Telepon Kadal



Dua hari terakhir ini saya sering dapat telepon masuk dari orang yang tidak saya kenal, entah dari mana mereka dapat nomer saya yang ganteng ini, maksudnya nomernya yang ganteng, sayanya semi ganteng kontemporer, mau tau nomernya? Hubungi saja ke email saya, nanti saya kasih Id LINE lewat LINE saya kasih tau Whatsappnya temen saya si Adityo, nah nanti coba tanya ke Adityo ya, sengaja bikin kamu harus repot, biar pernah.



Nah, kemarin sewaktu di ruangan kerja di kantor hape saya bunyi, disebabkan ada yang menghubungi, tapi waktu diangkat suaranya kurang terlalu jelas, kayanya sih karena jenis hapenya, sebagai orang yang mengutamakan sikap suudzon saya curiga ini orang hapenya jenis hape ESIA HIDAYAT SAPUTRA, hape dengan keeksotikan khas negeri tropis.



Karena waktu itu suasana lagi serius, ya maklumlah karena di ruangan kantor saya engga mungkin bercanda sambil atraksi menyemburkan api kalaupun bisa juga api asmara yang dahulu pernah membara.



Hwazeggg!



Jadi, karena suasananya hari itu sedang serius, saya juga menanggapi telepon yang saya tidak tahu dari siapa itu juga secara serius.



“Halo! Apa kabar?!” Tanya si penelepon setelah saya mengangkat dan bilang halo



“Eh iya, baik”



“Lagi sibuk engga?”



“Engga, lagi istirahat nih” jawab saya



“Wah kebetulan banget, kirain lagi sibuk, sorry nih ganggu”




Karena saya bingung dan kaget ditanya sebegitu akrab, saya mengira yang menelepon ini adalah teman deket saya




“Hehehe, nyantai kok, eh iya, ini siapa?” Selidik saya



“Waaah, masa gak kenal sama temen sendiri?”



“Aduh maaf, iya beneran, baru ganti hape soalnya jadi kontak kehapus” kata saya



“Hehe iya nih, maaf, ini siapa?”



“Ayoo tebak, siapa coba?”




Aduhmak, dia yang telepon dia yang kasih teka-teki, kan tambah bingung, tapi denger dari logat bicara dia saya tebak dia dari daerah timur Indonesia, saya coba ingat lagi secara cepat siapa saja teman dari daerah timur, walaupun kawan-kawan saya banyak tapi saya bingung kalau disuruh menebak kaya gitu




“Siapa ya? Beneran engga tahu!” jawab saya



“Coba ingat-ingat, punya teman orang Polres/Flores engga?




Seperti yang saya bilang di atas, karena suara yang keluar kurang terlalu jelas, jadi saya kurang dengar jelas maksud orang tersebut POLRES atau FLORES, saya lebih banyak denger suara bszzzssskkkkzzzkkkkksszzzkkkk ketimbang suara dia.




“Aduh, beneran lupa seriusan”



“Ahahaha, ya udah, coba ingat-ingat dulu, nanti kalau udah ingat telepon balik saya ya” ujar orang tersebut sambil menutup teleponnya




Lah, kan sableng, ya, dia yang menelepon, agak mengganggu waktu istirahat saya, sok misterius main tebak-tebakan trus minta saya buat menelepon kalau sudah ingat, aampuun gustiiii.






***




Besoknya, masih di ruangan yang sama, suasana agak santai karena saya baru selesai mengawas UTS (Ujian Tukang Sablonuangdaribahanyangmiripuangasli) dan juga saya baru makan ayam yang sudah mati karena harus begitu biar setelah mati dibakar pakai api lalu dibalur kecap biar saya yang makannya enak, karena pernah bayangin engga kalau ayamnya masih hidup trus tau-tau saya mandiin pakai kecap? Mana enaaak



Yak, semoga setelah membayangkan soal ayam barusan nafsu makanmu terhadap ayam berkurang.



Di suasana yang lebih santai hape saya tidak bunyi karena saya silent, tapi harus bergetar karena ada telepon yang masuk, aduh padahal tadi di kelas saya hampir ngeluarin mahasiswa karena ketahuan nyontek eh sekarang malah nyuruh masuk telepon.



“Halo” Kata saya singkat



“Halo broo” jawab orang di sana



“Halo juga”



“Gimana kabarmu bro?” Tanya orang itu



“Baik aja kok”



“Wah syukurlah, lagi di mana dirimu bro?”



“Di Jakarta nih” Jawab saya pendek



“Eeee tau, maksudnya di mananya? Lagi di jalan atau di mana?”




Dari gaya bicaranya saya langsung kepikiran kalau ini si Faisal, temen saya sewaktu di Taiwan yang sekarang kerja di Jakarta, karena Faisal sering menghubungi saya dadakan buat ngajak maen atau sekedar keluyuran




“Di kampus nih”



“Ooo gitu, belum pulang bro?”



“Belum, nanti jam 3 kurang kayanya”



“Oke deh, eh iya bro, ini nomer baruku, simpen ya”



“Eh? Ganti nomer?” Saya tanya ini karena menyangka Faisal ganti nomer



“Iya, yang lama hapus aja ya”



“Siap! Nanti kusave”



“Oke bro, makasih yaa” tutup dia




Karena saya terbiasa melakukan cross-check setiap ada informasi apapun dan juga penasaran, saya lalu tanya langsung ke Faisal soal kebenaran ini, dan inilah hasilnya :








Nah, berarti saya salah, itu bukan Faisal, tapi salah seorang teman baik yang saya lupa siapa, tapi ya sudahlah biarin aja, saya lagi sibuk gini soalnya.





***



Satu jam berlalu,



Saku ransel saya bergetar, tadinya saya kira ada anak jerapah masuk ke ransel, tapi baru ingat, kan saya engga melihara jerapah, lah terus yang getar barusan apa?



Oh iya, hape!



Saya buka ransel, saya ambil hape yang saya beli pakai uang asli di ITC Depok beberapa bulan lalu dan saya kasih nama Orangutan, jadi dalam waktu bersamaan saya bisa pegang Orangutan yang lagi bergetar dan saya kasih dia pelotot.



Ternyata ada telepon masuk, jangan kamu bayangkan kalau telepon masuk berarti teleponnya masuk ke kuping saya, aduh gimana ya menjelaskannya, telepon masuk itu berarti ada orang yang menelepon dengan telepon dia yang dipencet di layar supaya kemudian bisa bikin Orangutan bergetar seolah-olah dia minta makan padahal dia cuma sebuah hape.



“Halo” Kata saya



“Ya halo bro” kata orang yang di sana membalas kehaloan saya




Oh ternyata orang yang barusan nelepon saya, bisa langsung menebak begitu karena saya dengar logat yang sama seperti sebelumnya, padahal sudah selisih waktu satu jam lebih, hebat ya saya?




“Lagi di mana bro?” belum sempat saya membalas kehaloan dia, eh malah keduluan dia tanya saya



“Masih di kampus nih”



“Belum pulang?”



“Belum, hehe eh iya, ini siapa ya?” Tanya saya penasaran



“Wah, belum disimpan ya nomerku ini?”



“Ya belumlah, kan aku ngga tau ini siapa?”



“Waduh, masa enggak kenal temen sendiri?”





Di situ saya sadar, isengin aaah…





“Hmmm…. Heru ya?” Tanya saya, sembarangan saja



“Nah itu bener, iya ini Heru” jawabnya mengiyakan tebakan saya



“Waah, Heru! Gimana? Apa kabar?” Respon saya karena senang sembarangan saya berfaedah



“Baik bro…. Di sana sama siapa bro?”



“Hmm, sendiri sih ini di ruangan, kenapa?”



“Engga ada siapa-siapa kan?”



“Iya, engga ada”




Jadi, dia cerita ke saya, kalau saat itu dia lagi di musola salah satu SPBU, nah dia ngga sengaja nemu dompet, sambil cerita dia minta saya untuk mengambil pulpen dan mencatat apa saja yang ada di dompet itu yaitu uang enam juta seratus ribu rupiah, emas sepuluh gram, foto laki-laki latar biru, dan dompetnya sendiri warna cokelat. Dia bilang ini rahasia antara dia dan saya, jangan sampai ada yang tahu, biar “pembagian” nya bisa gede karena cukup dibagi dua.



Saya sadar hal itu, dengan berprinsip “biawak jangan mau dikadalin” saya tetap merespon dan mengiyakan apa kata Heru ini, harus pura-pura percaya biar dia senang dan lama neleponnya.




“Coba ulangi lagi bro, apa aja tadi yang kau catat” pinta dia



“Eh? Catat gimana?” Jawab saya



“Itu… tadi kan aku minta buat catat isi-isi dompet yang kutemukan ini, biar jelas”



“Oh itu, sebentar ya… ini isinya… GULA DUA KILO, OLI SAMPING SATU LITER, PAKAN BABI HUTAN SEKARUNG”



“Wah? Maksud kau apa bro?”



“Hahaha, becanda bro, lagian serius amat sih neleponnya, nyantai aja”



“Hehehe, iya nih maaf kecapean soalnya”



“Haha, gapapa bro nyantai aja, eh iya, ini bener Heru kan?” Tanya saya



“Iyalah Heru, masa teman sendiri lupa?”



“Ya kali aja salah, bentar… ini Heru Jatmiko atau Heru Harseda?” saya tanya itu beneran sembarangan, nama Harseda juga langsung saya ucapkan karena ingat Angga Harseda, kawan saya di Banjarmasin



“Heru Jatmiko” jawab dia



“Eh beneran Heru Jatmiko?”



“Iya, beneran”



“Kan kamu sudah meninggal” ujar saya (lagi-lagi) ngasal



“…………………”



Ternyata telepon saya langsung diputus sama dia, saya engga tau kenapa, padahal kan saya cuma pengen dengar dia lebih lama, penasaran apa dia bisa bilang “saya hidup lagi, soalnya bingung ga bisa jawab pertanyaan malaikat kenapa Indomie ga ngeluarin varian mie goreng rasa nasi goreng”, penasaran apa dia punya pulsa yang banyak jadi nelepon saya lumayan lama, penasaran dia sudah pernah makan kulit kelapa atau belum, penasaran dia di SPBU mana, penasaran dia tahu nomer saya dari mana, dan penasaran kenapa orang di muka bumi engga ada yang bisa bilang huruf B sambil mingkem.




Udah ah, itu aja.

Ini nomernya, barangkali berminat menghubungi



*Kalau penasaran kenapa kok foto pertamanya spanduk pecel lele, biar bagus aja jadi thumbnail kalau cerita ini saya share ke medsos
Share: