Jalan Raya dan Absurdnya Ibukota

Setidaknya dalam kehidupan sehari-hari kita sering dihadapkan pada hal-hal yang klise yang kalau dipikirkan sebetulnya kocak juga.

Dan saya mengalami banyak hal itu.

***

Flashback ke sekitar awal 2016, saat itu saya mengalami fase banyak pikiran nu teu paruguh ketika masih studi di Taiwan, selain karena dikejar kewajiban harus menyelesaikan tesis di semester terakhir, saya juga bersikap denial karena dibayangi semacam "keharusan" untuk tinggal di Jakarta.

Pengalaman tinggal lama di Bandung membuat saya enggan meninggalkan zona nyaman di kota Sabuga ini (FYI, Bandung adalah satu-satunya kota di dunia yang punya gedung Sabuga di pinggir jalan Taman Sari, Jepang aja enggak punya). Keinginan saya selepas lulus S1 dulu adalah tetap stay di Bandung bagaimanapun caranya, saya sama sekali enggak pernah kepikiran untuk bekerja di Jakarta, selain panas dan macetnya yang ampun tuan guru, saya masih berpikir Jakarta bukanlah tempat yang cocok bagi saya, dan di mata saya saat itu orang Jakarta terlihat tidak friendly.

Itu belum ditambah dengan zona nyaman tinggal di Taiwan, selama di Taiwan saya terbiasa dihadapkan dengan keteraturan, ketertiban, dan kerapian. Hal-hal seperti ketepatan waktu dalam segala hal, transportasi umum yang nyaman, hingga hal kecil seperti membersihkan sendiri meja di restoran fast food sudah menjadi kebiasaan sehari-hari.

Rasa nyaman tinggal di dua tempat inilah yang membuat saya menjadi takut untuk berpindah tempat lagi, sedangkan seperti yang pernah saya ceritakan di sini, semenjak kecil saya sudah terbiasa berpindah dan beradaptasi dari satu tempat ke tempat yang lain.

Saya tidak tahu apa istilah ilmiahnya sindrom ini, yang pasti saat itu saya mengalami fase enggan mendengar apapun tentang Jakarta, saya bahkan menghindari membaca kata "Jakarta" di media sosial.

Beberapa bulan kemudian tesis saya rampung dan akhirnya saya bisa menyelesaikan studi di Taiwan, selesainya studi berarti selesai juga living permit saya di negeri F4 ini. Menjelang beberapa minggu sebelum kepulangan lagi-lagi saya masih dihantui rasa denial itu, mungkin saya pernah mengigau saking enggannya untuk menerima kenyataan yang harus saya hadapi sepulang ke tanah air: tinggal di Jakarta.

Waktupun berlalu, keharusan untuk tinggal di ibukota membuat saya harus mulai beradaptasi dengan hal-hal baru seperti menyesuaikan diri dengan pola hidup orang urban, bersosialisasi dan membangun jaringan baru, bahkan membiasakan penggunaan "lu-gue" sebagai kata ganti yang dipakai sehari-hari agar lebih mudah bergaul.

Dan sekarang saya bisa sedikit menertawakan diri saya yang dulu teu paruguh, karena kenyataannya saya bisa beradaptasi jauh lebih cepat dari yang saya kira, di Jakarta saya mulai mendapatkan pengalaman baru, jaringan baru, dan tentunya, ehem... Kekasih baru (alasan utama sekarang saya bisa betah di Jakarta).

Walaupun bisa dikatakan sudah bisa tinggal di Jabodetabek (yaa belum bisa dikatakan 100% betah sih), nyatanya masih ada hal-hal yang membuat saya sering dibuat melongo karena heran, biasanya saya temukan ketika berkendara di jalan raya, dan seringkali karena terlalu sering kita malah menganggap ini adalah hal biasa, padahal hal-hal ini terlampau absurd bagi saya.

Apa sajakah hal-hal itu?

  1.  Jus Manis

    Saya adalah penggemar buah yang seringkali malas untuk mengupas sebelum dimakan, mangga, sirsak, dan alpukat adalah komplotan buah yang paling jarang saya beli untuk dikupas sendiri kulitnya, kalaupun saya harus mengupas maka dapat dipastikan bentuknya sangat amburadul.

    Untungnya saat ini saya dianugerahi bakat hidup di tahun yang sudah lewat millenium, saya mendapatkan previllege yang tidak dimiliki oleh manusia purba ratusan ribu tahun yang lalu, yaitu bisa menikmati buah yang berkulit tanpa harus saya kupas sendiri.

    Bagaimana caranya?

    Ya tinggal beli ke tukang jus.

    Etapi, meskipun kemewahan ini bisa saya dapatkan dengan mudah, nyatanya saya masih menemukan rasa kurang sreg ketika membeli jus.

    Saya selalu heran kenapa tukang jus buah selalu menambahkan gula ke setiap porsi jusnya, ini bisa dimaklumi jika buah yang diblender adalah buah yang basic rasanya plain seperti alpukat, nah yang saya kurang mengerti mengapa untuk buah-buah yang rasanya manis seperti pisang, jeruk, pepaya, bahkan semangka masih saja ditambah gula?

    Kan ini aneh, ya. Sudah manis masa ditambah manis, mirip kaya janji politisi (yaelah), dan absurdnya lagi biasanya di cup minumannya sering ada slogan dengan kalimat positif tentang pentingnya menjaga kesehatan.

    Lah itu gulanya apa kareba?

  2.  Palang Perlintasan Kereta ApiBagi saya, tidak ada tontonan yang lebih menegangkan selain melihat copet yang beraksi di depan mata dan percobaan bunuh diri.

    Dan poin yang kedua itu hampir setiap harinya saya alami di Jakarta.

    Sebagai orang yang lebih banyak menggantungkan mobilitasnya dengan menggunakan sepeda motor, dalam sehari entah berapa kali saya melewati palang perlintasan rel kereta api, itu loh, yang biasanya bunyi "tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung tung" setiap kali ada kereta api yang mau melintas di jalan umum.
    (eh, kira-kira total kata "tung" barusan udah sama persis enggak dengan jumlah "tung" dalam setiap kali palang perlintasan ditutup? Saya belum pernah ngitung sih)

    Karena adanya palang perlintasan inilah saya merasa penumpang kereta api adalah pengguna transportasi umum yang previllege nya paling besar di dunia, lha bayangkan saja, jalan harus ditutup demi dia lewat, bahkan iring-iringan presiden juga harus berhenti kalau palang perlintasan ditutup, kurang sakti apa lagi?

    Entah kenapa, walaupun sudah sangat sering berada berhenti di perlintasan rel kereta api, tapi saya masih deg-degan kalau di depan masih ada orang yang menerobos ketika palang mulai diturunkan, jangankan menerobos, ada yang menyelinap dan berhenti di dekat rel saja saya sudah deg-degan melihatnya.

    Saya tidak mempermasalahkan orang-orang yang kepingin kena kecelakaan atau mau mati dengan cara seperti itu, bebaslah itu hak dia, tapi saya cuma kurang sreg dengan caranya, yaa intinya sih kalau mati jangan nyusahin orang laah, kasihan orang-orang yang harus rapihin mayat dia yang berantakan karena keserempet kereta api gara-gara nyelonong sembarangan.

    Lah kok saya jadi emosi sendiri.


  3. Polisi TidurTerkadang saya masih suka iri dengan manusia purba untuk beberapa hal, seperti keistimewaan mereka untuk mendapat udara jauh lebih segar (murni oksigen, enggak ada asap knalpot Damri), lalu kemewahan mereka untuk bisa CFD (Car Free Day) setiap hari, dan yang paling utama adalah... Mereka bebas pergi kemanapun tanpa kena polisi tidur.

    Menurut ensiklopedia yang dirilis oleh Haji Nicolas Copernicus pada tahun 1997, polisi tidur, atau yang dalam bahasa ilmiahnya sleeping beauty, adalah suatu gundukan yang sering tau-tau nongol di tengah jalan ketika kita mengendarai sepeda motor dengan kecepatan di atas 7.5 km/jam, tingginya pun beragam, berkisar antara 7 sampai 15 centimeter atau bahkan lebih, biasanya dibuat dari material kayu, semen, bata, tapi belum pernah saya temui yang dibuat dari kedelai hitam pilihan yang bernama Malika. Sama halnya seperti Bitcoin, pembuat polisi tidur biasanya bersifat anonim atau tidak diketahui identitasnya, tetapi para pembuatnya biasanya distereotipkan dengan bapak-bapak pakai singlet dan sarung yang sore-sore hobi nyiram jalan di depan rumah.

    Mungkin bisa saya katakan kalau polisi tidur adalah hal di jalanan yang paling saya benci nomer 162, tolong jangan tanya nomer 1-161 apa, karena akan makan banyak waktu. Saya benci dengan polisi tidur karena sifatnya yang sering tau-tau nongol tanpa ada pertanda, padahal nabi tidak pernah mencontohkan sifat tercela seperti itu.
    Polisi tidur jelas merupakan masalah bagi saya dan mereka yang mempunyai kendaraan dengan rangka rendah, mungkin hal ini bukan masalah bagi mereka yang menggunakan tank militer atau excavator untuk menunjang kebutuhan mobilitas sehari-harinya (eh tapi pernah ada yang liat orang ke kantor naik tank, enggak?)

    Karena masalah inilah, saya jadi kepikiran wajar kalau Pak Presiden sekarang sangat fokus untuk membangun jalan di daerah sampai ke pelosok, lah orang di kota soalnya enggak bisa liat jalan mulus sedikit pasti langsung pengen bangun polisi tidur, tapi giliran jalan berlubang ngamuk dan protesnya ampun-ampunan.

    Bahkan saya juga kepikiran, kayanya kalau tren bikin polisi tidur ini tidak ditekan, bisa jadi beberapa tahun ke depan jalan tol dan landasan pacu bandara dipasang polisi tidur juga.

  4. Iring-iringan Jenazah

    Buat yang pernah maen ke Jabodetabek mungkin pernah mengalami fenomena ketika kendaraanmu mendadak disuruh minggir oleh pengendara motor yang enggak pakai helm, bawa bambu/galah pendek berbendera kuning, dan terkadang menyuruhnya sambil membentak.

    Ya, betul. Kamu sedang berhadapan dengan pengiring rombongan jenazah.

    Saya masih belum bisa mengerti, kenapa mereka sebegitu arogannya di jalan raya (yang bahkan macet parah) menyuruh orang minggir sampai membentak, kamu boleh saja denial menganggap bahwa itu hanya dilakukan oleh segelintir orang, tapi bagi saya menyuruh orang minggir untuk mengantar jenazah itu cukup absurd.

    Beberapa minggu yang lalu ketika menjemput kekasih pulang kuliah jam 8 malam saya bertemu dengan rombongan ini, sungguh bagi saya ini merupakan pengalaman yang sangat absurd karena beberapa hal:

    • Pertama, apa urgensinya terburu-buru sampai super ugal-ugalan menyuruh kami minggir saat itu? Padahal itu sudah malam, dan saya rasa tidak ada pemakaman yang dilakukan di malam hari, setidaknya pemakaman dilakukan keesokan pagi harinya
    • Kedua, para pengantar yang bersepeda motor hampir sebagian besar tidak menggunakan helm, bukankah ini cukup aneh? Kenapa "demi" mengantar jenazah, mereka sampai harus "bertaruh" membuka peluang diri mereka sebagai jenazah baru? Ditambah kebetulan saat itu di depan saya ada pengendara sepeda motor lain yaitu ibu-ibu yang sedang membawa anaknya, bagaimana kalau mereka mendadak kaget lalu keserempet rombongan? Bukannya itu malah menambah masalah?
    • Ketiga, bukankah yang harusnya diutamakan itu mobil ambulans sedang membawa pasien yang masih hidup? Mungkin korban kecelakaan atau ibu yang mau melahirkan, lalu kemana saja mereka para pengiring ini? Apakah mereka turut mengiringi? Atau malah cuma mengiringi kalau sudah menjadi jenazah?

    Rasanya malam itu saya marah sekali ke para pengiring yang dengan seenaknya dan arogan menyuruh pengendara lain minggir, untungnya tidak jadi, karena si mbak kekasih selain cantik dia juga terlalu pandai menenangkan hati saya yang saat itu terbawa senewen.


    ***



    Itu baru kejadian-kejadian yang sering saya alami di Jabodetabek, mungkin bisa juga hal ini terjadi di daerah lain, atau bahkan lebih absurd lagi.



    *Teu paruguh =  tidak jelas, tidak nyaman, tidak enak
    ** Mohon diperhatikan, untuk poin tulisan nomer empat itu hanya saya tujukan kepada para pengiring, tanpa mengurangi rasa hormat kepada siapapun keluarga yang sedang berduka.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar