How The Angkot -should- Works (?)

Judul di atas jelas cuma plesetan dari karya terkenal Kanjeng Professor Noam Chomsky : How The World Works, jelas tidak ada keinginan untuk menyamakan mahakarya beliau itu dengan postingan ini, karena ya tentu jauh beda doong kelasnya.

Etapi kalau boleh pamer, saya sekarang lagi beresin baca salah satu karya beliau yang sama terkenalnya~

Ehehehe~


Saya cuma pengen cerita tentang angkot, sesederhana itu.

Sebagai orang yang pernah bertahun-tahun tinggal di tempat yang tidak dijuluki kota Paris Pan Jauh (iya, kan Paris memang engga deket) bagi saya angkot sudah menjadi ciri khas kota Bandung, rasanya masih menempel dengan kuat di ingatan saya TK di daerah Setiabudi dulu justru bukan kenangan tentang teman-teman, tapi tentang angkot.

Dulu ya, duluuu banget, jaman VOC belum ada angkot di Bandung, nah saya jadi kasian sama VOC, sudah kaya raya menguasai monopoli rempah-rempah, eh malah engga pernah liat angkot, lalu kas keuangannya kacau, trus bangkrut.

Nah, jadi tahu kan apa sebabnya VOC bangkrut? Karena angkot? Bukaaan... Ya karena korupsi.

Lah kok, jadi ngelantur gini.

Balik lagi ah.

Meskipun sampai saat ini saya lupa nama teman-teman bahkan guru TK saya dulu, tapi saya masih ingat dengan jelas angkot di Bandung waktu itu, bentuknya yang sebagian besar berupa Kijang kotak masih menempel kuat di pikiran saya, kaya gini nih :

Sumber : http://mewahaz.blogspot.co.id/2016/02/mobil-jkt-and-bandung.html

Ngobrolin soal angkot, beberapa minggu yang lalu banyak media yang memberitakan tentang demo supir angkot di kota-kota gede, salah satunya jelas Bandung. Demo para supir angkot dalam bentuk mogok massal ini untuk memprotes munculnya jasa transportasi online seperti Gojek, Grab, dan Uber, menurut mereka kehadiran transportasi online ini berdampak gaban terhadap penghasilan sehari-hari.

Demo para supir angkot ini pastinya jadi bahan obrolan di mana-mana termasuk tempat saya bekerja sekarang, mayoritas suara yang saya dengar dari kawan-kawan berada di pihak yang berseberangan dengan "kepentingan" para supir angkot, sedangkan saya berada di pihak yang cenderung netral, dalam artian saya tidak "membela" supir angkot juga tidak "membela" konsumen transportasi online.


Sampai suatu kejadian merubah pikiran saya...


***

Bandung dan angkot ternyata memang seperti satu kesatuan, ada Bandung ada juga angkot, vice versa, bahkan sewaktu di Taiwan saya pernah sangat rindu dengan Bandung hanya gara-gara nonton video clip Mocca yang menggunakan angkot sebagai main point of interest di beberapa scene.




Nah, beberapa hari yang lalu saya balik ke Bandung, rasanya sudah lama saya tidak naik angkot di kota ini, karena sepulang dari Taiwan saya tinggal di ibukota dan lebih sering naik kendaraan umum seperti commuter line dan Trans Jakarta (ke depannya jelas MRT), jadilah saya iseng pengen coba naik angkot lagi.

Untungnya tempat tinggal saya di Bandung sangat strategis, cukup berjalan sebentar ke jalan raya saya bisa mencegat angkot, terakhir saya hitung cukup 4 menit 32 detik jalan kaki dari rumah ke jalan depan (bisa berubah jadi sejam kalau saya ketiduran di tengah gang).

Setelah sekian lama akhirnya sekarang saya naik angkot lagi, dalam hal ini jelas saya butuh alasan dan pikiran positif kenapa harus naik angkot di tengah banyaknya promosi transportasi online saat ini.

Dan berikut adalah pengalaman saya soal angkot saat ini;

Pertama, soal harga.
Dalam jarak tempuh yang sama, menggunakan transportasi online (ojek) relatif sama dengan menggunakan angkot, bahkan dalam beberapa hal bisa jauh lebih murah menggunakan ojek jika kita pakai promo tertentu ataupun cashless, untuk perjalanan jarak pendek memang uang yang saya keluarkan bisa jadi lebih banyak ketimbang saya menggunakan ojek online, tapi di sini saya berusaha berpikir positif untuk tetap naik angkot, karena itu alasan yang paling tepat adalah untuk membantu para supir untuk tetap punya setoran harian, mengingat persaingan dengan transportasi online jelas berpengaruh ke pendapatan mereka.

Sederhananya, it's okay spending more money for others' income.


Kedua, ngetem.
Hipotesis sok tau saya kata "ngetem" adalah serapan dari kata nge-time, alias mengulur waktu, buat yang belum tahu, ngetem itu adalah kondisi di mana supir angkot diam di pinggir jalan untuk menunggu penumpang lain agar angkotnya penuh, setelah penuh barulah angkot tersebut berangkat.

(Lagi-lagi) saya berusaha berpikir positif, jumlah penumpang yang cenderung kian menurun membuat supir angkot harus ekstra ngetem untuk bisa mendapatkan penumpang, karena jika hanya sedikit penumpang yang naik maka ongkos untuk operasional jelas lebih besar dan berpengaruh ke jumlah setoran.

"Ya udah lah gak papa waktu lebih molor, lagipula ngga buru-buru gini" adalah alasan saya untuk tetap memilih angkot, setidaknya dengan alasan itu saya masih bisa berpikir positif.


Ketiga...
Setelah merasa masalah-masalah klise seperti ongkos dan persoalan ngetem bisa saya "hadapi" dengan pikiran positif, lalu saya menjadi penumpang angkot, posisi saya saat itu berada di bangku tepat samping pintu masuk arah penumpang, tujuannya biar lebih adem kena angin, huehehe.

Namanya juga angkot, saya duduk belum tentu langsung berangkat, karena setelah saya naik dibutuhkan hampir 7 menit lebih untuk menunggu tambahan penumpang, saya masih memaklumi hal ini dan tetap berpikir positif.

Akhirnya angkot berangkat juga, tidak banyak penumpang yang naik saat itu, satu orang di samping supir, saya yang duduk tepat samping pintu masuk, satu orang di samping saya, lalu seorang ibu dan anaknya yang masih balita duduk di depan saya tepat di belakang bangku supir.

Baru beberapa meter mobil berjalan sang supir merogoh sesuatu dari dashboard di dekat setir, tadinya saya menyangka dia mengambil atau menghitung jumlah uang, tapi dugaan saya salah, yang diambilnya adalah sebuah korek dan sebatang rokok.

Dari sini persoalan terjadi, dia dengan santai menyalakan rokok dengan asap yang disemburkan seenaknya, sungguh konyol dan mustahil jika dia tidak melihat penumpang yang duduk tepat di belakangnya adalah seorang ibu dengan balita yang sedang dipangku, iya... seorang balita.

Bagi orang yang sudah menggunakan angkot bertahun-tahun mungkin itu adalah hal yang biasa, tapi di tengah ketatnya kompetisi moda transportasi saat ini, sulit bagi orang-orang yang berpikiran sama seperti saya untuk mencari alasan-alasan positif jika sudah melihat hal tersebut, bagi saya soal ongkos yang terkadang lebih mahal dan efisiensi waktu karena ngetem/macet bisa dikesampingkan karena "ngebantu tukang angkot" masih mendominasi alasan untuk tetap menggunakan transportasi umum ini.

Tapi, hal kecil seperti merokok seperti tadi ternyata sungguh membuat saya dan mungkin pengguna angkot lain kecewa, di satu sisi kami sebagai penumpang tetap berusaha untuk membantu secara ekonomi, tapi nyatanya ada hal penting yang seringkali mereka kesampingkan : attitude.

Saya rasa di kota-kota besar seperti Bandung, kampanye untuk tidak merokok di tempat umum apalagi dekat anak kecil sudah sangat massif digencarkan, saya tidak mempermasalahkan siapapun untuk merokok karena itu hak individu, tapi jika perokok tidak mempedulikan lingkungan sekitarnya maka jangan pernah berharap akan mendapatkan respect.

Memang, terlalu naif jika saya menggeneralisir seluruh angkot se-Bandung raya bahkan se-Indonesia seperti yang saya alami barusan, tapi sudah seharusnya juga para pengemudi angkot tidak naif untuk meminta pelarangan moda transportasi online jika hal yang bersifat attitude masih mereka acuhkan, mengingat di era modern antara penumpang dan pengemudi bukanlah sekedar hubungan raja dan pelayan seperti istilah "pembeli adalah raja", tapi lebih kepada hubungan partner dalam ekonomi.

Karena raja yang kecewa punya kuasa untuk protes, sedangkan partner yang kecewa cenderung diam.

Sedangkan diam itu terkadang lebih berbahaya.





*Supir angkot tersebut akhirnya mematikan rokoknya setelah saya bilang "punten kang roko'na, aya murangkalih di pungkur" (maaf mas rokoknya, ada anak kecil di belakang)
Share: