Mempromosikan Hal Yang Seharusnya Linear

Kita tahu, dalam mempromosikan suatu produk kita butuh teknik marketing tertentu melalui iklan,
 
Nah dalam beriklan diperlukan linearitas antara produk yang diiklankan, citra produk yang diiklankan, dan pihak yang mengiklankan.

Ambil contoh, saya menjual gel rambut (produk) dengan kualitas yang terbaik, karena kualitasnya terbaik maka dipercaya pasar dapat membuat penampilan lebih menawan, ganteng, dan elegan (citra produk),
 
Sejauh ini tidak ada masalah dengan hal ini karena kualitas dan citra produk sudah terpercaya sejak dulu.

Nah, masalah justru timbul setelah saya mempromosikannya dengan teriak-teriak sampai memekakkan telinga, dandanan acak-acakan sembarangan, dan dengan gencar merendahkan produk lain.

Saya beranggapan kalau itu adalah cara terbaik untuk "mempromosikan" produk saya, eh tapi saya kaget kenapa konsumen bahkan calon konsumen produk saya justru beralih ke produk lain? Padahal kan produk saya jelas terbaik dari segi kualitas dan komposisi? Apa yang salah? Toh saya sudah mengatakan yang sesungguhnya kan?

Lalu saya mencak-mencak, marah menuduh tim produk lain mengambil konsumen dan calon konsumen saya, saya bilang mereka licik, bahkan saya salahkan pengurus lahan tempat saya promosi. 

Pokoknya saya salahkan semua! Saya merasa diri saya sekarang teraniaya!

Lalu datanglah Heru, konsumen setia saya. Dia bilang kalau konsumen pindah ke produk lain bukan karena terbujuk oleh promosi produk lain, tapi justru karena kesalahan saya sendiri.

Ujarnya, percuma produk saya berkualitas tinggi kalau saya bersikap seperti itu,
 
Saya rutin promosi produk saya baik tapi saya sendiri berdandan sembarangan dan awut-awutan, alih-alih menunjukkan kualitas produk sendiri saya justru selalu menjelek-jelekkan produk lain, bahkan saya sering membagikan selebaran isinya "Awas! Jangan pakai produk ini di penjual yang lain! Hanya tempat saya yang paling bisa dipercaya!" (padahal dengan merk yang sama)

Memang ada beberapa konsumen yang suka dengan cara saya, dan dengan penuh kebanggaan saya berseloroh kalau konsumen yang suka itu adalah tanda kesuksesan saya!, tapi saya tidak menyadari kalau sebenarnya konsumen yang mulai antipati dengan produk saya juga ada dan jumlahnya tidak sedikit, malah mereka berasal dari calon konsumen bahkan pernah jadi konsumen loyal, hanya saja mereka yang antipati ini seperti fenomena gunung es, tidak terlihat banyak di permukaan.

Akhirnya Heru pamit pulang, tapi sebelum pulang dia bilang ke saya "konsumen loyal itu dulu suka produkmu karena orang sebelum kamu mempromosikannya sesuai dengan kualitas produk, mereka selalu berdandan rapi, ganteng, dan sabar menjelaskan manfaat produk, walaupun dulu juga ada produk lain tapi konsumen tetap percaya karena yang mempromosikannya punya linearitas yang sama sebagai representasi dari produk dan sesuai dengan citra produk"

***

Oke, sekarang kita ganti "term" produk itu dengan agama, dan lihatlah apa yang berseliweran di timelinemu saat ini.

Got what I mean?




*Ini tulisan lama di akun Facebook saya yang ditulis 2015




Share:

0 komentar:

Posting Komentar