Cerita Pendek Tentang Hal Yang Akan Berkelanjutan




Dan ini adalah pertama kali saya menuliskan tentang kamu.

Perkenalan kita singkat, sangat singkat, tapi entah berapa kali pertemuan kita terjadi, saya terlampau malas untuk sekedar menghitungnya.

Sayalah yang pertama kali memulai pembicaraan kita dengan alasan terlampau sederhana, saya penasaran dengan hal yang ternyata menjadi ketertarikan kita bersama: buku.

Saya suka cara kamu bercerita tentang buku kesukaanmu, saya suka cara kamu mendengarkan saya bercerita, dan saya suka bisa banyak mengenal kamu dengan cara seperti itu.

Dan kemarin,

Saya undang kamu mengunjungi rumah, perjalanan dari tempat tinggalmu harusnya bisa pendek, tapi ibukota memang membuat senewen, jarak dari tempat tinggalmu ke stasiun yang harusnya bisa ditempuh dengan 15 menit menjadi 45 menit.

Setidaknya stasiun di dekat rumah adalah saksi saat saya menjemput kamu yang terlihat kuyu.

“kleyengan tadi di kereta”, alasanmu.

Jas hujan kuning besar saya membuat kamu terlihat lucu untuk mengenakannya, tapi saya suka, bukan… Saya tidak menyukai kamu kehujanan, tapi saya suka jas hujan itu setidaknya bisa mewakili saya untuk melindungi kamu.

Saya mengajakmu ke rumah untuk mencoba karya masakan saya, tapi saya terlalu ceroboh, saya tidak punya pengalaman untuk memasak tanpa dicicipi, bulan puasa mengharuskan saya untuk membuat takaran bumbu berdasarkan insting, dan hasilnya: hambar.

Tapi saya senang melihat kamu tertawa ketika saya memasak dan ketika kamu mencicipi masakan kacau saya itu.

Setelah dari rumah, saya menemani kamu untuk ke mall, karena katamu ada midnight sale saat itu.

Saya tidak suka mall, tapi nyatanya saya mau saja mengikutimu dari satu toko ke toko lain malam itu, karena bukan berbelanja tujuan saya, tapi ingin terus berjalan denganmu,

Sesederhana itu.

Seusai dari mall, saya harus mengantarmu pulang, sudah larut malam, tapi berkeliling di mall ternyata membuat saya lapar saat itu, dan saya tawarkan ke kamu untuk mencari makanan untuk sekedar bekal sahur.

Di warung kecil dekat tempat tinggalmu itu kamu menemani saya yang sedang makan, kita membicarakan hal-hal sepele, seperti ukuran minus mata kita, ujian seleksi masuk yang akan saya hadapi, sampai rencana perkuliahan S2-mu.

“Minggu depan aku pulang kampung, kita ketemu lagi bisa ngga sebelum aku pulang?” Saya tanya hal itu pada kamu

“Eh, boleh aja sih, kapan?” balasmu 

“Belom tau, karena besok aku harus ke Bandung”

“Ya udah, nanti kita atur lagi yaa waktunya”

“Iyaa, ga harus Kamis kok tenang aja”

“Hahaha, oke deh, eh tapi nyadar ngga kita akhir-akhir ini sticking each other banget?” Ujarmu.



Makanan sudah habis, saya harus mengantarmu pulang, seperti biasa, setelah goodbye greeting kepadamu, saya pasang earphone untuk menemani perjalanan kembali kembali ke rumah, melalui gawai saya putar lagu itu.

I’m sticking with you
‘Cos I’m made out of glue
Anything that you might do
I’m gonna do too

-Velvet Underground

12 Juni 2017






*tulisan ini pernah saya muat di blog saya satu lagi yang isinya tulisan pendek
Share:

0 komentar:

Posting Komentar