Mutiara Literasi

Lelaki yang ada di foto bersama saya ini namanya mas Fiky, BMI (Buruh Migran Indonesia) asal Jepara, bertemu dan kenalan dengannya tadi di Taichung Park, sebuah taman di Taiwan Tengah tempat di mana banyak BMI menikmati hari libur setiap minggunya.





Dengan rutin Mas Fiky setiap hari Minggu mengunjungi Taichung park, dengan tas laptop (lihat di foto) yang berisi buku-buku, dia berkeliling satu persatu ke kelompok BMI yang sedang bercengkrama, lalu bergabung untuk mengajak mereka membaca buku yang dia bawa.

Penolakan dari BMI untuk membaca buku-buku yang dibawanya adalah hal biasa, tapi tidak sedikit yang tertarik untuk membaca, dan buku tersebut boleh dipinjam untuk dibawa pulang.




Mas Fiky bilang ke saya, dia mau jadi perpustakaan keliling dengan membawa tas berat setiap hari Minggu ini untuk kepuasan batin, sama sekali tidak dibayar bahkan harus keluar ongkos pribadi dari mess pabriknya untuk ke tengah kota, dia hanya ingin menumbuhkan semangat membaca ke teman-teman BMI.

Oh iya, mas Fiky ini seorang lulusan SMP, tapi dia di sini mengikuti kelas kejar paket C yang diselenggarakan suatu lembaga pendidikan, dengan penuh semangat dia menceritakan ke saya bagaimana cara belajarnya via online.

Mau tau cara belajar kejar paket C di sini?

Jadi, untuk mengikuti kelas itu, mereka harus membeli aplikasi, semacam skype, guru menjelaskan di papan tulis virtual, dan murid-murid yang mayoritas BMI belajar dan bisa diskusi via chat group.

Mirip kelas biasa, ya?

Bukan! Ini kelas luar biasa!

Diadakan setiap hari Senin sampai Sabtu, dari jam 9-11 malam.

Begini, BMI di sini sebagian besar berangkat ke pabrik/tempat kerja jam 8 pagi dan pulang ke mess saat malam/lembur, bayangkan setelah lelah seharian bekerja, jelas mess adalah tempat yang sangat nyaman untuk beristirahat dan bersantai, tapi mereka justru berkomitmen menginvestasikan waktunya untuk mencari ilmu secara online, belum ditambah dengan PR, bisa bayangkan betapa hebatnya mereka membagi waktu?

Dan saat saya tanya apa harapan dia nanti, dia bilang ingin lulus Ujian Nasional yang diselenggarakan tahun depan, dia sangat bersemangat untuk mengikuti UN karena jika lulus artinya dia akan punya ijazah setara SMA, saya tebak usianya sekitar 25-26 tahunan, dan dia bilang tidak perlu ada kata terlambat untuk belajar.

Jujur, malu rasanya saya saat merasakan semangat belajar mereka yang sangat menggebu, sementara saya masih sering mengajukan beragam alasan untuk kesalahan pola belajar saya, semacam ditampar penuh untuk segera sadar.

Oh iya, satu lagi harapannya, setelah kontraknya habis, dia ingin pulang ke kampungnya di Jepara, dan dengan sebagian tabungannya selama bekerja di sini dia ingin membangun perpustakaan untuk anak-anak di kampungnya.

Dari Mas Fiky kita selalu bisa belajar bahwa ada manusia berhati berlian berjiwa samudra.

Dan tugas kita adalah melipatgandakan orang yang memiliki semangat untuk hidup seperti dia, jika tidak dapat melipatgandakan, setidaknya cobalah untuk mengaplikasikannya ke diri kita sendiri.

Selalu bisa, selama kita mau.

Mas Fiky dan buku-buku yang dibawanya


*ditulis di Taichung, Taiwan, di tahun 2015, dalam rangka pengarsipan tulisan-tulisan saya yang berserakan di media sosial
Share:

Warisan Pengarsipan

Jika bepergian kemanapun, ambillah foto dirimu dengan latar tempat tersebut, ini bukan persoalan narsis atau norak, tapi tentang pengarsipan cerita kehidupanmu.

Kelak anak ataupun cucumu akan melihat fotomu entah di gunung, pantai, atau landmark kota, dan percayalah, mereka akan bangga memajang fotomu dan bahkan menyandingkannya jika mereka memiliki foto di tempat yang sama.

***

Saya tidak pernah berinteraksi langsung dengan kakek, beliau meninggal sewaktu saya berumur 3 bulan, saya adalah cucu terakhir yang dilihat/diketahui beliau, dan ada 5 cucu beliau yang lahir setelah saya.

Tapi ibu, tante, dan paman saya dapat bercerita panjang tentang kakek hanya dengan menunjukkan sebuah foto, setidaknya sebuah foto mempermudah saya untuk mengimajinasikan sifat kakek, andai tidak ada satupun foto, tentu saya akan kesulitan untuk membayangkan sosok pekerja keras tersebut. Bayangkan, ada banyak hal yang dapat saya banggakan dari beliau hanya dari selembar foto

***

Zaman sudah berubah, teknologi pendokumentasian sangat mudah didapatkan, sayangnya kita cenderung anggap remeh tentang pengarsipan.
Ingat, ada generasi belasan bahkan puluhan tahun akan datang yang ingin tahu apa yang kita lakukan hari ini.

Maka dari itu, biasakan untuk menyimpan baik-baik dokumentasimu, saat kamu wisuda, anakmu belajar berjalan, dan saat berwisata dengan keluarga kecilmu, karena kelak kamu dan mereka akan merindukan hari ini.



Foto sekitar tahun '71

Karena mama anak keempat, jadi posisinya di urutan keempat dari kiri



*tulisan random doang, tapi asik ye jadi script iklan hard disk?

Share:

Bapak dan Sesuatu Yang Dimintanya

Ini adalah lampu sepeda, kabel preseneling sepeda, dan saklar preseneling (enggak tau apa namanya)




Dan ini adalah titipan bapak saya.

Setiap kali saya bepergian kemanapun bapak sangat jarang minta saya membawakan sesuatu, beliau cuma bilang hati-hati dan jaga kesehatan, seringkali justru saya yang "maksa" menawarkan sesuatu yang akhirnya dijawab "yaudah boleh deh bawain tapi kalau mahal dan berat ngga usah"

Beliau adalah pehobi berat sepeda, jenis sepeda yang dicintainya adalah sepeda onthel, secara rutin setiap minggu pasti bepergian naik sepeda ke luar kota yang jaraknya puluhan kilometer dan sering juga pergi ke kampus naik onthel tua kesayangannya sementara mahasiswanya tidak sedikit yang menggunakan mobil.

Karena tahu anaknya sedang berada di Amsterdam, beliau titip saya untuk mencarikan 3 benda di atas, mengingat kota ini adalah surga pesepeda dunia.

Pada dasarnya saya adalah orang yang teramat super irit saat bepergian, tapi karena bapak sangat jarang titip sesuatu maka sekian puluh euro tidak perlu dijadikan alasan untuk mencarikan kualitas terbaik.

Dan barusan saya kirim gambar ini ke bapak.

Hasilnya? Beliau bilang saangaat senang sebanyak dua kali : via text dan langsung video call beberapa menit hanya untuk mengucapkan terima kasih banyak.

***

Ketika bepergian saya sering dapat titipan, dari yang bisa saya penuhi seperti sign picture dengan gambar latar kota yang dikunjungi, sampai ke yang tidak bisa saya penuhi seperti sepatu, bahkan laptop (serius, saya pernah dititipi membelikan laptop yang konon harganya sekian ratus ribu lebih murah).

Dalam perihal titip menitip, ada 2 hal yang harus diperhatikan, antara lain :

1. Apakah masuk akal barang yang dititip? Untuk hal seperti sign bukanlah masalah karena bisa dilakukan, tapi jika barang non kebutuhan primer seperti sepatu atau laptop jangan sesederhana berdalih "di sini susah nyarinya" kita harus pertimbangkan tentang berapa besar dan maksimal berat yang bisa dibawa, ini adalah soal attitude.

2. Harga. Jangan terbiasa menilai orang yang bepergian dan mengupload fotonya di media sosial identik dengan banyak uang, bisa jadi dia bekerja keras berbulan-bulan mengumpulkan uang demi mewujudkan mimpi ke tempat tertentu,
Dalih "nanti uangnya diganti" itu sungguh terdengar egois, bisa jadi uang yang nanti juga akan diganti itu harusnya menjadi bekal untuk membeli makanan, sewa penginapan termurah, atau tiket transportasi. Kalaupun beranggapan membeli dengan uang sendiri, bukankah lebih bijak jika uangnya diberikan lebih awal atau transfer dengan segera?

***

Sayangnya bapak saya kali ini tidak mempertimbangkan 2 hal di atas, barang yang beliau titip bukanlah barang kebutuhan primer lagipula mudah didapat di kota tempat bapak tinggal dan tentunya harganya sangat mahal untuk dibeli di sini.

Lalu kenapa saya tetap mau mencarikan?

Karena ini adalah kesempatan untuk menyenangkan orang terpenting dalam kehidupan saya dengan materi, mumpung beliau tidak perlu saya "paksa" seperti biasanya.


 *tulisan ini diunggah sewaktu di Amsterdam tahun 2016 di LINE pribadi saya yang sekarang non aktif, diunggah kembali dalam rangka merapikan tulisan-tulisan yang berserakan di beragam media sosial saya.
Share: