Bapak dan Sesuatu Yang Dimintanya

Ini adalah lampu sepeda, kabel preseneling sepeda, dan saklar preseneling (enggak tau apa namanya)




Dan ini adalah titipan bapak saya.

Setiap kali saya bepergian kemanapun bapak sangat jarang minta saya membawakan sesuatu, beliau cuma bilang hati-hati dan jaga kesehatan, seringkali justru saya yang "maksa" menawarkan sesuatu yang akhirnya dijawab "yaudah boleh deh bawain tapi kalau mahal dan berat ngga usah"

Beliau adalah pehobi berat sepeda, jenis sepeda yang dicintainya adalah sepeda onthel, secara rutin setiap minggu pasti bepergian naik sepeda ke luar kota yang jaraknya puluhan kilometer dan sering juga pergi ke kampus naik onthel tua kesayangannya sementara mahasiswanya tidak sedikit yang menggunakan mobil.

Karena tahu anaknya sedang berada di Amsterdam, beliau titip saya untuk mencarikan 3 benda di atas, mengingat kota ini adalah surga pesepeda dunia.

Pada dasarnya saya adalah orang yang teramat super irit saat bepergian, tapi karena bapak sangat jarang titip sesuatu maka sekian puluh euro tidak perlu dijadikan alasan untuk mencarikan kualitas terbaik.

Dan barusan saya kirim gambar ini ke bapak.

Hasilnya? Beliau bilang saangaat senang sebanyak dua kali : via text dan langsung video call beberapa menit hanya untuk mengucapkan terima kasih banyak.

***

Ketika bepergian saya sering dapat titipan, dari yang bisa saya penuhi seperti sign picture dengan gambar latar kota yang dikunjungi, sampai ke yang tidak bisa saya penuhi seperti sepatu, bahkan laptop (serius, saya pernah dititipi membelikan laptop yang konon harganya sekian ratus ribu lebih murah).

Dalam perihal titip menitip, ada 2 hal yang harus diperhatikan, antara lain :

1. Apakah masuk akal barang yang dititip? Untuk hal seperti sign bukanlah masalah karena bisa dilakukan, tapi jika barang non kebutuhan primer seperti sepatu atau laptop jangan sesederhana berdalih "di sini susah nyarinya" kita harus pertimbangkan tentang berapa besar dan maksimal berat yang bisa dibawa, ini adalah soal attitude.

2. Harga. Jangan terbiasa menilai orang yang bepergian dan mengupload fotonya di media sosial identik dengan banyak uang, bisa jadi dia bekerja keras berbulan-bulan mengumpulkan uang demi mewujudkan mimpi ke tempat tertentu,
Dalih "nanti uangnya diganti" itu sungguh terdengar egois, bisa jadi uang yang nanti juga akan diganti itu harusnya menjadi bekal untuk membeli makanan, sewa penginapan termurah, atau tiket transportasi. Kalaupun beranggapan membeli dengan uang sendiri, bukankah lebih bijak jika uangnya diberikan lebih awal atau transfer dengan segera?

***

Sayangnya bapak saya kali ini tidak mempertimbangkan 2 hal di atas, barang yang beliau titip bukanlah barang kebutuhan primer lagipula mudah didapat di kota tempat bapak tinggal dan tentunya harganya sangat mahal untuk dibeli di sini.

Lalu kenapa saya tetap mau mencarikan?

Karena ini adalah kesempatan untuk menyenangkan orang terpenting dalam kehidupan saya dengan materi, mumpung beliau tidak perlu saya "paksa" seperti biasanya.


 *tulisan ini diunggah sewaktu di Amsterdam tahun 2016 di LINE pribadi saya yang sekarang non aktif, diunggah kembali dalam rangka merapikan tulisan-tulisan yang berserakan di beragam media sosial saya.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar