Aristoteles Tidak Pernah Bayar Parkir


Akhir-akhir ini saya kesel dengan bayar parkir.

 Begini pemirsa, sebagai orang yang menggantungkan mobilitas sehari-harinya dengan sepeda motor, saya sering berhenti di tempat-tempat tertentu entah itu warung makan, tempat fotokopi, atau ATM, selain mengeluarkan uang untuk makan atau belanja, saya juga agak kesel dengan bayar parkir.

Mungkin terdengar egois, karena buat sebagian orang bisa saja beranggapan "ah cuma uang dua rupiah doang kok dipermasalahin"

Tapi, coba deh bayangin, "esensi" dari parkir itu kan sebetulnya kita membayar jasa kepada seseorang/perusahaan untuk menjaga kendaraan kita yang ditaruh untuk sementara waktu, bukan begitu?

Nah, sekarang kita "studi kasus" deh, pernah enggak kalian setelah keluar ATM ditagih bayar parkir?

Saya pernah, waktu itu saya sama sekali enggak megang uang karena uang receh ketinggalan di rumah, sementara kalau balik ke rumah buat ngambil ya bakal makan waktu, jadi harus narik uang tunai di ATM pinggir jalan.

Saat itu lingkungan di sekitara ATM enggak ada siapa-siapa, eh pas baru mau nyalain motor mendadak ada orang di belakang saya yang nagih bayar parkir.

Keadaan saya waktu itu cuma punya pecahan seratus ribu rupiah dari ATM, masih fresh, baru disablon kayanya.

Kebingungan muncul saat saya mau bayar parkir yang dadakan itu, kalau saya punya uang pecahan lima ribu atau sepuluh ribu sih gampang ngasih kembaliannya, lah ini uang seratus ribu, kaya bocah SD make baju hansip... Kegedean.

Dan tahukah engkau wahai sobat indieku, apa kata kang parkirnya sewaktu saya bilang kalau enggak punya uang selain ratusan ribu itu?

"Belanjain aja dulu bang di warung"

Lah, ini kan semacam "dipalak" ya, toh tujuan saya cuma pengen ambil uang, kok malah disuruh belanja barang yang saya enggak butuhin di warung.

***

Selain di ATM, saya juga punya pengalaman menyebalkan lainnya di blantika bayar parkir Indonesia.

Ceritanya waktu itu saya pergi ke tempat fotokopi di sekitar Stasiun Pondok Cina Depok, tujuannya buat fotokopi KTP, dan kamu tahu sendiri laah kalau fotokopi KTP itu kan sebentar doang.
Nah, pas balik ke sepeda motor yang ditaruh CUMA di depan tempat fotokopi tersebut eeh mendadak muncul orang yang nagih buat bayar parkir, sumpah sebelumnya saya enggak lihat sama sekali kang parkir itu, tau-tau nongol aja gitu.

Satu-satunya uang pecahan paling kecil di saku saat itu adalah dua ribu rupiah, karena saya kira bakal dikasih kembalian yaa setidaknya seribu rupiah ya sudah saya kasihkan aja itu uang dua ribuan, eeh ternyata setelah kasih dia ngeloyor gitu aja ke tempat dia ngejogrok, saya sampai tertegun melihat kejadian ajaib ini.

Pertama, secara logika, posisi saya saat itu lebih deket dengan sepeda motor karena ditaroh persis di depan kios fotokopi, sedangkan tempat ngejogrok kang parkir itu berada beberapa meter lebih jauh dari kios, kalaupun ada orang yang mau nyolong motor atau helm, jelas saya bakal tahu dan bisa menangkap duluan ketimbang si kang parkir yang letaknya lebih jauh. Nah, dari sini saja saya masih belum mengerti kenapa saya harus bayar parkir itu, demi keamanan? Ya kali, Maliiiih.

Kedua, tujuan utama saya ke kios itu kan untuk fotokopi, dimana untuk fotokopi saya cuma mengeluarkan uang sebesar 500 perak, dan jasa fotokopi itu bisa saya nikmati langsung, sedangkan bayar parkir? DUA RIBU! Yang saya enggak tahu jasa apa yang saya bayar itu.

Di titik ini saya merasa kalau saya sudah satu level dengan miliarder sekelas Mark Zuckerberg, Bill Gates, atau Jack Ma. Kalau mereka bisa "menghamburkan" uang dengan cara investasi ke dunia teknologi, sementara saya "menghamburkan" juga tapi di bidang...

Bayar parkir.

Saya, ketika bayar parkir seperti besar pasak daripada tiang

Selain dua kejadian itu, saya juga pernah mengalami jackpot bayar parkir dua kali berturut-turut pada hari yang sama.

Kejadian pertama ketika nonton acara musik di Taman Ismail Marzuki sehabis Magrib, saat itu saya parkir di pinggir jalan karena saya tidak tahu kalau pengelola TIM sebetulnya menyediakan fasilitas parkir yang resmi di dalam.

Setelah acara selesai saya ke parkiran, sadar kalau di event-event tertentu harga parkir bisa melonjak dari biasanya, dalam hati saya bilang "ah mungkin lima ribu nih parkirnya", ya sudah saya siapkan uang lima ribu rupiah untuk bayar parkir, pas sudah dibayar kang parkirnya bilang "kurang lima ribu lagi, bang!", lah kaget saya, ternyata bayar parkir untuk dua jam acara musik ini sepuluh ribu rupiah, pemirsa!, iya!, SEPULUH RIBU! Dan itu enggak bisa kurang!

Gila, ini orang mau ikut pesugihan tapi ogah mati jadi siluman monyet kayanya.

Kesel karena bayar parkir sebegitu gede, ngedumel lah saya sepanjang jalan pulang. Sadar ternyata ngedumel bikin haus dan sedikit lapar, saya lalu berhenti di sebuah minimarket di sekitar Tebet dengan inisial TERAMODNI, di situ saya beli susu cokelat dan roti untuk makan di tempat, setelah menghabiskan makanan dan minuman itu saya kembali ke parkiran, di saku jaket sudah saya siapkan uang dua ribu rupiah untuk bayar parkir, sewaktu saya kasih uang tersebut kang parkirnya bilang "tiga ribu, bang"

Lah? Belom juga kelar kesel saya sama parkir di TIM barusan, sekarang harus bayar parkir lagi dengan harga mirip nembak togel? Sableng nih orang!

Dan malam itu saya pulang ke rumah dengan perasaan yang super dongkol, karena uang tiga belas ribu rupiah saya harus melayang dengan cara konyol dalam rentang waktu enggak lebih dari satu jam.


***

Semenjak sering dikadalin tukang parkir, saya sekarang jauh lebih selektif + berhati-hati ketika bepergian menggunakan sepeda motor dan mampir ke suatu tempat.

Saya lebih memilih untuk jalan memutar mencari ATM yang murni free parking, biasanya ATM jenis ini bisa ditemui di SPBU, karena di sebagian besar bank di sekitar Jabodetabek masih sering saya jumpai orang yang nagih bayar parkir walaupun ada plang tertulis PARKIR GRATIS.

Selain itu akhir-akhir ini saya juga cenderung lebih memilih warung biasa pinggir jalan ketimbang minimarket ketika ingin belanja eceran kebutuhan sehari-hari. Bukan karena alesan mendukung ekonomi rakyat dan lain-lain, tapi alesan saya sederhana:

Karena di warung enggak ditagih bayar parkir.


***

*Saya jadi kepikiran, bisa jadi karena "peluang" parkir ini prospeknya makin bagus, dalam 10 tahun ke depan kalau kita berhenti pinggir jalan sebentar buat ngangkat telepon atau balas chatting juga bakal ditagih bayar parkir,

Bisa jadi loh yaaaa.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar