongkrongan anak Jogja yang sering muncul di situs Mojok.co, tapi tulisan-tulisan Agus perlahan mampu membuat saya mengerti dan bisa menikmati gaya becandaan tongkrongan anak Jogja.

Sebagai penggemar karya-karyanya, jelas saya juga mengikuti media sosial dia, ciri khas dari seorang Agus Mulyadi adalah dia bisa menjadi dirinya sendiri di beragam platform media sosial yang dia miliki tanpa harus try hard to look cool.

Sebetulnya dia punya channel Youtubenya sendiri, tapi sayangnya koleksi videonya tidak di-update secara berkala, video favorit saya adalah ketika dia sedang kencan dengan Mbak Kalis Mardiasih dan membuat review tentang warung makan yang sedang mereka kunjungi, yaitu ini:





Dan favorit saya yang lain adalah ketika Agus membuat virtual room kamarnya yang terletak di loteng rumah:



Untuk versi yang digarap dengan editing lebih baik diproduksi oleh Mojok, salah satu favorit saya adalah ketika Agus memberikan tips cara memilih handphone yang baik: 



Bahkan survei lokasi aja bisa menjadi sedemikian menariknya:



Akhirnya sampai juga kita di ujung nominasi pahlawan internet versi saya, kira-kira kalian penasaran enggak siapakah sosok yang saya anggap kelak bakal sangat berjasa menyelamatkan kewarasan kita di tengah kegaduhan media sosial saat pilkada dan pilpres?

Okay,

Please welcome.....























4. RIZA ALVAVAN



Mungkin kalian belum kenal siapa Riza Alvavan ini, karena itu saya di sini pengen mengenalkan kepada kalian semua sobat indieku.
Saya kenal Riza Alvavan sekitar penghujung 2013, dimana saat itu tren vlogging masih belum seramai sekarang, saya lupa dapat link video Riza dari mana, yang pasti saya langsung terkesima pada video yang pertama saya tonton: TUTORIAL SCREAMO.

Ini screenshot nya


Sayangnya channel Youtube Riza Alvavan yang dulu ternyata diblokir oleh pihak Youtube, saya enggak tahu kenapa alasan pastinya, tapi menurut Riza karena banyak orang yang repot-repot channel dia (yang belakangan saya mengerti maksud dia adalah report).

Setelah channelnya diblokir, Riza memang sempat down dan kehilangan semangat untuk berkarya, tapi untungnya dia tidak berhenti untuk membuat video-video baru, jika di channelnya yang lama dia pernah "menyinggung" sebagian kelompok secara tidak sengaja, di channel Youtube nya yang baru Riza mencoba untuk lebih soft, dalam artian dia hanya mengunggah video dengan konten yang ringan, seperti misalnya TUTORIAL CARA MAKAN DAN BERBICARA DENGAN NASI.

Eh? Apa? Masih bingung juga gimana fenomenalnya Riza Alvavan itu? Oke, kamu harus tonton ini satu persatu:




 


Playlist


 Dan terakhir (ini paling penting)...















































Jadi apa intinya dari postingan ini?

CUMA MAU PAMER PERNAH FOTO BARENG RIZA ALVAVAN DAN DAPET STIKER OFFICIALNYA! HAHAHA

Share:

Surga dan Obsesi Duniawi Kita Yang Belum Selesai


Sewaktu masih lucu-lucunya seperti Komeng di bangku SD belasan tahun yang lalu, bapak tidak pernah mengizinkan saya untuk memiliki Play Station sementara kawan-kawan lainnya sudah memiliki konsol game jutaan umat ini, selain karena saat itu harganya sangat mahal, bapak juga termasuk golongan konservatif untuk urusan ini, bagi bapak bermain game hanya membuang-buang waktu produktif yang harusnya bisa dipakai untuk membaca buku, belajar, bermain sepakbola, atau latihan bungee jumping.

Karena larangan itulah, Play Station bagi saya adalah sebuah kemewahan yang rasanya sulit untuk dimiliki, pergi ke rental adalah satu-satunya jalan rasional yang dapat saya tempuh saat itu ditambah menjalani tirakat terbaik dengan menahan lapar dan haus untuk menghemat uang jajan demi bisa pergi ke rental.

Di masa itu juga, saat teman-teman lain masih sibuk berpikir soal menamatkan game apa, saya sudah berpikir “Pasti di surga nanti ada Play Station yang bisa dimainkan sepuasnya tanpa dibatasi waktu seperti di rental!”

Saya sudah menjadi filsuf di usia yang masih sangat belia.

Karena pikiran tentang Play Station di surga itulah saya mendadak menjadi rajin ke masjid untuk salat dan mengaji, eh diawali dengan wudhu dulu pastinya biar sah, saya bahkan menyelipkan kata Play Station di dalam doa yang dipanjatkan setiap harinya, karena kuantitas beribadah inilah seakan-akan saya merasa sudah berhijrah before it was so popular like people are doing nowadays.

***

Belasan tahun setelah momen “PS di surga” itu berlalu, saya mengalami kejadian yang menarik, beberapa minggu sebelum artikel ini diketik (karena kalau ditulis tangan saya enggak pe-de, tulisan tangan saya jelek).

Saya menghadiri sebuah acara tertutup dimana acara tersebut menghadirkan seorang ustadz untuk mengisi ceramah, awalnya materi yang disampaikan masih lazimnya tentang kebaikan dan ibadah, tapi saya langsung terkejut saat beliau bilang

“Nanti di surga kita akan mendapatkan istana yang megah dan mewah beserta seisinya”

Jleb, saya langsung kepikiran dengan orang yang semasa hidup merasa nyaman dengan kesederhanaan, kasihan rasanya kalau masuk surga seperti ini.

Dan saya mendadak ingat dengan Mbak Kalis yang kata Agus Mulyadi Mojok dalam pledoi di official Instagramnya bilang “rumah idamannya bukan rumah kompleks elit yang selalu ada AC dan garasi mobilnya, melainkan rumah sederhana dengan kandang ayam di halaman belakang”.

Saya enggak tahu apakah Mbak Kalis punya cita-cita masuk surga seperti yang digambarkan sang ustadz itu?

Di lain hal saya juga ingat, dulu sewaktu SMA saya pernah diceramahi oleh senior perihal surga, kata beliau “surga itu dikelilingi oleh pegunungan yang sejuk, lapangan rumput yang luas, buah-buahan segar yang berlimpah, dan sungai yang berisi aliran air susu”

Lalu saya bilang “lah, bukannya hal yang kaya gitu di Indonesia juga banyak? Mau pegunungan ada, mau pantai banyak, mau laut sampai kelelep juga silakan, apalagi buah, piye? Enak toh tinggal di negeri tropis?”

Tapi saya bilang itu di dalam hati, jadi senior saya itu enggak denger, sengaja biar dia tidak tersinggung karena saya sedikit mempertanyakan tentang surga versi dia.

Disadari atau tidak, seringkali kita membuat konsep-konsep tentang surga sesuai dengan fondasi ideal kemewahan kita. Saya baru sadar hal ini saat salah seorang teman jauh (karena kalau dekat terlalu mainstream) bilang “konsep surga dengan air yang mengalir dan pegunungan yang adem itu adalah sebuah kemewahan untuk mereka yang tinggal di daerah gurun yang tandus, lha buat kita yang tinggal di tempat tropis ini yang namanya kemewahan itu ya salju, coba liat ada berapa ratus ribu orang Indonesia yang cengengesan nyengir kuda pas pertama ketemu salju waktu vakansi ke luar negeri?”

Dan saya merasa tersindir, karena saya adalah satu dari sekian banyak para nyengir kuda-ers itu.


***

Konsep-konsep kemewahan untuk menggapai sorga itu terkadang bisa mengarahkan kita hubungan vertikal kita denganNya menjadi bersifat transaksional. Transaksional dalam hal ini seperti halnya kita berdagang, jelas berharap keuntungan sebesar-besarnya.

Hubungan transaksional ini juga bisa mempengaruhi niat kita untuk beribadah. Alih-alih untuk mendistribusikan kekayaan agar lebih merata, hati kecil kita berharap uang yang kita keluarkan untuk sedekah dapat kembali ke kita menjadi sepuluh atau seratus kali lipat. Hayooo? Pernah, kan?

Mindset materialistik ternyata juga mampu mempengaruhi persepsi kita tentang surga, mungkin kalian yang unyu-unyu ini juga pernah sekali-dua ratus kali denger ceramah tentang surga seperti yang saya alami seperti tadi, tentang sorga yang isinya istana, harta tak terbatas, kemewahan bertumpuk, atau bahkan bidadari yang jumlahnya melimpah.

Karena itulah di satu ketika saya pernah kepikiran “ini surga kok jadi semacam pembalasan dendam atas nafsu yang enggak kesampaian di dunia?”

Bagi saya esensi ibadah itu sederhana, yaitu untuk mendapatkan ketenangan. Bahkan sampai sekarang saya bahkan tidak berani memastikan tentang “hasil akhir” dari ibadah yang saya lakukan, saya beribadah agar saya tenang dan dengan ketenangan itu saya bisa berbagi kebahagiaan dengan orang lain, karena saya penganut paham bahwa kebahagiaan itu harus menular.

Atau jangan-jangan ribut sana-sini yang sering muncul di media sosial muncul karena obsesi berlebih kita akan “hasil akhir”? Alih-alih mencari ketenangan spiritual kita malah sering terfokus untuk mengurus surga-neraka orang lain? Ah cukup tanyakan pada rumput yang bergoyang, pohon yang dangdutan.

Akhir kata, saya jadi teringat satu dekade yang lalu Almarhum Chrisye pernah membuat kolaborasi paling keren dengan kakanda Ahmad Dhani di sebuah tembang dengan lirik teryahud:

Jika surga dan neraka tak pernah ada
masihkah kau sujud kepadaNya?
Jika surga dan neraka tak pernah ada
masihkah kau menyebut namaNya?


*Tentunya ini muncul sebelum lagu neng neng nong neng dibeli kakanda Ahmad Dhani untuk menghentak ranah musik Indonesia, bukan begitu, kisanak?


Share:

Cerita Pendek Tentang Hal Yang Akan Berkelanjutan




Dan ini adalah pertama kali saya menuliskan tentang kamu.

Perkenalan kita singkat, sangat singkat, tapi entah berapa kali pertemuan kita terjadi, saya terlampau malas untuk sekedar menghitungnya.

Sayalah yang pertama kali memulai pembicaraan kita dengan alasan terlampau sederhana, saya penasaran dengan hal yang ternyata menjadi ketertarikan kita bersama: buku.

Saya suka cara kamu bercerita tentang buku kesukaanmu, saya suka cara kamu mendengarkan saya bercerita, dan saya suka bisa banyak mengenal kamu dengan cara seperti itu.

Dan kemarin,

Saya undang kamu mengunjungi rumah, perjalanan dari tempat tinggalmu harusnya bisa pendek, tapi ibukota memang membuat senewen, jarak dari tempat tinggalmu ke stasiun yang harusnya bisa ditempuh dengan 15 menit menjadi 45 menit.

Setidaknya stasiun di dekat rumah adalah saksi saat saya menjemput kamu yang terlihat kuyu.

“kleyengan tadi di kereta”, alasanmu.

Jas hujan kuning besar saya membuat kamu terlihat lucu untuk mengenakannya, tapi saya suka, bukan… Saya tidak menyukai kamu kehujanan, tapi saya suka jas hujan itu setidaknya bisa mewakili saya untuk melindungi kamu.

Saya mengajakmu ke rumah untuk mencoba karya masakan saya, tapi saya terlalu ceroboh, saya tidak punya pengalaman untuk memasak tanpa dicicipi, bulan puasa mengharuskan saya untuk membuat takaran bumbu berdasarkan insting, dan hasilnya: hambar.

Tapi saya senang melihat kamu tertawa ketika saya memasak dan ketika kamu mencicipi masakan kacau saya itu.

Setelah dari rumah, saya menemani kamu untuk ke mall, karena katamu ada midnight sale saat itu.

Saya tidak suka mall, tapi nyatanya saya mau saja mengikutimu dari satu toko ke toko lain malam itu, karena bukan berbelanja tujuan saya, tapi ingin terus berjalan denganmu,

Sesederhana itu.

Seusai dari mall, saya harus mengantarmu pulang, sudah larut malam, tapi berkeliling di mall ternyata membuat saya lapar saat itu, dan saya tawarkan ke kamu untuk mencari makanan untuk sekedar bekal sahur.

Di warung kecil dekat tempat tinggalmu itu kamu menemani saya yang sedang makan, kita membicarakan hal-hal sepele, seperti ukuran minus mata kita, ujian seleksi masuk yang akan saya hadapi, sampai rencana perkuliahan S2-mu.

“Minggu depan aku pulang kampung, kita ketemu lagi bisa ngga sebelum aku pulang?” Saya tanya hal itu pada kamu

“Eh, boleh aja sih, kapan?” balasmu 

“Belom tau, karena besok aku harus ke Bandung”

“Ya udah, nanti kita atur lagi yaa waktunya”

“Iyaa, ga harus Kamis kok tenang aja”

“Hahaha, oke deh, eh tapi nyadar ngga kita akhir-akhir ini sticking each other banget?” Ujarmu.

Share:

Telepon Kadal



Dua hari terakhir ini saya sering dapat telepon masuk dari orang yang tidak saya kenal, entah dari mana mereka dapat nomer saya yang ganteng ini, maksudnya nomernya yang ganteng, sayanya semi ganteng kontemporer, mau tau nomernya? Hubungi saja ke email saya, nanti saya kasih Id LINE lewat LINE saya kasih tau Whatsappnya temen saya si Adityo, nah nanti coba tanya ke Adityo ya, sengaja bikin kamu harus repot, biar pernah.



Nah, kemarin sewaktu di ruangan kerja di kantor hape saya bunyi, disebabkan ada yang menghubungi, tapi waktu diangkat suaranya kurang terlalu jelas, kayanya sih karena jenis hapenya, sebagai orang yang mengutamakan sikap suudzon saya curiga ini orang hapenya jenis hape ESIA HIDAYAT SAPUTRA, hape dengan keeksotikan khas negeri tropis.



Karena waktu itu suasana lagi serius, ya maklumlah karena di ruangan kantor saya engga mungkin bercanda sambil atraksi menyemburkan api kalaupun bisa juga api asmara yang dahulu pernah membara.



Hwazeggg!



Jadi, karena suasananya hari itu sedang serius, saya juga menanggapi telepon yang saya tidak tahu dari siapa itu juga secara serius.



“Halo! Apa kabar?!” Tanya si penelepon setelah saya mengangkat dan bilang halo



“Eh iya, baik”



“Lagi sibuk engga?”



“Engga, lagi istirahat nih” jawab saya



“Wah kebetulan banget, kirain lagi sibuk, sorry nih ganggu”




Karena saya bingung dan kaget ditanya sebegitu akrab, saya mengira yang menelepon ini adalah teman deket saya




“Hehehe, nyantai kok, eh iya, ini siapa?” Selidik saya



“Waaah, masa gak kenal sama temen sendiri?”



“Aduh maaf, iya beneran, baru ganti hape soalnya jadi kontak kehapus” kata saya



“Hehe iya nih, maaf, ini siapa?”



“Ayoo tebak, siapa coba?”




Aduhmak, dia yang telepon dia yang kasih teka-teki, kan tambah bingung, tapi denger dari logat bicara dia saya tebak dia dari daerah timur Indonesia, saya coba ingat lagi secara cepat siapa saja teman dari daerah timur, walaupun kawan-kawan saya banyak tapi saya bingung kalau disuruh menebak kaya gitu




“Siapa ya? Beneran engga tahu!” jawab saya



“Coba ingat-ingat, punya teman orang Polres/Flores engga?




Seperti yang saya bilang di atas, karena suara yang keluar kurang terlalu jelas, jadi saya kurang dengar jelas maksud orang tersebut POLRES atau FLORES, saya lebih banyak denger suara bszzzssskkkkzzzkkkkksszzzkkkk ketimbang suara dia.




“Aduh, beneran lupa seriusan”



“Ahahaha, ya udah, coba ingat-ingat dulu, nanti kalau udah ingat telepon balik saya ya” ujar orang tersebut sambil menutup teleponnya




Lah, kan sableng, ya, dia yang menelepon, agak mengganggu waktu istirahat saya, sok misterius main tebak-tebakan trus minta saya buat menelepon kalau sudah ingat, aampuun gustiiii.






***




Besoknya, masih di ruangan yang sama, suasana agak santai karena saya baru selesai mengawas UTS (Ujian Tukang Sablonuangdaribahanyangmiripuangasli) dan juga saya baru makan ayam yang sudah mati karena harus begitu biar setelah mati dibakar pakai api lalu dibalur kecap biar saya yang makannya enak, karena pernah bayangin engga kalau ayamnya masih hidup trus tau-tau saya mandiin pakai kecap? Mana enaaak



Yak, semoga setelah membayangkan soal ayam barusan nafsu makanmu terhadap ayam berkurang.



Di suasana yang lebih santai hape saya tidak bunyi karena saya silent, tapi harus bergetar karena ada telepon yang masuk, aduh padahal tadi di kelas saya hampir ngeluarin mahasiswa karena ketahuan nyontek eh sekarang malah nyuruh masuk telepon.



“Halo” Kata saya singkat



“Halo broo” jawab orang di sana



“Halo juga”



“Gimana kabarmu bro?” Tanya orang itu



“Baik aja kok”



“Wah syukurlah, lagi di mana dirimu bro?”



“Di Jakarta nih” Jawab saya pendek



“Eeee tau, maksudnya di mananya? Lagi di jalan atau di mana?”




Dari gaya bicaranya saya langsung kepikiran kalau ini si Faisal, temen saya sewaktu di Taiwan yang sekarang kerja di Jakarta, karena Faisal sering menghubungi saya dadakan buat ngajak maen atau sekedar keluyuran




“Di kampus nih”



“Ooo gitu, belum pulang bro?”



“Belum, nanti jam 3 kurang kayanya”



“Oke deh, eh iya bro, ini nomer baruku, simpen ya”



“Eh? Ganti nomer?” Saya tanya ini karena menyangka Faisal ganti nomer



“Iya, yang lama hapus aja ya”



“Siap! Nanti kusave”



“Oke bro, makasih yaa” tutup dia




Karena saya terbiasa melakukan cross-check setiap ada informasi apapun dan juga penasaran, saya lalu tanya langsung ke Faisal soal kebenaran ini, dan inilah hasilnya :








Nah, berarti saya salah, itu bukan Faisal, tapi salah seorang teman baik yang saya lupa siapa, tapi ya sudahlah biarin aja, saya lagi sibuk gini soalnya.





***



Satu jam berlalu,



Saku ransel saya bergetar, tadinya saya kira ada anak jerapah masuk ke ransel, tapi baru ingat, kan saya engga melihara jerapah, lah terus yang getar barusan apa?



Oh iya, hape!



Saya buka ransel, saya ambil hape yang saya beli pakai uang asli di ITC Depok beberapa bulan lalu dan saya kasih nama Orangutan, jadi dalam waktu bersamaan saya bisa pegang Orangutan yang lagi bergetar dan saya kasih dia pelotot.



Ternyata ada telepon masuk, jangan kamu bayangkan kalau telepon masuk berarti teleponnya masuk ke kuping saya, aduh gimana ya menjelaskannya, telepon masuk itu berarti ada orang yang menelepon dengan telepon dia yang dipencet di layar supaya kemudian bisa bikin Orangutan bergetar seolah-olah dia minta makan padahal dia cuma sebuah hape.



“Halo” Kata saya



“Ya halo bro” kata orang yang di sana membalas kehaloan saya




Oh ternyata orang yang barusan nelepon saya, bisa langsung menebak begitu karena saya dengar logat yang sama seperti sebelumnya, padahal sudah selisih waktu satu jam lebih, hebat ya saya?




“Lagi di mana bro?” belum sempat saya membalas kehaloan dia, eh malah keduluan dia tanya saya



“Masih di kampus nih”



“Belum pulang?”



“Belum, hehe eh iya, ini siapa ya?” Tanya saya penasaran



“Wah, belum disimpan ya nomerku ini?”



“Ya belumlah, kan aku ngga tau ini siapa?”



“Waduh, masa enggak kenal temen sendiri?”





Di situ saya sadar, isengin aaah…





“Hmmm…. Heru ya?” Tanya saya, sembarangan saja



“Nah itu bener, iya ini Heru” jawabnya mengiyakan tebakan saya



“Waah, Heru! Gimana? Apa kabar?” Respon saya karena senang sembarangan saya berfaedah



“Baik bro…. Di sana sama siapa bro?”



“Hmm, sendiri sih ini di ruangan, kenapa?”



“Engga ada siapa-siapa kan?”



“Iya, engga ada”




Jadi, dia cerita ke saya, kalau saat itu dia lagi di musola salah satu SPBU, nah dia ngga sengaja nemu dompet, sambil cerita dia minta saya untuk mengambil pulpen dan mencatat apa saja yang ada di dompet itu yaitu uang enam juta seratus ribu rupiah, emas sepuluh gram, foto laki-laki latar biru, dan dompetnya sendiri warna cokelat. Dia bilang ini rahasia antara dia dan saya, jangan sampai ada yang tahu, biar “pembagian” nya bisa gede karena cukup dibagi dua.



Saya sadar hal itu, dengan berprinsip “biawak jangan mau dikadalin” saya tetap merespon dan mengiyakan apa kata Heru ini, harus pura-pura percaya biar dia senang dan lama neleponnya.




“Coba ulangi lagi bro, apa aja tadi yang kau catat” pinta dia



“Eh? Catat gimana?” Jawab saya



“Itu… tadi kan aku minta buat catat isi-isi dompet yang kutemukan ini, biar jelas”



“Oh itu, sebentar ya… ini isinya… GULA DUA KILO, OLI SAMPING SATU LITER, PAKAN BABI HUTAN SEKARUNG”



“Wah? Maksud kau apa bro?”



“Hahaha, becanda bro, lagian serius amat sih neleponnya, nyantai aja”



“Hehehe, iya nih maaf kecapean soalnya”



“Haha, gapapa bro nyantai aja, eh iya, ini bener Heru kan?” Tanya saya



“Iyalah Heru, masa teman sendiri lupa?”



“Ya kali aja salah, bentar… ini Heru Jatmiko atau Heru Harseda?” saya tanya itu beneran sembarangan, nama Harseda juga langsung saya ucapkan karena ingat Angga Harseda, kawan saya di Banjarmasin



“Heru Jatmiko” jawab dia



“Eh beneran Heru Jatmiko?”



“Iya, beneran”



“Kan kamu sudah meninggal” ujar saya (lagi-lagi) ngasal



“…………………”



Ternyata telepon saya langsung diputus sama dia, saya engga tau kenapa, padahal kan saya cuma pengen dengar dia lebih lama, penasaran apa dia bisa bilang “saya hidup lagi, soalnya bingung ga bisa jawab pertanyaan malaikat kenapa Indomie ga ngeluarin varian mie goreng rasa nasi goreng”, penasaran apa dia punya pulsa yang banyak jadi nelepon saya lumayan lama, penasaran dia sudah pernah makan kulit kelapa atau belum, penasaran dia di SPBU mana, penasaran dia tahu nomer saya dari mana, dan penasaran kenapa orang di muka bumi engga ada yang bisa bilang huruf B sambil mingkem.




Udah ah, itu aja.

Ini nomernya, barangkali berminat menghubungi



*Kalau penasaran kenapa kok foto pertamanya spanduk pecel lele, biar bagus aja jadi thumbnail kalau cerita ini saya share ke medsos
Share: